MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Keluarga Sudah Berkumpul



Di depan kamar Mayra yang pintunya tertutup, Gendis masih dalam posisi berdiri selepas menerima telepon dari Rendra tadi. Dia memikirkan tentang ucapan lelaki muda yang mencintai keponakannya itu.


"Mbak Lasmi ada di sini?" Gumam Gendis masih menggenggam ponselnya tak percaya.


Wanita yang mulai gelisah itu lalu mengintip Azka yang masih berada di dalam kamar Mayra melalui bagian kaca pada pintu yang berukuran 60x5cm itu. Dilihatnya Azka yang terdiam memandang istrinya sambil menggenggam tangannya. Gendis menghela napas. Pikirnya mungkin tak apa jika dia masuk ke dalam sana.


Ceklek.


Tanpa pikir panjang, pintu itu langsung dibukanya. Lina dan Wuni yang juga masih duduk di kursi depan kamar Mayra hanya melirik sekilas, lalu keduanya kembali berbincang santai.


Perlahan Gendis melangkah mendekat dengan pijakan yang hampir tak terdengar. Azka mendengar suara pintu saat Gendis membukanya, namun dia tak menoleh. Pun saat Gendis berjalan menujunya. Matanya basah. Kini Gendis sudah berdiri di sisi kiri Mayra, bersebrangan dengan Azka yang tetap duduk di tempatnya, masih tak menoleh.


"Zka, Mayra baik-baik saja kan?" Tanya Gendis pelan.


Namun suasana kamar yang sepi, jelas membuat pertanyaan Gendis terdengar lantang di telinga Azka. Ia dongakkan kepalanya menatap Gendis, lalu mengangguk.


"Serius??" Gendis sanksi. Dia khawatir Azka hanya mengucapkan jawaban yang membuat orang lain tak khawatir.


"Mayra tidak apa-apa, Te. Dia hanya shock," jawab Azka sejujurnya.


Gendis mengernyit. Dia menyanksikan dua hal, jawaban Azka dan pernyataan Rendra. Manakah dari ucapan keduanya yang benar? Gendis menggaruk pelipisnya. Dia ragu kakaknya ada di Bandung.


"Kalau Mayra benar baik-baik saja, lalu kenapa mbak Lasmi ada di sini?" Ucap Gendis akhirnya melontarkan pertanyaan utamanya, menyebutkan nama ibu Mayra.


"Ibu sudah datang?" Azka langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


Dengan tergesa Azka membuka pintu itu berniat menyambut mertuanya. Namun setelah ia longokkan kepala ke kanan dan kiri, hanya ada Lina dan Wuni di sana yang juga langsung bangkit dari duduknya.


"Kenapa Zka? Cari dokter?" Tanya Lina sigap. Dia menangkap ada raut cemas dari wajah suami temannya itu.


"Tidak, Lin." Azka kembali masuk dan menutup kembali pintu. Dia dekati Gendis yang masih berdiri di samping ranjang Mayra.


"Ibu dimana, Te? Kenapa tidak langsung ke kamar? Di luar hanya ada Lina dan Wuni," tanya Azka lemas.


"Tante juga belum bertemu mereka, Zka. Tante hanya memastikan, kenapa mereka sampai datang ke sini kalau Mayra baik-baik saja?"


Belum sempat Azka menjawab pertanyaan Gendis, pintu kamar Mayra dibuka dari luar dengan keras. Dari sana muncullah ibunda Mayra yang berjalan tergopoh dengan air mata yang masih basah di pipinya. Ayah Mayra mengukuti di belakang.


"Anggun mana Anggun??" Tanya ibu Lasmi mengguncang lengan Azka. Kemudian langsung menerobos Azka dan Gendis untuk menuju Mayra tanpa memperdulikan jawaban menantunya.


"May, yaa Allah!! Kenapa bisa begini, May???? Kamu bangun, May! Anggun butuh kamu!" Ibu Lasmi terisak, menenggelamkan wajahnya pada lengan putrinya yang belum bergerak. "Maaaay!! Bangun ibu di sini!" Ibu Lasmi menggoyang-goyangkan lengan Mayra. Berharap putrinya itu cepat tersadar.


Selama di perjalanan tadi, beliau tak hentinya menghubungi Azka menanyakan keadaan putrinya. Dan setelah melewati waktu beberapa jam yang terasa berbulan-bulan itu, ibu Lasmi akhirnya dapat menyentuh tubuh hangat putrinya.


"Sabar, Bu. Yang ikhlas," ucap Azka menenangkan sambil berdiri di belakang mertuanya.


Gendis yang belum tahu keadaan sebenarnya, menjadi semakin bingung.


"Ikhlas? Ikhlas kenapa? Ini sebenarnya ada apa?" Kini giliran Gendis yang menggoyang-goyangkan lengan Azka.


Azka menatap Gendis nanar. Mata Gendis mulai berkaca. Dengan benar-benar datangnya kakaknya di Bandung, dia yakin ada sesuatu hal buruk yang terjadi. Azka masih mematung. Air matanya jatuh. Ayah Mayra yang berdiri di samping kanan Mayra memijat kedua alisnya pelan. Napasnya terlihat berat.


Ceklek.


"Maaah!!" Azka menyambut ibunya dan mendekapnya erat.


"Sabar, Nak! Ini sudah takdir Allah," ucap sang ibunda mengelus punggung putranya lembut. Baginya, Azka tetap putra kecilnya yang dulu pun sering menangis karena lututnya terluka saat berlari.


Gendis tak kuasa menahan sabar atas belum terjawabnya pertanyaannya. Dia berjalan mondar-mandir dengan tangan kiri memegang kedua matanya.


"Sekarang Anggun dimana, Zka?" Tanya ayahnya ikut mengelus punggung Azka yang masih dalam dekapan ibunya.


"Masih diurus temanku, Pah. Tapi dia sudah siap." Azka melepaskan pelukannya.


"Anggun ada di sini? Dimana dia? Dan dia siap untuk apa?" Gendis semakin panik. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi pada ponakan mungilnya yang cantik dan bawel itu.


Azka mengangguk mengiyakan tebakan Gendis. Air matanya jatuh lagi.


"Maksud kamu apa Zka? Anggun mana?!!!" Air mata Gendis tumpah. Tangannya mencengkeram kedua lengan Azka. Dia goyah. Kakinya terasa lemas. Dengan tangan yang masih berada pada lengan Azka, Gendis terduduk. "Anggun mana Zka?? Bawa Tante ke Anggun!!" Gendis menangis sejadinya.


"Anggun ada, Te. Maafkan saya, Te." Azka masih terisak.


Ibu Azka mendekati ibu Mayra dan memeluknya erat. Keduanya terisak bersamaan. Sementara mata ayah Mayra dan ayah Azka beradu. Keduanya saling mengangguk sama-sama menguatkan. Suasana di dalam kamar itu riuh dengan isakan. Di luar kamar, Lina dan Wuni sudah berdiri di depan kaca menyaksikan semuanya. Lina dan Wuni panik. Kenapa orang-orang di dalam sana semuanya muram?


Sayup-sayup Mayra mendengar banyak isakan di sampingnya. Kepalanya masih berat. Kelopak matanya juga berat untuk dibuka. Namun telinganya sudah bisa mendengar. Semakin lama semakin jelas. Mulutnya mulai terbuka.


"Hhhh hhhhh...." Mayra terisak lagi. Matanya masih tertutup. Bulir bening mengalir dari pojok matanya membasahi bantal.


Mengetahui istrinya bereaksi, Azka segera menghampirinya. Semua orang yang ada di dalam kamar kini mengelilingi Mayra. Terkecuali Gendis yang masih lemas, dia masih terduduk.


"Yank?? Bangun, Yank!!" Ucap Azka lembut namun tegas mendekatkan wajahnya pada wajah Mayra.


Dia ingin istrinya cepat sadar dan kuat. Bagaimana pun juga, kepentingan Anggun harus segera diselesaikan. Namun Azka menunggu Mayra sadar. Dia ingin istrinya itu ada dan tahu saat dia mengendong putri mungilnya ke tempat tidurnya nanti.


"Hhhhh, hhhhhh....." Mayra terisak lagi. Dia mendengar ucapan suaminya, namun dia tak kuasa untuk membuka mata. Dia tidak bisa menerima bahwa saat dia membuka mata nanti, mimpi buruknya bukanlah mimpi.


"May, ibu di sini, May. Bangun, Nak! Kamu kuat, Nak! Ayo, Nak buka matamu! Kasihan Anggun sudah lama menunggu." Ibu Mayra ikut berusaha menyadarkan anaknya.


Mendengar ucapan ibunya, Mayra makin terisak. Bibirnya terangkat tinggi, ia lalu menangis, keras.


"ANGGUN NAAAAAK, SINI NAAAAAK!!!! MAMAH INGIN PELUK KAMU!!!!!!"


Azka tak kuat melihat kondisi istrinya. Mayra berteriak dengan mata yang masih tertutup. Dia paham istrinya pastilah tak bisa terima dan sangat merasa berdosa walau apa yang menimpa Anggun bukanlah salahnya. Semuanya sudah ketentuan sang Khaliq. Daun yang bertuliskan nama putri cantiknya telah gugur. Tak ada siapa pun yang bisa menundanya.


"MAMAH SAYANG ANGGUN. MAMAH INGIN CIUM KAMU, NAK. MAMAH INGIN TERUS BISA MAIN SAMA ANGGUN SAMPAI ANGGUN BESAR. SINI, NAAAAK!!!"


"Istighfar, sayang, istighfar!! Astaghfirullahaladzim. Laakhaula wala quwwata illa billah." Azka memeluk Mayra erat. Bibirnya berada tepat di samping telinga Mayra. Dengan lembut Azka membisiki Mayra. "Yank, kalau kamu sayang Anggun, bangun, Yank!! Kasihan Anggun, dia sudah cukup lama menunggu kamu!"


Mayra menggeleng. Matanya masih tertutup, tangisnya semakin keras. "BAWA ANGGUN KESINI, YANK. TOLONG AKU YANK. AKU INGIN ANGGUN DISINIIIIIIIIII!!!"