MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Maafkan Aku!



"Bi, Azka dimana?"


Mayra menanyakan suaminya pada bi Marni yang pagi itu sedang menyirami tanaman di halaman depan.


"Mas Azka sudah berangkat dari pagi, Mbak. Katanya ada pasien darurat. Tadi saat bibi baru sampai, mas Azka sudah siap akan pergi." Bi Marni menjelaskan.


Bi Marni setiap harinya bekerja di rumah Mayra selama kurang lebih 12 jam. Berangkat pukul 6 pagi atau bahkan kurang dari itu seperti hari ini, dan pulang sekitar pukul 5 sore, tergantung situasi dan kondisi. Namun jika ada sesuatu yang dibutuhkan, bi Marni bisa saja sampai menginap di rumah majikannya itu.


Bi Marni memanggil Mayra dengan sebutan "Mbak", sementara "Mas" untuk Azka. Karena bagi bi Marni yang berusia 55 tahunan itu, mereka berdua sudah dianggapnya seperti anak sendiri.


"Ya sudah, Bi. Nanti tolong buatkan Mayra nasi goreng telur saja ya, Bi. Jam 8 Mayra harus ada di Griya."


Mayra memasuki kamar. Merebahkan badannya lagi menikmati dinginnya udara pagi di balik selimut. Dipandanginya jam dinding, masih pukul 6.35. Ditatapnya ranjang Anggun, puteri kecilnya masih tertidur pulas.


Mayra ambil ponselnya yang berada di meja kecil di samping ranjang. Dua pesan whatsApp masuk di ponselnya, pesan itu dari 'My Azka', dan 'Bocah'.


Mayra buru-buru membuka pesan dari si Bocah.


📩 'Mengapa mawar kemarin dibuang?'


Deg.


Mayra tertegun. Bagaimana Rendra bisa tahu?


Segera ia bangkit dan berlari menuju halaman depan. Ia lihat tong sampah rumahnya sudah tak ada lagi mawar semalam. Sementara sampah lainnya masih ada di sana. Pertanda petugas kebersihan komplek belum mengangkut sampah yang dilakukannya setiap pagi.


"Bi, bibi tahu bunga mawar di depan?"


Bi Marni yang masih sibuk menyirami taman menoleh.


"Mawar di depan dimana, Mbak?"


"Mawar putih kemarin itu loh, Bi. Semalam aku buang di tong sampah depan. Tapi sekarang sudah tidak ada."


"Owalaah bunga cantik begitu kok di buang si, Mbak? Mengapa tidak buat bibi saja?"


Mayra semakin pusing mendengar jawaban si bibi. Ia berlari menuju kamar lagi. Ia pandangi pesan dari Rendra di ponselnya. Ia baca lagi deretan kalimatnya.


Mengapa di buang?


Mayra mengetik pesan balasan untuk Rendra. Sementara pesan dari suaminya belum dibacanya.


📨 'Kamu ambil lagi bunganya?'


Orang di seberang dengan cepat membalas singkat hanya dengan satu kata.


📩 'Iya.'


Mayra menepuk jidatnya malu. Ia heran kenapa Rendra si bocah tengil itu bisa tahu apa yang sudah dilakukannya semalam? Masa iya Rendra malam-malam ke rumahnya? Atau jangan-jangan ....


Mayra curiga Rendra tinggal satu komplek dengannya. Atau bisa jadi si Bocah itu ngekost di wilayah dekat rumahnya.


Mayra segera mencari nomor Lina. Pikirnya, temannya itu pasti tahu alamat lelaki yang ditaksirnya itu.


Ya, Lina memang menyukai Rendra. Lina sendiri yang menceritakannya pada Mayra beberapa minggu yang lalu. Kata Lina, wajah Rendra adalah tipenya. Wajah dengan rahang tegas dengan senyum yang manis. Selain itu, Lina juga suka Rendra karena ia pandai dalam fotografi. Bukan sekedar itu, ada yang unik dalam diri Rendra yang juga Lina suka. Yaitu ketidaktertarikan Rendra dalam memotret sembarang objek. Apalagi wanita.


⬅️


"Foto aku dong!"


"Pasangannya mana?" Rendra malah membalas permintaan temannya itu dengan pertanyaan.


"Pasangan siapa?" Lina bingung.


"Tadi katanya mau di foto. Kalau mau saya foto, harus ada pasangannya."


"Loh kok begitu?"


"Iya. Soalnya kalau sendirian, saya takut jadi naksir nanti."


"Mengapa bisa begitu?"


"Soalnya nanti wajah kamu saya lihat, saya pandang-pandang di rumah. Saya perhatikan setiap detailnya. Nah kalau saya jadi naksir kan bahaya."


"Hahahaha. Kacau, kacau."


Mulai dari saat itu Lina jadi tahu, bahwa Rendra hanya memotret wajah wanita yang disukainya.


Dan Mayra, dia sengaja tidak memberitahu Lina, bahwa lelaki yang ditaksirnya malah menyukai dirinya. Dia bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Lina.


➡️


📞 "Halo Lin. Lin kalau rumah si Rendra dimana, ya?" Mayra langsung berbicara saat Lina telah mengangkat panggilannya.


📞 "Masih pagi ini wooooy! Ini anak malah tanya Rendra."


📞 "Iya dimana? Rumahnya?"


📞 "Di komplek Asih Raya. Mengapa?"


Mayra diam. Itu tandanya bocah tengil itu tinggal lumayan jauh dari kompleknya. Lalu dia tahu dari mana jika bunga itu dibuangnya malam-malam?


DRTTTT, DRTTTTT.


Panggilan lain masuk pada ponsel Mayra. Di lihatnya layar ponsel tertulis nama Azka.


📞 "Lin sudah dulu yaa. Terimakasih ya infonya."


Mayra memutus teleponnya dengan Lina dan langsung mengangkat telepon dari suaminya.


📞 "Yank? Sudah bangun kan?" orang di seberang langsung bertanya tanpa halo.


📞 "Hehe, iya Yank sudah."


📞 "Sudah baca suratku? Maaf ya tadi pagi aku berangkat tanpa pamit."


Surat?


Mata Mayra langsung mencari surat yang dimaksud suaminya.


Ketemu!


Satu lembar kertas putih polos bertuliskan,


'Selamat pagi sayang. Maaf aku mendadak ada dinas pagi. Sarapan dulu sebelum kerja ya. Love you'.


Dada Mayra sesak. Ia tahu dirinya sudah melakukan kesalahan. Hari ini, dia sudah mengabaikan suaminya demi lelaki lain, Rendra, si bocah tengil yang sama sekali bukan siapa-siapanya.