MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Teman yang Baik



Diantara rezeki yang tak ternilai adalah memiliki teman yang baik. Bukankah begitu?


🍃


Griya Cantika sekarang sepi. Selain karena memang sedang tidak musim kawinan, alasan lainnya yaitu karena Mayra dan Lina yang notabene sebagai orang penting di Griya sekarang jarang datang. Wuni dan teman-teman yang lain yang masih datang ke Griya pernah beberapa kali menolak bookingan klien dengan alasan tidak ada yang jago merias selain Lina. Mayra juga sudah memerintahkan Wuni untuk selalu stanby di Griya walau suasananya sedang tidak mengenakkan, Wuni manut.


Di tempat lain, seorang lelaki berbadan tegap dan tinggi yang tak lain adalah Rendra datang seorang diri ke toko bunga yang tak sengaja ditemuinya di pinggiran jalan. Malam tadi Rizal memaksa Rendra untuk membelikannya sebuah buket bunga yang entah untuk apa. Rendra pikir mungkin temannya itu akan mulai berkencan lagi dengan seorang gadis. Untuk itu dia mau menuruti permintaan temannya itu.


Di luar toko, Rendra sudah dibuat pusing karena di sana ternyata banyak sekali aneka macam bunga berwarna-warni. Rendra celingukan sendiri bingung harus membeli bunga yang mana. Dia segera merogoh benda pipih dari saku celananya dan menelepon seseorang.


📞 "Bang, saya sudah di toko bunga, nih. Cuma saya bingung, bunga mana yang ingin kamu beli? Di sini ada juga bunga diskonan nih. Agak layu sih memang. Tapi cocok lah dengan mukamu yang juga layu," cerocos Rendra saat orang di seberang sudah mengangkat teleponnya.


📞 "Hahahaha, gelo sia!! Jangan yang layu lah! Mawar saja gimana?" Ucap Rizal di seberang memberi saran.


Rendra terdiam sejenak. Mawar, seketika dia teringat Mayra. Wanita itu sangat menyukai bunga itu.


📞 "Jangan mawar lah, Bang. Menusuk. Lagipula mahal harganya, duit adikmu ini tak cukup. Haruskah adikmu ini jual ginjal dulu untuk setangkai mawar?" Rendra mulai ngaco.


📞 "Daripada jual ginjal, mending kau gadaikan saja mobilmu itu. Atau langsung tukar saja dengan mawar, bagaimana?" Rizal ikut ngaco.


📞 "Hahahaha." Rendra terbahak dengan matanya yang masih berkeliling melihat sana dan sini.


Namun tawanya terhenti saat matanya menangkap sebuah tangan yang sedang menuliskan nama Mayra pada selembar kertas berwarna ungu muda. Di sampingnya ada sebuah buket mawar putih yang sudah tersusun cantik lengkap dengan pita merah yang mengikatnya. Tanpa permisi Rendra langsung memutuskan teleponnya.


"Tunggu, tunggu, Mbak!!" Rendra memberhentikan tangan pelayan toko yang sedang menulis di depannya pada sebuah meja. Rendra baca perlahan huruf-huruf yang sudah terangkai di sana. -Untuk Mayra, semoga ....-


Tulisan si pelayan baru sampai batas itu. Rendra memicingkan matanya tajam. Mayra, seumur hidupnya dia baru menemukan satu manusia dengan nama Mayra, yaitu wanita yang dicintainya. Rendra akhirnya penasaran. Apakah bunga itu memang untuk Mayranya?


"Maaf, Mbak. Bunga itu pesanan siapa ya? Itu untuk Mayra yang mana ya?" Tanya Rendra mulai menyelidik.


"Wah maaf, Mas. Saya tidak bisa memberitahu," jawab si pelayan ramah.


"Hm, maksud saya, saya hanya ingin tahu, bunga itu untuk Mayra yang mana? Mayra Griya Cantika bukan?" Rendra masih berusaha membujuk pelayan untuk membuka mulut. Dia teringat dengan teror bunga yang selama ini ditujukan pada Mayra. Barangkali saja bunga di depannya itu bisa memberinya pencerahan kan?


Namun si pelayan tidak menjawab, dia hanya tersenyum ramah sambil mengucapkan maaf lagi karena tidak bisa memberitahu. Kertas yang tadi ada di depannya sudah ia sembunyikan.


"Mbak, maaf saya harus tahu. Saya ini suami Mayra. Dan akhir-akhir ini istri saya sering mendapat kiriman bunga tanpa nama pengirim. Dan barangkali bunga itu benar untuk istri saya? Saya hanya ingin tahu siapa pengirimnya?" Ucap Rendra akhirnya berbohong.


Si pelayan menatap Rendra sekilas. Rendra langsung memasang wajah iba. Ia berharap semoga si pelayan kasihan padanya dan memberikannya info yang ingin dia dapatkan. Dan benar saja, pelayan itu akhirnya mau berbicara juga.


"Mas benar suaminya Mayra Griya Cantika?" Tanya si pelayan ragu. Rendra segera mengangguk, berusaha lebih meyakinkan.


"Tolong bantu saya, Mbak. Saya hampir tiap malam bertengkar dengan istri saya gara-gara bunga itu," Ucap Rendra sok melankolis sambil menunjuk buket mawar di hadapannya.


Namun tingkah Rendra malah membuat si pelayan muda berambut panjang itu terkekeh.


"Teman? Boleh saya tahu namanya?" Rendra makin penasaran.


"Temannya ini perempuan kok, Mas. Dia memang sering memesan bunga untuk nama Mayra. Jadi Mas tidak perlu bertengkar lagi yaa dengan istri Mas malam-malam, hehe," jawab si pelayan seadanya.


Perempuan? Rendra berpikir sejenak. Nama Lina dan Risa berkelebat dalam pikirannya. Dugaannya selama ini pada Sandu sebagai pengirim mawar ternyata salah.


"Namanya Lina bukan? Atau Risa?" Rendra semakin mendesak.


"Hm, saya kurang tahu ya, Mas. Soalnya dia sendiri tidak pernah menyebutkan namanya."


Rendra berpikir lagi. Ingin sekali dia terus mendesak pelayan itu untuk memberitahunya ciri-ciri wanita yang selama ini memesan bunga untuk Mayra. Namun niat itu dia urungkan. Malu juga kalau dia terus-terusan bertanya.


"Kalau begitu, boleh saya langsung bawa bunga itu untuk istri saya? Agar kurir toko ini juga tidak perlu repot-repot mengantar bunga itu kan?" Bujuk Rendra sambil merogoh dompetnya siap membayar.


"Hm, boleh saja sih Mas. Tapi Mas benar suaminya kan?" Tanya si pelayan masih ragu.


"Benar, Mbak. Mbak mau lihat foto saya dengan Mayra?" Rendra siap membuka galeri ponselnya untuk menunjukkan fotonya dengan Mayra saat keduanya tengah berada di Danau Biru dulu. Rendra masih menyimpan foto-foto mereka berdua. Setiap saat dia masih pandangi foto itu jika rindu.


Namun si pelayan langsung menahannya. Ia lebih memilih percaya dari pada harus melihat galeri pribadi milik pelanggannya. Akhirnya bunga itu berhasil dibawa Rendra masuk ke mobilnya. Setelahnya ia segera memacu mobilnya cepat.


***


Rendra kini sudah duduk di ruang tengah rumahnya. Buket mawar yang dibawanya tadi ia letakkan pada meja di depannya. Ia pandang bunga itu lekat. Nama Lina dan Risa kembali mengisi pikirannya. Jika teror mawar itu benar ulah mereka? Lalu apa tujuan mereka?


"Widiih, jadi beli mawar juga kau? Jual ginjal dong?" Ucap Rizal sok melongok ke arah parkiran hanya untuk memastikan mobil temannya ada di sana.


"Jual diri aku, Bang," jawab Rendra sekenanya sambil tak melepaskan matanya dari mawar di depannya.


Rizal duduk di hadapan Rendra, meraih bunga itu lalu menciumnya dalam.


"Dari wanginya sih saya yakin ini bukan bunga diskonan, ya?" Tanya Rendra asal.


"Hahahahaha, gratisan malah," jawab Rendra jujur. Karena memang bunga itu didapatkannya secara cuma-cuma. Bunga itu sudah dibayar oleh si pemesan. "Hanya saja, Bang, bunga itu milik Mayra."


Mendengar nama Mayra disebut, Rizal yang tadi cengengesan bercanda, kini mendelik serius. "Maksudmu?"


"Bunga itu untuk Mayra." Rendra menjawab malas sambil menyandarkan tubuhnya pada badan kursi.


"Gila kamu ya!! Mayra lagi, Mayra lagi! Kamu pikir saya minta kamu beli bunga untuk apa?" Rizal bertanya serius sampai membuat teman di hadapannya langsung meluruskan duduknya. "Lupakan Mayra, Ren! Saya ingin kamu dengan Raras. Saya minta kamu beli bunga untuk Raras. Malam nanti dia ulang tahun."


Rendra mendengarkan ucapan temannya seksama. Dia senang karena temannya seperduli itu padanya. Tapi di sisi lain dia kesal juga, dia tidak bisa secepat itu menggantikan Mayra di hatinya dengan Raras. Namun demikian, Rendra memilih mengalah.


"Oke, Bang, oke. Nanti saya beli bunga lagi untuk Raras," ucap Rendra akhirnya.