
"Ini untuk kamu," Ucap Mayra sambil meletakkan seikat mawar yang tergantung pada pagar rumahnya kemarin pada meja Lina.
Lina yang sedang asik mendata jadwal di layar komputernya terang terkejut. Dia tidak tahu dalam rangka apa temannya itu memberinya bunga. Dia sedang tidak punya hari spesial. Hari ulang tahunnya pun sudah lewat. Lina menatap bunga di hadapannya. Kelopak mawar itu sudah mulai layu.
Lina mendelik bingung. Teman di hadapannya sudah berlalu. Setelah meletakkan mawar tadi, Mayra langsung masuk ke ruang tengah. Lina pegang mawar itu, memang sudah layu. Kalau temannya itu memang berniat memberinya bunga entah dalam rangka apa, mengapa harus yang layu?
"Wiiih, dapat bunga dari siapa, Mbak?" Wuni yang baru datang bertanya antusias. Dia memang sangat menginginkan temannya itu punya pasangan. Dan pagi ini dia mendapati ada seikat mawar di meja temannya, barangkali saja itu pemberian seseorang spesial kan?
Namun orang yang ditanya malah mengangkat bahunya, tidak tahu.
"Loh? Kok tidak tahu? Mawarnya ada di meja mbak Lin, kok?" Wuni menyerobot bunga itu dan menciuminya.
"Tapi sudah layu ya, Mbak? Bunganya ada di Griya dari kemarin sepertinya nih?" Tebak Wuni.
"Dari kemarin apanya? Orang bunga itu baru saja ada, dibawa Mayra," Jawab Lina sambil meneruskan ketikannya.
"Ooh, jadi bunga ini punya mbak Mayra. Dapat kirimian lagi ya dia? Tapi pengirimnya bagaimana sih? Masa kirim bunga yang jelek begini? Pasti bunga diskonan ini." Wuni nyeletuk asal.
Lina terkekeh. Temannya itu memang selalu punya kalimat yang bisa membuat pendengarnya berdecak heran. Tapi bagi Lina, Wuni adalah teman yang menyenangkan. Teman yang selalu bisa mengubah suasana hatinya walau sekecil apa pun itu. Bersama Wuni, Lina memiliki hari tanpa sakit hati. Wuni pandangi lagi mawar dalam genggamannya yang berwarna merah dan putih itu.
"Ini lagi warnanya, kenapa harus merah putih? Sudah macam bendera Indonesia saja," lanjut Wuni.
"Hahaha. Agar semangat jalani hari, Wun." Lina akhirnya menjawab.
"Hahaha iya. Jadi ceritanya bunga ini dari mbak Mayra untuk mbak Lin? Mbak Lin mau? Untukku saja yaa. Sudah layu bunganya juga," rayu Wuni.
"Hahaha, iya. Bunga itu buatmu saja," ucap Lina kemudian.
Lina sebenarnya sudah malas dengan Mayra. Semenjak temannya itu dengan tanpa rasa bersalah sudah merebut Rendra darinya, dia sudah mulai menjaga jarak. Dan pagi ini Mayra memberikannya bunga layu? Lina tidak peduli. Kalau bukan karena rasa sayangnya pada Griya, mungkin Lina sudah hengkang dari sana. Dia malas bekerjasama dengan orang yang tidak bisa bekerjasama.
"Serius, Mbak?" Mata Wuni membulat. Lina mengangguk. "asiiik. Makasih mbakku sayaaang. Aku ke dalam dulu, ya," Ucap Wuni sambil berlalu.
Di ruang tengah, Wuni langsung duduk di depan Mayra yang sedang memainkan ponselnya menilik akun sosial media milik Griya. Melihat Wuni menenteng mawar yang diberinya untuk Lina, Mayra bangkit dan berjalan ke depan lagi.
"Kok bunganya untuk Wuni?" Tebak Mayra saat dia sudah berada di depan Lina.
"Dia yang mau. Ya, sudah," Jawab Lina singkat sambil tetap fokus pada layar monitornya.
Mayra yang dari kemarin sudah mengira Linalah dalang dari pengiriman mawar itu berdecak kesal. Dia sadar dia telah melakukan kesalahan perihal Rendra, tapi itu bukan sepenuhnya kesalahannya kan? Dia sama sekali tidak merasa pernah dengan sengaja menggoda lelaki itu. Lalu untuk alasan apa Lina jadi marah padanya sampai tega berbicara kasar padanya waktu itu? Apalagi semenjak Mayra menemukan Lina duduk berdua dengan seseorang di cafe supermarket kemarin. Pikiran Mayra langsung bulat bahwa Lina dan temannya itu memang bersekongkol.
"Lagipula untuk apa kamu memberi saya bunga layu seperti itu? Untuk mengelabui Azka?" Lanjut Lina dengan sebutan 'saya'nya.
Mendengar tebakan Lina, Mayra terkekeh. Bisa-bisanya temannya itu malah membalikkan fakta.
"Saya bukan tong sampah, ya. Saya tidak menampung bunga dari orang yang bukan untuk saya!" Lina mulai tegas kini.
"Mengapa kamu jadi bawa-bawa Azka?" Mayra geram. Maksud perkataan dia sesungguhnya adalah, mengapa temannya itu jadi melibatkan Azka dengan mengiriminya foto Rendra kemarin?
"Loh, bukannya kalian suami istri yaa? Masalahmu ya masalah Azka juga. Ingat, kalian itu SUAMI ISTRI! Dapat mawar dari lelaki lain kok malah di bawa kesini? Untukku pula. Cih, pintar benar kamu berbohong pada suamimu, ya," papar Lina mulai emosi.
"Termasuk tentang Rendra?" Lina menembak Mayra dengan sorot matanya.
Mayra bungkam. Untuk yang satu itu, suaminya memang tidak tahu. Dan mungkin tidak akan pernah tahu.
"Tidak usah berlagak pilon ya, May! Aku tahu kelakuanmu seperti apa dengan Rendra. Ada main kan kamu dengan dia? Lagipula atas dasar apa kamu menuduh aku yang kirim bunga itu? Picik benar pikiranmu!" Lina kini melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia siap berhadapan dengan Mayra.
"Picik? Hahaha," Mayra terkekeh. "Picik bagian mananya? Hey, Rendra suka padaku bukan salahku, ya!" Mayra membela diri.
"Paham. Dia suka kamu memang bukan salahmu. Tapi apakah benar jika wanita bersuami masih saja meladeni lelaki lain yang suka padanya?"
Ucapan Lina tepat menyesakkan napas Mayra. Wanita itu lantas membuang napas dari mulutnya cepat.
"Sudahlah, May. Tidak usah macam-macam dengan saya. Dan tolong, jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang saya. Saya tidak sejahat kamu," Pinta Lina sambil melepas tangan pada dadanya. Ia akan mulai mengetik lagi.
Mayra hanya bisa terkekeh sinis. Jika temannya itu tidak ingin dituduh macam-macam, lalu untuk tujuan apa dia menghubungi Azka dengan mengiriminya foto Rendra?
"Oke. Aku usahakan tidak akan lagi berpikiran macam-macam padamu. Tapi tolong jawab pertanyaanku dengan jujur!" Ucap Mayra akhirnya.
Lina menatap temannya tajam.
"Ada hubungan apa kamu dengan Risa?"
DEG.
Lina terdiam. Dia tidak menyangka Mayra akan menanyakaan hal itu padanya.
"Kemarin aku lihat kamu duduk dengannya di cafe supermarket. Sepertinya kalian akrab sekali," tandas Mayra.
Lina masih diam. Dia sedang memikirkan jawaban yang sekiranya tidak dicurigai Mayra. Dia kemarin memang sengaja bertemu dengan Risa di cafe supermarket yang dimaksud temannya itu. Tapi dia tidak mengira kalau pertemuannya itu malah diketahui oleh orang yang seharusnya tidak mengetahu rencananya.
"Kamu sedang merencakan apa dengan Risa?" Mayra masih menyecari Lina dengan pertanyaan yang beberapa hari ini dia tahan. "Kamu tahu aku di tampar Risa juga dari dia kan?" Lanjutnya.
Mayra sangat yakin Lina ada kerjasama dengan Risa. Wanita itu yakin alasan mereka bersatu hanya satu, yaitu karena mereka sama-sama merasa tersakiti oleh Mayra.
Mayra masih setia menunggu jawaban apa yang akan Lina beri untuknya. Sampai satu suara datang seolah menjadi pelerai mereka berdua, Rendra. Sementara Wuni yang sedari tadi menguping di balik tembok hanya bisa diam mendengar kedua temannya beradu mulut.
"Ada apa? Kok pada tegang begitu?" Rendra berdiri di samping Mayra.
Lelaki yang baru datang itu bingung karena langsung mendapati dua wanita saling berpandangan tajam saat dia memasuki Griya. Kedua teman yang ditanyainya tak acuh. Lina masih sibuk memikirkan jawaban atas pertanyaan Mayra, sementara Mayra sudah tidak sabar temannya itu mengiyakan dugaannya.
"Halo??" Rendra mengibas-ibaskan tangannya pada wajah Mayra.
Sedetik kemudian Mayra menoleh. Tapi tak ada sura yang dia keluarkan. Dia hanya bisa menghela napas lalu beranjak dari tempatnya berdiri menuju ruang tengah.
"Lin? Ada masalah?" Rendra mendekati Lina.
"Ada. Kamu masalahnya!"