MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Cinta yang Salah



Holaaa. Bebee datang lagi 😘


Tim sebal, benci Mayra mana suaranya? 😆


Selamat membaca ya, enjoy 💕


🌸


Lina sudah merasa bosan berduaan dengan Rizal saja. Padahal dalam bayangannya dia akan menikmati malam dengan Rendra. Tapi nyatanya lelaki itu malah masuk rumah lagi dan lagi dengan alasan yang diada-ada.


"Nanti saya mandi dulu, ya."


"Saya lupa belum matikan keran."


"Aduh saya kebelet pipis."


Begitu saja terus. Rizal hanya bisa meringis melihat kelakuan temannya itu beralasan. Lina juga sadar bahwa kehadirannya sudah tidak diinginkan di rumah itu. Tapi dia sengaja acuh. Dia harus berhasil menjalankan misinya.


Satu jam lalu, saat Rendra menelepon Mayra di dalam kamarnya, Lina juga sedang bertelepon dengan seseorang di luar sana.


📞 "Iya siap."


Lina menjawab telepon seseorang. Dia tadi segera menjauh saat mengangkat telepon itu. Rizal sempat melihat nama si penelepon di layar ponsel Lina tanpa sengaja. Tapi jelas lelaki itu tidak mengenal nama itu.


📞 "Iya, ini aku juga masih di rumah Rendra," jawab Lina.


📞 "...."


📞 "Iya, sebentar lagi menuju rumah Mayra."


📞 "...."


📞 "Beres"


Tak lama, Lina kembali duduk. Untuk sesaat kemudian Rendra datang dengan celana jeans cokelat muda dan kaos hitam polos berkerah. Lina terpesona dengan ketampanan lelaki di depannya yang masih fresh karena baru selesai berdandan. Lina memang tak salah menjatuhkan hatinya. Lelaki di depannya memang semenawan itu.


"Ayo!" Rendra sudah mengiyakan keinginan Lina untuk mengajaknya berkunjung ke rumah Mayra, entah apa alasanya.


Rendra menuruti keinginan teman wanitanya itu hanya agar dia segera pulang. Lina sudah berada di rumahnya sejak sore tadi sampai sekarang sudah lewat dari jam 7 malam.


Risih? Jelas sekali. Namun tidak mungkin juga si pemilik rumah mengusir tamunya itu kan?


"Ayo!" Lina menjawab semangat.


Rendra, Lina, dan Rizal masuk ke dalam mobil. Dalam hati Lina berdecak kesal karena Rendra nyatanya mengajak Rizal. Dia sangat ingin hari itu dihabiskannya berduaan saja dengan lelaki pujannya. Namun nyatanya dari tadi ada Rizal lagi dan lagi.


Rizal seperti biasa jadi orang yang ambil kemudi. Lina duduk di sampingnya, sementara Rendra memilih duduk di kursi belakang. Dalam perjalanan mereka bungkam. Sesekali Rizal melirik mereka satu persatu melalui kaca spion di depannya, temannya sedang asik sendiri memainkan ponsel.


"Pulang dari Mayra nanti, kita makan dulu yuk!" Lina antusias mengajak. Dia yang memang hanya sendirian di rumah jadi tidak ada batasan untuk menghabiskan waktu kapan dan dengan siapa pun. Bahkan kalau-kalau tidak pulang sekali pun.


Rizal melirik Rendra dari spion untuk memastikan jawabannya. Rendra sedikit menggelengkan kepalanya.


"Wah, saya dan Rendra sepertinya tidak bisa, mau ada perlu," kilah Rizal berbohong.


"Mm, kita ajak Mayra juga kok." Lina meralat ucapannya. Walau sebenarnya dia tidak ingin ada Mayra jika sedang bersama Rendra. Mengganggu!!!


"Saya ada urusan, Lin." Rendra akhirnya ikut bicara. Walau ya, dia juga berbohong.


"Urusan apa? Aku ikut!"


Rizal menahan tawa mendengar perkataan teman wanita di sampingnya. Bagaimana tidak? Baru menjadi teman saja si Lina seolah ingin terus-terusan mengekor pada Rendra. Apalagi kalau-kalau dia jadi pacarnya? Bisa rusuh dunia persilatan.


***


"Rendra??"


Mayra terkejut saat membuka pintu rumahnya, karena yang bertamu adalah orang yang sama sekali tidak disangkanya. Waktu sudah akan jam 8 malam saat itu. Lina sengaja menahan dirinya untuk berdiam dulu di dalam mobil. Dia sengaja membiarkan Rendra dan Rizal dulu yang maju.


"Hai." Rendra menjawab kikuk. Rizal ikut menyapa dengan anggukkan kepalanya.


Tak lama Lina keluar dari mobil dan bergabung bersama mereka. Walau Mayra berteman dekat dengan Lina, namun wanita itu terkejut juga melihat temannya itu datang bersama Rendra. Ada apa?


Walau begitu, Mayra tetap memersilakan mereka masuk. Rendra yang baru pertama kalinya bertamu ke rumah Mayra, menatap satu persatu bagian di dalamnya. Rumah Mayra bagus. Walau tidak terlalu besar, namun perabot dan pernak-pernik di dalamnya di tata dengan apik. Ruang tamu yang di cat berbeda warna setiap sisinya itu menambah kesan cerah, lengkap dengan sofa berwarna hijau muda.


Pada bufet kayu yang membatasi ruang tamu dengan ruang keluarga terpajang beberapa hiasan antik di sana, salah satu diantaranya yaitu miniatur becak.



Lina dan Rizal sudah duduk di atas sofa dan mencomot kue kering yang memang sudah tersedia dalam toples di meja tamu. Sementara Rendra masih asik menikmati pemandangan di depannya.


"Azka mana, May?" Tanya Lina dengan keras sengaja membuyarkan lamunan Rendra.


"Azka belum pulang," Jawab Mayra seadanya sambil meletakkan tiga gelas sirup pisang yang baru dibuatnya.


"Azka? Siapa?" Tanya Rizal polos. Dia memang belum tahu jika Mayra sudah bersuami.


"Suami Mayra," jawab Lina santai karena memang itulah kebenarannya.


Lina tersenyum puas melihat reaksi terkejut Rizal. Sekali dayung, dua pulau terlampaui, begitu pikirnya. Namun dalam hatinya juga menyayangkan karena Azka tidak ada di rumah. "Coba kalau ada, pasti lebih seru," pikirnya.


"Waah, enak nih." Rendra sengaja segera bergabung dan mencomot isi toples yang sudah terbuka agar pembahasan mengenai Azka tidak melebar. Rendra sudah menangkap maksud Lina mangajak dirinya bertamu ke rumah Mayra malam itu.


***


Rizal kurang fokus menyetir malam itu. Dia terpikirkan soal Mayra, wanita yang ditaksir temannya. Lina, dia sudah diantarkan tepat di depan gerbang rumahnya. Kini mereka_Rizal dan Rendra tengah dalam perjalanan pulang menuju rumah mereka. Ya, rumah mereka, Rizal memang sepertinya akan tinggal lama di rumah Rendra.


"Ren?" Rizal akan memulai interogasinya.


"Iya." Rendra langsung menjawab sebelum ditanya. Dia tahu bahwa temannya itu akan bertanya, "Benarkah Mayra sudah bersuami?"


"Jadi benar?" Rizal memastikan.


Rendra mengangguk.


"Sinting!! Jadi perempuan yang selama ini kamu perjuangkan sudah bersuami?? Eling Ren!!"


Mendengar nasihat temannya, Rendra malah terkekeh. Dia setuju bahwa dirinya memang sinting. Dirinya sendiri pun tidak menyangka bahwa dia akan mencintai wanita bersuami. Semua itu sama sekali tidak direncanakannya. Jika ada orang yang dengan sengaja merencanakan mencintai orang lain yang sudah bersuami/ beristri, sungguh dialah sesinting-sintingnya manusia.


"Lupakan dia lah Ren!! Ada Lina yang bisa lebih baik, mungkin?" kilah Rizal.


"Hahaha." Rendra kini benar-benar tertawa.


Temannya itu kemarin sangat mendukungnya untuk mendapatkan Mayra. Sampai dia mewanti-wanti untuk jangan sampai tergoda dengan Lina. Nah, hari ini Rizal malah meminta Rendra untuk bersama Lina?


Sungguh hati manusia memang terbolak-balik setiap harinya.


"Ren!!" Rizal membetak keras.


"Apa??" Rendra menghabiskan sisa tawanya.


"Ini serius kamu sudah tahu kalau Mayra sudah bersuami??" Rizal masih tidak percaya dengan tingkah temannya itu.


"Iyaaaaa!!"


"Ckckck, kalau tahu kamu akan jadi segila ini, dulu aku tidak akan merebut Bella, Ren."


"Hahahaha."


Tebakan Rizal kembali membuat Rendra terpingkal. Rizal mengira temannya itu banting stir dengan menyukai wanita bersuami karena patah hati perihal Bella??


No way!!


Bagi Rendra, 'kakak' nya itu sangat menggemaskan malam itu.


"Bang," ucap Rendra sok serius. "Salahkah bila diriku terlalu mencintainya??" Rendra menyanyikan sebait lagu Pinkan Mamboo dengan suara falsnya.


Orang yang dadakan di panggil 'Abang' itu mendelik heran. Temannya itu sudah benar gila rupanya.


"Macam mana pula kau panggil aku 'Abang' hei adik tak tahu diri?!" Rizal ikut memainkan perannya.


"Aku tak punya adik gila macam kau! Terlahir tampan nan rupawan tapi mencintai wanita bersuami?? Cih, dimana harga dirimu wahai pemuda??"


"Hahahahahaa"


Rendra terbahak-bahak menikmati lawakan receh temannya. Sementara si pembuat lawakan teriris getir di dalam sana. Ia bingung harus bagaimana? Rendra masih dalam suasana hati yang hancur sebenarnya saat ini. Dia masih berkabung atas ayahnya. Dan hanya Mayralah yang nyatanya bisa membuat temannya itu tertawa, bahagia.


Lalu sebagai teman, Rizal harus bagaimana?


Segera menyadarkan temannya yang sedang dimabuk cinta? Atau membiarkannya bahagia dengan caranya? Walau salah?