Missing You

Missing You
Menang



"Maaf kita belum pernah bertemu sebelumnya" Sahut Chandresh.


"Kamu yang menyelamatkan aku" Sahut wanita yang berdiri di depannya Chandresh.


Chandresh tersentak kaget dan spontan bilang, "Wow! Kenapa main peluk?" Dan ia segera mengurai pelukan wanita muda itu, lalu berkata, "Cukup berterima kasih saja, jangan main peluk!" Chandresh berkata sembari melangkah mundur satu langkah.


Wanita itu mengulurkan tangannya dengan senyum cantiknya dan berkata, "Namaku........."


Chandresh langsung berkata, "Maaf, aku diburu waktu. Kalau sudah selesai silakan Anda pergi dari depan meja kasir"


"Ah, iya. Maaf" Wanita muda itu kemudian menunggu Chandresh di kursi yang ada di dekat pintu masuk dan terus menatap Chandresh dari sana.



Chandresh mengabaikan wanita muda itu dan memilih keluar dari pintu lain saat ia tahu wanita muda itu menunggunya di pintu keluar utama.


Melihat Chandresh tampak canggung dan kekuatan, wanita muda itu justru tergelak geli dan bergumam, "Dia bukan hanya baik, ganteng, tapi juga lugu dan menggemaskan"


Erick mengikuti langkah sahabatnya dengan bertanya, "Kenapa kamu mengajakku keluar lewat pintu samping? Ada apa?"


"Nggak papa" Sahut Chandresh dan sambil berlari ke dalam mobil, ia berkata, "Kita harus bergegas balik ke hotel untuk berganti baju dan menghadiri pertemuan akbar para pengusaha muda.


Setelah berganti baju, Erick dan Chandresh bergegas berlari menuju ke aula utama untuk menghadiri pertemuan akbar para pengusaha furniture dan desain interior yang diselenggarakan oleh konglomerat berumur lima puluhan yang bernama Rama Adhitya.


Chandresh tersentak kaget saat Rama Adhitya bangkit berdiri dan mengenalkan kepada semuanya, "Ini Putri saya yang baru saja kembali dari Amerika. Soraya Adhitya. Soraya baru saja menyelesaikan pendidikan S2-nya di Amerika dan saat ini dia mulai ingin mengenali bisnis Papanya"


Soraya tersenyum ke semua tamu undangan papanya dan dia memberikan senyum cukup lama dan tatapan khusus ke Chandresh Kusuma.


Para peserta yang gagal di presentasi dan tidak berhasil menggugah selera Rama Adhitya langsung dimohon keluar dari ruang rapat. Hingga tinggal tersisa Chandresh, Erick, Dave, dan Pambudi. Pambudi juga tidak berhasil menggugah seleranya Rama dan Pambudi pun dimohon keluar dari ruang rapat.


Tinggal Dave dan Chandresh. Keduanya berhasil memikat hatinya Rama Adhitya, namun Rama hanya membutuhkan satu desainer.


Rama kemudian bertanya ke Chandresh, "Kenapa desain kamu lebih mahal dari desainnya Dave?"


"Karena saya memakai bahan berkualitas tinggi dan Anda bisa lihat kalau desain dan produk saya jauh lebih memiliki seni dan sangat cocok untuk diaplikasikan di resort semewah ini. Desain saya menjanjikan kenyamanan dan kemewahan" Sahut Chandresh.


"Tapi, punya saya juga tidak kalah memiliki seni dan unik. Yang terpenting harganya lebih murah dari punyanya Chandresh" Sahut Dave.


"Aku cocok dengan harganya Dave. Emm, oleh karena itu, aku akan pakai desainnya.........."


"Pa!" Soraya langsung menyela.


Rama menoleh ke putri tunggal kesayangannya, "Ada apa?"


"Resort ini resort mewah dan mahal. Kalau kita pakai produk dan desain yang murah, maka aku rasa ridak akan cocok. Kita keluar uang sedikit lebih banyak nggak papa. Kalau para turis merasakan kenyamanan maka kita dengan mudah bisa menggaet lebih banyak turis dan bisa balik modal dengan cepat. Kalau pakai produk murah, takutnya kita justru akan kehilangan pelanggan" Sahut Soraya


"Aku pilih Pak Chandresh Kusuma" Sahut Soraya sambil bangkit berdiri. Rama, Dave, Erick, dan Chandresh ikutan bangkit berdiri.


Chandresh terus ternganga dan sesekali tertawa senang karena akhirnya, setelah sekian purnama, ia berhasil mengalahkan Dave Buana dan berhasil memperoleh proyek yang dua kali lebih besar dari proyek yang Dave pernah dapatkan sebelumnya. Chandresh menerima ucapan selamat dari Rama dan Soraya sambil terus mengulas senyum tidak percayanya.


Saat Rama dan Soraya mengundang Chandresh untuk makan malam, Chandresh berkata, "Maafkan saya, saya harus balik dulu malam ini dan saya akan ke sini lagi besok siang. Terima kasih atas undangannya" Chandresh lalu berbalik badan untuk keluar dari ruang rapat itu dan langsung berlari ke kamarnya. Erick ikutan berlari menyusul Chandresh.


Di dalam kamarnya Chandresh mereka merayakan keberhasilan mereka dan Chandresh hampir menangis saat ia menerima telepon dari papa mertuanya. Ucapan selamat dengan nada bangga dari papa mertuanya akhirnya bisa Chandresh dengarkan di telinganya.


Erick terus tersenyum lebar ke Chandresh dan ia berkata, "Selamat, ini hari keberuntungan kamu"


"Chandresh langsung berkata, "Aku harus pulang untuk mengecek kondisinya Lintang. Tolong kamu urus masalah d sini seperti tanda tangan perjanjian dan rincian biayanya.dan......."


Erick langsung menepuk pundaknya Chandresh dan berkata, "Iya, Bro! Pulanglah! Tengok dulu Istri kamu dan buat Istri kamu sehat, jadi besok kamu bisa kerja lagi dengan lebih tenang"


Chandresh tertawa lebar dan berkata, "Makasih, Bro! Aku juga titip kamar ini. Aku nggak bawa koper karena besok, aku, kan, kembali lagi ke sini"


"Oke" Sahut Erick.


Beberapa jam kemudian, Chandresh sampai ke rumah dan dia langsung berlari ke kamarnya. Dia menemukan Lintang masih meringkuk di dalam selimut. Chandesh langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti baju, lalu ia melompat ke atas kasur untuk masuk ke dalam selimut dan mengecek keningnya Lintang, "Sayang, kok kamu panas banget? Sayang, bangun! Kita ke rumah sakit, ya?"


Lintang membuka kedua kelopak matanya dan langsung memeluk suaminya sambil berkata, "Mas, aku nggak mimpi,kan, ini beneran kamu, kan?"


Chandresh mencium keningnya Lintang cukup lama lalu berkata di sana, "Iya ini aku"


"Kok udah pulang, Mas?" Tanya Lintang sambil mempererat pelukannya


Chandesh mengelus punggungnya Lintang dan berkata, "Kamu sakit, Sayang. Bahkan kamu nggak bilang kalau kamu sakit separah ini. Untung saja aku pulang. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit sekarang juga" Chandresh langsung merengkuh tubuh rampingnya Lintang ke dalam pelukannya dan bergegas membawa masuk Lintang ke dalam mobil untuk ia bawa ke rumah sakit.


Dokter Andi Rajendra terkejut mendapati Chandresh membopong Lintang sambil berlari. "Lintang kenapa?" Tanya Dokter Andi Rajendra.


"Lintang demam, Pa. Itulah kenapa saya pulang dulu untuk mengurus Lintang. Saya akan balik lagi besok agak siangan"


"Iya. Taruh Lintang di bed! Aku akan periksa Lintang"


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dan hasil lab akhirnya keluar, Dokter Andi Rajendra berkata, "Lintang hanya terkena flu biasa. Dia kecapekkan"


Chandresh memeluk bahu Lintang berkata, "Syukurlah kamu cuma flu biasa, Sayang"


Chandresh langsung merebahkan Lintang di atas kasur begitu mereka sampai di rumah dan dia langsung menyuapi Istirnya dengan penuh cinta dan membantu Lintang minum obat Chandresh kemudian memeluk Lintang sampai Lintang lelap tertidur.


Dan sepanjang malam, Chandresh terus mengompres Lintang dan menjaga Lintang dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Sementara itu, Soraya terus tersenyum semringah saat ia membayangkan wajah ganteng pahlawannya dan dia sudah tidak sabar ingin bertemu Chandresh Kusuma lagi.