Missing You

Missing You
Naik Motor Berdua



Chandresh menatap tiga buah buku novel yang baru saja ia sewa dari perpustakaan SMA Bina Kasih dengan tatapan kesal. Dia sebenarnya tidak menyukai novel romantis karena, kisah cinta yang ia alami sama sekali tidak ada romantisnya dan dia sebenarnya tidak ingin meminjam ketiga buku novel bergenre romantis itu.


Setelah mendengus kesal, ia jejalkan ketiga buku Novel bergenre romantis itu ke dalam tas kerjanya. Lalu, ia bersandar di kursinya sambil mengusap bibirnya. Rasa manis dari bibirnya Lintang masih nyata membekas di sana dan masih rasa manis itu masih sanggup menghentak jantungnya.


Chandresh lalu berkata di dalam hatinya sambil terus mengusap bibirnya, Kalau aku terus kehilangan kendali seperti tadi, dan aku masih menjadi guru di sini, dan ada yang memergoki aku mencium Lintang, Lintang bisa kena bully, mentalnya bisa hancur dan Lintang bisa dikeluarkan dari sekolahan, masa depannya pun akan hancur, dan............tidak, tidak! Aku nggak mau hal itu terjadi pada Lintang. Aku harus segera resign dari sini. Chandresh menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir bayangan buruk yang ada di kepalanya


Laki-laki yang sudah tidak botak lagi itu, kemudian menegakkan badannya untuk mulai mengetik surat pengunduran dirinya saat ia menemukan kapala yayasan tengah berkunjung ke SMA Bina Kasih, pucuk dicinta ulam pun tiba, batinnya. Dia senang dengan kunjungan kepala yayasan itu ke SMA Bina Kasih karena, ia tidak harus pergi ke kantor pusat yayasan Bina Kasih yang jaraknya cukup jauh dari SMA Bina Kasih.


Lintang menunggu di depan ruang kepala yayasan karena, ia tahu kalau Chandresh sedang menghadap kepala yayasan. Lintang ingin pulang bersama Chandresh dan dia sudah menyuruh Mirna untuk pulang kembali ke rumah saat Mirna menjemputnya.


Kepala yayasan memberikan bonus ke Chandresh karena Chandresh, sudah berhasil mendidik Lintang menjadi anak yang lebih baik. Lintang tidak lagi menimbulkan masalah di sekolahan dan nilai Lintang terbaik di SMA Bina Kasih.


Chandresh tersenyum tipis. Dia merasa tidak enak hati menerima sanjungan dan bonus yang lumayan besar dari kepala yayasan karena, dia menghadap ke kepala yayasan, untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya.


"Bapak harap, kamu bisa terus menjadi guru teladan di yayasan Bina Kasih umumnya dan khususnya di SMA Bina Kasih" Sahut kepala yayasan Bina Kasih.


Chandresh mengucapkan kata, "Terima kasih banyak" sembari meletakkan amplop yang berisi surat pengunduran dirinya di meja kerja kepala yayasan Bina Kasih.


"Lho apa ini?" Kepala yayasan mengucapkan tanya sambil meraih amplop yang Chandresh letakkan di atas meja kerjanya untuk dia buka dan baca.


Beberapa detik kemudian, kepala yayasan itu mengalihkan tatapan matanya dari kertas putih ke wajah gantengnya Chandresh untuk bertanya, "Kamu serius ingin resign?"


"Iya, Pak" Sahut Chandresh dengan sikap sopan dan sedikit canggung.


"Tapi kenapa? Apa alasannya?" Tanya bapak kepala yayasan sambil mengerutkan keningnya dan bertopang dagu di atas meja kerjanya.


"Saya akan......emmm" Chandresh yang belum menyiapkan alasannya resign, menjadi kebingungan sendiri untuk mencari alasan. Dia yang tidak terbiasa berbohong harus berbohong dan itu sulit untuk ia lakukan, dan mencari alasan dadakan yang tidak sesuai dengan kenyataan, juga sulit ia lakukan. Namun, untuk berkata sejujur-jujurnya tidaklah mungkin untuk situasi dan kondisinya saat itu.


Kepala yayasan menatap Chandresh, lalu tersenyum dan bertanya, "Apa Pak Chandresh sudah menemukan pekerjaan lain dan itu lebih nyaman buat Bapak?"


Chandresh langsung menganggukkan kepala dengan cepat. Karena, pertanyaan dari bapak kepala yayasan itu, sangat tepat untuknya.


"Oh, baiklah kalau itu alasannya, saya juga tidak bisa menahan Bapak untuk tetap berkarya di yayasan Bina Kasih" sahut kepala yayasan sembari bangkit berdiri untuk mengulurkan tangannya.


Chandresh pun bangkit berdiri untuk menyambut uluran tangan kepala yayasan itu dan mengucapkan terima kasih saat kepala yayasan itu mendoakan kesuksesan untuknya.


Chandresh membuka pintu ruangan kepala yayasan dan saat ia membelokkan langkahnya ke kanan, ia menemukan Lintang berdiri di depannya dengan senyum cantiknya. Chandresh berdeham untuk melepas kecanggungan yang langsung hinggap di dirinya saat itu, lalu bertanya, "Kok kamu ada di sini?"tanpa berani menatap Lintang.


Lintang menarik kedua tangannya ke belakang dan menjalin tangannya di belakang menempel ke punggungnya dan sambil mengulas senyum cantiknya, ia kemudian berkata, "Aku ingin pulang sama Kakak"


Chandresh kembali berdeham saat ia melangkah pelan mendahului Lintang sembari berkata, "Aku naik sepeda motor, lho. Kamu nggak bawa jaket, kan?"


Lintang berlari kecil untuk mensejajari langkahnya Chandresh lalu ia menoleh ke Chandresh di tengah langkah riangnya sembari berkata, "Kulitku nggak akan gosong kalau kena panas matahari sebentar aja" Lintang yang jarang sekali naik motor sangat antusias naik motor berdua dengan Chandresh.


"Oke. Kamu ikut Kakak ke ruang guru sebentar, Kakak mau ambil tas kerja Kakak" Sahut Chandresh tanpa menoleh ke Lintang.


"Pak Leo, Anda bawa mobil, kan, hari ini?" Tanya Chandresh ke Leo, guru seni tari dan lukis di SMA Bina Kasih.


"Iya" Sahut koleganya Chandresh yang bernama Leo.


"Helm Anda, ada satu yang ketinggalan di parkiran motor, kan, boleh saya pinjam? Emm, Lintang tidak dijemput hari ini dan saya akan mengantarkannya pulang"


"Boleh saja" Sahut Leo.


"Thank You. Besok langsung saya kembalikan" Sahut Chandresh.


"Udah pakai aja. Santai aja" Sahut Leo.


Chandresh mengambil helm koleganya yang bernama Leo di tempat penitipan helm, lalu ia berlari ke sepeda motornya. Dia memakai helmnya Leo dan memakaikan helmnya ke Lintang sambil bergumam, "Kamu pakai helm blangkonku aja karena, Aku nggak mau helm pria lain nempel di kepala kamu"


Lintang yang sudah memakai helmnya Chandresh, tidak bisa mendengarkan gumamannya Chandresh, oleh karena itu ia sontak bertanya, "Kakak ngomong apa barusan?"


Chandresh berdeham dan segera berkata, "Kakak nggak ngomong apa-apa" Lalu ia mengangkat tubuhnya Lintang untuk ia naikkan ke atas motornya dan ia segera melangkah maju ke depan untuk naik ke motornya. Saat ia sudah siap melajukan motornya, ia menoleh ke belakang untuk berkata, "Pegangan yang benar"


Lintang mencubit sisi kanan dan sisi kiri kemejanya Chandresh dengan malu-malu.


Candresh menghela napas panjang dan sambil menahan motornya dengan kedua kaki jenjangnya, dia menarik kedua tangannya Lintang sampai kedua lengannya Lintang tergelung manis memeluk erat pinggangnya. Kemudian, pria ganteng itu menepuk pelan punggung tangan istrinya yang bertumpuk manis di atas perut ratanya sambil berucap, "Pegangan yang benar itu, seperti ini" Lalu Chandresh mulai menyalakan mesin motornya dan melajukan motornya dengan hati-hati.


Chandresh yang biasanya naik motor dengan kencang, saat itu ia naik motor dengan tenang, hati-hati dan nyaman. Entah kenapa, pria ganteng suaminya Lintang itu ingin membuktikan ke Lintang, bahwa ia begitu serius menjaga keselamatannya Lintang.


Lintang tersenyum senang seakan dia bisa merasakan maksud dan tujuannya Chandresh saat Chandresh mengendari motor dengan hati-hati dan membuatnya merasa sangat nyaman.


Meski penampilan Lintang terlihat cukup aneh setelah memakai helm yang bentuknya mirip blangkon, Chandresh tidak mempermasalahkannya. Meski rambut Lintang tampak acak-acakan, Chandresh justru melihat Lintang sangat cantik dan ia merasa bangga dengan sikap Lintang yang tidak santai saat Lintang naik motor terkena sengatan matahari, penampilannya tampak aneh dengan helm blangkon dan rambutnya menjadi acak-acakan.


Chandresh mencoba bertanya ke Lintang sembari menoleh sedikit ke belakang, "Panas nggak? Apa kita menepi dulu?"


Lintang memajukan wajahnya dan berkata, "Nggak papa. Panas nggak papa Kulitku sama kerasnya dengan watak aku, Kak, hehehehe"


Chandresh tersenyum geli, lalu bertanya kembali, "Kalau nanti lepas helm rambut kamu jadi jelek karena lepek kena keringat dan jadi acak-acakan, jangan salahkan Kakak, lho, ya"


Lintang yang masih memajukan wajahnya menjawab, "Rambut lepek dan acak-acakan itu biasa kalau habis pakai helm. Kenapa harus menyalahkan Kakak?"


Chandresh tersenyum senang mendengar jawabannya Lintang, kemudian ia teringat kembali momen di saat ia masih berpacaran dengan Shinta. Shinta selalu uring-uringan di sepanjang jalan dan terus berkata, "Kapan sampainya, sih? Panas banget, nih, Chan! Aduh! Nggak kuat aku, Chan! Kita menepi dulu beli es!" Dan setiap kali turun dari motor, lalu melepas helm. Shinta selalu merengut dan berkata, "Rambutku jadi jelek kayak gini nih kalau naik motor. Kenapa kamu nggak belajar naik mobil, sih?"


Chandresh menoleh sedikit ke belakang lalu menunduk untuk melihat punggung tangan Lintang yang terjalin manis menempel di atas perut ratanya dengan desiran hangat di hatinya.


Dan di tengah laju sepeda motornya menyusuri panasnya aspal, Chandresh dan Lintang tak sengaja saling bertatap mata lewat kaca spion. Chandresh dan Lintang sama-sama merasa sedikit gugup. Namun, setelah Chandresh dan Lintang saling melempar senyum malu-malu satu sama lain, momen itu menghadirkan deburan indah di hati mereka dan satu dengan yang lainnya merasa yakin kalau mereka berdua akan terus terbayang-bayang momen itu, nanti.


Tiba-tiba gerimis datang. Chandresh langsung menepikan motornya dan mengajak Lintang untuk berteduh.................