
Erick menyusul Chandresh dan menemukan Chandresh berjalan ke arahnya dengan bertelanjang dada. Erick mengerutkan keningnya dan langsung bertanya saat sahabatnya itu berdiri di depannya, "Kau habis berenang?"
Chandresh menganggukkan kepalanya.
"Lalu, di mana kaosmu?" Tanya Erick
"Aku pakai untuk menutupi tubuh seorang wanita yang tenggelam dan berhasil aku selamatkan" Sahut Chandresh dengan santainya sembari berjalan meninggalkan Erick
Erick langsung berputar badan dan menyusul langkah lebarnya Chandresh sembari berteriak, "Jangan bilang kalau kamu juga kasih napas buatan ke wanita yang berhasil kau selamatkan itu!"
Chandresh mengentikan langkahnya tanpa.menoleh ke belakang dan saat Erick berdiri di sampingnya, barulah Chandresh menoleh untuk bertanya, "Memangnya aku nggak boleh memberikan napas buatan ke wanita yang hampir mati tenggelam?"
"Apa wanita itu cantik?" tanya Erick.
"Ya, tapi nggak secantik Istriku" Jawab Chandresh.
"Apa dia seksi?" Tanya Erick kemudian.
"Iya dia seksi. Dia lebih seksi daripada Lintang, karena dia lebih dewasa daripada Lintang. Kenapa? Kalau dia seksi dan cantik, aku nggak boleh melakukan napas buatan?"
Erick langsung menjawab, "Nggak boleh!"
"Kenapa?" Tanya Chandresh.
"Karena kamu udah menikah dan sial! Kau bahkan kasih kaos kamu ke wanita itu" Erick langsung melotot ke Chandresh.
"Emangnya kenapa? Dia pakai baju renang two piece dan dia hampir mati karena tenggelam. Aku kasih kaosku hanya untuk rasa kemanusiaan" Sahut Chandresh.
"Tapi, kalau dia berharap lebih?" Tanya Erick.
"Aku akan jujur ke dia kalau aku sudah menikah dan aku sangat mencintai Istriku" Ucap Chandresh, lalu ia melangkah meninggalkan. Erick.
Erick berlari kecil menyusul Chandresh dan bertanya saat ia sudah mensejajari langkahnya Chandresh, "Aku percaya sama kamu, tapi aku nggak percaya sama keadaan"
"Terserah. Yang pasti, aku nggak ada niat untuk selingkuh. Aku hanya mencintai satu wanita untuk selamanya yaitu, Lintang" Sahut Chandresh.
Begitu masuk ke dalam kamarnya, Chandresh langsung mandi ai hangat dan setelah ia selesai membersihkan badannya, ia melakukan panggilan Video Call dengan istri kecilnya, "Sayang, kok udah di atas kasur?"
"Aku agak pusing, Mas" Sahut Lintang
"Apa itu pertanda bagus? Apa kamu hamil, Sayang?" Tanya Chandresh.
"Belum, Mas. Justru aku pusing karena, PMS. Aku hari ini datang bulan" Sahut Lintang.
Chandesh tampak sedikit kecewa, namun dia bisa menerimanya karena, dia berhubungan dengan Lintang tanpa alat pengaman juga baru satu tahun. Kata dokter, Lintang dan dirinya subur hanya perlu lebih berusaha dan bersabar.
"Kamu kecewa, ya, Mas?" Tanya Lintang.
"Nggak kok. Mas justru mengkhawatirkan kondisi kamu saat ini. Apa pusing banget? Mas jadi pengen pulang sekarang juga, Sayang. Mas nggak tega lihat kamu pucat kayak gitu" Ucap Chandresh.
"Aku udah minum jahe anget bikinannya Bi Ijah. Udah agak mendingan" Sahut Lintang.
"Kalau gitu tidurlah. Kalau pusingnya tambah parah, langsung telpon Mas, ya?"
"Iya, Mas" Sahut Lintang dengan senyum yang masih tampak lemas.
"Aku mencintaimu" Chandresh tersenyum di depan layar ponselnya dan Lintang pun tersenyum di depan layar ponselnya dan berucap, "Aku juga mencintaimu, Mas"
Chandresh lalu mematikan sambungan VC-nya dengan istri kecilnya. Lalu ia meletakkan ponselnya di atas bantal dan menopang kepalanya dengan lengannya. Chandresh tidak bisa tidur memikirkan Lintang. Dia terus menatap langit-langit kamarnya.
Satu jam berikutnya, ia menelepon Bi Ijah, "Bi, tolong cek Lintang, ya?"
"Syukurlah kalau udah bobok. Bi, tolong cek keningnya, panas nggak?"
Bi Ijah langsung menyentuh keningnya Lintang, "Nggak panas, Pak"
"Syukurlah. Bi, tolong Bibi tidur di kamarnya Lintang ya, dan langsung kabari saya kalau Lintang kenapa-kenapa" Ucap Chandresh.
"Baik, Pak" Sahut Bu Ijah.
Chandresh menghela napas lega, lalu ia mematikan sambungan Video Call-nya dengan Bi Ijah. Namun, dia tidak bisa tidur. Pikirannya terus mengarah ke Lintang dan setiap tiga jam, dia menelepon Bi Ijah untuk menanyakan kondisinya Lintang.
Keesokan harinya, Erick mengetuk pintu kamarnya Chandresh dan menemukan Chandresh tampak awut-awutan dengan mata sedikit merah. Erick langsung bertanya, "Kamu nggak tidur ya semalam?"
"Hmm" Sahut Chandresh.
"Kenapa nggak bisa tidur?" Erick celingukan.
Chandresh meraup wajah gantengnya dan bertanya ke Erick, "Kamu cari apa?"
"Maaf, aku selalu berasumsi jelek soal pria yang nggak bisa tidur semalaman" Erick meringis di depan Chandresh.
"Asumsi apa itu?" Chandresh melangkah ke sofa untuk duduk
"Pria yang nggak bisa tidur semalam pasti bercinta dengan seorang wanita. Karena, istri kamu nggak ada di sini, aku cari wanita, siapa tahu kamu sembunyikan wanita di kamar ini"
Ucap Erick dengan santainya.
Chandresh langsung melemparkan wadah tissue yang ada di meja sofa ke Erick dan dengan melotot dia berkata, "Enak aja! Aku nggak seperti itu. Aku nggak ingin seperti Papaku. Aku nggak bisa tidur karena memikirkan Lintang. Lintang sakit"
Erick mengambil wadah tissue yang menggelepar di lantai, laku ia duduk di depannya Chandresh, "Lintang sakit apa?"
"Sakit kepala. Kalau masih belum sembuh juga, habis pertemuan siang ini, aku akan pulang sebentar melihat kondisinya Lintang" Sahut Chandresh.
"Oke. Kalau Lintang masih belum membaik, pulanglah sebentar! Yang penting, kamu bisa memenangkan tender di rapat nanti, untuk sisanya, aku akan mengurusnya" Sahut Erick.
"Doakan supaya aku bisa memenangkan proyek besar ini" Sahut Chandresh.
"Tentu saja aku selalu berdoa untukmu, karena kalau kamu berhasil, aku juga kecipratan bonusnya, hehehehe. Ayo sarapan!" Erick tersenyum ke Chandresh.
"Aku malas makan. Aku masih kepikiran Lintang. Pagi tadi aku telepon, dia masih tampak pucat dan lemas" Chandresh berucap sembari menyandarkan kepalanya di sofa.
"Kamu harus makan demi rapat nanti. Kalau kamu nggak sarapan terus lemas, kan, kamu nggak bisa mikir di rapat nanti. Katanya ingin memenangkan proyek besar ini" Sahut Erick.
"Huuufttt! Kamu benar, Bro. Oke, aku mandi dulu bentar terus kita sarapan" Sahut Chandresh sembari bangkit berdiri lalu melangkah menuju ke kamar mandi.
Erick bangkit berdiri dan berjalan mengelilingi kamarnya Chandresh. Erick mengambil pigura foto yang ada di meja yang ada di bawah televisi.
"Nggak nyangka, sahabatku itu tipe romantis. Kerja aja bawa foto dia dan istrinya. Emang tipe cowok setia dia" Ucap Erick sembari meletakkan kembali pigura foto yang menampakan gambar Chandresh dan Lintang, di atas meja yang ada di bawah televisi.
Beberapa jam berikutnya, Chandresh dan Erick berjalan-jalan berkeliling kota untuk menghilangkan ketegangan sebelum rapat dimulai.
Chandresh mengantre di depan sebuah kasir toko besar yang menjual berbagai macam camilan, dan beragam bentuk souvenir untuk oleh-oleh, sementara Erick masih sibuk mencari souvenir untuk oleh-oleh. dan di belakangnya ada seorang wanita di belakangnya berkata, "Maaf, saya tergesa-gesa. Boleh saya bayar duluan?"
Chandresh melangkah mundur sambil menarik keranjangnya tanpa menoleh ke wanita itu dan wanita itu langsung berkata, "Terima kasih"
Sambil menunggu semua barang belanjaannya selesai dihitung di mesin kasir, wanita itu iseng menoleh ke belakang dan langsung berkata dengan wajah kaget, "Kamu?!"