
Hari itu Mayra tak banyak bicara. Dia hanya menanggapi ucapan teman-temannya seperlunya. Dia seolah hanya fokus pada Anggun. Padahal dalam hatinya, Mayra sedikit berat akan meninggalkan Griya walau tidak sepenuhnya. Walau dia menginginkan untuk jarang datang ke Griya agar jauh dari Rendra, namun tetap saja ada sebagian hatinya yang merasa ingin selalu dekat dengan lelaki muda itu.
Di dalam mobil, Rendra duduk di belakang kemudi dan di sebelahnya ada Gendis. Mayra dan Anggun duduk di jok tengah, sementara Lina dan Wuni di jok belakang. Gendis lumayan banyak mengajak Rendra berbincang membahas ini itu, sesekali Wuni menimpali. Sementara Mayra hanya bisa menanggapi dengan senyum dan tawa, pun Lina.
Lina masih merasa canggung. Siang itu adalah hari pertamanya bergabung kembali dengan Griya, namun hari itu juga dia harus pergi jalan-jalan bersama semua rekan kerjanya.
Tak jauh dari mobil mereka melaju, di depan ada Anto yang mengendarai motor seorang diri sebagai pengarah nanti jika sudah sampai di jalanan menanjak yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil sesuai rencana mereka itu.
"Mbak May, nanti kira-kira hari apa saja mbak May bisa datang ke Griya?" tanya Wuni di sela-sela perbincangan mereka.
Rendra melirik Mayra dari balik kaca spion depannya. Pertanyaan Wuni mewakili dirinya. Jika Mayra benar akan 'undur diri' dari Griya, maka hari yang akan disebutkan Mayra adalah satu-satunya kesempatan Rendra untuk bisa bertemu dengan pujaan hatinya itu.
"Hm, aku kurang tahu, Wun. Sepertinya tidak akan ada jadwal khusus. Nanti aku akan datang ke Griya bisa Senin, Selasa, Rabu, atau hari apa saja sebisaku, ya," jawab Mayra bingung. Dia sendiri memang sama sekali belum terlalu yakin untuk 'hengkang' dari Griya.
Mendengar jawaban Mayra, Rendra mengangguk pelan mengerti. Tapi lelaki itu tak ambil pusing, karena pertemuan memang rahasia Tuhan. Kapan dan dimana pun, jika sudah waktunya bertemu, maka mereka pasti akan bertemu.
"Yaaah, kalau seperti itu aku seperti menunggu kepastian yang tak pasti, dong?" keluh Wuni sambil memanyunkan mulutnya.
"Hahahaha."
Hampir semua orang yang berada di dalam mobil tertawa karena respons Wuni.
"Ngomong-ngomong soal kepastian, kamu sekarang sudah punya pacar belum, Wun?" tanya Lina yang mendadak teringat dengan perbincangannya dengan Wuni dulu saat pemotretan di kebun karet perihal pacar.
"Hehe, belum, Mbak. Mbak Lina sendiri?" tanya Wuni ikut penasaran, walau sebenarnya dia tahu jawabannya.
"Sama, hehe." Lina ikut meringis.
"Ren, di dalam mobil ini ada dua wanita jombo nih. Kamu pilih yang mana?" ucap Wuni berhasil membuat Rendra terkejut, pun Lina. Gadis yang sedang meneguk air mineral dalam botol itu sampai tersedak.
Mata Rendra melirik Wuni dari balik spion. Gendis terkekeh. Sementara Mayra hanya diam pura-pura tak mendengar.
"Dua-duanya saja bagaimana? Senin, Selasa, Rabu untuk kamu, Wun. Kamis, Jumat, dan Sabtu untuk Lina," jawab Rendra asal. Dia hanya berusaha menjawab candaan Wuni dengan candaan juga.
Gendis hanya terkekeh di tempatnya duduk. Mayra pun dengan posisi kepala yang agak menunduk menghadap Anggun ternyata ikut terkekeh mendengar jawaban lelaki muda di depannya.
"Ih, lalu Minggunya untuk siapa?" protes Wuni sengaja menimpali.
"Ya istirahat, dong. Punya pacar dua repot sekali sepertinya, ya? Lelah pula," jawab Rendra masih asal.
"Hahahahahaha. Makanya jangan pernah coba-coba punya pacar dua, deh! Apalagi istri dua!!" ucap Wuni ceplas-ceplos.
"Hahahahahaa." Gendis tertawa lepas sekali. Rupanya dia sudah mulai menyukai Wuni yang memang comel itu.
Dari jok belakang Wuni ikut tertawa terbahak. Tak lama, mereka sudah sampai di pertigaan jalan. Rendra menghentikan mobilnya karena di depan Anto pun sudah memberhentikan motornya. Dari balik kaca mobil, Anto terlihat sedang berjalan menghampiri. Rendra membuka jendela di sebelahnya.
"Oke, saya ke atas dulu, ya. Ponsel stanby!" perintah Anto pada Rendra singkat tapi jelas.
"Siap! Hati-hati, Nto!"
Selang 10 menitan, ponsel Rendra berdering. Nama Anto tertera di layarnya.
📞 "Iya, Nto," ucap Rendra langsung setelah menggeser layar ponselnya ke tombol hijau.
📞 "Aman, Ren," tutur Anto di seberang singkat.
📞 "Oke, meluncur."
Rendra langsung memutus sambungan teleponnya. Dengan adanya kata 'oke' yang keluar dari mulut Rendra, semua penumpang di dalam mobil mengangguk mengerti. Rendra langsung menginjak pedal mobilnya untuk melaju. Mobil yang dikendarai Rendra melaju lumayan pelan sengaja membiarkan Gendis yang terlihat sedang menikmati suasana alam yang disuguhkan sepanjang jalan menuju danau. Pohon-pohon pinus berjejer rapi dengan bunga-bunga liar tak terurus namun tampak indah terlihat menghiasi sepanjang jalan yang mereka lewati. Gendis membuka jendela di sebelahnya dan melongokkan kepalanya menghirup udara segar di sana.
"Hm, enak ya di sini?" Gendis menikmati suasana.
"Ya sudah pindah ke sini saja, Te. Temani aku sekalian cari jodoh di sini!" ucap Mayra baru ikut bicara sedari tadi.
"Hahaha, kamu ini. Carikan jodohnya dulu. Kalau benar ada, baru tante tinggal di sini."
"Serius????" Mata Mayra membulat antusias mendengar jawaban tantenya.
Tantenya tertawa sambil mengangguk.
"Wun, siap??" Mayra membalikkan badannya menghadap Wuni bermaksud membentuk aliansi untuk mencarikan tante cantiknya jodoh.
"Siaaap, ayo!!"
"Hahahahahaa." Gendis tertawa, pun semua orang di dalam mobil itu. Hari itu sungguh seru sekali.
Tak lama, mobil mereka sudah sampai di parkiran yang lumayan sepi. Di sana hanya ada motor Anto dan lima motor lainnya. Tanpa instruksi, Gendis segera turun tak sabar ingin melihat Danau Biru yang katanya cantik itu. Wuni dan Lina pun segera turun saat Rendra sudah melipat salah satu jok tengah agar mereka bisa lewat. Sementara Mayra masih sibuk sendiri membereskan bawaan Anggun.
"Perlu ku bantu?" tawar Rendra yang masih berdiri di depan pintu tengah.
"Tidak usah, Ren. Biar aku saja," tolak Mayra lembut.
"Anggun biar aku yang gendong, ya?" Rendra masih menawarkan bantuan.
"Biar aku saja. Tidak apa-apa, kok." Mayra meyakinkan.
Mayra segera meletakkan tas berisikan barang-barang keperluan Anggun di bahunya dan menggendong Anggun sambil menggeser badannya melewati Rendra. Lelaki itu melihat Mayra kerepotan. Dia ingin sekali membantu, namun ibu satu anak itu sudah jelas menolaknya.
Anto yang sedari tadi masih duduk di jok motornya, datang menghampiri Mayra yang kerepotan.
"Perlu saya bantu, Mbak?" Anto ikut menawarkan diri.
"Boleh, Nto. Tolong bawakan tas Anggun ya. Susah juga ternyata aku membawanya," jawab Mayra dengan langsung menyerahkan tas dari bahunya pada Anto.
Anto dengan sigap langsung membawa tas itu dan berjalan di samping Mayra. Sementara Rendra yang masih berdiri di samping mobil menatap Mayra dengan penuh tanya dalam kepalanya. 'Ada yang salahkah denganku?'