MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Katakan Saja!



"Mau minum apa, A?" tanya bi Marni ramah saat mereka sudah sampai di dapur.


--A \= Aa (panggilan semacam Abang/ Mas.)


Rendra mengelilingkan pandangannya pada dapur yang lumayan luas dan apik itu. Dinding temboknya yang bercat putih tulang dan keramik putih di bawahnya terlihat kinclong. Kentara sekali jika bi Marni adalah asisten rumah tangga yang rajin. Renda duduk pada kursi meja makan yang ada di tengah-tengah dapur.


"Mineral dingin saja, Bi," pinta Rendra tak kalah ramah dengan bi Marni.


Wanita paruh baya berdaster cokelat batik itu segera mengambilkan botol mineral dingin dari kulkas dan satu gelas kosong, diletakkannya kedua barang itu di atas meja. "Silakan, A."


"Terimakasih, Bi. Dan ngomong-ngomong, cukup panggil Rendra saja, Bi. Hehe." Rendra membuka botol mineral di hadapannya dan menuangkanya pada gelas. Air sejuk itu tak lama sudah berpindah membasahi tenggorokannya. "Duduk, Bi," pinta Rendra sopan.


Bi Marni langsung ikut duduk di hadapan lelaki yang sepertinya tak asing baginya. Dipandanginya wajah Rendra teliti.


"Hahaha, kenapa, Bi? Saya ganteng, ya?" Rendra terbahak mendapati wajah lucu Bibi di depannya.


"Mas ini yang dulu malam-malam pernah kesini, kan? Yang datang-datang langsung menanyakan mba Mayra?" tebak bi Marni tepat sasaran.


"Naaah loh. Sekarang panggilnya jadi 'Mas'. Rendra saja, Bi," kilah Rendra sengaja mengalihlan pembicaraan.


"Hehehe, takut kurang sopan, ah, Mas. Mas nya kan teman kerja mba Mayra, masa saya cuma panggil nama?" Bi Marni mematenkan panggilannya pada lelaki di depannya jadi 'Mas.'


"Bi??"


"Ya??"


"Mayra apa kabar, Bi?"


"Looh, kok tanya Bibi? Kan tadi Masnya sudah lihat mbak Mayra secara langsung. InsyaAllah mbak Mayra baik-baik saja."


Bi Marni dan Rendra saling diam untuk beberapa saat. Bi Marni sibuk menyelami pikirannya menebak-nebak bahwa pemuda di depannya adalah lelaki yang diceritakan oleh majikannya dulu, lelaki yang katanya disukainya. Bi Marni manggut-manggut. Pantas saja majikannya itu kesemsem, rupanya lelaki itu memang gagah dan tampan.


"Biii???" Rendra memanggil lagi Bibi yang manggut-manggut sendiri.


"Hehehe, iya, Mas. Mau makan?" tawar bi Marni sekenanya, bingung mau membicarakan apa. Bi Marni sudah yakin bahwa pemuda di hadapannya adalah pemuda yang di taksir majikannya, pun sebaliknya.


Pemuda itu sampai sengaja membawanya ke dapur dengan alasan ini memilih sendiri minumannya, padahal yang dimintanya hanya sekedar air mineral. Alasan cerdas untuk bisa menanyakan keadaan Mayra pada bi Marni tanpa diketahui yang lainnya.


"Hahahahaha, memang boleh?" tanya Rendra sungguh-sungguh. Terasa canggung saja jika Rendra makan di rumah wanita pujaannya.


"Yaa boleh, dong. Kata mbak Mayra mah masakan Bibi ini terlezat di dunia. Mau coba?" tantang bi Marni berdiri dari duduknya, siap mengambilkan teman majikannya itu masakannya.


"Kalau nginep, boleh juga tidak, Bi?" Rendra sengaja menggoda asisten Mayra yang ternyata benar-benar asik itu.


"Nginep di rumah Bibi? Boleeeeh. Kebetulan Bibi sudah tidak punya suami." Bi Marni sengaja balik menggoda. Menyebutkan rumahnya alih-alih mengalihkan tujuan sebenarnya lelaki di depannya.


"Hahahahahaha." Rendra tak kuat menahan tawanya, sama sekali tak menyangka bahwa bi Marni akan menjawab pertanyaannya dengan hal sekonyol itu. "Ya sudah, Bi. Mana masakan Bibi, tolong bawa kemari. Kalau masakan Bibi benar lezat, bolehlah saya menginap di rumah Bibi selamanya."


"Sebentar! Ini maksudnya, Mas Rendra mau jadi suami Bibi apa anak Bibi, nih?" tanya bi Marni sambil menyiapkan hidangan untuk Rendra.


"Hahahahaha." Rendra terbahak lagi. "Nanti saya putuskan kalau sudah mencicipi masakan bi Marni, yaa."


Sepiring nasi putih, ayam goreng, dan capcay brokoli di piring lainnya plus sambal terasi sudah siap bi Marni sajikan di atas meja makan. Aroma harum khas terasi langsung menggoda indera penciuman Rendra.


"Niih, monggo, Mas di coba. Tapi kalau ketagihan, jangan salahkan Bibi, yaa," tukas bi Marni seperti peserta lomba masak yang siap hasil racikan tangannya dikomentari juri.


Tanpa pikir lama, Rendra segera meracik nasi putih yang masih mengepul itu dengan ayam goreng, capcay, dan sambal terasi di atas sendoknya.


"Bismillah...aeeeeem." Rendra sengaja mengeluarkan suara saat memasukkan suapan pertama masakan bi Marni ke dalam mulutnya. "Nyam nyam nyaaaam." Terlihat Rendra memejamkan matanya sambil mengunyah, menghayati sekali.


Namun berbeda dengan masakan bi Marni, daging ayam goreng buatannya sungguh lembut. Capcay brokolinya juga berbeda dengan yang pernah dimakannya selama ini. Apalagi sambal terasinya, beeeeuh juara!!! Aroma sedap dengan rasa yang pas _ pedas, manis, sungguh serasi dipadu padankan dengan nasi hangat walau dengan ikan asin sekali pun.


"Bi, DEAL!!" Rendra mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Apanya?" Bi Marni mendadak lupa dengan kesepakatan konyol lelaki di depannya.


"Aku jadi suami, Bibi yaa? Yaa? Yaaa??"


"Hah? Suamiii?" Mayra yang tiba-tiba masuk ke ruang dapur berjalan ikut bergabung ke meja makan.


"Uhuk, uhuk." Rendra tersedak.


"Minum, Mas, Minum!" Bi Marni dengan sigap menyodorkan mineral yang botolnya sudah berembun di hadapan Rendra.


"Tuuuh, kan. Memang istri yang cekatan bi Marni ini," puji Rendra sambil terkekeh.


"Teman-teman mba Mayra memang antik-antik, yaaa." Bi Marni ikut terkekeh. "Bibi ke depan dulu, Mbak. Mau menawari mbak Lina dan mbak Wuni makan juga."


Mayra mengangguk. Kemudian ikut duduk di depan Rendra.


"Kamu sehat?" tanya Rendra to the point.


Mayra hanya menjawab dengan anggukan.


"Syukurlah kalau begitu."


Hening sejenak ....


"Ren??"


"Ya??" Rendra mendongakkan kepalanya yang tadi sempat menunduk.


"Menurutmu Azka bagaimana?"


"Hah? Maksudnya?" Rendra bingung bukan kepalang wanita di depannya tiba-tiba menanyakan perihal suaminya padanya.


"Menurut tante Gendis, Azka adalah suami yang baik, sangat baik." Mayra berbicara tanpa memandang lawan bicaranya. Matanya malah dia arahkan pada meja makan bertaplak hijau.


Rendra sengaja diam, memerhatikan wanita di depannya yang sepertinya sendu. Ada apa sebenarnya?


"Kamu kemari tidak takut dimarah Azka?" Kali ini Mayra mendongakkan kepalanya memandang Rendra. Dia usap pojok matanya yang ternyata sudah basah.


Rendra menghela napas. Dia iba pada wanita kesayangannya di depannya. Walau berusaha agar terlihat baik-baik saja, tapi Mayra jelas masih terlihat berantakan. Jauh sekali dengan pembawaan Mayra yang ceria dan selalu menawan. "Azka masih di rumah sakit," jawab Rendra sekenanya. Dia paham betul bahwa pekerjaan mulia Azka mengharuskannya minimal pulang sore.


"Kan bisa saja hari ini Azka libur?" tukas Mayra tanpa tenaga. Ucapannya benar-benar terasa hampa. Dia mengajak Rendra berbicara, namun seolah tidak ada nyawa disana.


"Kamu benar baik-baik saja, May?" Rendra mulai hawatir. Tante Gendis sudah pulang ke Solo beberapa hari lalu. Maka beberapa hari ini Mayra hanya sendiri, tak punya teman bicara. Mungkin ada bi Marni, tapi pasti berbeda rasanya dengan tante Gendis, kan?


Mayra mengangguk lagi. Tatapannya nanar. Air dari pojok matanya mengalir lagi. Sepertinya dia ingin sekali berbicara banyak pada lelaki di depannya. Seolah ingin mencurahkan semua kegundahan hati namun urung.


"Ren??"


"Yaa." Rendra cepat sekali menyahut.


"Terimakasih, yaa."


Rendra mengembuskan napas panjang. Dia paham sekali bahwa wanita di depannya sedang tidak baik-baik saja. Lalu dia harus apa?