
Azka memarkirkan mobilnya asal di teras rumahnya. Bergegas ia berjalan cepat memasuki rumahnya yang sepi itu. Langkah demi langkah ia lewati dengan napas yang tersengal. Perkataan Lina tentang ciuman terus berputar di kepalanya. Hingga KLEK, Azka membuka pintu kamarnya kasar. Di sana ada Mayra yang sedang bercanda dengan Anggun di atas kasur. Anak cantik itu belum tidur.
"Yank?" Mayra sontak kaget melihat suaminya datang dengan keadaan yang terlihat kacau. Malam itu suaminya tidak seperti suaminya. Membuka pintu saja tidak biasanya seterburu-buru seperti itu.
Azka yang selalu mengumbar senyum walau lelah sekali pun saat pulang kerja, malam itu tidak Mayra dapatkan. Segera ia bangkit dan mendekati Azka yang berdiri mematung di dekat pintu.
"Are you Ok, Yank?" Mayra meraih tangan suaminya.
Azka menatap mata istrinya dalam, untuk kemudian, CUP.
Azka menangkup bibir Mayra dengan bibirnya. Ia menenggelamkan bibirnya di sana. Mayra terkejut karena suaminya tak biasanya berlaku seperti itu. Azka sangat menjaga segala tindakannya jika di depan Anggun. Apalagi untuk bercumbu di depan anaknya, sungguh itu bukan Azka. Namun demikian, Mayra memejam mencoba menikmati suasana, barangkali suaminya memang butuh menciumnya saat itu juga. Tapi tidak bisa. Mayra tahu Azka sedang bukan dirinya. Ia bisa merasakan dari sentuhan bibir Azka yang tidak selembut biasanya.
"Yank??" Mayra melepaskan diri dari Azka.
Namun Azka kembali menangkap wajah istrinya dan kembali mengambil alih bibir kemerahan itu. Azka kembali menenggelamkan bibirnya di sana. Azka ingin bekas bibir Rendra terhapus sepenuhnya dari bibir istrinya dengan bibirnya. Perlahan, butiran bening jatuh dari mata Azka. Namun ia belum melepaskan ciumannya.
"Yank!! Astaghfirullah. Ada apa??" Mayra melepaskan diri lagi. Azka tertunduk lemah.
Paham telah ada sesuatu yang tidak beres, Mayra bimbing suaminya untuk duduk di sofa yang ada di dekat pintu. Azka dengan tubuhnya yang gontai hanya bisa menurut. Ia akhirnya duduk pada sofa, menyandarkan tubuh dan kepalanya yang berat. Lelaki itu memijat-mijat pelipisnya dengan mata terpejam. Mayra diam, ia sengaja memberikan waktu untuk suaminya agar tenang. Dilihatnya Anggun yang masih anteng duduk di atas kasur sambil memainkan boneka kesukaannya. Mayra tidak tahu apakah anaknya itu tahu tentang kejadian singkat tadi atau tidak. Anggun tadi memanggilnya 'Mammah', namun dia hanya mampu membalasnya dengan senyuman saja. Lelaki di depannya lebih membutuhkannya kini.
"Yank?" Mayra menangkupkan tangannya pada tangan Azka.
Azka menarik napasnya dalam. Matanya masih memejam. Sesaat kemudian dia menegakkan duduknya dan memandang istrinya yang berjongkok di bawahnya. Azka meneliti setiap bagian wajah istrinya. Membayangkan wajah itu telah berdekatan dengan wajah lelaki lain. Hati Azka sakit.
"Yank, maafkan aku, ya" ucap Azka lemah akhirnya.
"Untuk apa, Yank? Kamu tidak ada salah apa-apa denganku." Mayra menggenggam tangan suaminya erat.
"Maaf karena aku kurang bisa menjaga kamu." Azka balik menggenggam tangan Mayra erat.
Mayra mematung. Dia terpikirkan Rendra. Dia tidak tahu suaminya itu sudah tahu tentang hubungan dirinya dengan Rendra atau belum. Namun demikian, perasaan bersalah tetap ada dalam hatinya.
"Diri ini, hati ini, masih sepenuhnya milikku kan?" Azka mengetukkan jarinya pada dada Mayra. Air matanya mengumpul di pojokan siap tumpah. Azka tahu hati istrinya sudah terbagi, pun raganya.
Mata Azka menerawang jauh ke dalam mata Mayra. Dia ingin menemukan kejujuran di sana. Sedetik kemudian, air matanya jatuh. Air mata yang benar-benar tulus atas dasar cintanya pada istrinya.
"Yaaank!!" Mayra langsung ikut menangis menenggelamkan wajahnya pada pangkuan Azka. "Ampuni aku, Yank." Badan Mayra berguncang mengingat kesalahnnya pada lelaki sebaik Azka. Dia telah berdosa sampai bisa membuat lelaki kuat di hadapannya menangis.
Mayra tahu betul terlalu banyak kesalahan dalam dirinya kepada lelaki yang sangat baik hatinya itu. Mayra juga tahu persis bahwa setelah Tuhannya, ada suaminya yang wajib dia patuhi. Namun demikian, dia telah dengan asiknya mempunyai hubungan yang tidak jelas dengan lelaki lain? Mayra sadar, perbuatannya sangat tercela.
Azka meraih bahu istrinya dan mengambilnya beralih dalam dekapannya. Keduanya saling terisak di sana. Mayra sadar, hanya di dada Azkalah dia bisa menemukan ketenangan yang sebenarnya. Tangisan tanpa suaranya semakin mengencang. Ia *******-***** punggung suaminya keras. Perasaan bersalah Mayra semakin membuncah karena jika benar Azka sudah mengetahui semuanya, mengapa suaminya itu tetap mampu bersikap lembut padanya?? Sungguh tidak adil.
Malam itu, Mayra benar-benar merasakan bahwa dirinya adalah wanita terbodoh sedunia. Dia semakin menenggelamkan wajahnya pada pelukan Azka yang semakin menguat.
Tanpa mereka tahu, Anggun berjalan terbata mendekati kedua orang tuanya yang saling menenggelamkan wajah pada punggung masing-masing. Mulut mungilnya memangil mamah dan papahnya bergantian. Namun panggilannya seolah tak terdengar. Kedua orang tuanya sedang tenggelam pada perasaan masing-masing.
"Mammah, mammah," ucap Anggun yang kini ada di samping Mayra sambil menarik-narik baju ibunya.
Mayra yang menyadari ada tangan lain yang menyentuh dirinya langsung mendelik.
"Oh, sayang??" Mayra mengusap air matanya sambil melepaskan diri dari pelukan Azka.
Ia beralih pada Anggun dan meraihnya. Mayra menggendong Anggun dalam posisinya yang masih bersimpuh.
"Anak mamah pintar yaa sudah bisa turun dari kasur sendiri ya, sayang?" Mayra memainkan tangan mungil anaknya, berusaha menyembunyikan perasaannya. Azka tersenyum.
Dia benar-benar sangat mencintai kedua wanita di depannya itu. Dan dia jelas akan mempertahankan keduanya dari dan sampai kapan pun. Azka ikut turun dari sofa dan ikut bersimpuh. Ia peluk keduanya erat. Mayranya, Anggunnya, adalah sepenuh nyawanya, sampai mati.
***
Wuni berlari saat dirinya baru turun dari ojek yang di pesannya. Hari ini dia bangun kesiangan. Namun saat sudah memasuki Griya, dia melongo, tidak ada siapa-siapa di sana. Lina, sang jawara on time pun belum ada, Mayra juga. Wuni berjalan menyisir ruangan sampai ke ruang belakang. Hanya ada Anto di sana berdiri sambil menenteng segelas kopi memandang akuarium yang di dalamnya hidup seekor arwana merah.
"Mas Anto, mbak Lina dan mbak Mayra mana ya?" Tanya Wuni hanya menyebutkan dua teman perempuannya itu. Untuk teman lelaki, dia kurang peduli. Toh kalau pun ada juga tidak akan seseru teman perempuannya untuk diajak kesana-kemari.
Minggu-minggu ini Griya memang sedang sepi job. Termasuk hari ini. Sebenarnya tidak ada pekerjaan yang harus dikejar. Namun karena sudah tradisi, walau tanpa agenda perpengantinan, karyawan tetap akan dengan senang hati datang ke Griya.
Wuni segera mengambil ponsel dalam tasnya dan
hendak menelepon Mayra, nomornya tidak aktif. Beralih dia menelepon Lina, tidak di angkat. Gadis itu menghembuskan napasnya dalam, melipat kedua tangan pada dadanya dan berjalan kembali ke ruang utama. Namun langkahnya terhenti di ruang tengah, di sana sudah ada Rendra duduk pada sofa setengah merebahkan diri. Matanya memejam.
"Ren??" Wuni menyapa lalu ikut duduk di hadapannya.
Mata Rendra terbuka dengan posisi badan yang tak berubah. Dia tersenyum sambil mengangkat dagunya menyapa wanita di depannya. Sementara mata Wuni membulat saat dia menyadari ada yang berbeda dari wajah temannya itu. Pipi dan area bibir lelaki itu lebam. Wuni mendekat. Ia kini duduk persis di samping Rendra.
"Ren?? Itu biru-biru kenapa?" Tanya Wuni ragu sambil menunjuk wajah Rendra.
Rendra tersenyum. "Tonjok-tonjokan dengan Rizal semalam," jawab Rendra sekenanya. Matanya memejam lagi.
"Hah? Tonjok-tonjokan? Serius?" Mata Wuni terbelalak.
Rendra terkekeh. Ia sudah tahu kalau temannya itu pasti dengan polosnya menanggapi ucapannya. Matanya masih memejam. Dia mengangguk.
"Ih kok tonjok-tonjokan sih? Mengapa memangnya?" Wuni masih terbengong.
"Rebutan nasi. Semalam kami lapar. Eh pas dilihat ternyata nasinya tinggal satu porsi. Jadi ya sudah, kami adu jotos, rebutan nasi," jawab Rendra masih asal dengan mengulang jawabannya.
"Ih kamu yaa!! Masa gara-gara nasi sampai adu jotos sih??" Wuni menepuk bahu temannya pelan. Dia kini ikut merebahkan tubuhnya pada punggung sofa. Mata Wuni menerawang ke langit-langit plafon putih yang tepiannya dicat abu.
"Iya Wun. Demi makan loh. Bukannya para koruptor juga suka senggol-senggolan dengan lainnya demi sesuap nasi kan?"
Wuni mengangguk. "Iya ya. Tapi aku tidak yakin hanya sesuap."
"Hahaha. Iya." Mata Rendra masih terpejam.
Perihal Mayra dan Lina yang belum ada di Griya, Rendra tidak heran. Dia sudah menebak hari ini kedua teman wanitanya itu tidak akan datang. Matanya terbuka. Dia ikut menerawang memandang plafon yang dilewati oleh satu cicak gemuk di sana.
"Mayra apa kabar?"
***
Lina masih merebahkan tubuhnya malas di atas kasur berseprey ungu polos, warna kesukaannya. Matanya memejam walau dia tidak tidur. Dia sedang menikmati suasana kasur pagi yang memang jarang dia rasakan itu. Tenang, damai, nyaman. Itulah yang dia rasakan.
Namun sedetik kemudian matanya terpaksa dibukanya saat ponsel yang berada di dekat kepalanya berdering. Satu nama terbaca jelas di layar.
📞 "Halo, Ris," Sapa Lina saat telah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
📞 "Bagaimana??" Orang di seberang bertanya antusias tanpa menjawab sapaan Lina.
📞 "Apanya?" Lina menggeser tubuhnya malas.
📞 "Kemarin kamu bilang apa pada suami Mayra?" Dia masih antusias.
📞 "Aku bilang Mayra dan Rendra berciuman," jawab Lina masih dengan suara malasnya.
📞 "Ih kok hanya itu sih? Terus ekspresi Azka bagaimana?" Orang di seberang terdengar kurang puas.
📞 "Itu juga sudah cukup lah. Jangan terlalu mengada-ada," Tukas Lina yang kini sudah mengubah posisinya jadi tengkurap. Dia memainkan kedua kakinya mengikuti alunan lagu yang diputarnya di radio sedari tadi.
📞 "Tapi kan kalau kamu bilang mereka sudah tidur berdua, suasananya pasti semakin oke," bujuk orang di seberang.
📞 "Bagaimana pun juga Mayra itu temanku. Aku tidak tega lah memfintnahnya sekeji itu," sanggah Lina dengan sungguh-sungguh. Bagaimana pun juga, kebaikan-kebaikan Mayra selama ini memang tidak bisa hilang begitu saja dari fikirannya. Dirinya tidak sejahat itu.
📞 "Hahahaha. Masih punya hati kamu, ya??" Orang diseberang sengaja memancing emosi Lina. "Kalau rencana kita kali ini tidak berhasil, kamu mau mengatakan pada Azka bahwa mereka tidur bersama?"