
KRUUIIINGG
Ponsel Mayra berdering di dalam tas yang diletakkannya di atas kulkas. Si pemilik ponsel tidak terlalu memerdulikan panggilan telepon yang masuk ke dalam ponselnya karena dia sedang asik menikmati seblak pedas bersama Wuni di meja dapur. Saat itu pukul 11 siang. Waktu yang pas untuk memakan santapan yang super pedas.
Siang itu di Griya hanya ada empat orang, Mayra, Wuni, Anto, dan Rendra. Jam 10 tadi Mayra memesan empat porsi seblak yang kedainya tak terlalu jauh dari Griya melalui delivery order. Jaman sekarang segalanya memang serba mudah. Tinggal pesan, lalu makanan datang.
Di dalam dapur Mayra hanya bersama Wuni. Sementara Anto dan Rendra katanya ingin memakan seblak mereka di taman depan sambil duduk-duduk pada kursi di bawah pohon palm menikmati semriwing angin sambil menghitung kendaraan yang lewat di jalan depan sana. Kurang kerjaan memang.
KRUIIIIING
Ponsel Mayra berdering lagi setelah nada pertama usai karena tak terangkat tadi. Wuni mendongakkan kepalanya memberi isyarat agar temannya itu mengangkat panggilan teleponnya. Mayra meneguk mineral dingin dalam botol dan bangkit dari duduknya untuk meraih posel dalam tasnya.
"Lina?" tukas Mayra setengah kaget pada Wuni saat mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Lina.
"Angkat cepat, Mbak!" Wuni menginstruksi penuh semangat.
Mayra mengangguk dan menggeser layar ponselnya.
📞 "Halo, Lin," sapa Mayra sambil masih mengunyah sisa kerupuk yang ada dalam mulutnya pelan.
📞 "Lama ya!! Sedang apa sih?" protes Lina ketus terdengar seperti Lina yang dulu. Di seberang Mayra terkekeh.
📞 "Hehe, iya, maaf. Aku sedang menghayati makan seblak dari warung langgananmu itu loh!" jawab Mayra menyebutkan asal seblak enak yang dimakannya. Warung seblak itu memang langganan Lina, dulu.
📞 "Mau dong!!"
📞 "Sini dong!!"
📞 "Boleh. Di Griya ada siapa saja hari ini?"
Mata Mayra membulat mendengar pertanyaan Lina. Dia berharap pertanyaan temannya itu mengandung arti bahwa dia akan datang ke Griya. Wuni yang masih mengunyah seblaknya menatap Mayra memerhatikan.
📞 "Ada dua wanita cantik, Rendra, dan Anto juga. Kamu ingin kesini?" tanya Mayra penuh harap.
📞 "Kalian saja yang kesini, ya! Nanti sore, jam lima!"
📞 "Hah??" Mayra menaikkan satu alisnya bingung sambil menatap Wuni. Wuni yang tidak tahu apa-apa ikut mengangkat kedua alisnya, 'Ada apa?'
📞 "Nanti sore kalian free kan?"
📞 "Iya. Kami semua free. Ada apa memangnya?" Mayra dibuat penasaran oleh Lina yang belum memberikan keterangan jelas.
📞 "Ya sudah nanti sore aku tunggu kalian di Pantai Pasir, ya. Tapi tidak usah ajak Anto. Cukup Rendra saja. Suruh dia bawa kamera!"
Mayra menggaruk pelipisnya bingung, sebenarnya ada apa?
Pantai Pasir adalah nama salah satu pantai yang berada di selatan kota yang jaraknya sekitar setengah jam dari Griya jika berkendara dengan mobil tanpa macet. Dinamakan Pantai Pasir karena lahan beralaskan pasir di sana terbilang sangat luas sebelum kaki kita menyentuh pantainya. Di sana pengunjung bisa bermain voli pantai sore-sore sambil menikmati matahari yang beringsut turun ke peraduan. Namun alasan Lina mengajak teman-teman Griyanya ke sana tentu bukan untuk bermain voli kan?
📞 "Ini sebenarnya ada apa sih? Haloooow, bisa kau jelaskan padaku wahai wanita??" tanya Mayra penasaran.
📞 "Siapa? Kamu??" Mayra menganggukkan kepalanya pada Wuni yang sedari tadi tak putus memerhatikannya.
📞 "Bukan ih!! Aku mau prewedd dengan siapa coba? Ini agenda temanku."
📞"Hahaha, ya barangkali saja kan? Lama tak ada kabar, lalu tiba-tiba langsung sebar undangan kan bisa saja."
Lina di seberang tertawa. Bagaimana bisa dia tiba-tiba sebar undangan sementara dia sama sekali belum bisa mengganti posisi Rendra di hatinya dengan siapa pun?
📞 "Ya sudah aku tunggu ya, jam 5 sudah sampai sana!" ucap Lina kemudian.
📞 "Eeeeeh tunggu dulu! Ini jelasnya bagaimana? Dekor, alat makeUp bawa kan?" tanya Mayra yang masih belum jelas menerima instruksi dari temannya yang dadakan memberi jadwal.
📞 "Tidak usah, sayangku. Kita hanya perlu bawa kamera saja. Soalnya temanku itu hanya ingin foto siluet sore. Foto siluet sih tanpa mandi juga oke!"
📞 "Haahahahahaha." tawa Mayra pecah. Dia sangat setuju dengan pernyataan Lina. Foto siluet memang sesederhana itu, tak perlu polesan wajah sama sekali pun jadi. "Eh kalau hanya foto siluet, lalu apa gunanya aku dan Wuni dong?" tanya Mayra yang menyadari bahwa dirinya dan Wuni nanti tidak berpengaruh di sana.
📞 "Datang saja. Aku rindu kalian!"
Ucapan terakhir Lina berhasil membuat Mayra terdiam, lalu tersenyum simpul. Dia tahu gadis di seberangnya itu sudah pastilah rindu. Lina pasti kehilangan hari-hari konyol di Griya. Mayra malah memikirkan selama Lina menjauh, dengan siapa wanita itu bercengkrama? Hari-harinya dihabiskan dengan siapa? Mayra seketika iba. Gadis itu pasti kesepian. Dan dengan datangnya telepon Lina siang itu, Mayra berharap semoga gadis itu mau bergabung kembali bersama Griya.
***
Pukul 15.40, Mayra, Wuni, dan Rendra sudah berada di dalam mobil untuk menuju lokasi sesuai permintaan Lina. Ketiganya sengaja berangkat lebih awal karena terlalu bersemangat menyambut Lina yang sepertinya sudah membuka diri untuk bergabung kembali bersama Griya.
Mayra dan Wuni duduk di jok belakang, sementara Rendra seorang diri di depan mengemudikan mobil bak supir pribadi. Sesekali Rendra mencuri pandang pada kedua wanita di belakangnya yang sedang asik berbincang membahas Lina melalui kaca spion tengahnya. Rendra tersenyum simpul, dia ikut senang akhirnya Lina benar-benar sudah berbaikan dengan Mayra. Apa pun reaksi Lina padanya nanti, Rendra tak peduli. Yang terpenting baginya adalah hubungan kedua wanita yang merenggang karena dirinya itu kini membaik.
Jalanan ramai lancar sore itu. Mayra membuka setengah jendela mobilnya membiarkan angin sore masuk dan menggoyangkan rambut pendeknya yang terurai. Mayra tersenyum manis. Hatinya yang saat itu sedang senang menjadi semakin senang. Dia tidak sabar menemui Lina dengan klien yang katanya temannya itu di Pantai Pasir. Mayra berpikir, bagaimana pun marahnya Lina padanya, nyatanya gadis itu masih memikirkan dan memperjuangkan Griya. Terbukti dengan tiba-tiba datang job tanpa Mayra tahu. Mungkin diam-diam selama ini Lina masih mempromosikan Griya Cantika kepada teman-temannya.
Pukul 16.28, mobil putih Mayra sudah sampai di parkiran depan. Mesin mobil sudah dimatikan, namun ketiganya masih bertahan di dalam mobil. Mayra segera membuka ponselnya dan menghubungi Lina.
📞 "Iya, May," jawab Lina langsung mengangkat teleponnya.
📞 "Kami sudah di parkiran. Kamu di mana?"
📞 "Aku sudah di dalam, klien kita juga sudah ada. Sini!"
📞 "Oke. Aku kesana."
Tanpa banyak kata, Mayra, Wuni dan Rendra turun dari mobil dan berjalan menuju pantai. Rendra menenteng tas berisikan alat tempurnya, sementara Mayra dan Wuni melenggang santai seolah datang ke sana hanya untuk berwisata.
Mayra dan Wuni berjalan di depan berdua bergandengan, sementara Rendra mengekor di belakang. Dari jarak yang lumayan jauh, Lina melambaikan tangannya memberitahu bahwa dia ada di sana. Mayra ikut melambaikan tangan membalas sapaan Lina. Namun seketika mata Mayra membulat saat ada sepasang kekasih yang muncul dari dalam warung dan menghampiri Lina.
Rendra yang juga melihat apa yang Mayra lihat, mendadak menarik lengan Mayra kuat hingga langkahnya terhenti.
"May!!"