
"Ren, aku turut berduka ya."
Bella kini menggantikan Mayra duduk di kursi almarhum.
Sejak Bella datang tadi, Mayra langsung pamit. Kini Rendra menatap langit ditemani mantannya. Ada Bella datang, pikiran Rendra kembali menerawang pada lelaki idolanya. Karena hanya Bellalah wanita yang ayahnya tahu. Wanita di sampingnya itu adalah pacar pertamanya.
"Besok aku ingin ke makam ayah ya, kamu bisa antar?"
Bella memang sudah akrab dengan almarhum, sampai dia pun memanggil beliau dengan sebutan 'ayah'.
Rendra acuh. Dia sudah malas dengan wanita di sampingnya. Rendra memang sudah melupakan dan memaafkan semua tentang mantannya itu. Namun dia hanya mengikuti kata hati yang memintanya untuk menjauhi semua orang yang memiliki sifat seperti Bella. Manusia dengan paras elok dan berbudi baik, namun bersisik.
"Ren?" Bella menangkupkan satu tangannya di atas paha Rendra. Lelaki itu segera melepasnya.
"Kamu ke makam sendiri saja."
Mata Rendra masih belum fokus. Dia tidak bisa mengantar Bella karena dia belum kuat untuk datang ke makam ayahnya yang sengaja dia minta dikebumikan di samping pusara ibunda.
Dengan membayangkannya saja, Renda serasa tidak kuat. Dia harus berada di tengah-tengah rumah baru kedua orang tuanya, bernapas sendirian.
Pikiran Rendra melayang jauh. Dia kini sendiri. Lalu siapa yang akan mendampinginya menikah nanti? Bukankah sang ayah memintanya untuk segera membawakannya menantu?
Rendra tersenyum getir mengingat semua tentang ayah dan dirinya. Tentang dia yang seperti sudah tak punya semangat hidup. Uang hasil kerjanya nanti untuk siapa? Rendra senang jika uangnya habis karena membeli kopi satu renteng, kacang kulit satu bungkus, atau nasi pecel dengan sambal tomat kesukaan ayahnya. Dia senang saat ayahnya meminta uang untuk membeli rokok yang selalu berakhir dengan perdebatan seru.
⬅️
"Hai anak muda, berilah orang tua ini uang!" Ayah memalak anaknya dengan berpuisi.
Rendra terkekeh. Ayahnya memang pintar sekali berakting. Sejak memasuki usia 50, ayah Rendra sudah tidak lagi bekerja. Pinggangnya sering sakit jika dibawa melakukan pekerjaan berat. Belum lagi napasnya yang mudah sesak.
"Uang untuk apa wahai kau, Kisanak?" Rendra menjawab ikut berakting. Kedua lelaki itu memang kompak tak ada tandingan.
"Orang tua ini butuh rokok. Uhuk uhuk uhuk," ucap ayah sambil terbatuk yang sengaja dibuat-buat.
"Wahai Kisanak, silakan. Terimalah uang yang tidak seberapa ini." Rendra menyodorkan satu lembar uang seratus ribuan.
"Wah? Serius ini??" suara ayahnya kembali normal sambil menerima uang dari Rendra. Ia tak menyangka anaknya itu mau memberikannya uang untuk membeli rokok. Ayah Rendra sudah berhenti merokok setahunan lalu semenjak paru-parunya bermasalah.
➡️
Rendra terkekeh. Paru-paru?
Dunia memang selalu sesempit ini. Rendra baru sadar bahwa dokter ganti yang beberapa kali memeriksa ayahnya dulu saat kontrol adalah Azka, suami wanita yang dicintainya. Tapi dia yakin Azka tidak mengenalnya karena dokter spesialis paru itu pasti harus bertemu dengan orang baru setiap harinya.
⬅️
"Eh, serius ini??" Ayah Rendra mengulang pertanyaannya dengan menempelkan uang bergambar Soekarno pada jidatnya.
"Serius ayah," jawab Rendra terkekeh. "Ayah ingin membeli rokok kan?"
Ayahnya mengangguk semangat. Beliau memang sudah rindu pada tembakau yang berbalut kertas itu. "Boleh??"
"Boleh ayaaah. Tapiiiii...." Rendra hendak mengajukan syarat. Sang ayah menunggu kelanjutan kalimat anaknya.
"Jangan di bakar. Hahaha," tawa Rendra menggelegak yang dibalas dengan mulut manyun ayahnya yang mendengus kesal.
Kata orang, rokok memang tidak berbahaya selama tidak ada koreknya.
Setuju? Aku sih iya.
➡️
Bella menjadi bingung menyaksikan lelaki di sampingnya yang tersenyum lalu diam, diam lalu tersenyum, kemudian berubah seperti ingin menangis. Bella paham jika Rendra sedang dalam suasana hati yang sangat terpukul saat ini. Ingin sekali dia memeluknya, namun malu. Dia yakin Rendra pasti menolaknya. Tangannya saja tadi yang baru menyentuh kakinya ia tampis, apalagi pelukan?
Bella menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Sudah malam. Pulanglah!" Rendra mengusir padahal masih jam 9.
"Iya. Aku pulang. Tapi sebelum itu, ada yang ingin bertemu denganmu dulu."
Rendra mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dia lihat ada Rizal di sana. Melihat teman yang dulu dianggapnya saudara itu, Rendra terkekeh.
'Cih. Bisa-bisanya mereka datang berdua di hari seperti ini?' Rendra membatin.
Melihat Rizal datang, Bella pergi. Dia menuju mobil tempat Rizal tadi menunggu. Mereka memang datang bersama, namun sengaja menemui Rendra bergantian. Ada sesuatu yang ingin Rizal bicarakan dengan 'adik' nya itu, berdua saja.
"Yang ikhlas, Ren," Ucap Rizal memeluk 'adik'nya tanpa permisi.
"Maaf saya baru kemari. Saya baru tahu kabar ayah dari Bella." Kini Rizal duduk di kursi almarhum.
Di teras itu memang hanya ada dua kursi yang tebuat dari rotan dengan satu meja senada, lokasi favorit penghuninya. Rendra mengangguk. Sepersekian bagian hatinya sebenarnya merindukan lelaki di sampingnya itu. Jika harus menganggap keluarganya masih ada, maka Rizallah orangnya. Andai temannya itu tidak melakukan hal bodoh, mungkin hari ini Rendra bisa sedikit lebih kuat karena Rizal pasti akan mendampingi setiap saat.
Rendra sinis. Untuk apa temannya itu merebut Bella darinya jika akhirnya harus putus juga?
"Kamu datang bersama Bella?" Rendra akhirnya berbicara. Rizal mengangguk. "Kalian pacaran lagi?"
"Tidak. Hari ini hanya kebetulan saja."
Dua lelaki yang perawakannya memang seperti adik kakak itu sama-sama memandang langit malam.
"Maafkan semua salah saya, Ren," pinta Rizal serius.
Rendra diam.
"Andai kamu mau memberitahu saya, saya pasti mau menemanimu kemarin di rumah sakit menjaga ayah, pun hari ini." Rizal menatap 'adik' nya.
Rizal bernasib sama dengan Rendra. Itulah yang menjadikan mereka dekat. Rizal juga anak tunggal yang dibesarkan oleh satu orang tua. Bedanya, ayahnya yang meninggal. Sementara ibunya pergi keluar negeri menjadi pekerja di sana. Ibunya yang single parent harus berjuang mencari uang seorang diri untuk menghidupi anaknya hingga kuliah. Selama ibunya berada di Timur Tengah, Rizal hidup bersama bibinya. Untuk itulah dia sering menginap di rumah Rendra. Di sana lebih menyenangkan karena ada sosok ayah yang ia rindui.
Ada Rizal datang, hati Rendra mulai tenang. Dia akhirnya harus mengakui, Rizal memang 'kakak' nya.
"Mengapa putus dari Bella?" Alis Rendra terangkat saat mengucapkannya.
Rizal nyengir. Sebaris gigi putihnya terlihat. Sikap tengil 'adik'nya itu mulai muncul. Pertanda suasana hatinya sudah mulai membaik.
"Mmm, apa ya??"
Rendra setia menunggu jawaban. Lelaki di depannya pura-pura berpikir.
"Bohong saya pukul nih!" Rendra mengancam.
"Hahaha. Iya, iya. Salah saya. Saya tergoda dengan Bella."
"Memangnya dia menggoda??" Rendra penasaran.
"Yaa begitulah. Setiap dia ada masalah denganmu, dia datang ke saya."
Rendra mengangguk. "Dasar!"
"Dia type perempuan yang tidak puas dengan satu lelaki sepertinya," ucap Rizal menimpali.
"Hahahaha."
Rendra akhirnya bisa tertawa. Rizal senang kehadirannya diterima dengan baik.
"Bella ingin kembali bersamamu, katanya." Rizal memberitahu.
"Ti-dak!!"
"Hahaha. Iya, iya paham."
"Paham apanya?"
"Perempuan baju putih kan? Saya lihat tadi saat dia keluar gerbang. Cantik."
Rendra mengangkat satu alisnya. 'Kakak' nya itu rupanya sudah melihat Mayra. Dan katanya cantik? Rizal juga sepertinya tidak mengira kalau Mayra sudah beranak satu. Rendra terkekeh.
Dia mendadak rindu pergi ke pantai berdua bersama 'kakak'nya. Dulu keduanya memang sering pergi kesana untuk sekedar menghilangkan penat.
"Ke pantai, yuk!!" ajaknya.
"Besok? Ayo!!
***
📩 Innalillahi wa inna ilaihi raajiun.
Kabar duka. Ayah Rendra meninggal dunia. Mari kita hadiahkan beliau doa terbaik yang kita punya. Besok selesai kerja kita bersama ke rumahnya ya.
Pesan dari Mayra di grup whatsApp Griya sedang dibaca oleh Lina. Dia menghela napas. Dia akhirnya tahu alasan temannya tadi siang buru-buru pergi. Perkataan Wuni kini berputar dalam kepalanya.
Rendra suka Mayra.
Mayra?