
Mayra menatap Rendra dengan pojok matanya saat lelaki itu telah kembali duduk di kursinya. Tak biasanya lelaki hitam manis itu mengangkat telepon sampai harus menjauh terlebih dahulu. Karena selama di Griya pun, jika ada telepon yang masuk ke ponsel Rendra entah dari siapa pun, lelaki itu langsung menerimanya tanpa harus berpindah tempat. Apakah dia benar sudah punya pacar?
"Cieee terima telepon sampai menjauh begitu, dari siapa tuuuh?" Goda Wuni pada Rendra seolah mewakilkan pertanyaan Mayra.
Walau dalam hatinya Mayra berterimakasih pada Wuni, namun wanita itu pura-pura tak acuh sambil meminum kopi icenya yang sebentar lagi akan habis. Empat piring kudapan di meja meraka pun sudah habis.
"Ada, deeeeeh," Jawab Rendra sambil memasukkan ponselnya dalam tas pinggangnya.
"Deuh, pelit!!" rajuk Wuni manja sambil melemparkan gulungan tisu pada Rendra. Lelaki itu terkekeh gemas.
"Pulang, yuk! Sudah pada habis kan?" Tanya Mayra mengalihkan pembicaraan sambil melirik satu persatu gelas temannya yang memang sudah habis. Dia tahu Rendra tidak akan semudah itu menjawab pertanyaan Wuni. Walau Mayra memang penasaran, tapi ya sudahlah.
"Hayuk! Lagipula sebentar lagi maghrib!" Jawab Wuni bangkit dari kursinya.
"Oke. Kalian ke depan duluan, ya. Aku ke kasir dulu," ucap Mayra kemudian memersilakan ketiga temannya untuk menuju parkiran.
Wuni dan Anto segera menuruti perkataan Mayra, sementara Rendra masih duduk anteng di tempatnya.
"Sudah aku bayar," Ucap Rendra seraya bangkit dari duduknya, meninggalkan Mayra dan berlalu menyusul Wuni dan Anto.
Mayra berhasil dibuatnya duduk tertegun. Again??
Mayra merasa dirinya sudah banyak hutang pada lelaki itu. Uang belanja yang Rendra bayarkan saat malam dirinya tak membawa dompet pun belum dia kembalikan, dan sore itu Rendra malah membayar semua pesanan yang seharusnya menjadi tanggungannya?
Wanita dengan kaos putih gombrong selutut dan celana leging hitam itu berlari mengejar Rendra yang berjalan beberapa meter di belakang kedua temannya.
"Wait, Ren!! Bagi nomor rekeningmu!" Ucap Mayra saat dirinya sudah berada di depan Rendra guna menghentikan langkah lelaki itu.
Rendra berhenti dan mendelik ke arah Mayra. Ia kemudian tersenyum.
"Yakin mau bayar?" Tanya Rendra yang sudah paham maksud wanita di depannya itu. Mayra segera mengangguk pasti.
"Oke kalau kamu memaksa, nanti aku kirim nomor rekeningku. Tapi aku minta satu syarat!" Ucap Rendra kemudian berhasil membuat Mayra mengerutkan dahinya. Rendra terkekeh. "Kamu boleh kirim uang ke rekeningku, asaaaal..." Rendra sengaja memotong kalimatnya agar wanita di depannya makin penasaran. Bagaimana pun juga Rendra rindu melihat mimik lucu wanita di depannya.
"Asal apa?" Tanya Mayra tak sabar. Rendra terkekeh. Tebakannya benar. Wanita di depannya memang takkan sanggup menahan rasa penasarannya.
"Asal...nanti uang itu aku pakai untuk traktir kamu makan, berdua, mau??"
"Sintingg!!"
Mayra berlalu meninggalkan Rendra dan berjalan cepat menyusul Wuni. Setelahnya wanita itu langsung masuk ke dalam mobilnya disusul Wuni. Mayra bertanggung jawab mengantar rekan kerjanya itu pulang karena memang setiap harinya Wuni datang ke Griya dengan menggunakan ojek.
Anto masih berdiri di samping motornya menunggu Rendra yang saat itu masih berdiam diri di tempatnya berdiri sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.
Lelaki itu tersenyum simpul seolah telah menang dari Mayra. Dia sengaja mengancam Mayra dengan kalimat ajakannya tadi hanya agar wanita itu tidak mengembalikan uangnya, itu saja.
***
Di kediaman Rendra, pukul 18.32 WIB.
"Ayo lah, Bang, cepat ganti bajumu! Atau kamu ingin ke bioskop dengan baju itu saja?" Tunjuk Rendra pada Rizal yang saat itu sedang memainkan gitar dengan kaos oblong dan celana kolor selututnya.
Rizal hanya mendelik heran sambil menghentikan petikan gitar dalam pelukannya melihat kelakuan aneh temannya. Rendra malam itu sudah rapih. Celana jeans hitam belel dengan kaos putih polos dan sweater hoodie sudah menempel pada badan lelaki muda itu.
"Ini, Bang. Cepat pakai!" Rendra memberikan satu sweaternya pada Rizal.
"Hey pemuda!! Memangnya saya pernah bilang kalau malam ini saya akan ikut?" Protes Rizal pada temannya yang sedari sore tadi sudah merengek minta ditemani pergi ke bioskop.
"Ayo lah, Bang!! Please! Aku tidak mau duduk di tempat gelap berduaan dengan Raras. Ngeri sekali lah itu," Mohon Rendra sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Hahahaha, ngeri apanya? Nanti juga kalau sudah jadi suami istri, kamu dan Raras akan terus gelap-gelapan siang dan malam. Malah suka nanti kamu, hahahaha." Rizal terbahak membayangkan temannya itu menikah dengan gadis pilihannya.
"Kumat kamu, Bang??" Rendra mendelik kesal. "Oke lah. Aku akan telepon Raras dan bilang padanya kalau malam ini aku tidak jadi menjemputnya!" Ancam Rendra sambil membuka ponselnya bersiap menelepon Raras.
"Weits!! Macam-macam ini anak, ya? Ingin membuat anak gadis patah hatinya?" Cegah Rizal sambil merebut ponsel dari tangan Rendra. "Ya sudah cepat, ayo!!" Rizal mengambil sweater yang tadi Rendra berikan dan segera memakainya. Kemudian dia berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman depan.
"Bang, Bang, tunggu!! Ini serius kamu hanya pakai celana kolor itu dan sandal japit saja?" Tunjuk Rendra ke arah celana kolor tartan merah milik abangnya.
"Lah kenapa memangnya? Bukannya tadi katamu pakai kolor saja sudah cukup? Dan lagipula, yang penting itu isi dompetnya, Boss!!" Jawab Rizal sambil memainkan jempol dengan jari tunjuknya.
Rendra menjuruskan pandangannya pada Rizal dari kepala hingga kaki. "Dompet yang mana nih? Bukannya kamu tidak bawa dompet?"
"Itu!!" Rizal mengarahkan bola matanya pada saku belakang celana Rendra. "Kamu kan tuan hajatnya. Saya sebagai tamu undangan untuk apa bawa uang segala? Semua biaya akomodasi hidup dan mati ditanggung oleh tuan hajat lah!!"
"Hahahaha, terlalu kamu, Bang!! Ayo lah gasss!!!"
Keduanya langsung memasuki mobil yang segera dilajukan oleh Rendra. Rizal sengaja duduk di jok belakang agar nanti saat sampai di rumah Raras, wanita itu bisa langsung duduk di samping Rendra.
Sementara itu di kediaman keluarga Raras, wanita itu sedang sibuk merias dirinya dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Dia sudah tak sabar menanti lelaki pujannya itu datang menjemputnya.
KLING.
Satu pesan dengan nama pengirim Mayra masuk dalam ponsel Rendra. Sambil mengemudi, lelaki itu segera membuka pesan itu cepat.
📩 Ren, tolong aku!!
Sruuuuut.
Rendra sontak menginjak pedal rem mobilnya yang berhasil membuat kepala penumpang di belakangnya terpentok jok. Rizal meringis sambil memegangi jidatnya yang sakit.
"Heh!! Kena...." Ucapan Rizal tertahan saat tahu teman di depannnya sedang meletakkan ponsel pada telinganya. Wajah Rendra jelas sekali terlihat panik.
📞 "Halo, May? Kamu kenapa?" Tanya Rendra langsung saat teleponnya sudah tersambung.
Namun tidak ada jawaban. Rendra hanya mendengar isak tangis dari spiker ponselnya.
📞 "May, are you OK?" Rendra berusaha menahan rasa khawatirnya dengan memelankan suaranya. Namun Mayra belum juga menjawab, wanita itu masih terisak.
Rendra akhirnya memilih langsung memutuskan teleponnya dan segera memutar arah mobilnya.
"Maafkan aku, Bang!!"