MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Parkiran Motor



...Assalamualaikum teman-teman. Yaa Allah maafkaaaan serasa sudah seabad aku nggak apdet 😅 Tapi da emang udah lama banget yaa nggak apdet. Udah 10 hari lebih yaa 😅🙏...


...Semoga kalian sehat selalu dimana pun berada. Dan semoga selalu mau baca MAHMUD walo apdetnya nggak puguh. Huhu....


...Terimakasih buat yang masih mau mampir yaa....


...Lavyu pokonya 😘...


...LIKE, KOMEN, dan VOTE kalian tetap aku tunggu 😘😘😁...


...💕💕💕...


Azka menarik napasnya dalam. Diliriknya jam pada pergelangan tangan kirinya, hadiah dari Mayra di hari ulang tahunnya beberapa tahun lalu. Azka terkekeh getir menatap jam pada tangannya. Dia rindu istri tercintanya. Istri yang pagi tadi dia abaikan dan siang ini tergolek lemah di salah satu ruangan rumah sakit tempatnya bekerja. Azka menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dia menyesal. Andai saja dia lebih bisa memendam amarahnya, mungkin kejadian hari ini tidak pernah ada.


Sudah dua jam berlalu. Kepala dokter muda yang siang itu terlihat lusuh serasa pengap, dan telinganya seolah mati rasa. Suara-suara bising lalu lalang orang di rumah sakit yang hari itu lumayan ramai serasa tak didengarnya. Senyap. Hanya suara detik pada jam tangannya saja yang seolah menggema di telinganya.


Azka pandangi koridor kanan dan kirinya, berharap orang-orang yang ditunggunya segera datang. Bagaimana pun waktu terus berjalan, dan dia harus bergegas.


"Zka??" Dokter muda yang berdiri di hadapan Azka kembali memanggil, memastikan jawaban temannya yang sedari tadi terlihat linglung.


Dokter muda yang berdiri di hadapan Azka adalah dokter Lana. Dia adalah dokter bedah saraf di rumah sakit Bahagia yang dekat dengan Azka. Pertama kali Azka bergabung dengan rumah sakit Bahagia, dokter Lanalah yang menyambutnya dengan ramah dan menyenangkan. Secara fisik, mereka seperti seumuran. Tinggi mereka hampir sama, dan postur tubuh mereka juga mirip. Tak heran jika teman-teman dokter dan seluruh staf rumah sakit sering menyebut mereka dengan sebutan dokter kembar.


Azka menghela napas lagi, menatap Lana dalam dan lama. Lelaki yang berdiri dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku seragamnya mengangguk pelan lalu menepuk bahu Azka menguatkan.


"Saya ingin ke dalam dulu," ucap Azka lemas, bangkit dan berjalan menuju kamar Mayra.


**


Sementara di parkiran, Rendra yang sedari tadi sudah diminta Gendis untuk pulang, nyatanya masih duduk di pinggiran parkiran di bawah pohon tabebuya sambil memandang deretan kendaraan roda dua yang terparkir rapi. Angin semilir menggoyangkan dahan tabebuya dan menjatuhkan satu bunga berwarna kuning cantik tepat di hadapan lelaki yang hari itu dirundung murung. Walau Gendis sudah memberitahunya bahwa Mayra baik-baik saja, namun hati kecil Rendra tetap gelisah. Ingin sekali dia masuk ke dalam ruangan Mayra dan menumpahkan doa yang sedari tadi bersemayam dalam hatinya. Walau Rendra tahu betul bahwa Allah Mahatahu bahkan pada kata yang tak terucap sekali pun, namun ia ingin doa tulusnya ia panjatkan langsung di depan Mayra.


Rendra tatap lagi bunga yang masih terlihat segar di hadapannya. Dipungutnya bunga itu dan ditatapnya lekat.


"Allah sudah menakdirkanmu jatuh," ucap Rendra berbicara pada bunga di tangannya. "Karena sebatang ranting pun takkan patah jika Allah tidak mengizinkan, termasuk kamu," lanjut Rendra berbicara pada bunga dan tak memerdulikan tatapan aneh orang-orang yang mengambil sepeda motor di dekatnya.


Rendra menghela napas, bunga dalam tangannya masih ia pegang. Kepala lelaki tampan itu menengadah. Menatap pohon tabebuya yang rimbun bunganya. Dari celah kecil cahaya matahari yang menyilaukan masuk membuat mata Rendra menyipit. Ia menghela napas lagi, lalu menunduk.


"Aku rindu kamu, May," keluh Rendra lirih. Tangannya lalu merogoh dompet dalam saku celananya dan ia keluarkan foto kecilnya dari sana. Ditatapnya foto itu lekat, Mayra kecil di dalam foto itu sungguh menggemaskan dan cantik, Rendra tersenyum.


"Ren??"


Tanpa Rendra tahu, tiba-tiba datang seseorang dan memanggil namanya. Nada suaranya seolah menanyakan, 'Ren, kamu kok di sini?'


Rendra mendongakkan kepalanya. Dan alangkah terkejutnya dia saat tahu bahwa yang memanggilnya adalah Raras. Sontak Rendra langsung bangkit dan mendekat pada gadis ayu itu.


"Ras, kamu di sini juga?"


"Siapa yang sakit?" Tanya Rendra penasaran.


Raras ikut menatap kantong kresek bawaannya lalu tersenyum. "Orang rumah."


"Oooh." Rendra menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti. Dia tidak ingin bertanya terlalu jauh, jawaban Raras sudah dirasa cukup untuknya. "Lalu kenapa kamu di sini?" Maksud Rendra, 'Kenapa Raras ada di parkiran motor?'


"Hehehe, aku kesini bawa motor." Mata Raras menunjuk satu motor matic putih di depannya.


"Ini??" Rendra ikut menunjuk motor yang ditunjuk Raras dengan jarinya. Gadis yang siang itu memakai celana jogger abu berbahan kaos dengan kaos putih berbalut jaket jeans terkekeh sambil mengangguk mengiyakan. Kening Rendra mengkerut tak percaya. "Kamu bisa naik motor???"


Raras tertawa mendengar pertanyaan lelaki di hadapannya. Sementara Rendra masih setengah membulatkan matanya. Selama ini Rendra memang belum pernah melihat Raras mengendarai motor sebelumnya.


"Bisa dooong!! Ingin balapan??" Goda Raras memicingkan satu matanya.


"Hahahaha, dasar yaa!!"


Keduanya terkekeh. Sebaris gigi putih Raras terlihat jelas. Rendra terpana, gadis di depannya sungguh cantik dan tulus. Angin semeliwir menggoyangkan anak rambut Raras yang siang itu berkuncir kuda. Rendra menatap lekat sekilas.


"Ras!" Rendra tiba-tiba memanggil tegas.


"Ya??"


"Kamu ingin pulang?"


Raras mengangguk.


"Tidak ada acara lain kan?"


Raras menyipitkan satu matanya. "Tidak ada. Kenapa memangnya?"


"Sudah makan?"


"Hm, sudah sih tadi sebelum kesini. Kenapa memangnya?"


"Yaah, harusnya kamu jawab 'belum' dooong," protes Rendra sok manja.


"Hahahaha, kenapa sih??"


"Ke kantin, yuk!"


"Oooh kamu belum makan?? Ya sudah aku temani. Yuk!!"


Rendra terkekeh menganggukkan kepalanya. Raras ikut terkekeh. Keduanya lalu berjalan menyusuri jalan setapak diantara jejeran motor yang terparkir. Rendra menatap punggung Raras yang jalan lebih dulu satu meteran darinya. Lelaki itu tersenyum simpul. Gadis di depannya memang baik. Seketika Rendra merasa bersalah. Dia mengajak Raras makan di kantin bukan karena lapar atau karena dia ingin berduaan dengan gadis itu. Alasan Rendra mengajak Raras ke kantin adalah karena dia ingin berlama-lama berada di rumah sakit itu. Walau Rendra memang tidak bisa menemui Mayra, namun setidaknya dengan dia tetap ada di sekitar rumah sakit, dia merasa dirinya selalu ada untuk Mayra. Jika ada apa-apa dengan Mayra siang itu, dia sudah siap sedia. Persoalan Azka, baginya itu urusan nanti. Yang terpenting untuk Rendra siang itu adalah dia ikut menjaga Mayra, walau dengan jarak yang tak biasa sekali pun.