
Setujukah kalian jika ada pepatah yang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk pencemburu?
Yaya, aku fikir itu manusiawi. Karena aku juga wanita.
Wekekekekek 😅
🍃
Sore itu Rendra kembali mengendarakan mobilnya pergi ke toko bunga, membeli hadiah untuk Raras yang katanya malam nanti berulang tahun. Dia sengaja pergi sendiri dengan membawa lagi mawar putih milik Mayra. Dalam perjalanan dia bimbang. Rendra ingin memberikan bunga itu pada pemiliknya, Mayra. Namun dia hawatir dirinya hanya beralibi. Alih-alih ingin memberikan bunga itu pada pemiliknya, tapi sebenarnya dia rindu ingin bertemu. Di tepian jalan yang cukup lebar, Rendra memberhentikan mobilnya. Dia ingin menelepon Mayra.
Ponsel berwarna hitam itu sudah ada dalam genggaman tangannya. Layarnya juga sudah menunjukkan sederet nomor Mayra. Namun lelaki itu ragu. Rasanya dia sudah canggung untuk menghubungi wanita itu. Rendra akhirnya bermain dengan pikirannya. Jika mobil lewat yang pertama dia lihat adalah hitam, maka dia akan menelepon Mayra. Namun jika putih, maka dia akan menyerah. Namun sedetik kemudian, yang lewat adalah mobil abu. Rendra mendengus kesal.
"Apa-apan ini? Kenapa yang lewat malah mobil campuran antara hitam dan putih? Lihatlah hey dunia, bahkan mobil lewat pun malah membuat saya makin galau. Kacau!" Ucap Rendra seorang diri.
Tanpa perduli lagi dengan mobil hitam atau putih, Rendra akhirnya memutuskan untuk menelepon Mayra.
TUUUUT ...
Suara dering telepon membuat hatinya berdesir lembut.
TUUUUT ...
Ingin sekali Rendra mengakhiri telepon itu. Namun sudah terlanjur.
TUUUUT ...
Rendra berpikir mungkin Mayra sudah tidak mau lagi mengangkat telepon darinya. Rendra menghela napas. Baru saja dia akan memutus panggilan teleponnya, namun suara Mayra nyatanya terdengar juga.
📞 "Iya, halo," jawab Mayra di seberang.
Rendra terdiam sejenak. Dia rindu sekali dengan suara itu. Rasanya sudah sewindu dia tidak pernah lagi mendengar suara wanita itu lewat telepon. Suaranya merdu sekali.
📞 "May?" Panggil Rendra ragu. Dia menggigit bibirnya pelan.
📞 "Ya?" Mayra menjawab singkat. Dia juga sepertinya merasa canggung.
📞 "Kamu di mana sekarang? Bisa bertemu?" Rendra tho the point, menutupi gugupnya yang khawatir kalau-kalau jawabannya adalah tidak.
📞 "Dimana?"
📞 "Mmm, dimana ya?" Rendra bingung sendiri.
📞 "Kamu sekarang di mana?" Mayra terdengar lebih tenang dari Rendra saat itu.
📞 "Saya di jalan. Ini lagi menepi dulu," jawab Rendra seadanya.
📞 "Aku sekarang di Griya. Kamu mau kesini saja?" Tawar Mayra akhirnya.
📞 "Oh, oke. Aku kesana sekarang."
Rendra langsung menutup teleponnya dan bergegas melajukan mobilnya menuju Griya.
Dalam perjalanan Rendra merasa gugup. Entah rasa apa sebenarnya yang sampai bisa membuatnya gugup seperti itu. Namun demikian, Rendra semakin menancap gas. Dia tidak mau membuat Mayra menunggu.
Tak lama, Rendra sudah sampai di parkiran Griya. Di sana masih ada kendaran Anto dan lainnya, pertanda bahwa di dalam masih ada banyak orang. Ditatapnya lagi buket mawar yang sedari tadi duduk anggun di jok sampingnya, dan ia memilih untuk meninggalkan bunga itu di sana.
Rendra turun dari mobilnya dan berjalan memasuki Griya. Saat sudah memasuki Griya, di ruang tamu sudah ada Mayra, Wuni, dan juga Anto sedang duduk memutar.
"Nah ini dia orangnya. Sini, sini duduk!" Pinta Wuni langsung pada lelaki yang baru datang itu.
Rendra menganggukkan kepalanya dan langsung duduk pada kursi yang berhadapan dengan Mayra.
"Oke, kebetulan Rendra sudah datang, kita mulai saja rapat dadakan ini ya. Sambil santai saja. Sambil makan di depan juga tidak apa. Gimana? Ada yang lapar?" Mayra menawarkan.
"Aku lapar, Mbak," ucap Wuni polos sambil mengangkat jari telunjuknya.
"Saya juga, Mbak. Hehe," sambung Anto tak mau kalah.
Mayra terkekeh. Sebaris giginya terlihat putih. Rendra yang diam-diam memerhatikannya tersenyum. Dia sungguh rindu melihat Mayra tersenyum seperti itu.
Mereka berjalan menuju Warung Lontong bersama. Mayra dan Wuni berjalan di depan. Sementara Rendra dan Anto mengekor di belakang.
Mereka kini berhenti di tepian jalan karena ada beberapa motor yang berlalu lalang. Hingga ...
"Awas!!" Rendra menarik lengan Mayra agar tubuh wanita itu dapat mundur beberapa inci. Dari arah kanan ada sebuah motor yang melaju cukup kencang. Sementara Mayra tidak mengetahuinya karena dia asik berbincang dengan Wuni.
"Woaaah!!" Wuni memberikan Rendra tepuk tangan atas kesigapannya. Sementara Mayra hanya bisa meringis. Mereka kini bersamaan menyebrang menuju Warung Lontong.
Mereka kini duduk saling berhadapan dua-dua. Namun Rendra lebih memilih duduk berhadapan dengan Wuni. Wuni dengan sigap langsung memesan makanan pada pak Warjan untuk ketiga temannya.
"Sambil menunggu makanan datang, aku langsung saja ya," tukas Mayra meminta izin yang langsung disambut anggukan oleh semuanya.
"Jadi begini, kalian tentu tahu ya akhir-akhir ini Griya sedikit legang. Pertama karena aku yang mulai jarang hadir, ditambah dengan Lina. Jadi mulai besok, aku minta kalian tetap datang ke Griya, ya? Untuk Lina, nanti aku yang mengurusnya. Aku yakin dia juga masih sayang dengan Griya kita." Mayra menjelaskan dengan singkat. Namun ucapannya itu langsung disetujui oleh ketiga temannya.
"Renda aman?" Mayra sengaja bertanya pada Rendra yang katanya akhir-akhir ini juga mulai jarang hadir.
"Aman, aman," jawab Rendra setengah kaget. Dia memang selalu kagum dengan wanita yang sore itu mengikat seluruh rambutnya itu. Dia akan selalu terlihat tenang dan profesional jika berhubungan dengan pekerjaan.
"Ya sudah mulai besok, kita sama-sama datang ke Griya lagi ya? Deal?" Ucap Mayra meyakinkan.
"Deaaaaal!!!" Ketiga temannya menjawab kompak.
***
Wuni dan Anto sudah meninggalkan Griya langsung setelah selesai makan di Warung Lontong. Mayra pun sudah bersiap-siap akan pulang. Namun Rendra masih duduk anteng di bawah pohon palm sambil menenteng mawar putih yang dibawanya.
Mayra yang berjalan ke parkiran dan akan membuka pintu mobilnya jadi tertahan saat matanya mangkap Rendra dari kejauhan. Namun Mayra tak acuh. Mayra sudah menekan tombol pada kunci mobilnya.
"May!!"
Suara Rendra terdengar memanggilnya dari kejauhan. Mayra mendelik. Ia lihat Rendra melambaikan tangannya meminta Mayra datang. Tak ingin bersikap kekanakan, Mayra menuruti panggilan Rendra. Mayra berjalan menuju kursi putih tempat lelaki itu duduk.
"Ada apa?" Tanya Mayra saat dia sudah berdiri di hadapan Rendra.
"Untukmu," ucap Rendra sambil menyodorkan mawar putih yang sedari tadi di bawanya.
Mayra tidak langsung menerimanya. Ia mendelik tajam pada Rendra, lalu menghela napas pelan.
"Kamu mulai lagi?" Mayra bertanya malas.
"Ini bukan dari saya," kilah Rendra sejujurnya.
"Lalu dari siapa?"
"Kamu tidak ingin duduk dulu?"
Mayra menggeleng. Dia tetap memilih berdiri. Akhirnya Rendra ikut berdiri.
"Biar saya saja yang berdiri, kamu duduk!" Rendra memersilakan. Mayra manut.
"Siang tadi saya ke toko bunga. Dan saya menemukan ini. Sepertinya ini bunga teror yang selama ini kamu dapat. Menurut pelayan di sana, pengirimnya wanita," ucap Rendra menjelaskan.
"Kamu ke toko bunga? Sedang apa kamu di sana?" Mayra tidak memerdulikan info yang Rendra beri. Dia malah lebih tertarik dengan alasan mengapa Rendra datang ke toko bunga.
"Ke toko bunga, ya beli bunga dong," jawab Rendra sekenanya.
Mayra mencerna omongan Rendra. Membeli bunga? Untuk siapa?
"Kamu sudah punya pacar sekarang?" Tanya Mayra seolah menyelidik. Entah apa yang membuat wanita itu malah penasaran dengan kehidupan Rendra tanpa dirinya.
"Yaa anggap saja seperti itu," jawab Rendra masih sekenanya.
"Oh, oke. Selamat ya!" Ucap Mayra bangkit dari duduknya dan langsung berlalu meninggalkan Rendra tanpa menyentuh sedikit pun bunga yang Rendra akan berikan padanya.
Rendra terkekeh sambil duduk lagi pada kursi di hadapannya. Ia tatap Mayra yang berjalan menjauhinya. Tingkah Mayra tadi kentara sekali menunjukkan bahwa dia cemburu. Rendra tersenyum puas, dia akhirnya tahu bahwa wanita itu memang belum sepenuhnya melepaskannya.