
Mayra menghela napas lalu mengembuskannya melalui pojok bibirnya pelan. Dia pandangi Gendis sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk mengakui bahwa apa yang dikatakan tantenya itu memang benar. Mayra ragu apakah dia harus menceritakan semuanya pada tantenya itu atau tidak? Namun hati kecilnya mengatakan bahwa dia harus menceritakannya. Bagaimana pun juga Gendis adalah keluarganya. Dan Mayra butuh salah satu anggota keluarganya tahu tentang apa yang dialaminya selama ini. Dengan mereka tahu, setidaknya Mayra tidak terlalu menganggap hubungan anehnya dengan Rendra adalah sesuatu yang spesial yang harus ditutup-tutupi.
Mayra menarik napasnya lagi meyakinkan diri. Kemudian dia mengangguk. Gendis melongo tak percaya.
"Aku sempat ada hubungan dengan lelaki itu. Dia Rendra, Te," aku Mayra akhirnya.
"Rendra??" Mata Gendis membulat seakan tak percaya. "Rendra potografer Griya??" tanya Gendis lagi meyakinkan.
Walau nama dan wajah Rendra sudah pernah Gendis lihat dari cerita dan kiriman Mayra bahwa dia adalah fotografer baru di Griya Cantika, namun wanita itu belum pernah bertemu langsung dengannya. Apalagi saat melihat Mayra di dalam mobil dengan Rendra sore tadi, jarak mereka lumayan jauh. Gendis tidak terlalu jelas melihat wajah lelaki itu.
Mayra mengangguk.
"Kok bisa??" tanya Gendis makin penasaran. "Bukannya dia lebih muda dari kamu, ya?" Gendis mengingat-ingat Rendra melalui biodata singkat yang pernah Mayra kirim padanya dulu.
Walau Mayra memiliki hak penuh untuk mengelola Griya Cantika di Bandung, namun jika ada apa-apa dia selalu mengkomunikasikannya dulu pada Gendis. Termasuk perihal karyawan baru yang ingin bergabung. Gendis tahu bahwa di Griya cabangnya ada karyawan baru bernama Rendra dan Wuni. Namun dia belum pernah bertemu langsung dengan keduanya. Tujuan datangnya Gendis ke Bandung hari itu salah satunya adalah untuk mengunjungi Griyanya besok.
"Aku juga tidak tahu, Te kenapa semuanya jadi seperti ini. Aku sama sekali tidak ada maksud untuk jatuh terlalu dalam pada Rendra. Awalnya aku hanya iseng, tapi...."
"Kamu salah May!! Karena faktanya tidak boleh ada kata 'iseng' untuk kita para wanita. Kita ini lemah. Kita cepat sekali terbawa perasaan. Kita bisa saja mengatakan kita hanya iseng, hanya main-main atau apalah namanya. Tapi pada akhirnya kita sendiri yang akan terperangkap."
Mayra menatap tantenya nanar. Dia mengangguk lalu tertunduk. Ucapan Gendis benar-benar menohoknya. Semua yang dikatakan Gendis benar, Mayra sudah terperangkap. Walau dia sudah berusaha melepaskan diri dari Rendra, namun nyatanya dia selalu bertemu dengan lelaki itu hampir setiap hari. Dan itu adalah celah untuknya menambah rasa lagi dan lagi.
"Azka tahu??" tanya Gendis penasaran.
Mayra mengangguk.
Gendis mengembuskan napasnya keras. "Lalu??"
"Aku tahu Azka marah. Tapi dia bisa menutupi semuanya seolah tidak terjadi apa-apa. Dia terlalu baik, Te."
"Nah, kamu tahu sendiri itu. Azka adalah suami terbaik yang pernah tante tahu. Kamu tahu Gibran kan? Kenapa tante putuskan untuk berpisah dengannya?" tanya Gendis sengaja membahas mantan suaminya, Gibran.
Mayra menatap Gendis dalam. Dia jelas tahu alasan mengapa tantenya itu menggugat cerai suaminya. Gibran adalah sosok yang tempramental sekaligus aneh. Dia bisa sangat manis pada Gendis saat suasanya hatinya sedang baik. Namun jika dia ada masalah sedikit saja dalam pekerjaannya misalnya, maka Gendislah yang akan dijadikan tempat pelampiasan kesalnya. Jika Gendis salah berucap sedikit saja saat suaminya meminta saran tentang masalahnya itu, maka ucapan-ucapan kasar seperti, 'Dasar goblog kamu!!', 'Masukan macam apa itu?', 'Dasar istri tidak becus! Tidak ada gunanya saya meminta saran dari wanita bego macam kamu!!', akan keluar dari mulut Gibran seperti angin yang dengan mudahnya berembus.
Parahnya lagi saat Gendis diketahui pulang bersama mantan kekasihnya. Saat itu ban mobil Gendis pecah di jalan, dan kebetulan ada seorang mantan yang lewat dan menawari tumpangan karena saat itu hujan turun lebat. Gendis yang kebingungan seorang diri karena hari sudah malam, memayungi dirinya sendiri mondar-mandir mengelilingi mobilnya panik. Dia sudah berusaha menghubungi Gibran, namun sudah 7 kali dia coba, telepon itu tak diangkatnya. Hingga datanglah mantannya itu. Si mantan langsung menelepon montir kenalannya untuk datang ke tempat yang disebutkan untuk mengurus mobil Gendis, sementara dia langsung mengantar Gendis pulang. Namun yang terjadi saat Gendis sampai di rumahnya adalah, Gibran marah besar. Selepas si mantan pulang, Gibran menampar Gendis tanpa ampun. Dia mengira istrinya pulang terlambat karena pergi berdua dengan mantannya itu. Setiap mulut Gendis terbuka ingin menjelaskan sesuatu, maka satu tamparan mendarat di pipinya. Tamparan demi tamparan mendarat pada pipi Gendis hingga akhirnya dia limbung dan ambruk.
Mayra menatap Gendis yang juga sedang menatapnya. Dia iba dengan tantenya yang baik itu. Sejurus kemudian dia mengingat dirinya. Jika saja suaminya seperti Gibran, maka mungkin dia pun sudah habis dipukuli tanpa ampun. Apalagi jelas-jelas dia memiliki hubungan dengan lelaki lain. Mayra menggeleng-gelengkan kepalanya ngeri. Azkanya teramat baik. Lelaki itu malah memeluk saat tahu istrinya telah melakukan kesalahan. Azka malah mengatakan bahwa semua adalah salahnya yang kurang menjaga Mayra dengan baik. Sungguh terbuat dari apa hati baik lelaki bernama Azka itu?
Mata Mayra berkaca. Hatinya sakit mengingat semua tingkahnya yang menyakiti Azka. Suaminya sama sekali tidak pantas disakiti. Dia terlalu sempurna.
"Hm??"
"Aku terlalu jahat, ya?"
Gendis menghela napas lagi. Dia sama sekali tidak mengira bahwa kunjungannya ke Bandung kali itu akan disambut dengan masalah keponakannya yang lumayan rumit. Dia juga tidak menyangka bahwa Mayra akan tergoda oleh lelaki muda yang mungkin tidak lebih baik dari Azka. Di mata Gendis, Azka nyaris sempurna. Lelaki itu tampan, baik, sabar, penyayang, perkerjaannya juga bagus, yang terpenting, Gendis tahu bahwa lelaki itu sangat mencintai keponakannya. Azka kentara sekali mau mengorbankan apa saja demi membuat Mayra bahagia. Dan sekarang dengan mudahnya Mayra menyukai lelaki lain??
"Yang kamu suka dari Rendra itu apa?" tanya Gendis menyelidik.
"Dia...," ucap Mayra terbata. Dia juga sebenarnya tidak paham alasan apa yang mendasari dirinya bisa menyukai lelaki itu. "Dia menyenangkan, Te. Dia juga bisa mengerti aku tanpa aku banyak bicara."
"Memang Azka tidak??" protes Gendis tak mau kalah.
Mayra masih tertunduk. Dia tidak menjawab.
"Azka kurang apa, May?" tanya Gendis lagi, mendesak ponakannya agar cepat tersadar dari kesalahannya. Mayra masih diam.
"Tante tidak mau kamu menyesal nanti, ya. Jangan sampai Azka benar-benar kecewa padamu. Coba bayangkan kalau Azka yang melihat kamu berdua dalam mobil bersama Rendra tadi??"
"Aku tidak berdua, Te. Aku dengan Wuni tadi."
"Lalu Wuni kemana?" protes Gendis karena dia sama sekali tidak melihat ada orang lain di dalam mobil sore tadi.
"Wuni masih ingin bersama Lina di pantai. Jadi aku tinggalkan dia di sana," aku Mayra jujur.
Mendengar nama Lina disebut, Gendis memicingkan satu matanya. "Lina sudah kembali?"
Gendis tahu dari Mayra bahwa Lina sudah beberapa waktu ini vakum dari Griya. Namun Mayra tidak memberikan alasan jelasnya. Dia hanya tidak ingin tantenya tahu bahwa Griyanya akhir-akhir ini kurang terurus hanya karena masalah sepele, lelaki. Apalagi lelaki itu adalah Rendra.
Mayra mengangguk mengiyakan. Awalnya dia memang ingin menyembunyikan semuanya dari Gendis, namun nyatanya tantenya itu malah tahu dengan sendirinya. Mayra berpikir, haruskah dia memberitahu semuanya? Tentang dirinya, Lina, dan Rendra?
"Te??"
"Apa??"
Mayra diam sejenak. Kepalanya yang sedari tadi menunduk, ia dongakkan perlahan. Matanya sudah sembab. Lendir putih keluar dari sela-sela rongga hidungnya.
"Apa sebaiknya aku keluar saja dari Griya?"