MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Bertemankan Ikan



Azka memandang kosong akuarium yang berada di pojok kanan ruang keluarganya. Dalam air yang jernih itu, ikan koki berwarna-warni mondar mandir mengepakkan ekor cantiknya. Hening. Jam dinding pada ruangan itu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.


Azka mengetuk-ketuk pelan kaca akuarium berharap salah satu ikan kokinya datang padanya. Hatinya kalut. Ucapan istrinya di taman kompleks tadi benar-benar mengacaukan pikirannya. Dia tahu jiwa istrinya masih terguncang, tapi Azka benar-benar tidak menyangka jika wanita yang sangat dicintainya itu akan mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya.


⬅️ Saat di taman kompleks ....


Sekitar pukul 20.40 WIB.


"Kita pulang, yuk! Udara semakin dingin," ajak Azka pada Mayra seraya menggandeng tangannya. Dia sengaja mengabaikan ucapan istrinya yang meminta pisah darinya.


Udara Bandung yang habis diguyur hujan memang lumayan menusuk tubuh. Apalagi mereka hanya berdua di taman kompleks yang luas itu. Seolah banyaknya angin disana hanya menyerang mereka berdua, dingin sekali. Dan Mayra membeku. Dia hanya diam, menunduk memandang kaki dari ayunan yang masih didudukinya. Air matanya tumpah. Azka tahu istrinya menangis walau tanpa ekspresi apa pun, wajahnya datar, hanya air matanya saja yang jatuh dari pojok kedua matanya. Namun Azka sengaja abai.


"Ayo, Yank!" Azka mengulangi ajakannya. Kali ini dengan meraih bahu Mayra agar bangkit dari ayunannya. Dan Mayra manut.


"Di depan banyak jajanan, kamu mau kita kesana dulu? Beli sekoteng? Mi ayam? Bakso?" ajak Azka seolah tak terjadi apa-apa.


Di depan kompleks perumahan mereka memang banyak sekali kedai-kedai atau pedagang lepas yang mangkal setiap malam. Untuk itu para penghuni kompleks, terutama Azka dan Mayra tidak pernah kesulitan mencari makanan jika mereka lapar malam-malam. Dan cuaca malam itu sangat tepat sekali jika dihabiskan dengan semangkuk sekoteng apalagi ditambah dengan sepiring kacang rebus.


__Sekoteng adalah minuman yang terbuat dari air jahe yang biasa dihidangkan dalam keadaan panas dan dikonsumsi pada malam hari. Bahan yang biasanya ditambahkan ke dalam sekoteng adalah kacang hijau, kacang tanah, pacar cina, dan potongan roti tawar.


Namun Mayra masih bungkam. Dalam diamnya, sebenarnya ingin sekali dia memeluk suami yang sangat mencintainya itu, namun mendadak dia merasa malu. Dia tahu Azka sengaja menghindar dan mengabaikan ucapannya agar tak berkepanjangan. Dan Mayra merasa sangat bodoh telah gegabah mengucapkan kalimat yang dia sendiri pun tidak pernah membayangkan bahwa dia akan mampu berkata demikian.


Mayra sama sekali tidak pernah punya keinginan sedikit pun untuk berpisah dari suaminya. Azka adalah anugerah terbaik yang pernah dimilikinya. Mayra sesenggukan, bahunya terguncang.


"Sudah, Yank, tidak apa-apa." Azka mengelus kedua lengan istrinya lembut. "Sekarang kita ke depan saja, yuk! Kita makan dulu." Azka mengusap air mata Mayra yang terus jatuh.


Jarak dari taman menuju depan kompleks memang lebih dekat dari pada jarak dari taman menuju rumah mereka. Untuk itu Azka sengaja mengajak istrinya untuk berjalan menuju depan kompleks saja sekalian makan. Dan akhirnya Mayra manut.


Azka berjalan di sebelah kanan Mayra, menggandeng tangannya erat sambil sesekali sengaja membicarakan hal sepele yang masih saja dibalas diam. Hanya butuh waktu sekitar 5 menit, kini mereka sudah sampai di depan kompleks. Jejeran gerobak yang lampunya remang-remang dari kejauhan seolah melambai menyambut kedatangan mereka.


"Mau makan atau minum apa, Yank?" tanya Azka sebelum menyebrang. Namun Mayra masih bungkam.


"Nasi uduk, mau?" Azka masih berusaha.


Di seberang jalan sana ada satu gerobak yang menjual nasi uduk dan nasi kuning yang terkenal enak. Azka dan Mayra pun sudah sering makan di sana. Karena istrinya masih saja bungkam, Azka akhirnya memutuskan segala rencananya tanpa persetujuan. Digandengnya tangan Mayra untuk menyebrang dan berjalan menuju gerobak penjual nasi uduk.


"Kang Bandi .. nasi uduknya dua, yaa. Rendang telurnya jangan lupa, plus teh hangatnya juga." Azka mengangkat kedua jarinya pada penjual nasi uduk yang sudah dikenalnya, Bandi namanya. Azka lalu duduk pada kursi panjang yang sudah tersedia. Mayra duduk di depannya.


"Siaaap," jawab Bandi melongokkan kepalanya disela-sela tangannya yang sibuk meracik nasi untuk pembeli lainnya.


"Mau, Yank?" Azka mencomot satu gorengan tempe yang sudah tersedia di atas meja dan langsung melahapnya. Perutnya sudah keroncongan akibat cuaca yang dingin.


Mayra masih diam, menggigit bibirnya kikuk. Dia masih merutuki dirinya atas ucapannya saat di taman tadi. Dia berharap dengan dia mengucapkan kata 'cerai', Azka akan marah padanya. Mayra sengaja ingin melihat suaminya marah agar rasa bersalah di hatinya bisa berkurang. Semenjak Anggun meninggal yang dianggapnya karena salahnya, Mayra ingin Azka menyalahkannya, setidaknya itulah kejujuran yang dia harapkan. Dia tahu semua orang sebenarnya menyalahkannya, namun mereka pura-pura diam. Dan Mayra ingin Azkalah yang mewakili semuanya untuk menyalahkan dan marah padanya. Namun suaminya itu malah tetap memeluknya erat.


Rasa bersalah yang membuncah, itulah alasan yang membuat Mayra akhirnya berani meminta pisah. Mayra merasa tidak pantas menjadi pendamping suami sebaik Azka.


"Yank, aku tinggal kamu, yaa."


Mayra yang dari tadi diam tiba-tiba terbelalak mendengar kalimat Azka, ada kata 'tinggal' di sana. Mayra menciut. Apakah suaminya akan mengamini permintaan pisahnya? Mayra menatap suaminya dalam. Wajahnya yang sedari tadi muram, kini berubah menjadi tegang. Azka terkekeh.


"Aku tinggal kamu sebentar. Aku pulang dulu ambil mobil, yaa," pinta Azka.


"Ambil mobil untuk apa?" Mayra keheranan.


"Untuk kamu pulang. Kamu pasti lelah kan pulang pergi jalan kaki?"


Mayra menghela napasnya berat. Lalu tertawa kecil. Kenapa suaminya selugu itu?


"Sudah, jangan dulu pikirkan soal pulang, Yank. Kalau aku ingin menginap di sini saja bagaimana?" Mayra terkekeh lagi. "Sekarang kita makan dulu, yaa."


Tepat setelah Mayra selesai bicara, pesanan dua piring nasi uduk dan teh hangat mendarat di atas meja mereka.


"Silakan, pak Dokter," ucap Bandi yang memang sudah lumayan akrab dengan Azka.


"Nuhun, Kang."


_Nuhun \= terimakasih.


Nasi uduk yang masih hangat dengan irisan telur dadar, bihun, oreg tempe dan rendang telur itu menyeruakkan aroma sedap yang langsung membuat Azka dan Mayra segera melahapnya. Keduanya kini fokus pada hidangan masing-masing. Tak butuh waktu lama, Azka sudah membersihkan isi piringnya. Sementara Mayra masih tersisa setengahnya.


"Yank, kamu habiskan dulu nasinya, aku pulang dulu." Azka mengelap pojokan bibirnya dengan tisu, masih bersikukuh untuk mengambil mobil.


"Tidak usah, Yank. Kita pulang sama-sama saja," protes Mayra dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.


"Kamu tidak capai?"


"Capai, dong."


"Lalu?"


"Kita pesan ojek online saja, Yank."


"Hahahahaha." Azka terbahak.


Kenapa dia tidak terpikirkan hal itu? Bukankah itu adalah solusi yang lebih mudah dari pada harus berjalan kaki dulu menuju rumah untuk mengambil mobil? Mungkin karena Azka hampir tidak pernah memesan ojek online sebelumnya, atau karena dia terlalu hawatir istrinya akan kelelahan? Yang pasti, Azka rela melakukan apa pun untuk wanitanya.


Mayra tersenyum. Tawa lelaki di hadapannya benar-benar tulus. Seolah benar-benar tidak ada kejadian apa pun diantara mereka.


➡️


Walau selama di kedai nasi uduk Azka selalu menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja dan tak ambil pusing terhadap omongan istrinya, namun sesungguhnya hatinya terluka. Pikirannya kalut. Sebenarnya atas dasar apa wanita yang sudah lama bersamanya itu bisa mengucapkan kata pisah? Azka menghela napas dalam, matanya memandang ikan koki yang tengah memandangnya. "Aku harus bagaimana?"