
Shinta terus menangis dan tubuhnya menjadi kurus kering selama tinggal di balik jeruji besi. Dia menyesali seluruh kebodohannya dan berharap suatu saat nanti dia masih bisa bertemu kembali dengan Chandresh dan mamanya Chandresh untuk meminta maaf secara tulus.
Selama Lintang menjadi putri tidur, Chandesh benar-benar mengerti apa arti kata missing you. Dia benar-benar merindukan Lintang. Setiap malam Chandresh tidur di atas kursi di samping bed-nya Lintang tanpa mengeluh dan dia selalu mengecup keningnya Lintang setiap kali dia berangkat ke kantor dan pulang dari kantor, tapi Lintang belum juga bangun dari tidur panjangnya.
Tiga Minggu tanpa terasa berlalu dengan sangat cepat dan selama tiga Minggu itu, Chandesh dengan tanpa kenal kata lelah bolak balik dari kantor ke rumah sakit di jarak yang cukup jauh. Chandresh juga telaten selalu memandikan Lintang dan mengajak Lintang mengobrol. Chandresh menceritakan semua yang ia alami hari lepas hari ke Lintang dan terus berharap Lintang memberikan respons.
Istrinya Dokter Andi Rajendra berkata ke suaminya, "Lihatlah, Mas! Chandresh sangat peduli dan terlihat sekali kalau dia mencintai Lintang, Putri kita, Mas"
Dokter Andi Rajendra hanya menghela napas panjang dan istrinya kembali bersuara, "Jangan menghakimi Chandresh! Chandresh juga tidak ingin mencelakai Lintang. Lihatlah, Mas! Chandesh selalu berusaha membuat Lintang bangun dari tidur panjangnya"
Dokter Andi Rajendra menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil menghela napas panjang.
Dokter Andi Rajendra duduk di sofa sambil merangkul bahu istrinya dan terus menatap Chandesh yang terus mengajak Lintang mengobrol walaupun tidak ada respons sama sekali dari Lintang.
Chandresh menghela napas panjang saat ia melihat belum ada reaksi apapun dari Lintang. Chandesh lalu teringat akan lagu 'Fight Song' yang sering dinyanyikan Lintang dan kata Lintang, lagu tersebut adalah lagu favoritnya Lintang.
Chandresh kemudian berkata sambil mencium punggung tangannya Lintang, lalu mulai bernyanyi, "Like a small boat on the ocean. Sending big waves into motion. Like how a single word can make a heart open. I might only have one match, but I can make an explosion. And all those things I didn't say.
Wrecking balls inside my brain.
I will scream them loud tonight.
Can you hear my voice this time?........"
Tiba-tiba Lintang membuka kedua bola matanya dan Chandresh tertegun dan sontak menghentikan nyanyiannya. Chandesh langsung bangkit berdiri dan menatap Lintang dari jarak yang sangat dekat lalu bertanya, "Lin, ini Kakak. Kamu bisa melihat Kakak?"
Dokter Andi Rajendra dan istrinya langsung bangkit berdiri secara bersamaan dan berlari mendekati bed-nya Lintang. Dokter Andi Rajendra dan istrinya berdiri di sisi bed yang lain sementara Chandresh terus bertanya, "Lin, ini Kakak. Kamu bisa melihat Kakak, kan?"
Lintang mengerjapkan mata sekali, lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan pelan-pelan. Chandresh menitikkan air mata bahagia, ia langsung memeluk Lintang dengan penuh kerinduan dan derai air mata.
Chandresh memeluk erat tubuhnya Lintang dengan terus mengucapkan kata, "Kakak sangat merindukan kamu, Lin"
"Aku juga, Kak" Sahut Lintang dengan suara lirih karena fisiknya masih terasa sangat lemas.
Beberapa jam kemudian, Chandresh membopong tubuh istri kecilnya yang masih lemah ke parkiran mobil saat dokter yang memantau dan merawat kesehatan fisiknya Lintang, telah mengizinkan Lintang menjalani rawat jalan. Dokter Andi Rajendra dan istrnya berdiri di depan pintu mobil dan berkata ke Chandresh, "Papa percayakan Lintang ke kamu. Jangan sampai hal buruk menimpa Lintang lagi ke depannya! Jika itu terjadi, aku akan bertindak tegas padamu"
Baik, Pa. Saya janji, saya akan melindungi Lintang dengan jiwa dan raga saya dan ke depannya, saya tidak akan biarkan hal buruk menimpa Lintang" Sahut Chandresh.
Dokter Andi Rajendra menepuk pundaknya Chandresh dengan singkat lalu melangkah mundur di saat Chandresh membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Dokter Andi Rajendra lalu mengajak istrinya berbalik badan menuju ke parkiran mobilnya yang berada di parkiran khusus untuk para direksi.
Karena masih lemas, Lintang kembali tertidur dan Chandresh memakaikan sabuk pengamannya Lintang dengan hati-hati dan penuh dengan kelembutan agar Lintang tidak terbangun. Lalu ia mengelus pipinya Lintang, mencium keningnya Lintang dan setelah cukup puas memandangi wajah cantiknya Lintang saat tertidur pulas, Chandesh menegakkan tubuhnya kembali dan memasang sabuk pengamannya, kemudian melajukan mobilnya.
Sesampainya di halaman rumah, Chandresh melepas pelan sabuk pengamannya, membuka tanpa mengeluarkan suara pintu mobilnya dan melangkah turun dengan hati-hati. Lalu ia menutup pelan pintu mobilnya dan langsung berlari kecil mengitari bagian moncong mobilnya untuk membopong Lintang karena, Lintang masih tertidur dengan sangat pulas.
Chandresh merebahkan Lintang di atas kasur dengan penuh kelembutan. Lalu ia menarik selimut, menyelimuti tubuh Lintang yang tampak semakin kurus, lalu ia menyetel suhu AC yang ada di kamarnya. Setelah itu ia melangkah pelan keluar dari dalam kamar dan langsung menemui Bi Ijah untuk bertanya, "Bi, ramuan rempah alami yang bagus untuk membuat badan kembali segar dan fit itu apa, ya? Apa Bibi tahu?"
"Tahu. Dan Bibi punya semua bahannya. sebentar Bibi ambilkan" Bi Ijah memutar badan untuk membuka lemari es dan tidak begitu lama, dia kembali lagi menghadap Chandesh dan memberikan nampan yang berisi Jahe merah 2 ruas ibu jari jeruk nipis satu buah, kayu manis 3 jari, gula merah satu bongkahan berukuran sedang dan air tiga gelas belimbing.
Chandresh menerima nampan itu dengan bertanya, "Cara bikinnya gimana Bi?"
Bi Ijah tersenyum lalu menyahut, "Cara membuatnya, Semua bahan sudah Bibi cuci sebelum Bibi masukan ke lemari es, jadi masukkan aja semua bahan ke dalam air yang mendidih, tapi jangan lupa, Pak, jahe merahnya harus digeprek dulu!"
"Oh, baiklah. Bibi bisa tinggalkan saya. Saya ingin bikin sendiri untuk Istri tercinta saya" sahut Chandresh dengan senyum tampannya.
Bi Ijah tersenyum lebar dan berkata, "Siap delapan enam, Komandan"
Chandresh langsung meletakkan panci berukuran sedang diantara kompor dan menuangkan tiga gelas belimbing air. Dia merebus air itu sampai air mengeluarkan banyak uap, kecilkan api, lalu ia masukkan dan merebus semua bahan yang sudah disiapkan bersama dengan gula merah selama waktu yang dirasanya cukup. Kemudian dia menyaringnya ke dalam mug kesayangannya Lintang yang bergambar kupu-kupu dan bergegas membawa mug tersebut ke kamar sebelum minuman herbal bikinannya itu dingin.
Sesampainya di kamar, Lintang terlah bangun dan bersandar ke ranjang. Lintang menoleh untuk tersenyum ke Chandresh dengan wajah yang masih tampak pucat dan lesu.
Chandesh duduk di tepi ranjang lalu berkata, "Kakak buatkan kamu minuman herbal yang hangat. Biar membuat tubuh kamu kembali fit. Diminum, ya?" Sambil mengambil sesendok minuman herbal bikinannya dan dia langsung meniupnya saat ia melihat Lintang menganggukkan kepalanya.
Namun, satu sendok penuh minuman herbal tidak masuk ke dalam mulutnya Lintang dengan sempurna dan Lintang langsung berkata, "Maaf" dengan suara lirih dan masih terdengar lemah.
Chandesh langsung mengelap bibirnya Lintang dengan telapak tangannya dan berkata, "Kenapa harus minta maaf. Emm, tapi kamu harus minum minuman herbal ini. Bagaimana caranya agar kamu bisa meminumnya dengan baik dan semua cairan bisa masuk ke dalam mulut kamu?"
Lintang berkata, "Aku masih belum bisa membuka mulutku lebar-lebar, Kak. Mungkin karena, aku terlalu lama tertidur"
Chandesh lalu tersenyum lebar dan berkata, "Aku tahu bagaimana caranya" Chandresh menyeruput minuman herbal itu dan menahannya di dalam mulutnya, menopang kepalanya Lintang agar sedikit rebah, dan dengan cepat ia menempelkan bibirnya ke bibir lintang dan dia membuka pelan bibirnya lintang dengan lidahnya. Dan berhasil. Minuman herbal berhasil masuk ke dalam mulutnya Lintang dan Lintang bisa menelannya dengan sempurna.
Chandesh terus melakukan hal itu dengan telaten sampai minuman herbal tinggal separuh dan Lintang berkata, "Cukup, Kak. Nanti lagi, ya"
Chandresh lalu meletakkan mug di atas nakas, lalu ia merebahkan diri di sampingnya Lintang, meraih kepalanya Lintang untuk ia rebahkan di dada bidangnya dan sambil mengelus rambutnya Lintang dan berkata, "Kakak akan terus memberi kamu minum dengan cara seperti tadi sampai kamu bisa membuka kembali mulut kamu lebar-lebar"
Lintang mengusap dada bidangnya Chandresh dan berkata lirih, "Makasih, Kak"
"Kenapa harus berterima kasih. Di dalam cinta, tidak perlu ada kata terima kasih"
Walaupun masih merasa lemah dan lesu, Lintang mendongakkan kepalanya karena, kaget saat ia mendengar kata cinta keluar dari mulut suaminya. Dia bersitatap dengan Chandresh dan Chandresh tersenyum ke Lintang, laku berkata, "Kakak Mencintaimu, Lin. Sangat mencintaimu"