
Buat temen-temen semua, jangan lupa buat selalu mampir kasih LIKE, KOMEN, dan VOTE nya yaaa. Terimakasih masih setia baca MAHMUD. Sehat selalu yaa kita 🤗
🌼 🌼 🌼
22.35 WIB.
Di kediaman Rendra ....
Di depan teras yang di hadapannya daun-daun dalam pot terlihat basah, di atas kursi rotan yang menjadi saksi sejarah, seorang lelaki dengan hanya memakai singlet putih berkerodong sarung duduk anteng melipat kakinya ke atas kursi. Dipeluknya betis berbulu itu erat. Dingin.
Langit di atas masih hitam walau sudah tak lagi menurunkan hujan. Tak terlihat barang satu bintang pun. Bulan pun masih malu-malu bersembunyi di balik awan yang tenang. Sepertinya mereka masih asik berselimut mendung. Tenang, sunyi sekali. Padahal jam pada dinding masih jauh menuju tengah malam.
Rendra mengecap bibirnya yang mulai kering. Dengan mata yang masih memandang langit, satu tangannya meraih cangkir di atas meja, sementara tangan lainnya masih tersembunyi di balik sarung kotak-kotak milik ayahnya. Diteguknya kopi yang sudah mulai dingin itu, lumayan membasahi tenggorokannya yang dahaga.
"Laper, euy." Rendra memegangi perutnya yang keroncongan. "Mudah-mudahan Rizal bawa makanan, yaa," ucapnya seorang diri.
Rendra longokkan kepalanya ke arah gerbang, belum ada tanda-tanda kehidupan di sana. Rasanya hanya dia seorang diri yang berada di komplek perumahannya itu, benar-benar sepi. Tidak ada suara lalu lalang motor lewat yang biasa terdengar. Abang gadungannya pun belum juga pulang, padahal seharusnya sudah.
Tak lama, samar-samar suara motor Rizal terdengar dari kejauhan. Rendra tersenyum puas, doanya terkabul. Dirinya sudah tak tahan ditelan sepi.
Klek.
Suara kunci motor terdengar, mematikan mesinnya yang juga berhenti tepat di depan gerbang. Rizal yang masih mengenakan jas hujan terlihat repot mendorong gerbang setinggi 1,5m yang tertutup.
Dari tempatnya duduk, Rendra terkekeh. "Tidak butuh bantuan, Bang?" tanyanya jahil.
"Asem kau, Ren!!"
"Hahahahaha." Rendra terbahak melihat abang gadungannya mengangkat tinju, kemudian menuntun motornya masuk ke dalam garasi.
"Daerah mana yang masih hujan, Bang?" tanya Rendra serius saat Rizal datang padanya dengan jas hujan yang masih belum juga dilepasnya.
Rizal menggeleng. Dilepasnya jas hujan dari badannya yang ternyata masih kering kerontang lalu dilipatnya asal. Rendra mendelik lalu terbahak.
"Hahahaha, gila kau, Bang. Untuk apa pakai jas hujan kalau memang tidak hujan?" Rendra mendorong abangnya yang hendak duduk di kursi sebelahnya hingga mau terjengkang.
"Sedia jas hujan sebelum hujan, Brother. Tadi pas keluar dari Kopikita, aku lihat langit masih mendung. Jadi daripada berhenti di tengah jalan untuk pakai jas hujan kalau-kalau benar hujan, yaa sudah akhirnya ku pakai saja sekalian dari parkiran tadi," tukas Rizal menjelaskan.
"Hahaahahaha. Jadi bahan tontonan di jalan pastilah kau, Bang." Rendra masih terbahak, menunjuk jas hujan berwarna kuning stabilo yang sudah nangkring di atas meja.
"Hahahahaa, jelaaaaaas." Rizal ikut terbahak. Mengingat di sepanjang jalan tadi memang banyak mata yang mendadak tertuju padanya. Apalagi saat motornya berhenti di lampu merah, dengan posisinya yang tepat berada di barisan pertama. Jas hujannya yang kuning mencolok jelas menjadi sasaran tatapan para mata yang penasaran.
"Hahahahahahahaa."
Keduanya terbahak membelah malam yang sedari tadi sunyi. Kedua pemuda itu memang ahlinya mengubah muram menjadi riang. Namun tiba-tiba mata Rendra yang sedari tadi menatap jas hujan, kini beralih pada tangan Rizal.
"Serius ini, Bang?" tanyanya dengan nada yang juga serius.
"Apanya?" Rizal tak kalah serius menampakkan wajah tak mengertinya.
"Yaaa elaaah, Baaang. Kamu tak terima telepatiku yang minta kamu bawakan makanan? Kelaparan loh adikmu ini." Rendra merebahkan dirinya pada badan kursi pasrah, harapannya tak terkabul.
"Salahmu, lah. Pikirmu ini jaman Majapahit pakai telepati-telepatian? Ponselmu mana?"
"Ada di kamar. Aku malas jalan kaki ke kamar cuma untuk ambil ponseeeel," rengek Rendra sok manja. Cacing dalam perutnya benar-benar meminta jatah.
Rizal terkekeh. Dia benar-benar merasa menjadi seorang kakak untuk adiknya yang tua bangka. "Ada, tuh di motor."
"Apanya?"
"Serius?? Asiiiiik." Tanpa babibu lagi Rendra berlari menuju garasi dengan sarung yang masih melingkar di badannya.
Tak butuh waktu lama, Rendra sudah duduk kembali di kursinya dengan kantong keresek di tangannya. Di dalamnya ada dua bungkusan lengkap dengan dua teh hangat dalam plastik bening.
"Makan, Bang!" tawar Rendra sambil membuka bungkusan seolah dialah pemiliknya. Nasi goreng dengan suwiran ayam dan sayur mayur terpampang di sana. Setelah membaca bismillah, sesuap nasi goreng dari tangan Rendra langsung mendarat di dalam mulutnya.
"Heeeh!! Tidak ambil sendok dulu?" protes Rizal melihat lelaki di hadapannya makan dengan tangan, tanpa cuci pula.
"Kelamaan, Bang. Keburu mati kelaparan aku," jawab Rendra dengan mulut penuh nasi goreng. "Cepat makan, Bang. Enak pisan, ini." Rendra mengunyah cepat sekali. Suap demi suap nasi goreng telah memasuki perutnya.
--pisan (sekali.)
Walau dengan geleng-geleng kepala, namun Rizal menuruti ajakan adik palsunya untuk menyantap nasi goreng tanpa cuci tangan itu. Selama rasa lapar cepat terobati, makan dengan cara apa pun libas, begitu pikirnya. Dan saat sedang asik-asiknya makan, Rendra menyomot satu teh hangat yang ternyata rasanya manis itu dan menyeruputnya dari ujung plastiknya.
Rizal terbahak hampir tersedak. "Terlalu kamu, yaa Ren." Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Rupanya rengekan adiknya yang meminta makanan tadi bukanlah bualan. Rendra benar-benar kelaparan.
"Heheheheee." Rendra meringis. "Eeeeeegrrrrrgh. Alhamdulillah kenyaaang." Rendra mengusap mulutnya dengan telapak tangan kirinya. Suapan terakhir nasi gorengnya ditutup dengan sendawanya yang menggelegar.
Rizal geleng-geleng lagi.
"Bang." Rendra menatap lantai di bawah kaki sambil meremas bungkusan nasi goreng yang sudah tak berisi miliknya.
"Apa? Mau nambah?" tawar Rizal menyodorkan bungkusan nasi goreng dalam genggamannya.
Rendra menggeleng. Wajahnya mendadak serius.
Sebenarnya selain menunggu Rizal pulang karena makanan, Rendra juga menunggunya karena ingin menceritakan isi hatinya hari itu pada tempat curhat satu-satunya itu.
"Tadi siang aku ke rumah Mayra," aku Rendra membuka pembicaraan.
Mendengar nama Mayra disebut, mulut Rizal yang sedang sibuk mengunyah, langsung terhenti seketika. Rizal tahu bahwa wanita bernama Mayra itu baru saja kehilangan puterinya dan saat ini jelas masih dalam keadaan berduka. Lalu untuk apa adik badungnya itu malah berani datang ke rumah wanita itu? Bikin suasana tambah runyam saja!
"Kamu ingin diamuk suaminya?" tanya Rizal ketus. Melanjutkan makannya dengan wajah yang mulai mengkerut.
"Aku tidak sendiri lah, Bang. Aku ke sana dengan anak-anak Griya."
"Oooooh." Rizal sengaja menjawab singkat. Malas meladi adiknya yang dianggapnya bodoh jika berurusan tentang Mayra. Mau sendiri atau pun tidak, seharusnya dia tidak usah ikut datang.
"Kok cuma 'Oh'?"
"Yaa terus harus apa? 'Aaaaaaah', begitu????"
"Hehehehe."
Sebenarnya Rendra ingin tertawa mendengar jawaban Abangnya. Namun dia paham saat itu bukanlah waktu yang pas untuk bercanda. Abangnya terlihat tidak antusias mendengarkan ceritanya.
"Hm, jadi ... apakah menurutmu aku harus keluar dari Griya saja dan ikut denganmu kerja di Kopikita?" tanya Rendra akhirnya to the point.
Dua mingguan lalu Rizal memberitahu Rendra bahwa Kopikita akan membuka cabang kopi mereka yang pertama sekitar dua bulanan lagi. Letaknya tak terlalu jauh dari komplek perumahan Rendra. Budi sebagai pemilik Kopikita, meminta Rizal untuk menjadi kepala toko di cabang kedai kopinya itu. Dan kesempatan bagus itu jelas diambil dengan senang hati oleh Rizal. Apalagi hal itu bisa menjadi jalan untuk menjauhkan adiknya dari Mayra. Rendra keluar dari Griya dan fokus mengurus kedai kopi bersamanya. Dan keuntungan lainnya, Rendra bisa semakin mudah didekatkan dengan Raras. Wanita yang jelas-jelas cantik, baik, dan yang pasti .. lajang.
Rizal yang tadi sudah enggan mendengarkan ucapan Rendra, tiba-tiba menjawab antusias. "DEAL!!'