
Gendis menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Sama seperti Mayra, dia juga ingin kabar tentang Anggun, gadis cilik kesayangannya hanyalah mimpinya di siang bolong. Kaki dan tangannya masih menyentuh lantai, menopang tubuh yang terasa limbung.
"Yaa Allah...." lirih Gendis menahan sesak di dadanya. Kemudian ia usap pipinya dan bangkit, berjalan keluar meninggalkan kamar yang berisi tangisan, yang semakin meyakinkannya bahwa gadis ciliknya telah berpulang.
Gendis menarik gagang pintu itu keras, menatap Lina dan Wuni yang masih mematung di depan pintu. Air mata Gendis tumpah lagi. Kemudian dia duduk pada deretan kursi yang berada di sana, menekuk wajah dan menyembunyikannya pada tangannya yang gemetar. Lina dan Wuni ikut gemetar, keduanya diam berdiri di hadapan Gendis membiarkan pemilik Griya Cantika melepas tangisnya dulu. Lina dan Wuni lalu saling berpandangan, mereka masih belum tahu tentang apa yang sudah terjadi.
Punggung Gendis terlihat naik turun. Kepalanya menggeleng pelan. Lina lalu duduk di sebelah kanan Gendis dan merangkul punggungnya, mengelus-elusnya pelan. Dan Wuni menyusul ikut duduk di sebelah kiri Gendis, tangannya merangkul pinggang wanita itu. Walau keduanya belum tahu pasti tentang alasan yang membuat Gendis, wanita yang selalu ceria itu menangis sesenggukan, namun keduanya mengerti, ada hal buruk yang telah terjadi.
"Ada apa, Te?" tanya Lina lembut.
Gendis belum mampu menjawab, kepalanya masih geleng-geleng. Tangan Lina masih sibuk mengelus-elus punggung menenangkan. Mata Lina dan Wuni beradu, sorot mata mereka saling melempar tanya.
Tak lama, Gendis menegakkan duduknya. Kepalanya ia senderkan pada tembok di belakangnya. Wajah sembabnya kini terlihat jelas oleh kedua gadis yang duduk mengapitnya.
"Fuuuuuwwwwh." Gendis membuang napas panjang melalui mulutnya, lalu hidungnya.
"Kapan terakhir kali kalian bertemu Anggun?" Tanya Gendis kemudian tiba-tiba dengan memandang satu-satu gadis di sampingnya. Gendis tersenyum.
Lina dan Wuni kembali berpandangan. Walau tak mengerti kenapa tante mudanya itu tiba-tiba menanyakan Anggun, tapi mereka tetap mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka bertemu gadis cantik yang di maksud Gendis.
"Aku lupa, Te. Sudah lumayan lama aku belum bertemu Anggun lagi. Kalau tidak salah, terakhir kali itu saat kita pergi ke Danau Biru bersama anak-anak Griya. Di sana kan aku yang gendong Anggun, duduk di tepian danau bersama Tante kan?" jawab Wuni dengan melempar pertanyaan untuk meyakinkan.
Gendis mengangguk mengiyakan. Saat itu, Anggun memang di gendong oleh Wuni. Mereka bertiga_Gendis, Wuni, dan Anggun_duduk di tepian danau menikmati riak air yang tersapu angin. Saat itu Anggun berteriak kegirangan menunjuk kawanan burung yang terbang di atas danau. Gendis menarik napas lagi.
"Aku juga sama, Te. Di Danau Biru. Tapi beberapa hari lalu aku menelepon Mayra, dan aku sempat ngobrol dengan Anggun. Suaranya di telepon ternyata lebih menggemaskan yaa, lucu sekali," tukas Lina menambahkan. Gendis tersenyum.
"Iya benar, Anggun memang lucu sekali," imbuh Gendis sangat setuju dengan pendapat Lina.
Anggun memang semenggemaskan itu. Anak seusianya memang sedang lucu-lucunya, sedang rajin-rajinnya bertanya ini dan itu, sedang aktif-aktifnya. Terlebih Anggun. Gadis cilik itu cerdas dan lucu. Ditambah dengan wajahnya yang mewarisi kecantikan ibunya. Siapa pun yang melihatnya pasti akan berdecak kagum.
Gendis menghela napas panjang lalu tersenyum, namun sesaat kemudian menangis lagi. Dia belum bisa terima jika Anggun, bocah cilik yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu tidak bisa lagi tumbuh. Padahal Gendis sudah membayangkan jika Anggun remaja nanti, betapa cantiknya dia. Gendis pernah membayangkan jika Anggun remaja nanti, pasti banyak lelaki yang rela antre untuk mendapatkan hatinya. Di tengah tangisnya, Gendis terkekeh, seketika dia teringat lagi bahwa keinginannya tidak akan terjadi. Anggunnya sudah tiada. Gadis cilik itu sudah meninggalkan semuanya.
Gendis kembali menyembunyikan wajahnya pada kedua tangannya, Lina dan Wuni bertatapan lagi. Mereka bingung dengan kondisi tante muda di depannya itu. Seketika menangis, lalu tersenyum, lalu menangis lagi.
"Mayra baik-baik saja kan, Te?" Tanya Wuni akhirnya to the point. Dia dan Lina belum tahu bahwa kecelakaan yang terjadi pada Mayra juga menyertakan Anggun. Sehingga yang ada di pikiran mereka hanya Mayralah tokoh utama yang membuat seluruh keluarganya menangis hari itu.
Gendis menghentikan tangisnya dan kembali duduk tegap. Ia tarik napas dalam kemudian mengembuskannya pelan.
"Bismillah yaa Allah. Ini semua kuasa-Mu," ucap Gendis mantap, menyadarkan dirinya sendiri. "Astaghfirullah...." Gendis menghela napas lagi.
Lina dan Wuni diam, mata mereka tajam menatap Gendis. Mereka bersiap menerima ucapan apa pun yang nanti akan keluar dari mulut tantenya itu.
"Wun, Lin," panggil Gendis seraya meletakkan kedua tangannya pada kaki Lina dan Wuni.
"Semua yang bernyawa, pasti akan mati kan?" Tanya Gendis berhasil membuat dua karyawan gadisnya bergidik. Namun keduanya mengangguk.
"Siapa yang meninggal, Te?" Tanya Wuni dengan wajah tanpa ekspresi. Dadanya naik turun bersiap mendengar jawaban yang sebenarnya pasti tak diinginkannya.
"Kabarkan di WhatsApp grup Griya, dan Tante minta tolong, berikan doa terbaik dari kalian...," ucapan Gendis terputus, dia tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Dia menangis lagi.
"Te, jangan buat aku takut, Te. Ada apa sebenarnya?" Desak Lina mulai bisa membaca arti senyum dan tangis dari bibir tantenya itu. Dia lihat bibir tantenya bergetar menahan getir.
"Mulai hari ini, kita semua sudah tidak bisa lagi melihat kelucuan Anggun."
"Maksudnya, Te?" Wuni masih bertanya tanpa ekspresi.
Semenjak Gendis menanyakan perihal Anggun tadi, Wuni sebenarnya sudah mengerti bahwa telah terjadi sesuatu pada gadis cilik itu. Namun Wuni yang biasanya cablak, hari itu sangat bisa mengontrol mulut ceriwisnya itu. Dalam wajah yang masih tak berekspresi itu, mata Wuni mulai basah, ia menelan ludah. Pun Lina. Dia juga sudah mengerti arah pembicaraan tantenya itu.
"Te, kenapa, Te???" Lina mulai menangis. Ia goyang-goyangkan kaki Gendis, tak sabar mendengar semuanya langsung darinya.
Gendis menarik napasnya lagi dalam, lalu tersenyum tenang. "Anggun sudah tenang di sana. Doakan yaa! Anggun pasti sudah jadi bidadari tercantik di sana. Doakan Mayra juga agar dia kuat menerima semua ini, ya??" Gendis menangkupkan kedua tangannya lagi pada masing-masing kaki gadis di sampingnya.
Lina dan Wuni melongo. Pandangan matanya lurus kedepan setengah kosong. Napasnya tercekat. Sama seperti Gendis, mereka juga tak percaya dengan indera pendengaran mereka. Anggun meninggal??
Melihat Lina dan Wuni terlihat shock, dada Gendis terasa getir lagi. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada pada kakinya, Gendis berjalan meninggalkan kedua gadis itu. Gendis berjalan terhuyung menyusuri lorong dengan berpegangan tembok. Wanita itu menangis lagi. Dia butuh udara segar untuk mengisi rongga dadanya yang sesak.
Walau dengan langkah demi langkah yang terasa berat, dan dengan puluhan pasang mata yang sedari tadi menatapnya heran namun sama sekali tidak dipedulikannya, kini Gendis sudah berada di taman belakang rumah sakit. Dia duduk seorang diri di bawah pohon beringin yang akarnya menjuntai dari atas menyentuh tanah. Udara yang sejuk di bawah sana lumayan mampu mendamaikan hati Gendis yang pengap.
"Yaa Allah...." Gendis sesenggukan meratap, kepalanya ia dongakkan ke atas dengan kakinya yang lurus ke depan. "Yaa Allah...." Bahu Gendis naik turun menahan rasa sedih dan kecewa dalam tangisnya. Jika hatinya saja sesakit itu, bagaimana dengan Mayra dan Azka?
Sementara di kantin rumah sakit ....
KLING.
Satu pesan masuk dalam ponsel Rendra yang sedang mengunyah nasi goreng petai pesanannya. Dengan tangan kanan yang masih memegang sendok, tangan kiri Rendra merogoh ponsel dalam tasnya. Dengan mulut yang masih sibuk mengunyah, Rendra membaca sebaris pesan dalam ponselnya itu.
📩 Innalillahi wainna ilaihi raajiun. Telah meninggal dunia, Anggun, anak dari Mayra, hari ini di rumah sakit Bahagia. Mari kita kirimkan doa terbaik untuk Anggun yang sangat lucu dan menggemaskan itu. Dan semoga Allah memberi kelapangan dada yang amat besar untuk seluruh keluarga yang ditinggalkan. Aamiin.
PRANG ...
Sendok yang dipegang Rendra langsung terjatuh. Sementara tubuhnya langsung refleks bangkit dari duduknya. Matanya melotot tajam memperjelas pesan yang baru saja dibacanya.
"Kenapa, Ren?" Tanya Raras ikut bangkit dari duduknya.
"Yaa Allah!!"