MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Akhirnya Berdua



Rendra tersenyum simpul menatap wanita di depannya. Wanita dengan dress full polkadot putih itu memang cantik. Sama sekali tak terlihat jika dia adalah ibu dari satu orang anak. Tidak salah juga jika orang lain, termasuk Rendra jadi menyukai wanita itu kala pandangan pertamanya. Apalagi jika sudah mengenalnya. Ah, wanita itu sungguh mudah untuk dicintai. Lelaki yang sore itu memakai kaos putih polos tersenyum lagi sambil mengaduk kopi di depannya.


"Kenapa sih kamu?" Mayra protes menyaksikan sikap aneh lelaki di hadapannya. Namun dia juga tidak bisa menyangkal, senyum Rendra memang semanis itu. Kulit hitam manis dengan rahang tegas dan alis yang tebal, membuat lelaki itu memang terlihat menawan.


Saat di Griya tadi, Rendra mengirimi Mayra pesan walau keduanya berada di tempat yang sama. Isi pesannya hanya sebaris kalimat yang menyatakan bahwa lelaki itu ingin mengajak Mayra ngopi bersama saat pulang nanti. Dan Rendra tidak menyangka jika wanitanya itu mau menerima tawarannya.


"Tidak apa-apa," Ucap Rendra segera menghentikan senyumnya. Dia memang sedang kasmaran saat ini. Walau kasmaran yang salah, namun rasanya tetap saja sama dengan kasmaran-kasmaran di luaran sana.


"Yakin tidak mau makan?" Rendra bertanya lagi walau wanita di depannya itu dari tadi sudah mengatakan bahwa dia tidak ingin makan.


Di hadapan mereka kini hanya ada secangkir kopi untuk Rendra, dan segelas jus semangka dengan kentang krispi untuk Mayra. Keduanya tadi mengendarai mobil masing-masing sepulang dari Griya menuju cafe yang sudah dipilih Rendra.


"Iya, ini saja cukup," jawab Mayra seadanya. "Ada acara apa mengajak aku kemari?"


Mayra menyedot jus semangka dari pipet stainless perlahan. Lalu berganti dengan memasukkan kentang yang sudah ia celupkan pada saos sambal ke dalam mulutnya. Wanita itu bersikap santai sekali di depan Rendra, tidak ada sikap yang dibuat-buat sok anggun apalagi jaim.


"Harus ada acara dulu memangnya?" Rendra protes.


Dia heran juga dengan wanita di depannya itu. Semua yang dilakukannya seolah harus memiliki alasan. Seperti kemarin soal gantungan boneka, Rendra harus beralasan memberi Mayra gantungan itu dalam rangka peringatan hari menangis sedunia. Dan kali ini, Rendra harus menjawab apa? Masa iya harus mengatakan hari rindu sedunia?


"Hahaha. Yaa barangkali kamu ulang tahun, gitu?" Mayra menebak sekenanya.


"Kalau saya ulang tahun, memangnya mau kasih kado apa?"


Rendra menaikkan satu alisnya. Sementara wanita di depannya malah mengernyitkan dahi hingga kedua alisnya sebentar lagi bertabrakan.


"Sungguhan???" Mata Mayra kini melotot.


"Hahaha. Iya, besok saya mau ulang tahun. Besoknya juga, besoknya lagi juga, dan besoknya lagi," ucap Rendra asal.


"Ih, masa ulang tahun terus tiap hari?" Mayra memasukkan satu kentang lagi ke dalam mulutnya.


"Inginnya sih begitu. Biar kita cepat seumuran." Rendra menatap Mayra serius.


"Kalau kita seumuran, memangnya kenapa?" Ucap Mayra memancing. Dia ingin tahu pikiran apa yang ada di dalam kepala lelaki itu.


"Kalau kita seumuran...." Rendra tidak melanjutkan ucapannya.


"Apa?" Mayra mendesak.


"Kamu inginnya apa?" Rendra malah balik bertanya.


"Ih aku sih inginnya kamu tetap kamu. Bocah!!"


Rendra terkekeh. Ya, akhirnya sebutan 'bocah' yang awalnya dia tidak suka itu memiliki tempat tersendiri di hati Mayra. Dan dia suka itu. Namun yang Rendra ingin sesungguhnya jika seumuran dengan Mayra adalah, Rendra ingin dialah yang menjadi Azka. Baginya, lelaki bernama Azka itu sangat beruntung karena bisa hidup dengan Mayra. Rendra pikir, betapa bahagianya Azka karena setiap hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi selalu bisa melihat wajah Mayra dengan berjuta ekspresi. Katanya, wajah tercantik wanita adalah wajah bangun tidurnya. Dan Rendra ingin tahu itu.


"Mbak May??"


Suara lain tiba-tiba datang bergabung. Mayra dan Rendra menoleh bersamaan. Di sana sudah ada Wuni berdiri seorang diri dengan satu tas belanjaan di tangannya.


"Wun? Dengan siapa kemari? Sini duduk!" Mayra segera memersilakan Wuni bergabung dan bersikap biasa saja. Walau dalam otaknya dia memikirkan hal lain. Mayra hawatir temannya yang polos itu memikirkan hal yang tidak-tidak dan nanti akan menceritakan apa yang dilihatnya pada Lina.


"Aku sendirian, Mbak. Nih habis beli tas," Jawab Wuni sambil ikut duduk pada kursi yang baru saja Rendra ambil dari meja sebelah. Karena meja yang Rendra pilih memang hanya untuk berdua.


Wuni menatap Mayra dan Rendra bergantian. Dia bingung karena kedua temannya itu sedang berduaan layaknya orang pacaran.


"Kalian pacaran?" Tanya Wuni polos.


Rendra menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dia sendiri bingung harus bagaimana. Ini pertama kalinya dia mengajak Mayra jalan berdua. Dan momen pertama ini harus diketahui Wuni? Mungkin Tuhan tidak merestui. Dan itu pasti.


"Hah? Tidak, Wun!!" Suara Mayra menjawab lantang. Dia kaget dengan pertanyaan temannya itu. Dia juga tak kalah bingung dengan Rendra.


Tindakan yang salah memang selalu membuat pelakunya mati gaya. Itulah yang kini tengah dialami Mayra dan Rendra.


"Kalau mbak Lina tahu bisa mengamuk dia," lanjut Wuni masih dengan wajah polosnya.


Mayra dan Rendra bertatapan. Mereka saling menyelami mata masing-masing agar memiliki jawaban yang sama. Jawaban yang bisa menghentikan pikiran Wuni dari dugaan-dugaan anehnya.


"Kita hanya ngopi saja kok, Wun. Tadinya ingin ke kedai ramen yang kemarin Mayra tidak jadi ikut itu loh. Tapi berhubung kita masih kenyang, makanya kita ganti dengan minum-minum saja," kilah Rendra beralasan.


"Tapi bukannya di kedai ramen kemarin itu acaranya Rizal, ya? Kok sore ini kalian hanya berdua?" Tanya Wuni lagi masih dengan wajah polosnya menanyakan ketidakberadaan Rizal.


Mayra meringis, Rendra pun. Keduanya merasa sore itu benar-benar konyol. Mereka harus memutar otak agar mendapatkan jawaban yang tepat untuk temannya yang ceplas-ceplos itu. Jika salah bicara sedikit saja, bisa runyam semuanya.


"Hm, oke oke sudah! Aku mengerti kok," ucap Wuni kemudian membuat kedua temannya melongo.


"Aku janji tidak akan membicarakan kejadian sore ini pada siapa pun." Wuni mengangkat jari tengah dengan jari telunjuknya.


Rendra dan Mayra menghela napas lega. Akhirnya Wuni mengerti. Dan setidaknya mereka tidak perlu pusing lagi mengarang jawaban atas pertanyaan temannya itu.


"Tapi...," lanjut Wuni membuat keduanya temannya berpandangan. "Kalian jangan lakukan ini lagi, ya. Aku sedih, tahu. Aku kasihan pada mbak Lina dan juga suami mbak Mayra. Apa pun yang kalian lakukan saat ini, tetap saja berdua itu tidak baik. Makanya sekarang aku temani, ya. Tapi aku bukan setan, loh." Wuni teringat dengan istilah orang tua jaman dulu, yang katanya jika berduaan maka yang ketiganya adalah setan.


"Hahahahaaa." Mayra dan Rendra tertawa bersamaan. Wuni pun.


Sepolosnya Wuni, dia ternyata bisa diajak bekerjasama juga.


***


"Mbak, ini ada bunga lagi," ucap bi Marni sambil menyodorkan satu ikat bunga, kali ini tanpa pembungkus, pada Mayra yang pagi itu sedang meregangkan badannya.


Setiap pagi_jika sempat, wanita itu memang selalu olahraga walau hanya di halaman rumahnya. Tidak banyak yang di lakukannya, ia hanya melakukan peregangan dari kepala hingga kaki, lalu lanjut lari-lari kecil memutari halaman rumahnya.


Pagi itu pukul 6, bi Marni baru datang. Dan bi Marni menemukan bunga itu tergantung di luar gerbang. Mayra yang sedari jam 5 sudah berada di halaman rumahnya jelas tidak tahu bahwa di luar gerbangnya tergantung bunga mawar merah dan putih sebanyak lima buah itu.


"Bunga dari siapa lagi, Bi?" Azka yang baru keluar dari pintu ikut bertanya. "Sini Bi!" ucap Azka meminta bunga itu.


Setelah memberikan seikat mawar tadi pada majikannya, bi Marni bergegas masuk untuk mulai mengerjakan tugas-tugasnya. Salah satunya yaitu membuatkan majikannya itu sarapan.


Mayra mengajak suaminya untuk duduk di kursi teras yang terbuat dari rotan putih agar suaminya tidak tegang. Azka manut.


"Bunga lagi loh, Yank," ucap Azka dengan nada protes. Kenapa akhir-akhir ini ada saja yang mengirimi istrinya bunga. Lama-lama rasa cemburu Azka memuncak juga.


"Tidak ada nama pengirimnya lagi, Yank. Ini pasti kerjaan orang iseng saja," kilah Mayra.


"Ada yang salah dengan hubungan kita kah, Yank?" Azka menatap mata nanar istrinya.


"Tidak ada, Yank. Ini hanya kerjaan orang kurang kerjaan saja. Sudah, jangan dipikirkan, ya." Mayra mengenggam tangan Azka.


Namun mata Azka tetap menatap istrinya dalam. Wanita yang dicintainya itu sudah banyak menutupi sesuatu darinya. Tentang pergi ke pantai dengan Rendra, bertelepon dengan Rendra, diberi hadiah oleh Rendra, dan semua tentang Rendra membuatnya cemburu. Tapi Azka juga belum punya bukti yang kuat untuk mengatakan jika wanitanya itu berselingkuh. Azka belum pernah mendapati istrinya itu jalan berdua dengan Rendra. Kalau ramai-ramai bersama teman-teman Griya, Azka masih maklum. Dia masih bisa menekan rasa cemburunya.


Tapi dengan datangnya bunga lagi dan lagi, membuat Azka kembali berfikir. Siapa orang yang rajin mengirimi istrinya bunga?


"Sini, Yank. Biar aku saja yang urus." Mayra meminta bunga itu dari suaminya.


"Kamu mau mengurus bunga itu bagaimana? Kamu sudah tahu siapa pengirimnya?" Azka bertanya sambil menatap wajah istrinya.


Wanita di depannya itu selalu terlihat cantik. Bahkan dengan wajah yang penuh keringat sekali pun. Azka menyeka butiran air pada dahi istrinya dengan tangannya lembut.


"Lagian kenapa cantik sekali si kamu? Pantas kalau banyak yang suka," ucap Azka sambil menggoyangkan tangan Mayra.


"Hehehe, cieee dokter ganteng cemburu nih," goda Mayra.


"Memangnya kalau ada wanita lain yang aku suka, kamu tidak cemburu?" Azka memancing. Ia ingin tahu ekspresi istrinya mengenai kalimat yang sengaja ia balik itu.


"Loh, memangnya aku suka lelaki lain??" Mayra langsung terpikirkan Rendra. Ucapan suaminya benar-benar mengena di hatinya.


"Yaa, barangkali," Azka menimpali sekenanya. "Kalau ada lelaki lain yang kamu suka, beritahu aku ya," pinta Azka serius.


Mayra diam mendengar perkataan suaminya.


Beritahu aku?


Permintaan macam apa itu?