Missing You

Missing You
Lupakan Aku!



Semua tamu undangannya Rama, mencicipi masakannya Lintang dan semuanya memuji masakannya Lintang, kecuali Soraya.


Lintang memperhatikan tingkah lakunya Soraya yang aneh dan hal itu membuat Lintang semakin yakin kalau Soraya yang menggoda suaminya. Cuma, Lintang belum mengetahui suaminya pernah tidur dengan Soraa beberapa kali.


Lintang meletakkan celemek dia celemek suaminya di atas meja bersih dan ia langsung menggenggam tangannya Chandresh.


Chandresh menatap Lintang dengan senyum penuh cinta, lalu ia bertanya, "Kenapa langsung menggenggam tanganku? Kamu pengen mengajakku ke mana, Sayang?" Chandresh mengelus pipi istri kecilnya dengan ibu jari tangan kirinya.


Lintang menempelkan pipinya di pipinya Chandresh. Dan dengan bibir menempel di telinganya Chandresh, namun matanya mengikuti arah perginya Soraya, ia berbisik mesra di telinganya Chandresh, "Aku pengen bercinta di atas pasir pantai, Sayang. Kita belum pernah bercinta di atas pasir pantai, kan?" Lintang langsung menarik wajahnya untuk melihat reaksi di wajahnya Chandresh.


Chandresh tertegun sejenak karena ia teringat kembali akan saat di mana untuk pertama kalinya ia tergoda dan akhirnya bercinta dengan Soraya di atas pasir pantai.


"Sayang? Kok malah melamun?" Lintang menyentuh pipinya Chandresh.


Chandresh tersentak kaget dan sontak ia menatap Lintang untuk berkata, "Ini masih rame, Sayang"


"Kita ke sana. Di sana sepertinya sepi" Lintang menunjuk ke satu titik dan Chandresh sontak berkata, "Jangan ke sana!" Chandresh refleks berkata jangan ke sana, karena titik yang ditunjuk oleh Lintang adalah titik di mana dia dan Soraya pernah bercinta di sana untuk yang pertama kalinya.


"Kenapa?" Lintang mengerucutkan bibirnya di depan Chandresh dengan wajah kecewa.


"Hah? Kenapa?" Chandresh balik bertanya dengan wajah gugup.


"Iya, kenapa?" Tanya Lintang.


"Itu, emm, karena di sana sepi dan........"


Lintang langsung menarik tangannya Chandresh sambil berkata, "Kalau sepi justru bagus, kan, Sayang. Pokoknya aku ingin ke sana"


Chandresh hanya bisa mengikuti ke mana langkahnya Lintang pergi dan menuruti kemauan istri cantiknya.


Soraya duduk di atas rumput yang letaknya ada di atas pasir pantai di mana ia pernah bercinta dengan Chandresh untuk yang pertama kalinya. Soraya terus menatap ke bawah dan bergumam, "Rasanya aku ingin mengambil pasir pantai itu dan membingkainya, karena pasir pantai itu menyimpan kenangan indah percintaan liarku dengan Chandresh saat itu"


Soraya terkejut saat ia mendengar ada suara tawa wanita. Soraya sontak tengkurap di atas rumput saat ia melihat Lintang dan Chandresh berjalan di bawah. Soraya sontak tengkurap karena ia tidak ingin Chandresh dan Lintang melihat ke atas dan menemukan dirinya di sana.


Soraya merayap pelan untuk bisa melihat ke bawah. Soraya sontak mengumpat kesal saat ia melihat Lintang duduk di atas pangkuannya Chandresh dan mengajak Chandresh berciuman. Lintang melirik ke atas dan dia bisa mengetahui keberadaannya Soraya di atasnya.


Lintang semakin menggila. Dia mulai menyusupkan lidahnya ke dalam mulut suami gantengnya dan mengajak lidahnya Chandesh berdansa dengan lidahnya sambil tangannya bergerak melepas kemeja pantai yang dipakai Chandresh.


Chandresh melepas jumpsuit yang di kenakan oleh Lintang saat itu dan mengajak Lintang bercinta di atas pasir pantai dengan gaya woman on top. Saat erangan kepuasan mereka meluncur di udara bebas, Chandresh melanjutkan penyatuan raganya dengan Lintang tanpa jeda. Chandresh terus mengajak Lintang berciuman sembari merebahkan Lintang di atas pasir pantai dan langsung menyusup masuk ke tubuhnya Jenar.


Saat Jenar memekik puas, Chandresh berpindah tempat untuk memeluk tubuh polosnya Lintang dari arah belakang dan sambil berbisik di telinganya Lintang ia bertanya, "Apa aku boleh menyatu denganmu dengan gaya begini?"


"Iya boleh, Mas. Kita juga belum pernah melakukan gaya begini" Ucap Lintang dengan napas menderu.


Chandresh langsung melesak masuk lewat belakang dan bergerak liar. Lintang tersentak kaget dan sontak berteriak lantang. Chandresh berbisik di telinganya Lintang, "Pelankan suara kamu, Sayang" Namun, Lintang tidak kuasa menahan pekik kencangnya. Chandresh langsung menutup mulut Lintang dengan mulutnya dan mengajak istrinya terus bericuman sambil terus bergerak dari arah belakang sampai ia mengerang puas.


Chandresh mencium punggungnya Lintang dan berkata di sana, "Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu dan hanya kamu"


Lintang memutar badan dan tersenyum, "Aku juga mencintaimu, Mas dan hanya kamu"


Soraya menggeram kesal dan bergumam lirih, "Kenapa mereka bercinta di atas pasir itu? kenapa harus di spot itu? Itu spot kenanganku dengan Chandresh. Dasar cewek gila! Tunggu saja pembalasanku"


Chandresh mandi bersama dengan Lintang dan hanya mandi bersama tanpa menyatukan raga mereka karena mereka sudah cukup kelelahan. Setelah merebahkan Lintang di atas kasur, Chandresh mengecup keningnya Lintang yang langsung tertidur pulas. Di saat Chandresh hendak naik ke atas ranjang untuk memeluk Lintang, ia mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


Chandresh menggeram kesal karena, ia sudah cukup lelah untuk sekadar berjalan membuka pintu. Chandresh memilih mengabaikannya dan mendengus kesal saat ia terus mendengar pintu kamarnya diketuk tanpa henti.


Karena risih, ia akhirnya berjalan ke depan untuk membuka pintu kamarnya.


Erick meringis di depannya Chandresh.


"Ada apa? Cepat katakan! Aku capek banget, nih" Chandresh melotot ke Erick


"Pak Rama ingin bertemu dengan kita saat ini juga" Sahut Erick.


"Harus sekarang?" Tanya Chandresh.


"Iya. Harus sekarang" Sahut Erick.


"Tapi, Lintang bakal sendirian di kamar dan ini sudah jam sepuluh malam" Chandresh menoleh ke belakang sebentar"


"Kunci pintunya dari arah luar, dong" Sahut Erick.


"Huuufftt, oke lah! Kita cepat ke sana biar kita bisa cepat balik ke kamar" Chandresh berucap sembari menutup pintu dan menguncinya dari arah luar.


Chandresh dan Erick masuk ke dalam ruang kerjanya Rama dan Rama langsung berkata, "Saya akan langsung katakan saja niat saya memanggil Pak Chan dan Pak Erick malam-malam begini. Emm, saya ingin merekrut Istri Pak Chan untuk menjadi chef di sini dengan resepnya tadi, apakah boleh? Dan saya ingin Pak Erick dan Pak Chan bekerja di sini apakah mungkin? Kalau soal gaji, saya akan berikan gaji lebih banyak dari gaji Anda berdua saat ini dan saya juga akan memberikan gaji cukup banyak untuk Istrinya Pak Chan kalau Istrinya Pak Chan bersedia menjadi Chef di sini"


"Maaf, saya nggak bisa bekerja di sini dan Istri saya juga masih kuliah. Istri saya ingin jadi dokter dan memasak hanya sekadar hobi buat dia, jadi saya rasa, Istri saya nggak akan menerima tawaran Anda. Kalau Erick, terserah Erick dia ingin berkerja di mana" Sahut Chandresh.


Erick tersenyum ke Rama dan berkata, "Saya nggak bisa pisah dengan Chandresh. Maaf saya juga terpaksa menolak tawaran Anda, Pak"


Rama lalu tersenyum dan berkata, "Baiklah. Tapi, jika kalian berubah pikiran, saya selalu siap menerima kalian semua"


"Terima kasih banyak, Pak" Sahut Chandresh dan Erick secara kompak.


Erick dan Chandresh lalu berjalan ke kamar mereka. Erick pamit ke Chandresh, "Maaf, Chan, aku mau keluar sebentar untuk beli air mineral. Kamu mau ikut?"


Chandresh menggelengkan kepala dan berkata, "Aku capek banget. Aku mau balik ke kamar aja"


Saat Chandresh berjalan santai ke kamarnya, Soraya tiba-tiba menarik tangannya Chandresh masuk ke dalam kamarnya.


Chandresh mendelik dan sontak mendorong Soraya saat Soraya hendak menciumnya. Chandresh berteriak, "Kau gila, ya?!"


"Iya! Aku gila karena kamu!" Soraya berteriak lebih kencang.


Chandresh berkata tegas, "Jangan kayak gini lagi! Lupakan aku! Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kita cuma have fun. Jangan ada rasa! Aku tekankan sekali lagi ke kamu Soraya, aku tidak pernah mencintai kamu dan tidak akan pernah tergoda lagi denganmu karena, aku sangat mencintai Istriku" Chandresh lalu berputar badan, membuka pintu dan berlari menuju ke kamarnya.


Soraya menangis histeris di dalam kamarnya.