
"Apakah masih sakit?" Pak Chang menyentuh leherku. Aku refleks menggerakkan badanku ke depan. Aku membuka tas dan mengambil cermin. Ada tanda merah di leher sebelah kiriku. Aku melihat Pak Chang dengan tatapan kesal.
Belum habis kesalku, ternyata Pak Chang tidak membawaku pulang. Kami berhenti di suatu restoran. "Aku minta maaf atas kelakuanku, akan kubelikan makan siang sebagai permintaan maafku"
"Tidak perlu Pak, Saya tidak mau ada bahan berita yang berhubungan dengan Saya." Aku melihat sekeliling. "Tenang saja, disini aman". Dia membukakan pintu untukku.
Mau tidak mau aku keluar dari mobil dan mengikuti kemana dia pergi. Pelayan menyambut kami dengan sopan. Mereka mengantar kami ke tempat yang sudah dipesan.
Ternyata ini adalah private resto yang sering didatangi selebritas. Aku melihat sekeliling dan menemukan beberapa wajah yang sering muncul di layar kaca. Aku merasa tidak pantas berada disini.
Pak Chang memperhatikanku. "Ada seseorang yang kau kenal?" Aku tersadar dan berhenti melihat sekeliling. Pak Chang memberiku buku menu. "Apa yang ingin kau makan?"
Beberapa nama menu disini sangat susah dieja. Tapi aku mengenali makanan yang didepannya tertera kata spagetti. Aku menunjuk salah satu makanan dengan kata depan spagetti. "Minumnya terserah Pak Chang."
"Kenapa kau selalu memanggilku dengan sebutan itu, padahal aku bukan lagi atasanmu". Aku berpikir sebentar. "Apa Saya harus memanggil Anda Paman?"
Pak Chang tertawa ringan. "Kau pernah memanggilku Oppa di rumah. Kenapa tidak pernah lagi memanggilku seperti itu?" wajahku memerah karena malu.
"Apakah syuting di Busan lancar, Pak?" aku belum bisa mengganti panggilanku. Dan itu adalah hal yang paling benar kulakukan saat ini. "Kau tidak melihat berita akhir-akhir ini?" dia berbalik bertanya padaku.
"Apakah anda berhubungan dengan pasangan Anda di drama?" Pak Chang mencoba menatap mataku. "Kau cemburu?" Kenapa orang ini menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain. Aku tidak akan pernah menjawabnya.
"Kau percaya dengan semua berita yang kau dengar?" Aku menatap matanya. "Bukannya setiap berita memiliki dasar yang kuat untuk terbit?" aku berbalik bertanya padanya. "Terkadang berita muncul tanpa ada konfirmasi dengan sumbernya dan itulah yang sering terjadi padaku."
Aku sedikit memikirkan perkataannya. Memang banyak berita yang akhirnya setelah diperiksa tidak benar. Mereka hanya mencari sensasi yang bisa menaikkan ketenaran. "Kau tidak bisa jadi pasanganku kalau terlalu percaya pada semua berita itu." Memangnya siapa yang mau jadi pasanganmu. Aku mencibir.
Dia memegang tanganku. Aku terkejut dia melakukannya di tempat umum. "Aku hanya melakukan semua hal tidak sopan padamu, hanya padamu Jin Ae." Lalu bagaimana hal ini bisa membuatku senang.
Dia bilang melakukan semua itu hanya padaku. Itu menjadikanku seperti wanita yang mau diperlakukan buruk. "Saya senang Anda mengatakannya. Saya tidak senang dengan semua perlakukan Bapak yang seperti itu."
"Aku tidak bisa menahan diri kalau terhadapmu" Aku sedikit terhenyak. Apakah ini pernyataan cinta atau sesuatu yang lain? Aku merasa bingung sementara waktu. Saat itulah makanan yang kami pesan datang. Tampilannya sangat cantik, membuatku tidak bisa memakannya.
"Saya heran dengan keputusan Bapak mengakhiri kontrak kerja Saya" Pak Chang melihatku sambil sesekali memasukkan daging ke mulutnya. "Setelah kejadian itu apakah kau tidak takut bekerja padaku?"
Aku menggeleng. "Kenapa kau tidak takut? Kau terluka hanya karena kau keluar masuk rumahku". Aku merasakan hal yang aneh. Kenapa aku tidak merasa takut masuk rumahnya lagi. Perkataannya ada benarnya.
"Bapak tidak ingin bertemu dengan Saya lagi?" Pak Chang juga menatapku. "Aku ingin kau berada di sekitarku tapi tidak sebagai pembantu" Aku berpikir keras. "Lalu Bapak ingin Saya menjadi apa?"
Pembicaraan kami menjadi terlalu serius. Aku sedikit merasa berdebar ketika dia mengatakan ingin aku ada disekitarnya. "Kau masih belum siap dan pantas untuk itu" Aku terkejut.
Apa??? Jawaban apa itu. Apa dia merendahkanku. Atau dia tidak menganggap aku berada di level yang sama dengannya. Aku merasa rendah sekarang. Seakan semua tembok menekanku.
Pak Chang tanganku sedikit gemetar. "Kau mempercayai semua berita tentangku tapi tidak pernah marah, tapi kau juga tidak melawan bagaimanapun aku memperlakukanmu. Seperti hari ini"
Aku melawan, apa maksudnya tidak melawan. "Yang kulakukan padamu bisa dikatakan pelecehan tapi kau tidak pernah marah atau melapor polisi." tanganku gemetar dan kusembunyikan di bawah meja.
"Kenapa kau menerima bagaimanapun aku memperlakukanmu?"
Itu karena aku merasa nyaman denganmu. "Apa karena aku seorang artis atau karena wajahku tampan atau yang lain?"
Aku berdiri "Saya ingin ke kamar kecil" Aku berjalan ke kamar kecil dengan sedikit gemetar. Apa yang harus kukatakan. Aku benar-benar tidak tahu satu jawaban untuk pertanyaan Pak Chang. Aku ragu kalau aku menyukainya. Tapi aku juga tidak membencinya.
Aku keluar kamar kecil dan duduk kembali di depan Pak Chang. "Habiskan makanmu lalu kuantar pulang" Aku menatap sisa spagetti yang harus kumakan. "Saya tidak tahu jawaban setiap pertanyaan Bapak. Yang Saya tahu adalah Saya merasa nyaman ketika berada di dekat Bapak. Memang Saya salah dengan membiarkan Bapak memperlakukan Saya. Tapi Saya tidak merasa keberatan" aku sudah menjawabnya.
"Itu artinya kau masih ragu dengan perasaanmu sendiri. Dan aku tidak bisa lagi berada di dekatmu." Kata itu menghantam di hatiku. Hatiku tiba-tiba merasa sakit. "Kenapa Bapak tidak memberi Saya kesempatan untuk menghapus keraguan Saya?" Pak Chang tersenyum.
"Apa yang ingin kaulakukan denganku?" dia tersenyum dengan tampannya. "Kencan" kata itu keluar begitu saja dari bibirku. Aku pasti sudah bodoh sekali sekarang. Pak Chang berkata "Aku tidak bisa berkencan seperti orang lain. Aku tidak bisa mengajakmu menonton, jalan jalan di taman hiburan atau sekedar berjalan berdua di taman." Aku mengerti itu semua.
"Saya yang akan menentukan tempatnya" aku mengharap ada keinginan dari Pak Chang menerima ajakanku. "Besok aku ada waktu seharian, kau yang mencari tempatnya dan aku yang akan membayar semuanya" Dia menunjukkan kekuatannya lagi.
"Tidak. Karena besok rencana Saya maka Saya yang akan bayar semuanya." kami bertatapan. "Ayo kuantar pulang." Aku berdiri dan bersiap pergi. Pak Chang mengambil tanganku dan menggenggamnya. Aku membiarkannya dan berjalan bersama keluar restoran.
Di mobil kami tidak banyak bicara. Aku melihat sekeliling dan sampailah kami di gwangjin-gu. Aku melepas sabuk pengaman. Pak Chang menarik tanganku dan menangkap wajahku ditangannya. Dia mengecup bibirku.
Ketika dia melepas tangannya, aku menarik kemejanya dan menciumnya tepat di bibir. Kami berciuman lama sekali sampai aku kehabisan nafas. Wajahku memerah seperti kepiting. Pak Chang memelukku dan meletakkan kepalaku di pundaknya.
"Kita bisa pergi sekarang untuk berkencan kalau kau mau. Atau pergi ke hotel saja." Aku mendorongnya dan merasa kesal. "Besok, besok saja" Jawabku pelan.
Pak Chang mendekap dan menciumku lagi sebelum dia membuka pintu mobil. Aku berlari masuk rumah dengan jantung yang berdebar keras.