MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Lewat Telepon



πŸ“ž"Halo, dengan Griya Cantika di sini," sapa Lina mengangkat gagang telepon yang berada di samping layar komputernya yang baru saja berdering.


Hari itu adalah hari pertama Lina bekerja lagi di Griya setelah sekian lama vakum. Siang itu Lina duduk seorang diri di ruangan depan menatap layar komputer membenahi folder agenda-agenda Griya agar lebih dimengertinya. Sementara Wuni, Rendra, dan Anto sedang sibuk menyulap ruang belakang untuk dijadikan studio mini. Akhir-akhir ini job Griya lumayan sepi. Untuk itu Lina mengusulkan menyulap satu ruangan kosong untuk dijadikan studio foto yang siang itu sudah berisi beberapa alat dekor yang lucu-lucu.


πŸ“ž "Halo Linaku sayang," ucap orang di seberang yang langsung mengenali suara Lina. "Sudah mulai kerja lagi sekarang?"


Lina terdiam, dia tahu betul suara siapa orang yang meneleponnya itu. Rasanya ingin sekali dia menutup telepon itu segera. Namun niatnya ia urungkan, Lina harus tahu tujuan wanita yang siang itu tiba-tiba menelpon Griya.


πŸ“ž "Ada apa?" tanya Lina ketus.


πŸ“ž "Ya ampuuun, begini caramu berbicara dengan klienmu??" Suara di seberang terdengar mengejek.


πŸ“ž "Sudahlah, Ris! Cepat katakan apa maumu?"


πŸ“ž "Oke lah, santai sayaaaang, santai!!" ucap wanita di seberang yang tak lain adalah Risa dengan sok lembut. "Tadinya aku berharap yang menjawab teleponku adalah Mayra. Tapi kebetulan yang mengangkat adalah kamu, jadi aku selesaikan urusanku dengan kamu dulu lah, yaaa."


Lina menjauhkan gagang telepon dari telinganya dan menatapnya. 'Urusan apa?'


πŸ“ž "Ngomong-ngomong, Mayra ada di sana tidak hari ini?" Risa masih mengambil alih pembicaraan.


πŸ“ž"Sudahlah, Ris! Tidak usah bertele-tele. Ada urusan apa kamu denganku?"


πŸ“ž "Kamu sekarang sudah tidak betah ya, berlama-lama berbicara denganku?" Risa masih menggoda, berusaha memancing emosi lawan bicaranya.


Lina menghela napas. Dia paham betul kelakuan 'mantan' temannya itu. Dia hapal betul apa yang sedang Risa lakukan. Namun Lina berusaha tetap diam. Dia tidak ingin terpancing emosi.


Tanpa Lina tahu, dari jarak tiga meter di belakangnya, Rendra yang tak sengaja lewat langsung menghentikan langkahnya saat mendengar nama Risa disebut. Lelaki itu memang selalu ingin tahu jika ada kabar tentang Risa. Karena segala hal tentang Risa, pasti ada sangkut pautnya dengan wanita kesayangannya, Mayra.


Lina masih diam, hanya embusan napasnya yang menandakan bahwa dia masih memegang gagang teleponnya. Di seberang Risa terkekeh. Dia pun sebenarnya tahu bahwa Lina sudah mulai emosi.


πŸ“ž "Ada kerjasama apa kamu dengan Sandu?" Risa akhirnya mulai membahas inti pembicaraannya


πŸ“ž "Sandu?? Maksudmu apa??" kilah Lina yang memang merasa tidak pernah berhubungan dengan Sandu dalam hal apa pun.


πŸ“ž "Sudahlah, Lin! Mengaku saja. Kamu kan yang memberitahu Sandu bahwa ponsel Mayra ada padaku?"


Lina mengernyitkan dahinya. Dia sama sekali tidak merasa melakukan hal yang Risa tuduhkan.


πŸ“ž "Jadi Sandu sudah tahu kalau ponsel Mayra ada padamu? Syukurlah," ucap Lina kali ini lebih santai dari beberapa menit sebelumnya. Dia senang karena kebusukan 'temannya' itu akhirnya terketahui orang lain tanpa dia membongkarnya.


Rendra yang masih berada di balik tembok mengernyitkan dahinya geram. Ponsel Mayra yang dicarinya ternyata ada pada Risa. Rendra akhirnya tahu bahwa wanita yang dimaksud Budi yang datang ke Griya saat itu adalah Risa.


"Ekhem!!" Rendra keluar dari persembunyiannya dan pura-pura berdehem menyapa Lina yang seketika terkejut.


"Ren??" Lina refleks langsung menutup teleponnya.


Rendra menatap Lina sekilas namun berusaha bersikap biasa saja seolah dia tak mendengar apa yang didengarnya tadi. "Ke belakang yuk! Studio foto ala Griya Cantika sudah 60% selesai tuh." Rendra melirikkan matanya ke arah belakang bermaksud mengajak Lina melihat hasil dekornya bersama Anto dan Wuni.


"Yah, sudah hampir selesai ya? Maaf yaa aku tidak membantu. Aku belum selesai menyusun semua file-file ini." Lina menunjukkan layar di depan dengan dagunya.


"Tidak apa-apa. Kamu sudah mau bergabung dengan Griya lagi pun saya sudah senang," aku Rendra sejujurnya.


Lina tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Oke, ayo!" Lina bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului Rendra menuju ruang belakang.


Sampai di sana, Lina terkejut melihat hasil kerja teman-temannya. Ruangan belakang yang terakhir kali dilihatnya terbengkalai itu, sekarang terlihat menakjubkan. Empat sisi tembok yang kemarin sudah dicat warna-warni oleh Anto dan Rendra, siang itu terlihat lebih cantik setelah dirias sebegitu rupa dengan berbagai macam tempelan dinding yang lucu-lucu. Lina tersenyum.


"Terimakasih ya, kalian memang tim yang hebat!" puji Lina terharu.


Wuni tersenyum lalu mendekat. "Kita, Mbak Lin, KITA. Kita semua tim yang hebat." Wuni mendekap Lina erat.


Lina mengangguk. "Mayra harus tahu ini. Besok kita minta dia datang yaa. Kita foto bersama dulu di studio baru kita ini, sekalian peresmian yang tidak resmi," ucap Lina lagi sekenanya.


Semuanya terbahak mendengar ucapan Lina. Namun diantara tawa semua teman-teman di sana, tawa Rendralah yang jelas berbeda. Tawa lelaki itu dibarengi rasa bahagia karena besok dia akan bertemu dengan Mayra, lagi.


***


Malam itu Rendra duduk seorang diri di teras pada kursi kesayangannya sambil membuka laman sosial media berwarna biru milik Mayra. Rendra pandangi foto ibu satu anak itu satu persatu. Rendra tersenyum. Wanita yang dicintainya itu memang cantik. Rendra memang tidak berniat akan benar-benar merebut Mayra dari suaminya. Namun untuk saat ini dia juga tidak bisa melepas rasa cintanya untuk wanita itu begitu saja. Urusan perasaan memang hal paling rumit di dunia. Jika boleh meminta, bisakah Mayra diciptakan sekali lagi hanya untuk Rendra?


Rendra sesap kopi dalam cangkir yang tinggal setengah itu. Sepi. Tidak ada Rizal. Sudah beberapa hari ini lelaki itu ikut bekerja di Kopikita.


Dari selepas maghrib tadi sebenarnya Rizal sudah menelepon Rendra untuk datang ke Kopikita, namun Rendra menolak. Dia sedang tidak ingin berbasa-basi dengan Raras. Rendra tahu betul jika Rizal memintanya datang ke Kopikita, alasannya tak lain adalah agar dia bisa berduaan dengan Raras.


Sedang asik menatap layar ponsel yang berisi deretan foto Mayra, tiba-tiba nama dan nomor Rizal muncul mengganti pemandangan layarnya.


"Aduh, ini orang ya!" dengus Rendra bergumam sendiri, namun layar ponsel tetap segera ia geser ke arah kanan.


πŸ“ž "Halo!!" sapa Rendra ketus. Dia yakin Rizal masih berusaha membujuknya untuk datang ke Kopikita. "Kan sudah ku bilang, Bang. Aku tidak ingin ke sana."


πŸ“ž "Ren??"


DEG. Rendra gelagapan saat mendengar yang menjawab teleponnya adalah Raras. Lelaki itu menepuk pelan jidatnya sambil berkata 'aduh' dalam hatinya. Dia juga merutuki Rizal yang telah memberikan ponselnya pada Raras.


πŸ“ž "Hehe, kamu, Ras??" sapa Rendra canggung.


πŸ“ž "Iya, Ren. Ngomong-ngomong kamu sakit apa? Aku kesana ya sekarang?"


Sakit??? Rendra melongo tak mengerti. Bagaimana bisa Raras mengira dia sakit? Namun tak ada tersangka lain, Rendra langsung mengerti semuanya pasti ulah abang gadungannya itu.


πŸ“ž "Hm, tidak apa-apa, Ras. Aku hanya kelelahan saja," jawab Rendra sekenanya.


πŸ“ž "Aku kesana sekarang ya? Boleh?"


πŸ“ž "Ngg, jangan, Ras! Kasihan kamu, sudah malam. Besok malam saja aku ke Kopikita, ya??" Rendra memberi pilihan hanya agar Raras tidak datang ke rumahnya malam itu.


πŸ“ž "Hm, oke."


Rendra menghela napas lega. Keduanya bungkam sesaat.


πŸ“ž "Ren??"


πŸ“ž "Ya??"


πŸ“ž "Boleh aku tanya sesuatu?"


πŸ“ž "Boleh, dong. Tanyakan saja, Ras!" tukas Rendra lembut mencairkan suasana yang dirasanya jadi semakin canggung.


πŸ“ž "Mmmmm, kata bang Rizal, kamu suka padaku? Benar??"


"Haaah???" Suara Rendra hampir tak terdengar karena yang keluar dari mulutnya hanya ******* napas pendek. Napasnya seolah tercekat di kerongkongan saking terkejutnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan nyeleneh gadis di seberang yang dia yakin atas suruhan Rizal itu. Rendra tak bisa diam saja. Karena jika dibiarkan, dia takut Raras akan kecewa nantinya.


πŸ“ž "Hm, Ras, aku ke Kopikita sekarang ya. Tunggu aku!"


🌼🌼🌼


Halo teman-teman Bebee, apa kabar??


Semoga sehat selalu.


Maafkan yaa karena aku up nya nggak karuan akhir-akhir ini πŸ˜… Soalnya aku sudah mulai 'sekolah' lagi. Jadi kadang pulang-pulang sudah lelah lalu malas buat ngetik, wekekekek πŸ˜…


Tapi semoga kalian tetap setia nungguin kelanjutan ceritanya yaa 😚😚 Dan semoga salalu maklum. Terimakasih sebelumnya 😚


See yaa di episode berikutnya πŸ™