
Chandresh membopong masuk Lintang ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan tumitnya. Setelah merebahkan Lintang di atas kasur, ia berlari untuk mengunci pintu kamarnya dan saat ia berputar badan, ia melihat Lintang duduk di tepi ranjang dengan wajah kebingungan.
Chandresh tersenyum lalu duduk di tepi ranjang dan dengan hati-hati dia melepas cepol rambutnya Lintang lalu mengelus rambut Lintang yang tergerai lepas dan masih sedikit terasa basah itu, dengan senyum penuh arti.
Chandesh menatap Lintang dan dia terkesima akan kecantikannya Lintang, sehingga membuat dia tanpa sadar bertanya, "Kapan kau menjadi secantik ini, Lintang?"
Lintang menunduk untuk menyembunyikan wajah merahnya karena, tersipu malu
Chandesh menggenggam tangan Lintang dan mengangkat tangan itu sampai ke bibirnya, dia cium telapak tangannya Lintang dengan penuh perasaan dan berucap di sana, "Aku suka wangi kamu. Wangi sabun mandi yang sangat segar dan sangat alami"
Lintang masih menunduk dan ia tersenyum senang menerima pujian bertubi-tubi dari suaminya.
Chandesh lalu mencubit mesra dagunya Lintang, mengangkatnya sampai kedua bola mata mereka beradu sendu nan indah diiringi degup jantung dan desir hangat di hati. Chandresh lalu menempelkan bibirnya dengan hati-hati di bibirnya Lintang. Pria ganteng suaminya Lintang itu kemudian memagut bibir manis istrinya dengan penuh perasaan, lalu ia menggigit pelan bibir atasnya Lintang lalu menariknya pelan dan menggigit pelan bibir bawahnya Lintang lalu menariknya penuh dengan kelembutan. Chandresh kemudian menunduk untuk melihat reaksinya Lintang. Lintang masih memejamkan kedua matanya dan sambil mengerang lembut ia merekahkan bibirnya dengan gerakan yang sangat seksi yang refleks membuat Chandresh semakin tergila-gila akan pesona yang ada di diri istri kecilnya itu.
Chandresh menarik tengkuknya Lintang dan untuk meneroboskan paksa lidahnya ke dalam mulutnya Lintang dan mengajak lidahnya Lintang berdansa di sana dengan irama degup jantung sepasang pengantin baru itu.
Chandresh merebahkan Lintang ke ranjang dengan hati-hati sambil terus mengajak lidahnya Lintang berdansa manis.
Beberapa menit kemudian, sepasang suami istri itu berguling di atas ranjang, ke kanan dan ke kiri dalam keadaan polos tanpa dibalut sehelai kain pun. Di saat Chandresh sudah tidak kuasa lagi menahan desakan gairahnya, ia mengelus pipinya Lintang dan bertamya, "Kamu mau aku teruskan atau kita hentikan saja?"
Lintang membuka kedua kelopak matanya dan sambil menatap kedua bola mata suaminya yang menggelap karena, gairah, ia berkata dengan lemas, "Lanjutkan saja, Kak"
"Kamu yakin?" Chandresh lalu mencium keningnya Lintang dan mengelus pipinya Lintang dengan sangat lembut.
"Iya. Aku yakin. Aku ingin menjadi Istri yang sempurna untuk Kakak, hari ini juga" Sahut Lintang dengan nada lemas dan wajah memerah karena malu.
Chandesh menatap wajah isttrinya dan berkata, "Astaga! Lintang, kau sangat cantik dan sangat menggoda kalau tersipu malu seperti itu"
Lintang tersenyum dan semakin tersipu malu.
Chandresh mencium keningnya Lintang dan berucap di sana, "Aku akan melakukannya dengan pelan dan hati-hati. Tapi, kata orang, akan terasa sedikit sakit. Kalau terasa sakit, jangan teriak, ya?! Malu kalau sampai kedengaran Bi Ijah" Chandresh menunduk melihat lintang dan Lintang menganggukkan kepalanya.
"Kalau sakit, gigit aja pundak Kakak atau remas punggung Kakak. Kamu cakar pun nggak papa dan......."
"Cepat lakukan saja, Kak! Aku sudah siap" Sahut Lintang.
Chandresh langsung melakukan penyatuan raga dengan istri kecilnya. Dia melakukannya dengan hati-hati di awal penyatuan raganya, namun rasa luar biasa yang ia dapatkan detik lepas detik, membuat pira ganteng berumur dua puluh tiga tahun itu tanpa sadar terus menghentak kencang dan mengabaikan teriakan lirihnya Lintang. Di saat pekik yang meluncur dari bibir Lintang semakin lama semakin keras, Chandresh langsung membungkam bibir Lintang dengan bibirnya tanpa mengurangi ritme hentakannya.
Setelah pekik kepuasan terlepas.secsra bersamaan dari mulut sepasang pengantin muda itu, Chandresh mengangkat kepalanya Lintang agar Lintang bangun dan duduk di atas pangkuannya. Kemudian, dia mengajak Lintang berciuman kembali dan membimbing Lintah untuk kembali melakukan penyatuan raga dengan posisi Lintang berada di atas pangkuannya.
Chandesh terus membantu Lintang bergerak di atas pangkuannya sembari mengarahkan bibirnya ke titik kenyal dan ia kemudian asyik memainkan bibirnya di titik kenyal itu sembari terus mengajak Lintang bergerak di atas pangkuannya.
Bunyi rintik hujan yang mengetuk-ngetik jendela kamar dan hawa dingin di sekeliling mereka membuat mereka tiada henti memberikan kehangatan untuk satu dengan yang lainnya. Pekik kepuasan kedua pun lolos sempurna dari mulut Chandresh dan Lintang.
Chandresh kemudian menyangga bagian kepalanya Lintang dan merebahkan lintang dengan hati-hati dan melancarkan kembali aksinya. Dia memiringkan Lintang sampai Lintang memunggunginya dan dia dengan memeluk lintang dari arah belakang. Menggerakkan tangannya ke bawah dan memainkan jari jemarinya di lembah kenikmatan dengan asyiknya.
Lintang mengerang dan bertanya lirih, 'Kak, belum selesai?"
Chandesh menggigit pelan cuping telinganya Lintang lalu berbisik di sana, "Kamu sangat luar biasa, Lin. Kakak belum sanggup melepaskanmu. Sekali lagi, ya?" sambil teru memainkan jari jemarinya di lembah kenikmatan.
Lintang hanya bisa mengerang lirih dan menganggukkan kepalanya.
Lintang pun jatuh tertidur hanya di dalam hitungan. detik. Chandresh mengusap pipinya Lintang dari arah belakang dan mencium kepala belakangnya Lintang dan berbisik lirih di sana, "Maafkan aku, Lin, aku lupa mengatakan betapa aku sudah sangat mencintaimu karena, rasa kamu sangat luar biasa dan membuatku lupa diri"
Chandesh kemudian bangun, memakai kembali semua bajunya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian, ia keluar dari dalam kamar.
Saat ia membuka pintu kamar, ia dikejutkan dengan kehadirannya Bi Ijah yang langsung berkata, "Ada tamu mencari Non Lintang, Pak"
"Siapa?" Tanya Chandresh.
"Katamya temannya Non Lintang" Sahut Bi Ijah.
"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Chandresh.
"Laki-laki" sahut Ni Ijah.
Chandresh langsung mengerutkan alis karena, cemburu dan ia segera melangkah lebar menuju ke ruang tamu.
Andi bangkit berdiri dan tersenyum ke Chandresh, lalu berkata, "Selamat petang, calon Kakak iparku"
Chandresh mengentikan langkahnya di depan Andi dan berkata, "Siapa yang kau panggil calon kakak ipar di sini?"
"Lho, tentu saja, Anda, Pak Chandresh. Anda, kan, kakak sepupunya Lintang, jadi kalau saya melamar Lintang di ulang tahunnya Lintang, bulan depan, Anda otomatis menjadi calon kakak ipar saya, kan?" Andi tersenyum lebar.
"Hentikan hayalan kamu itu. Aku bukan kakak sepupunya Lintang, tapi suaminya Lintang. Aku nggak akan biarkan kamu mendekati Lintang apalagi melamarnya. Lintang adalah Istriku" Sahut Chandresh dengan tatapan kesal dan dingin.
Andi tertawa terbahak-bahak, lalu berucap, "Lelucon Anda sangat lucu, Pak Chandresh"
"Saya tidak bercanda saat ini. Saya suami sahnya Lintang. Jadi, sekarang pulanglah dan jangan pernah mendekati Istriku lagi"
"Kapan Anda menikah dengan Lintang dan kenapa Anda bisa menikah dengan Lintang yang masih sangat muda, cantik, berbakat, cerdas, dan ........."
"Stop memuji Istri saya! Kapan saya menikah dengan Lintang dan kenapa saya bisa.menikah dengan Lintang itu bukan urusan Anda"
Andi langsung menarik rahang bawahnya, kemudian ia segera berkata, "Tapi, saya lihat, Lintang tidak bahagia hidup dengan Anda, kalau memang benar dia Istri Anda, Anda hanya akan masalah besar buat Lintang karena, Anda adalah gurunya"
"Aku sudah resign dari SMA Bina Kasih dan itu demi kebaikannya Lintang" Sahut Chandresh.
"Lalu, apakah Anda merasa pantas menjadi suaminya Lintang? Apakah Anda tahu kesukaannya Lintang, film favoritnya lIntang, warna favoritnya dan apa yang Lintang benci?"
Chandesh mematung mendengar pertanyaan semacam itu, karena dia sama sekali tidak mengetahui apa yang Lintang sukai dan apa yang Lintang benci.
"Aku tahu semuanya. Jadi, aku pantas memperjuangkan Lintang" Andi menyeringai penuh dengan kemenangan.
Chandesh langsung berteriak, "Pergi atau aku seret keluar sekarang juga!"
Andi laku tersenyum lebar, berkata, "Aku akan tetap berjuang dan biar Lintang yang memilih nanti" Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Chandresh.
Chandesh kembali masuk ke dalam kamar dan masuk ke dalam selimut untuk memeluk tubuh Lintang yang masih polos dan bertekad akan mencari tahu apa yang Lintang benci dan sukai, begitu istri cantiknya itu membuka mata, nanti.