
"Bang, kalau ku bilang dunia ini sempit, Abang setuju tidak?" tanya Rendra sambil memijit-mijit betisnya sendiri.
Rendra dan Rizal malam itu sedang duduk di tempat biasa, di teras rumah di kursi rotan favorit mendiang ayahnya. Selepas pulang dari Kopikita tadi, kedua pemuda jomblo itu nyatanya sama-sama belum ingin masuk ke kamarnya masing-masing. Mereka masih ingin menikmati malam entah sampai pukul berapa.
Mereka masih muda dan hanya tinggal berdua. Untuk itu mereka bebas melakukan apa saja sampai pukul berapa saja tanpa ada siapa pun yang akan menegur. Walau sebenarnya Rendra rindu teguran. Setiap dia duduk di kursi rotan itu malam-malam, entah sendiri atau pun bersama Rizal, dia sebenarnya selalu terfikirkan ayahnya. Dia rindu bercengkrama dengan ayahnya membahas segala hal. Dan Rendra rindu nasihat pria terhebatnya itu. Jika ayahnya masih ada, mungkin yang diajaknya berbicara malam itu adalah ayahnya, tak ada yang lain.
"Capek kamu?" Rizal malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan temannya karena sedari tadi tangan temannya itu sibuk beradu dengan betisnya yang berbulu.
"Hahaha, iya nih tumben." Rendra tertawa menyadari bahwa rupanya aktivitasnya itu menyita perhatian Rizal yang sedari tadi memetik gitar dalam pelukannya menyanyikan lagu sesukanya. Lama-lama Rizal akan menjadi lelaki terbaiknya juga, setelah ayahnya.
"Makanya cepat cari istri! Kan enak nanti tiap malam ada yang memijat kakimu yang berbulu domba itu."
"Hahahaha," tawa Rendra langsung pecah mendengar guyonan receh temannya itu. Namun sesat kemudian langsung diam. "Kamu rela, Bang kalau aku punya istri?" tanya Rendra setengah serius.
"Lah kok? Memangnya kenapa?" Rizal dibuat bingung dengan pertanyaan teman yang sudah dianggapnya adik itu.
"Kalau aku punya istri, otomatis aku akan tinggal di sini. Kamu nanti bagaimana?"
Mata Rendra menatap serius. Semenjak ayahnya meninggal, lelaki di hadapannya yang langsung tinggal serumah dengannya itu, yang siang malam bersamanya itu, sudah benar-benar dianggapnya seperti keluarga. Dan jika suatu saat Rendra menikah, bukankah itu artinya Rizal harus keluar dari sana?
Rizal terkekeh getir menyetujui pemikiran Rendra. Walau bukan saudara kandung, namun teman di depannya itu sudah bersama dengannya sejak jaman kuliah hingga malam itu. Segala macam kisah pahit dan manis sudah dilalui bersama. Dada Rizal mendadak nelangsa. Teman di depannya itu sudah tidak punya siapa-siapa. Rizal hanya bisa berharap, semoga calon istri temannya itu adalah wanita baik yang benar-benar mencintai dan mengabdikan hidupnya untuk Rendra.
"Aamiin," ucap Rizal mengamini doa dalam hatinya sendiri.
"Kok amin???"
Suasana yang tadi sesaat hening, kini berubah menjadi tawa yang dipelopori oleh Rizal. Dia tertawa terbahak melihat wajah teman di depannya yang kebingungan.
"Hahahahahaa, hahahahhahaaa."
Rendra mendelik heran melihat Rizal tertawa sampai berair mata. Apakah ucapannya tadi selucu itu?
Rizal berusaha menghentikan tawanya dan menyeka pojokan matanya yang basah. "Eh, eh, tadi kamu tanya perihal sempit, apanya yang sempit?"
"Maunya apa?" Rendra balik bertanya.
"Hahaha, asal jangan pikiranmu saja yang sempit!!"
"Hahahaha, doakan selalu, Bang!"
Keduanya tertawa lagi. Walau malam semakin larut, mereka tak peduli, seperti biasanya.
"Bang!" panggil Rendra terdengar serius.
"Apa??" Rizal mendelik siap mendengarkan.
"Raras...."
"Naah!! Aku suka nih kalau bahasannya Raras. Kenapa, kenapa dia??" ucap Rizal semangat memotong kalimat Rendra yang baru sebatas menyebutkan nama.
Rendra berdecak geram sambil menautkan kedua alisnya. "Mayra...," ucap Rendra sengaja memutus kalimatnya. Dia hanya ingin tahu reaksi temannya itu saat nama orang yang tak disukainya disebut.
"Raras apa Mayra nih?? Kalau Mayra aku ngantuk," ucap Rizal mengancam.
"Kalau Raras?" goda Rendra tak mau kalah.
"Kalau Raras, melek sampai subuh pun aku kuat!!"
"Dua-duanya??" Mata Rizal melotot tak mengerti.
"Eh, tiga deh tiga!"
"Tiga?? Apa sih??"
"Makanya dengarkan dulu kalau ada pria tampan bercerita tuh!!" protes Rendra akhirnya. Rizal tertawa manggut-manggut mengiyakan dan memersilakan Rendra berbicara.
"Aku tidak tahu mengapa dunia selalu terasa sesempit ini untukku, Bang," ucap Rendra mulai bercerita, nadanya terdengar serius. Rizal pun mulai mendengarkan dengan serius.
"Pertama soal kamu, Bang. Soal Bela. Dari sekian banyak wanita, atau dari sekian banyak lelaki, kenapa harus kamu dan Bela yang menghianatiku dan berpacaran?"
Keduanya bungkam sejenak. Rizal paham teman di sampingnya itu tidak sedang membahas ulang masalahnya dulu. Rendra hanya membuka percakapan melalui kalimat itu. Maka yang dilakukan Rizal hanya diam. Bersiap mendengarkan kalimat selanjutnya dari temannya itu.
"Dan sekarang Raras. Raras itu orang asing. Orang yang benar-benar tidak aku kenal sebelumnya. Dan setelah aku kenal Raras, kenapa dia jadi kenal Lina dan Mayra juga?? Bayangkan, Bang. Raras, Lina, dan Mayra, mereka secara tidak sengaja bisa saling mengenal satu sama lain."
Rizal mengangakan mulutnya seolah tak percaya. "Serius??"
Rendra mengangguk pasti.
"Gawat ieu mah euy!! Bagaimana kalau Raras tahu kalau lelaki bernama Rendra Hermawan yang ditaksirnya itu tidak melirik gadis secantik dia dan malah tergila-gila pada wanita beranak satu?" Ucap Rizal seolah beretorika.
--(Gawat ini sih!!)
Rendra terkekeh. Namun ucapan abang gadungannya itu memang benar. Dia sampai sekarang belum bisa menyukai Raras yang memang ayu hanya karena hatinya yang masih tertambat pada Mayra yang mungkin selamanya tidak akan bisa dimilikinya itu.
"Kudu kumaha atuh?"
--(Harus bagaimana?)
"Tembak Raras!!" ucap Rizal yakin. Seyakin dia yang bisa menjamin bahwa Rendra akan bahagia jika bersama Raras. Gadis itu baik dan cantik. Kurang apa lagi?
--(Tembak \= menyatakan cinta)
"Tapi aku belum cinta dia, Bang!"
"Belum kan? 'Belum' adalah kata awal menuju 'sudah'. Jalani saja dulu! Aku yakin Raras itu mudah untuk dicintai, kok. Dia kurang apa coba?"
Rendra menatap temannya dan menelan ludah. Jika semuanya semudah perkataan Rizal, mungkin dia sudah menjadikan Raras pacarnya semenjak dia tahu bahwa gadis itu menyukainya. Namun Rendra tidak setega itu. Dia tidak mungkin menjadikan gadis sebaik Raras sebagai wanita pelariannya. Hatinya masih berisikan Mayra. Wanita bersuami yang dengan ajaib bisa membuatnya jatuh hati sedalam-dalamnya.
Rendra jadi teringat Mayra. Wanita kesayangannya itu disebut 'jallang'?
"Aku harus cari tahu siapa orangnya!" ucap Rendra lirih pada dirinya sendiri.
"Orang? Orang apa?" tanya Rizal tak mengerti.
"Hahahahaahhaa." Rendra tertawa lagi menyadari kegilaannya. Dia dan Rizal sedang membahas Raras, namun mengapa selalu jadi Mayra yang menjadi sorotan utamanya?
"Sini gitarmu, Bang!" Rendra merebut gitar dalam pelukan hangat lelaki bersinglet putih itu. Gitar itu terasa hangat di beberapa bagiannya karena sedari tadi berada dalam apitan ketiak berbulu Rizal.
JRENG!!
"Ingin ku bunuh pacarmu!! Saat dia kecup bibir merahmu!! Di depan kedua mataaaku!! Hatiku terbakar jadinya, cantik!! Aku cemburu!!!"
(Sebait lirik lagu Dewa 19 - Cemburu)