MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Seikat Mawar Putih



"Mbak, ini ada bunga."


Bi Marni menyerahkan satu buket mawar putih pada Mayra yang sore itu sedang bermain dengan Anggun di halaman belakang. Bagian belakang rumah keluarga Mayra memang enak untuk bersantai di sore hari. Tanah dengan luas 11x8 meter itu disulapnya menjadi taman hijau yang di tengahnya ia beri ayunan kurung. Di pojok sayap kanan taman, memancur air yang suaranya bergemericik menenangkan. Di sanalah Mayra dengan putrinya menikmati sore sambil menunggu Azka pulang.


"Dari siapa, Bi?" Mayra menerima pemberian bibi. Dilihatnya buket mawar itu memutar. Tidak ada nama pengirimnya.


"Siapa yang kirim, Bi?" Mayra bertanya lagi.


"Kurang tahu, Mbak. Orangnya langsung pergi saja."


"Kurir?"


"Sepertinya bukan, Mbak. Pakaiannya rapi, bukan seragam kurir juga. Tapi dia memang naik motor, Mbak."


"Oh, ya sudah terimakasih ya, Bi."


Mayra menitipkan Anggun sebentar pada bi Marni. Sementara ia membawa buket mawar itu masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Mayra memandangi bunga itu lekat. Indah. Mawar putih memang bunga kesukaannya dari dulu. Tapi ia yakin bukan Azka pengirimnya. Karena kalau memang benar dia, Azka pasti lebih memilih untuk memberikan bunga itu secara langsung. Lagian, sudah lama juga suaminya tidak pernah lagi memberinya bunga. Terakhir kali yang Mayra ingat, Azka memberinya bunga saat aniversari pernikahannya yang bertepatan dengan Anggun yang saat itu usinya tujuh bulan dalam kandungan.


Akhirnya tebakan Mayra jatuh pada satu nama,


"Dasar bocah!"


***


"Yank, kamu membeli bunga?"


Hari itu Azka pulang terlambat lagi. Akhir-akhir ini banyak pasien yang datang ke rumah sakit untuk konsultasi dengannya. Ia baru sampai rumah pukul 9 malam.


"Tidak, Yank. Bunga yang mana?" Mayra menjawab sambil merapikan seprey yang berantakan karena tadi ia habis bermain dengan Anggun. Putri kecilnya kini sudah tertidur pulas pada ranjang kecil di samping ranjang utama mereka.


"Mawar putih di vas ruang tengah itu. Aku pikir kamu yang beli. Tumben." Azka melepas kemejanya. Ia rebahkan tubuhnya yang lelah.


"Oh, bunga itu. Tadi ada yang kirim, Yank." Mayra menjawab santai sambil duduk di sebelah suaminya.


"Siapa?" Azka menyelidik.


"Entah. Tidak ada nama pengirimnya."


Mayra berbohong. Ia sengaja menutupi nama Rendra. Ia ingin tahu sampai mana lelaki itu akan meneruskan permainannya. Untuk itu Mayra pun berharap suaminya tidak pernah tahu. Mayra menganggap Rendra hanya ingin bermain. Karena memang, lelaki lajang mana yang rela menyukai wanita beranak satu apalagi masih bersuami, jika bukan untuk bersenang-senang saja?


Walau Rendra sepertinya belum tahu siapa Mayra sebenarnya, tapi Mayra yakin lelaki itu sudah tahu. Pasti ada saja rekan kerjanya yang memberitahukan tentang dirinya. Untuk itu Mayra berjanji, ia akan mengakhiri semuanya jika permainan telah selesai.


"Buang saja Yank bunganya. Pasti lelaki kan yang kirim?" Azka mulai cemburu.


"Menurut bibi si iya, Yank. Yang kirim lelaki."


"Ya sudah buang saja. Aku tidak suka ada bunga dari lelaki lain di rumah ini."


"Hehe. Iya maaf, sayangku." Mayra bergelayut pada tubuh suaminya. "Aku buang bunganya dulu ya."


Cup.


Satu kecupan mendarat di pipi Azka.


Namun tanpa Mayra tahu, dari kegelapan di seberang jalan, sepasang mata pemberi bunga memperhatikannya sambil berdecak kesal.


***


Hari ini Mayra tidak menemukan Rendra di Griya. Kata Lina, lelaki itu izin tidak masuk dua hari.


"Dua hari? Lalu bagimana dengan nasib client?" protes Mayra.


"Nah itu dia, hari ini dan besok kita kan free. Paling menyusun rencana saja untuk Sabtu Minggu. Itu anak pintar juga ternyata."


Mayra manggut-manggut. Dia sudah bisa menebak alasan bocah tengil itu tidak datang hari ini.


Wanita berambut pendek yang hari itu memakai dres hitam polos sebawah lutut mencari pesan masuk di aplikasi WhatsApp nya. Dia berhenti pada pesan dengan pengirim nomor tak di kenal yang belakangan ini mengiriminya pesan. Mayra mengetik pada kolom di bawahnya.


📨 'Setelah kirim bunga, sekarang kamu kabur? Takut juga rupanya.'


Klik.


Pesan itu telah terkirim. Centang dua, tanda terkirim. Mayra tinggal menunggu Rendra membacanya.


Tak menunggu lama, centang dua itu kini berwarna biru. Mayra tatap layar ponselnya. Di sana Rendra sedang mengetik ...


📩 'Aku tidak kabur. Aku sedang mencari waktu yang tepat saja.'


Mayra tersenyum sinis. Langsung ia balas pesan Rendra.


📨 'Tepat untuk apa?'


📩 'Tunggu saja.'


📨 'Kamu tahu aku siapa?'


Mayra sengaja menananyakan hal itu untuk meyakinkan.


📩 'Tahu.'


📨 'NO! Kamu jelas tidak tahu. Kalau kamu tahu, kamu pasti sudah kabur.'


📩 'Kalau sudah cinta mau bagimana?'


Mayra membacanya. Namun kali ini pesan itu tak dibalasnya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ternyata Rendra memang sudah tahu bahwa dirinya sudah bersuami dan memiliki seorang putri. Lalu?


"Ah bodoh. Dia kan berteman dengan facebookku. Otomatis dia pasti tahu. Atau, memang dia sudah denger dari karyawan lain?" Mayra membatin.


Walau foto profil akun facebook Mayra hanya fotonya seorang diri yang sedang berlari di pantai hampir membentuk siluet, namun foto-fotonya bersama Anggun dan Azka banyak ia unggah di album lainnya. Rendra pasti melihat-lihat album miliknya itu.


"Nekat juga ini bocah, yaa." Mayra membatin lagi.


Namun kenekatan Rendrlah yang malah menjadikan wanita yang semakin manis jika memakai kacamata itu, ikut penasaran untuk terus mengikuti permainan yang dibuat oleh si 'bocah'.


Nomor tak dikenal yang ada di ponsel Mayra itu akhirnya memiliki nama. Ia menyimpan nomor itu dengan nama 'Bocah'.