
"Siapa, Bang? Laki-laki? Perempuan??"
Rendra bertanya antusias. Walau yang meneleponnya jelas sekali perempuan, namun jika hanya suara isak tangis yang ia dengar, seorang lelaki pun bisa menirukannya.
Menunggu jawaban Budi, Rendra merutuki dirinya sambil terkekeh dalam hatinya. Mengetahui bahwa yang menelponnya kemarin malam ternyata bukan Mayra, Rendra jadi merasa bodoh sendiri. Dirinya sudah sepanik itu mengetahui Mayra menangis. Untung saja kemarin hanya bi Marni yang ditemuinya. Bagaimana jika yang keluar saat itu adalah Azka? Rasa khawatir yang berlebih sudah membuat otak lelaki itu buntu.
"Perempuan," jawab Budi mantap.
Dia ingat betul bahwa sore itu selepas Rendra dan rombongannya pergi, datang seorang wanita, sendirian memesan satu kopi original dan duduk di meja nomor 7, meja bekas Rendra dan teman-temannya duduk.
"Ciri-cirinya Abang ingat?" tanya Rendra lebih spesifik.
"Kalau itu saya lupa. Yang jelas sih cantik," jawab Budi sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Hahaha, ampun lah Bang! Perkara cantik mah ingat terus ya?"
"Jelas. Mata lelaki kan memang diciptakan untuk mengagumi yang cantik-cantik, setuju??"
"Hahaha, iya, iya."
Dari tempatnya duduk Raras ikut tersenyum menyaksikan kedua lelaki kesayangannya terlihat akrab tertawa bersama. Bayangan gadis itu sudah jauh. Dia sudah membayangkan jika kedua lelaki itu benar-benar menjadi 'kakak-adik', mungkin hidupnya akan lebih sempurna. Raras saat itu sedang duduk di meja pengunjung yang sejajar dengan meja belakang tempat Rendra dan abangnya duduk. Raras sengaja berpura-pura membersihkan meja itu padahal tujuan utamanya adalah ingin mencuri pandang pada lelaki pujannya itu.
Setelah puas memandang Rendra tanpa terketahui, Raras kembali ke meja kasir dan duduk di sana. Tak berselang lama, Raras dikejutkan oleh suara pengunjung yang datang.
"Permisi," sapa seorang perempuan pada Raras.
"Ya?" Raras bangkit dari duduknya menjawab sapaan yang datang untuknya, mereka langsung saling berpandang.
"Kamu??" wanita yang baru datang itu terkejut melihat gadis di depannya.
Raras tersenyum kaku. Yang datang ke Kopikita malam itu adalah wanita jutek yang ditemuinya di resto kemarin malam saat dia bersama Rendra, Lina.
"Halo, Mbak, selamat datang. Mbak ini temannya Rendra kan? Tapi maaf, Mbak, cafe kami sudah tutup," sapa Raras ramah seperti biasanya pada semua pengunjung yang datang.
"Jadi kamu pelayan di sini??" tanya Lina sedikit sinis saat mengetahui gadis cantik yang dibawa Rendra malam kemarin hanyalah gadis biasa yang memakai celemek. Raras hanya menjawab dengan senyum manisnya.
Rasa cemburu Lina mulai muncul lagi. Dia sudah menyukai Rendra cukup lama, namun tak sekali pun lelaki yang ditaksirnya itu meliriknya. Dia malah kalah oleh pesona ibu satu anak, Mayra. Dan sekarang Lina merasa kalah lagi oleh gadis biasa yang ternyata hanya seorang pelayan cafe.
Dari tempatnya berdiri, Lina mengitari pandangannya ke seluruh ruangan Kopikita. Dan memang benar, cafe itu sudah bersih dari pengunjung. Namun itu bukan masalah baginya, karena kedatangannya kesana bukanlah untuk memesan kopi yang terkenal enak itu.
"Bisa tolong panggilkan bos kamu?" tukas Lina memerintah Raras yang masih berdiri manis di hadapannya yang hanya terhalangi meja.
"Ada perlu apa ya, Mbak? Bos saya ada di belakang," jawab Raras sengaja tak menyebutkan bahwa kakaknya sedang berdua dengan Rendra di belakang sana.
"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."
"Hm, kalau Mbak mau, Mbak bisa tanyakan pada saya. Kebetulan saya adalah orang kepercayaan pemilik cafe ini," tutur Raras masih memposisikan dirinya sebagai pelayan seperti yang Lina tujukan padanya.
Lina mendelik tajam untuk sesaat, namun kemudian dia mengalah. "Di cafe ini ada CCTV?"
"Hm, susah kalau begitu ya?" Lina bergumam pada dirinya sendiri sambil mengetuk-ketuk meja dengan jarinya.
"Ada masalah apa memangnya, Mbak?" tanya Raras penasaran yang masih bisa mendengarkan gumaman wanita di depannya.
"Ponsel teman saya kemarin hilang di sini. Dan sekarang ponsel itu ada yang pakai. Kalau di sini ada CCTV kan bisa membantu saya melacak siapa yang memungut ponsel itu," jawab Lina mulai bersahabat.
Raras mengangguk mengerti. Namun sayang sekali dia tidak bisa membantu lebih. Kemarin dia tidak ada di cafe, ditambah lagi Kopikita memang tidak mempunyai CCTV.
"Ya sudah, terimakasih, ya. Lagipula sebenarnya saya sudah tahu siapa yang mengambil ponsel teman saya itu. Saya datang kemari hanya ingin memastikannya saja. Sekali lagi terimakasih." Ucap Lina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban gadis di depannya.
Sementara itu Raras mematung. Baginya, teman kerja Rendra itu sedikit aneh. Awal bertemu kemarin, dia terlihat jutek. Awal datang tadi juga terkesan ketus, namun lama-lama ternyata bisa ramah juga. Namun tak ingin ambil pusing, Raras kembali duduk di kursinya menunggu Rendra dan kakaknya menyelesaikan urusannya.
Tak lama, Rendra datang padanya dan berdiri di depannya. Raras dengan sigap ikut berdiri.
"Maaf ya, lama. Aku jadi membuatmu terlambat pulang kan?" ucap Rendra yang memang telah membuat Raras menunggu karena gadis itu pulang satu mobil dengan kakaknya.
"Hehe, tidak apa-apa kok, Ren," Raras tersipu malu menjawab ucapaan maaf lelaki di hadapannya.
Tak lama, Budi muncul dari dapur dan mengunci ruangan itu rapat.
"Ayo pulang!" ajak Budi pada Raras yang masih berdiri di tempatnya. "Kamu mau pakai celemek itu sampai rumah?" tanya Budi yang melihat masih ada celemek Kopikita yang menempel pada badan adiknya.
"Oh iya, lupa." Raras meringis sambil segera melepas tali celemek yang mengikat di lehernya dan segera memasukkannya pada kolong meja kasir.
Rendra terkekeh melihat kelakuan lucu gadis di depannya.
***
--- Saat berada di dalam mobil.
"Bang, tadi Rendra ada apa menemuimu?" tanya Raras penasaran pada kakaknya yang sedang fokus menyetir. Dia berharap tadi Rendra datang untuknya, namun ternyata sama sekali tidak. Rendra hanya menyapanya sekedar saja.
"Ada ponsel temannya yang hilang, katanya." Budi menjawab sambil tetap memerhatikan jalan di depannya.
"Ponsel? Di Kopikita?"
Budi mengangguk.
"Tadi juga ada yang datang loh, Bang. Sama, dia juga menanyakan soal ponsel temannya yang hilang. Atau jangan-jangan Rendra dan wanita tadi memang mencari ponsel yang sama?" ucap Raras menebak-nebak.
"Bisa jadi!" jawab Budi masih singkat dan tetap fokus pada aktifitasnya.
"Iya. Soalnya yang tadi datang itu teman kerjanya Rendra, Bang."
"Oooh, yaa berarti tebakanmu benar, Dek. Soalnya ponsel yang Rendra cari juga milik teman kerjanya. Kemarin sore Rendra mampir ke cafe dengan teman-teman kerjanya."
Raras mengangguk mengerti. Jika Rendra dan temannya sama-sama mencari ponsel yang sama, apalagi malam-malam begini, apakah pemilik ponsel yang hilang itu sepenting itu?