
Keesokan harinya, Lintang dan Chandresh berangkat ke sekolah dengan diantarkan oleh supir pribadinya Lintang. Chandresh awalnya menolak karena ia terbiasa mandiri, namun kondisi kakinya mengharuskan dia akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil mewah milik Dokter Andi Rajendra yang diberikan sebagai kado pernikahannya Lintang.
"Berhenti di sini aja, Pak" Pekik Chandresh.
Lintang menoleh ke Chandresh, "Lho, kenapa? Ini masih cukup jauh dari gerbang sekolah, Kak"
Chandresh mengabaikan pertanyaannya Lintang dan nekat turun dari dalam mobil lalu melangkah menuju ke gerbang sekolah dengan berjalan memakai alat penyangga.
Lintang lalu berkata ke supir pribadinya, "Bapak pulang aja. Nanti jangan lupa jemput kami jam satu siang, ya, Pak"
"Baik Non" Sahut Supri tersebut.
Lintang turun dari mobil dan saat ia hendak berlari menyusul Chandresh, seorang pemuda seumurannya menghadang langkahnya Lintang. Pemuda itu bertanya ke Lintang, "Kok jalan?"
"Bukan urusan kamu. Minggir!" Pekik Lintang dengan tatapan tajam ciri khasnya kalau dia sedang kesal.
"Naik ke motorku! Kamu janji akan jawab pertanyaanku seminggu yang lalu, kan? Ini masih kepagian. Kita bisa ke kantin dulu untuk sarapan bareng sekalian kamu kasih jawaban ke aku" sahut pemuda itu dengan senyum cerah.
Lintang melihat Chandresh naik ke motor koleganya Chandresh, lalu ia mendelik ke pemuda yang masih menghadang jalannya untuk berteriak, "Nggak mau!" Lintang kemudian bergeser beberapa langkah ke kanan lalu dengan segera ia berlari meninggalkan pemuda itu.
Pemuda itu menyusul Lintang dengan melajukan pelan-pelan sepeda motor sportnya dan berkata di dalam helm super mahal kebanggannya, "Jangan lari! Kalau kamu lari terus, aku akan berhentiin motorku saat ini juga dan menggendong kamu"
Lintang mengentikan laju larinya sejenak untuk berkata, "Cih! Ganggu aja! Coba kalau bisa kejar aku, dasar gila!" Lalu Lintang berlari lebih kencang lagi untuk masuk ke kerumunan siswi yang berjalan bergerombol menuju ke gerbang sekolah. Dengan begitu, dia aman dari kejaran pemuda yang beberapa hari yang lalu menyatakan rasa sukanya pada Lintang.
Chandresh masuk ke dalam ruang guru dan disambut banyak pertanyaan dari semua koleganya karena Chandresh datang dengan telapak kaki digips dan memakai alat penyangga.
"Kenapa tetap masuk sih, Pak? Anda kan bisa ajukan cuti sampai kaki Anda pulih" Sahut salah satu dari koleganya Chandresh yang mengampu mata pelajaran Biologi.
"Saya tidak terbiasa berdiam diri di rumah dan hari ini para siswa mulai menjalani PAT, jadi saya harus hadir" Sahut Chandresh dengan senyum khasnya.
Chandresh dikejutkan dengan keberadaannya Lintang yang berdiri di depan meja kerjanya dan Chandresh langsung mendelik, "Mau apa kau masuk ke sini?"
Lintang tersenyum dengan lugunya lalu berkata, "Lintang membantu Kak, eh, Pak Chandresh membawakan kertas ujian ke kelas"
"Nggak usah. Sana masuk ke kelas dan........"
Lintang langsung mengangkat setumpuk kertas ujian yang berwarna putih bersih, lalu segera berbalik badan untuk melangkah menuju ke kelasnya.
Chandresh hanya bisa menghela napas panjang laku melangkah pelan dengan alat penyangga menyusul Lintang.
Lintang meletakkan tumpukan kertas ujian di meja kerjanya Chandresh dan sebagai ketua kelas, ia kemudian memimpin doa di depan kelas dan memilih dua orang teman sekelasnya untuk membantunya membagikan kertas ujian.
Setelah selesai membagikan kertas ujian, Lintang duduk di kursinya dan mulai mengerjakan soal ujian di hari pertama yakni mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Dan di jam istirahat pertama, Lintang pergi ke ruang guru dengan membawa paper bag yang berisi dua tempat makan dan dua botol ai mineral.
"Lho, Lintang? Kenapa kemari?" tanya guru sejarah itu.
Chandresh yang tengah memeriksa kertas ujian, langsung mengangkat wajahnya dan menanyakan pertanyaaan yang sama dengan yang dilontarkan oleh guru sejarah itu, "Kenapa kemari?"
Lintang menatap Chandresh lalu menoleh ke guru sejarah dan kemudian berkata, "Mengantarkan makan siang. Pak Chandresh lupa bawa makan siang dan......."
"Oh, iya, kamu, kan masih tinggal di rumahnya Pak Chandresh. Besok hari terakhir kamu tinggal di rumahnya Pak Chandresh, kan? Gimana kesan-kesannya?"
Lintang langsung duduk di depan meja guru sejarah itu karena ia tertarik untuk bercerita pengalaman dia selama tinggal di rumahnya Chandresh dan Chandresh langsung mendelik, "Lintang, duduk sini!"
Guru sejarah itu tersenyum ke Lintang dan berkata, "Iya, duduk di depan wali kelas kamu sana! Ibu mau ke kantin"
Lintang tersenyum lalu bangkit dan pindah duduk di depan mejanya Chandresh.
Lintang meletakkan satu wadah makanan di depan Chandresh dan membuka tutupnya, namun Chandresh mengabaikannya.
Lintang menghela napas panjang lalu ia mengambil tempat makan itu dan berkata, "Aaaaaa!"
Chandresh tanpa sadar membuka mulutnya dan Lintang langsung memasukkan satu sendok nasi goreng dengan toping telur dada ke dalam mulutnya Chandresh dengan senyum senang dan bergumam di dalam hatinya, Bener kata Mama. Kak Chandresh sering mengabaikan jam makan kalau lagi sibuk.
Dan tanpa Chandresh sadari ia telah menghabiskan satu wadah nasi goreng dengan telur dadar. Lintang lalu memberikan botol air mineral yang sudah ia buku tutupnya dan Chandresh mendekatkan bibirnya ke bibir botol air mineral itu untuk minum.
Lintang senang bukan kepalang karena tanpa Chandresh sadari, ia makan di satu wadah yang sama dengan Lintang da memakai sendok yang sama pula. Lintang merona malu saat hatinya bergumam, Apakah ini aritnya aku telah berciuman dengan Kaka Chandresh secara tidak langsung karena kita pakai sendok yang sama. Lintang menatap Chandresh tanpa berkedip dengan wajah memerah.
Akhirnya Lintang menghela napas sambil memasukkan kembali wadah makanan dan botol air mineral yang masih tersisa setengah isinya ke dalam paper bag kembali. Setelah menatap kembali wajahnya Chandresh selama beberapa detik dan Chandresh masih fokus ke tumpukan kertas yang ada di depannya Chandresh, Lintang akhirnya bangkit berdiri dan meninggalkan Chandresh sendirian di ruang guru.
Lintang tersentak kaget saat ia menabrak seseorang dan ia semakin terkejut saat ia bersitatap dengan Shinta.
"Kenapa kau keluar dari ruang guru? Kau pasti dihukum, kan? Kau anak nakal dan bandel, sih" Shinta kemudian tertawa sinis di depan Lintang.
"Dan kenapa kau ke sini? Kau bukan guru baru di sini, kan? Itu nggak mungkin karena, kamu cewek bodoh dan kelakuanmu busuk banget, jadi nggak mungkin menjadi seorang guru" Lintang tersenyum sinis di depan Shinta .
"Kau!" Shinta mengangkat tangan kananya untuk menampar pipinya Lintang dan dengan cekatan Lintang menangkap tangannya Shinta dan menarik Shinta menjauh dari ruang guru. Lintang mengabaikan teriakannya Shinta dan ia terus menarik Shinta sampai di depan gerbang sekolah barulah ia melepaskan tangannya Shinta.
"Kau! Berani kau menarik tangan orang yang lebih tua darimu!?" Shinta berteriak kesal dan mendelik ke Lintang.
"Pergi dan jangan kembali lagi!" Lintang berteriak tak kalah lantangnya.
Shinta mendelik dan bergeming.
Lintang menggeram dan berkata, "Pergi atau aku akan merusak wajah kamu yang sangat kamu banggakan untuk menggaet cowok!"
Shinta menghentakkan kakinya dengan kesal lalu melangkah pergi meninggalkan Lintang dengan sangat kesal.