Missing You

Missing You
Pemintaan Sulit



Chandresh mengajak Lintang berkencan seharian penuh di hari cutinya. Pria ganteng bertubuh atletis itu, menuruti semua kemauan istri kecilnya tanpa mengeluh. Bahkan saat Lintang mengajaknya ke taman bermain dan naik komedi putar, Chandresh tidak menolaknya padahal sejak kecil, Chandresh benci naik komedi putar yang ada di taman bermain, karena setelah naik wahana permainan komedi putar, dia akan muntah-muntah.


Lintang yang tidak mengetahui soal itu, tampak ceria mengajak Chandresh naik ke Parung kuda yang ada di komedi putar dan istri cantiknya Chandresh itu, dengan riangnya mengajak Chandresh bergandengan tangan.


Di putaran pertama, Chandresh mulai merasakan kepalanya pening, namun di tetap mengulas senyum ceria di depan istri tercintanya. Di putaran kedua, perutnya mulai mual dan di awal putaran ketiga, Chandresh melepaskan genggaman tangannya Lintang, melompat turun dari atas patung kuda dan langsung melompat turun dari atas komedi putar yang masih berputar. Chandresh berlari ke samping kanan komedi putar dan muntah-muntah di atas rumput


Lintang tersentak kaget dan langsung melompat turun dari atas kuda untuk menyusul suami tercintanya. Lintang menepuk-nepuk punggungnya Chandresh saat Chandresh muntah-muntah di dekat wahana permainan komedi putar. "Kenapa Mas nggak bilang kalau Mas, nggak bisa naik komedi putar dan selalu muntah kalau habis naik komedi putar? Kenapa, mau aja waktu Lintang ajak naik, tadi?"


Chandresh menegakkan badannya dan menatap Lintang dengan wajah pucat, "Karena, kamu yang minta. Apapun yang kamu minta, akan selalu aku turuti, Sayang"


Lintang mengerucutkan bibirnya, lalu berkata sambil mengusap bibir suaminya dengan sapu tangan, "Itu namanya konyol, Mas. Lain kali jangan kayak gini, ya!"


Chandresh menganggukkan kepalanya dan sambil tersenyum penuh cinta, ia bertanya, "Mau naik apalagi sekarang?"


Lintang menggelengkan kepalanya dan berucap, "Kita pulang aja. Wajah Mas pucat, tuh, kebanyakan muntah" Chandresh tersenyum dan langsung merangkul bahunya Lintang untuk mengajak Lintang melangkah ke parkiran mobil.


Sesampainya di rumah, Chandresh langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan Lintang langsung menuju ke dapur untuk membuatkan suaminya teh lemon hangat Lintang meletakkan teh lemon hangat bikinannya di atas nakas, lalu ia mengetuk pintu kamar mandi, "Mas?"


"Masuklah! Nggak aku kunci" Chandresh berteriak dari dalam kamar mandi.


Lintang masuk ke dalam dan mendapati suaminya tengah berdiri di bawah shower. Chandresh langsung menarik tangannya Lintang dan sambil mengajak Lintang berciuman, ia melucuti semua kain yang melekat di tubuh ramping istri kecilnya yang sangat cantik dan imut


Lintang menyentuh tubuh atletis suaminya di sela kegiatannya berciuman dengan suami gantengnya. Lintang merasakan keenam tonjolan otot perutnya Chandresh dan seketika itu pula timbul gairah yang baru di dalam dirinya.


Ciuman itu begitu lama dan berasa begitu nikmat, sampai Chandresh tidak mampu untuk mengakhirinya. Chandesh berucap saat dia dan Lintang akhirnya saling melepaskan bibir mereka untuk mengambil napas, "Kau Lintang Rajendra memang pengalih perhatian yang sangat hebat"


Bulu lentik terangkat ke atas saat Lintang menatap suaminya dengan tanya, "Apa sebelumnya, aku bukanlah pengalih perhatian yang hebat?"


Chandresh tergelak geli, lalu berucap, "Kau harus bertanggung jawab untuk itu!" Chandesh langsung menyusupkan wajahnya ke lehernya Lintang dan Lintang terus melenguh di saat Chandresh mendaratkan beberapa tanda merah di sana. Kedua kelopak matanya Chandresh terpejam saat tangannya mulai menjelajah dan Chandresh berucap dengan suara serak, "Aku ingin kau menikmati kepuasanmu dulu, Sayang. Karena, jika aku langsung menyatu denganmu, aku tidak akan bisa berhenti"


Ronde kedua berlangsung di depan pintu kamar mandi, Chandresh menggendong Lintang dan tidak bisa menahan diri lagi untuk segera menyatu dengan Lintang di depan pintu kamar mandi.


Menuju ke ronde ketiga, Chandresh merebahkan Lintang di atas ranjang dan langsung menciumi pusar Lintang. Pria ganteng itu kemudian berkata di tengah deru napasnya, "Astaga, Sayangku! Kau sangat cantik" Dan tanpa menunggu lama, Chandresh melesak masuk.


Keesokan harinya, Lintang yang masih bertubuh polos dibalik selimut, terbangun perlahan. Pegal-pegal yang pernah ia alami sebelumnya, langsung ia rasakan di pagi hari itu. Sambil menarik kedua ujung selimutnya, ia menatap suaminya yang tengah mematut diri di depan cermin dan memasang dasi berwarna biru tua yang serasi dipadukan dengan kemeja biru muda bermotif kotak-kotak.


Chandresh menatap Lintang dari cermin dengan senyum penuh cinta. Setelah dasinya terpasang sempurna dia berbalik badan untuk berdiri di depan ranjang. Lintang bangun, menarik selimutnya dan bersandar di ranjang dengan senyum penuh cinta, lalu berkata, "Kamu ganteng banget, Mas"


Chandresh berkata, "Kenapa kau pegang erat-erat selimut itu? Aku udah lihat semuanya. Bahkan, aku udah hapal semua lekuk tubuh kamu, Sayang"


"Kalau selimut ini melorot, aku takut kamu minta jatah lagi dan kamu bisa telat ke bandara" sahut Lintang dengan bibir manyun.


Chandresh tergelak geli lalu ia mencium keningnya Lintang dan berkata, "Kalau udah sampai aku akan langsung hubungi kamu"


Lintang tersenyum dan setelah menganggukkan kepalanya, ia berkata, "Hati-hati, aku mencintaimu dan sukses untuk bisnis kamu, Mas"


Chandesh mengusap rambutnya Lintang yang lepek karena semalam, Chandresh benar-benar membuat Lintang kelelahan. Chandresh, lalu berucap, "Terima kasih untuk doanya Aku sangat mencintaimu. Semangat kuliah di hari pertama" Dia mencium pucuk kepalanya Lintang dan bergegas meninggalkan Lintang sebelum ia menjadi lupa diri dan mengajak Lintang berciuman kembali.


Sesampainya di Singapura, Chandresh langsung mengirim pesan text ke Lintang dan dia hanya bisa mengirim pesan text, aku sudah sampai, Sayang Baru aja sampai dan aku sudah sangat merindukanmu.


Chandresh terpaksa menelan keinginannya untuk melakukan Video Call dengan istrinya, karena dia langsung dihadang kliennya untuk membahas bisnis mereka di dalam perjalanan mereka menuju ke sebuah restoran.


Di dalam restoran, kliennya Chandresh membuat menantunya Dokter Andi Rajendra itu termenung cukup lama ketika kliennya Chandresh bertanya, "what can i get if i invest in your project, Mister Chandresh?" (Apa yang bisa saya dapatkan jika saya menanam modal di proyek Anda, Tuan Chandresh?"


Chandresh yang masih lugu dan naif di dunia bisnis, lupa bahwa di setiap bisnis dengan nominal besar, selalu melibatkan permainan, 'take and give'


"I can't take any longer to wait your answer, ( Saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menunggu jawaban Anda), Mister Chandresh" ucap kliennya Chandresh.


Chandresh menghela napas berat dan akhirnya bertanya, "What do you want, Mister Allen?"


"I Like this model" Kliennya Chandesh menyodorkan sebuah foto model cantik di depannya Chandresh.


Chandresh mendongakkan wajahnya dengan cepat setelah ia menatap foto model cantik itu dengan tanya, "And?"


"You know what I mean (kau tahu apa maksudku)" Kliennya Chandresh mengulas senyum penuh arti dan Chandresh langsung mengumpat di dalam hatinya.


"If you can ask that model to come to my room tomorrow night, I will invest a huge amount in your project" (Jika kamu bisa meminta model itu untuk datang ke kamarnya besok malam, aku akan menanam modal yang sangat besar di proyek kamu). Call me immediately" (hubungi aku secepatnya) Klien itu kemudian bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Chandresh yang masih terhenyak kaget di kursinya.


"Gimana nih?" Chandresh menoleh ke Erick.


"Kita berdua cukup tampan dan menarik untuk menghubungi model itu saat ini juga. Aku rasa ia akan tertarik untuk datang menemui kita jika kita menanggung biaya penerbangan dia dan penginapannya dia" Sahut Erick.


"Tapi, meminta model itu untuk menemani klien brengsek itu? Apa kau yakin ini cara yang benar?" Tanya Chandresh.


"Asal uangnya menjanjikan, model itu pasti mau. Kalau aku perhitungkan........." Erick mulai memencet kalkulator yang ada di ponselnya, lalu ia berucap, "Setelah dikurangi biaya penerbangan dan penginapan model tersebut plus beberapa bonus dari kita, kita masih akan mendapatkan untung sangat besar"


"Bukan masalah untung besar yang akan kita dapatkan. Tapi, aku nggak tega kalau harus menyerahkan model itu ke klien kita. Dia wanita, aku punya Mama dan Istri yang juga wanita, jadi aku nggak tega memakai model itu untuk kepentingan bisnis" Ucap Chandresh dengan wajah lesu.


"Lalu?" Erick menyapa Chandresh dengan penuh tanda tanya.


Chandesh hanya bisa mengangkat kedua pundaknya.