MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Reuni Berdua



"Kamu diet?" Tanya Mayra pada Lina yang hanya memilih kentang goreng dan ice cola sebagai teman perbincangan mereka malam itu. Sementara di depan Mayra sudah ada nasi goreng ampela yang asapnya masih mengepul. Karena saking antusiasnya akan bertemu dengan teman 'lama'nya itu, Mayra sampai belum sempat makan saat di rumah tadi.


Keduanya malam itu sudah berada di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari rumah Lina. Tepat jam 7 malam tadi Mayra berpamitan pada Azka untuk menemui Lina. Azka sebenarnya ragu untuk memberi izin atau tidak, namun pada akhirnya lelaki itu membiarkan istrinya pergi juga. Mayra sendiri pun sebenarnya tahu bahwa Azka tidak sepenuhnya mengizinkannya pergi, hal itu jelas sekali terbaca dari sorot mata suaminya yang terlihat khawatir, entah karena apa. Namun Mayra berhasil meyakinkan suaminya bahwa dia akan bisa menjaga dirinya dan selalu berhati-hati dalam hal apa pun.


"Tidak, aku hanya tahu diri saja. Orang ditraktir tidak boleh pesan yang mahal-mahal, tahu!" Jawab Lina sesukanya sambil memasukkan satu kentang goreng ke dalam mulutnya.


"Ini orang, ya! Sudah minta dijemput, sekarang minta ditraktir pula, besok-besok minta dicarikan jodoh mungkin, nih," goda Mayra sengaja memancing Lina. Dia hanya ingin tahu respons temannya itu perihal lelaki.


Mendengar ucapan temannya perihal jodoh, Lina tekekeh. Dia jadi teringat Rendra. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar langsung kabar perihal hubungan teman di depannya itu dengan Rendra.


"Hm, kamu dengan Rendra bagaimana?" Tanya Lina akhirnya.


Mayra mengernyitkan dahinya. "Kok jadi aku dengan Rendra, sih? Aku kan tanya perihal calon jodoh kamu, Lina."


"Kamu dan Rendra sudah putus, ya?" Lina masih menanyakan hal aneh pada teman di depannya.


"Putus? Memangnya kapan aku pacaran dengan Rendra? Sudah ah jangan bahas dia!" Cegah Mayra menghentikan pertanyaan konyol temannya. Dia hanya tidak ingin suasana hati Lina memanas lagi jika membahas perihal Rendra. Dan memang pada kenyataannya Mayra juga sudah berusaha menjaga diri dari kedekatannya dengan lelaki brondong yang membuatnya bermasalah dengan Lina itu.


Lina menatap wajah teman di depannya yang sedang mengunyah nasi goreng miliknya. Ada banyak perasaan bersalah dalam hatinya. Lina selama ini sudah bersekongkol dengan Risa untuk menghancurkan Mayra. Namun sudah beberapa waktu ini gadis itu memilih diam. Dia tidak memerdulikan ajakan Risa yang ingin menjalankan rencana ini itu untuk membalas sakit hatinya pada Mayra. Bagaimana pun juga Lina masih ingat bahwa wanita di depannya adalah teman dekatnya. Teman yang bersama-sama dengannya membangun Griya Cantika dari nol.


"Syukurlah kalau begitu. Soalnya kemarin malam aku lihat dia kencan dengan wanita lain," ujar Lina jujur. Dia hanya ingin memastikan bahwa temannya itu sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Rendra. Sebab jika masih ada, tandanya Rendra hanya mempermainkan temannya itu.


"Kencan dengan wanita?" Tanya Mayra memperjelas ucapan Lina. Dia teringat dengan Rendra yang katanya punya pacar. Apakah wanita yang dimaksud Lina memang pacarnya?


Lina mengangguk. Dia memasukkan lagi tiga potong kentang yang sudah dicocol saos sambal sekaligus ke dalam mulutnya. Renyah kentang goreng berbalut tepung tipis terdengar dari kunyahan mulut gadis itu. Lina menghela napas, rupanya Rendra memang benar-benar sama sekali tidak meliriknya. Buktinya selepasnya lelaki itu dari Mayra, dia malah memilih wanita lain.


"Oh iya, May, nomormu tadi ku telepon kok tidak aktif-aktif? Kamu blokir nomorku ya??" Tebak Lina curiga. Karena saat Mayra belum juga datang saat menjelang pukul 7 tadi, Lina sudah beberapa kali mencoba meneleponnya. Namun hanya suara operatorlah yang dia dengar yang mengatakan bahwa nomor temannya itu sedang berada di luar jangkauan.


"Ih, sama sekali tidak!!" Sergah Mayra cepat. "Ponselku hilang. Jadi sekarang aku pakai nomor baru. Nanti aku missed call deh."


"Hilang? Kapan?"


"Sepertinya kemarin. Dugaanku sih jatuh di Kopikita. Tapi mungkin ponselku sudah ada yang ambil. Soalnya kemarin malam nomorku itu telepon ke nomor Azka," Ucap Mayra sambil memasukkan satu sendok penuh nasi goreng ke mulutnya. "Aku pikir penemu ponsel itu mencoba menghubungi Azka untuk memberi kabar kalau ponselku jatuh atau bagaimana begitu, tapi pas Azka telepon balik, nomornya sudah tidak aktif."


"Kopikita???" Tanya Lina penasaran.


"Huum. Kedai kopi baru di Jalan Dasuki itu loh. Kopi di sana enak, nanti kapan-kapan kita kesana, ya!" Ajak Mayra antusias.


***


Lina sudah berada di dalam taksi sekarang. Saat selesai makan bersama Mayra tadi, Lina mengatakan padanya bahwa dia ingin pulang sendiri, ada keperluan mendadak, katanya. Jadi Mayra tidak usah mengantarkannya pulang.


Di dalam taksi, Lina masih menebak-nebak bahwa yang menemukan ponsel Mayra adalah Risa. Kemarin saat Lina mengatakan bahwa dia tidak bisa ikut ke Kopikita, Risa nyatanya tetap pergi ke sana seorang diri. Kata Risa, kopi di Kopikita juga enak, persis seperti yang Mayra katakan. Lina mendengus kesal. Dia sudah berniat dan mengajak Risa untuk berhenti melakukan hal-hal buruk lagi pada Mayra. Namun rupanya wanita itu tidak bisa berhenti. Dendam memang selalu bisa membuat pelakunya melakukan hal jahat lagi dan lagi demi melihat orang yang dibencinya menderita. Padahal sesungguhnya dialah yang menderita. Bukankan begitu?


Tak lama, taksi yang ditumpangi Lina mendarat di parkiran cafe Orenji. Saat itu sudah lewat dari jam 9 malam. Dari parkiran Lina lihat para karyawan sudah siap-siap membereskan cafe yang sebentar lagi akan tutup. Namun di parkiran masih ada mobil Risa, pertanda pemilik cafe itu masih ada di dalam sana.


Dengan sigap Lina segera melangkahkan kakinya menuju cafe bernuansa orange itu. Sampai di cafe, Lina disambut ramah oleh beberapa karyawan Risa yang sudah mengenalnya karena gadis itu memang sering datang ke kafe itu.


"Ibu Risa ada di dalam, Mbak," ucap salah satu pegawai wanita tanpa di tanya. Dia sudah hapal bahwa Lina datang ke tempatnya bekerja untuk mencari bosnya.


Lina mengangguk tersenyum tanda berterimakasih. Kaki gadis itu kini sudah memasuki cafe. Dan benar saja, Risa ada di sana sedang berdiri di belakang layar monitor sibuk mengecek penghasilan cafe hari itu, rutinitas yang memang Risa lakukan setiap harinya. Saking fokusnya gadis itu memandang layar komputernya, dia sampai tidak menyadari bahwa ada Lina datang mendekatinya.


"Ehem," Lina pura-pura berdehem untuk menyadarkan temannya bahwa dia ada di sana.


Risa mendelik, "Eh, Lin. Kapan datang? Sebentar ya! Tanggung, nih. Sebentar lagi selesai," Pinta Risa sambil menganggukkan kepalanya.


Tanpa disuruh, Lina langsung duduk di salah satu meja menunggu temannya itu selesai bekerja. Tak lama, pegawai wanita yang di luar tadi berbicara pada Lina datang membawakan segelas jus jeruk tanpa diminta. Lina memang diperlakukan seperti tamu di sana. Minum dan cemilan yang Lina dapatkan seringnya gratis. Risalah yang memerintahkan hal itu pada karyawannya.


"Terimakasih Adel," ucap Lina pada pegawai muda yang bernama Adel itu. Lina memang sudah lumayan akrab dengan Adel.


"Sama-sama, Mbak Lina," jawab Adel sambil berlalu.


Seberlalunya Adel, Risa datang dan langsung duduk di depan kursi Lina. Wanita itu merenggangkan tubuhnya lelah.


"Tumben kemari tanpa telepon aku dulu?" Tanya Risa sambil meneguk air mineral botol yang tadi diambilnya dari kulkas.


"Iya," jawab Lina singkat. Karena memang malam itu sebenarnya dia sama sekali tidak berniat untuk mengunjungi Risa kalau bukan karena perihal ponsel Mayra yang diduganya diambil oleh Risa. "Ada yang ingin aku tanyakan."


"Hm? Tanya saja!" Ujar Risa santai memersilakan.


"Ponsel Mayra ada padamu??"