
Saat akhirnya mereka tiba di rumah, Chandresh mengikuti langkahnya Lintang dan menahan pintu kamarnya Lintang.
Lintang mendelik, "Mau apalagi?!"
"Maafkan aku. Emm, sebagai tanda maaf Kakak, gimana kalau kita pergi jalan-jalan beli es krim. Mau nggak?" Chandresh tersenyum tulus ke Lintang.
Lintang sontak tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Jam berapa?" Tanyanya kemudian.
Chandresh menghela napas lega melihat Lintang sudah kembali tersenyum dan senyuman manisnya Lintang membuat Chandresh mengusap pucuk kepalanya Lintang sambil berkata, "Jam lima sore"
Lintang menganggukkan kepalanya penuh semangat dan menarik senyum selebar-lebarnya sembari mengerjap beberapa kali.
Chandresh tersenyum lalu berputar badan dengan bantuan alat penyangganya dan melangkah pergi meninggalkan Lintang.
Lintang menutup pelan pintu kamarnya, lalu ia berputar badan untuk berlari kecil dan melompat ke kasurnya. Dia langsung mencium bantalnya dan bergumam di sana, "Kak Chandresh mengajakku jalan beli es krim dan dia tadi menyentuh pucuk kepalaku" Lintang memekik kegirangan lalu berguling-guling di atas kasurnya dengan wajah semringah.
Jam setengah lima sore, Chandresh mengetuk pintu kamarnya Lintang dan Lintang langsung membuka pintu kamarnya untuk berkata, "Sekarang?"
Chandresh terkekeh geli dan langsung menganggukkan kepalanya.
Lintang menutup pintu kamarnya dan mengikuti langkahnya Chandresh menuju ke halaman depan rumahnya dengan wajah semringah dan langkah ceria.
Di pintu depan, Lintang dan Chandresh dikejutkan dengan kehadirannya Wiku Kusuma. Papanya Chandresh menatap Chandresh dengan sorot mata sendu.
"Untuk apa Papa kemari? Kenapa Papa bisa tahu rumah ini? Pergi! Aku nggak mau lihat muka Papa lagi! Dan untuk selamanya, aku nggak ingin lihat muka Papa lagi!" Chandresh berteriak dengan tubuh gemetar.
Saat lutut Chandresh melemas dan salah satu dari alat penyangganya terjatuh di atas lantai, Lintang dengan sigap menopang tubuhnya Chandresh menggantikan alat penyangga itu.
"Tolong Papa. Usaha Papa memburuk. Papa butuh pinjaman uang untuk modal baru. Papa nggak bisa pinjam ke Bank karena,..........."
"Cih! Dasar brengsek! Kau lupakan anak dan Istri kamu demi wanita lain. Kau tidak pernah bertanggung jawab sebagai seorang suami dan Papa sejak kau memilih wanita itu! Lalu sekarang, kau dengan tanpa malunya, dengan santainya, minta pinjaman ke aku?" Chandresh melotot dan berteriak dengan nada yang sangat tinggi di depan papanya. Kemudian, dengan napas yang masih menderu karena emosi, dia Kembali berteriak, "Pergi! Pergi dan jangan pernah menampakkan wajah Papa di depanku lagi!"
Papanya Chandresh mengusap pipinya yang penuh dengan air mata, lalu berputar badan untuk berlari meninggalkan Chandresh.
Chandresh melemas dan melepaskan alat penyangga yang masih tersisa begit saja sampai alat penyangga itu membentur lantai dan mengeluarkan suara yang cukup melengking. Chandresh lalu bersimpuh di atas lantai bersamaan dengan Lintang Di saat Lintang memeluknya dengan kata, "Sabar, ya, Kak" Chandresh sontak menangis di dalam pelukannya Lintang.
Lintang terus mengelus punggungnya Chandresh dalam diam.
Setelah berhasil meredakan emosinya, Chandresh menarik diri dari pelukannya Lintang. Di saat Chandresh berkata, "Terima kasih" Lintang menyahut, "Sama-sama" Sembari mengusap air mata di kedua pelupuk mata dan di kedua pipinya Chandresh.
Mereka kemudian beradu pandang dan bergeming untuk sepersekian detik lamanya.
Lintang langsung berdeham saat ia tidak kuasa lagi menatap kedua bola matanya Chandresh. Dia kemudian meraih dua alat penyangga yang berada tidak jauh dari tempatnya bersimpuh, lalu ia bangkit berdiri sembari mengempit kedua alat penyangga itu untuk membantu Chandresh berdiri. "Rangkul aku dulu!" Lintang menyuruh Chandresh untuk merangkulnya agar dia bisa meletakkan alat penyangga di kedua ketiaknya Chandresh.
Chandresh lalu menurunkan kedua tangannya dari pundaknya Lintang untuk memegang alat penyangganya dan berkata, "Terima kasih"
Lintang tersenyum tulus dan berkata, "Kalau Kakak nggak ingin keluar rumah, nggak papa. Kita beli es krimnya kapan-kapan aja"
Chandresh menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kita tetap jalan aja, yuk! Kakak juga butuh es krim untuk mendinginkan hati Kakak"
"Kakak yakin nggak pengen di rumah aja? Mata Kakak bengkak lho habis nangis tadi"
Chandresh tersenyum tipis dan berucap, "Kalau cowok tuh cuek aja. Mau Maya bengkak, pipi bonyok, atau apalah, kalau mau jalan keluar, ya jalan aja. Beda sama cewek"
Lintang tersenyum lebar dan berkata ,"Oke, kita pergi jalan sekarang kalau gitu"
Beberapa puluh menit kemudian, Lintang dan Chandresh sudah duduk berhadapan di sebuah kedai es krim favoritnya Lintang. Chandresh memesan dua buah es krim cokelat tanpa bertanya terlebih dahulu ke Lintang.
Lintang yang tidak begitu menyukai rasa vanila dan lebih menyukai rasa cokelat, memilih diam dan tersenyum menikmati es krim vanila pilihannya Chandresh.
Lintang menambah daftar kesukaannya Chandresh di dalam memorinya. Chandresh suka warna biru, itu Lintang ketahui dari semua barangnya Chandresh mulai dari tas kerja, sepatu dan kemeja, semuanya berwarna biru. Lalu, Chandresh suka bubur ayam, suka rasa asin, dan sekarang dia tahu hal baru dari Chandresh yaitu, Chandresh suka es krim rasa vanila. Lintang tersenyum saat ia mengingat kembali semua kesukaannya Chandresh itu, yang ia simpan dengan sangat baik di dalam memorinya.
Lintang tersentak kaget dari lamunannya lalu ia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Es krim ini yang membuatku tersenyum"
Chandresh terkekeh geli dan bertanya, "Mau nambah?"
Lintang menggelengkan kepalanya dan kembali mengulas senyum.
Chandresh mencermati wajahnya Lintang dan bergumam di dalam hatinya, Dia kalau anteng dan senyum kayak gini, manis dan menggemaskan banget, kayak anak kucing yang merengek minta diadopsi. Jadi pengen meluk, nih. Eh, apaaan, sih, Chan! Apa yang kau pikirkan? Chandresh langsung menampar pelan pipi kirinya.
Lintang tersentak kaget dan refleks ia mengusap pipinya Chandresh sambil bertanya, "Kenapa Kakak tampar sendiri pipi Kakak?"
Chandresh sontak salah tingkah dan ia menepis pelan tangannya Lintang dari pipinya sembari berkata dengan gugup, "Oh, itu, emm, ada nyamuk tadi, hehehehe"
"Oh" Sahut Lintang.
"Apa kamu sudah memaafkan aku?" tanya Chandresh.
"Aku nggak pernah bisa marah lama-lama dengan orang. Kalau udah ya udah aja" Sahut Lintang sembari mengulum sendok es krimnya.
"Tapi, sama Mama tiri kamu, kamu masih ketus sampai sekarang"
"Itu beda" Sahut Lintang dengan nada santai tanpa dosa.
Di saat Chandresh hendak membuka suara untuk merespons ucapannya Lintang, dia mengatupkan kembali mulutnya karena, ia melihat Shinta bediri tegak di sebelahnya Lintang dan tersenyum genit di depannya.
Lintang menoleh ke samping kirinya mengikuti arah pandangnya Chandresh dan ia langsung bangkit berdiri menjauhi Shinta dan memilih berdiri di sebelahnya Chandresh.
"Hei! Aku nggak kudisan dan kurapan, kenapa kau menjauh dariku, hah?! Dasar anak nggak tahu sopan santun!" Shinta mendelik ke Lintang.
"Jangan berteriak pada Lintang! Minta maaf sama Lintang!" Chandresh mendelik ke Shinta.
Shinta duduk di depannya Chandresh, menempati bangku yang semula dipakai Lintang untuk duduk. Dan tanpa permisi, Shinta meraih tangannya Chandresh yang ada di atas meja, menggenggamnya dan sambil berkata ,"Maafkan aku! Aku khilaf. Aku baru sadar sekarang kalau aku ternyata lebih mencintai kamu, Chan. Bisakah kita mulai lagi dari nol?"
Chandresh menarik tangannya dan dia menarik Lintang untuk duduk di atas pangkuannya.
Lintang terkejut dan secara refleks ia ingin bangkit berdiri dari atas pangkuannya Chandresh, namun Chandresh menahan Lintang untuk tetap berada di atas pangkuannya.
Shinta menautkan alisnya, "Kenapa kau pangku gadis badung itu?"
"Karena Lintang Istriku" Sahu Chandresh dengan wajah dingin.
"What?! Hahahahaha! Nggak mungkin. Kau pasti bohong" Shinta menyeringai di depan Chandresh.
"Aku tidak bohong. Sekarang pergilah dan jangan pernah menampakkan wajah kamu di depanku lagi!" Chandresh mulai menggeram.
"Aku akan tetap mengejarmu, Chan. Aku sadar kalau aku sangat mencintaimu dan aku akan tetap mengejarmu"
"Lupakan aku! Aku sudah menikah dengan Lintang" Sahut Chandresh.
Lintang memilih untuk diam mematung karena ia takut salah ucap.
"Aku yakin kau tidak mencintai gadis bandel itu. Aku yakin kau masih mencin ........."
"Aku mencintai Lintang. Untuk itulah aku menikahinya " Sahut Chandresh dengan cepat.
"Buktikan! Kalau kau mencintainya, buktikan, Chan!"
Chandresh langsung menarik tengkuknya Lintang dan mencium bibirnya Lintang di depannya Shinta.