MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Kembali Tersenyum



"Loh, mau kemana?" Mayra melongok dari jendela mobil bertanya pada pengemudi mobil di depannya.


Lina dan Wuni yang juga berada di dalam mobil Mayra ikut melongok. Mereka kini sudah berada di depan rumah Rendra hendak melayat. Namun si pemilik rumah malah akan pergi entah kemana. Mobil mereka beradu.


"Hai, ikut??" seseorang dari balik kemudi menyapa sekaligus menjawab pertanyaan Mayra.


Sore itu Rizal yang ambil kemudi. Karena Rendra masih belum fokus apalagi untuk menyetir. Rendra yang duduk di sebelah Rizal tersenyum sambil mengangguk tanda, 'Ayo ikut!'


"Kemana?" Wuni berteriak menjawab lelaki yang tak dikenalnya. Wanita penyuka buah semangka itu memang cuek dan ceplas ceplos. Walau tak kenal, semua orang mendadak langsung dikenalnya.


"Ayo ikut saja. Mundur dulu!" Rizal memerintahkan Mayra untuk memundurkan mobil agar mobilnya bisa maju.


Mayra manut. Ia memundurkan mobilnya memberi akses jalan untuk mobil Rendra. Kemudian keduanya melaju menikmati angin sore dengan jendela mobil yang sengaja dibiarkan terbuka. Mayra mengekor pada mobil Rendra.


"Mau kemana sih mereka?" Wuni penasaran. Dia yang duduk sendirian di jok belakang menatap mobil di depannya sok menyelidik.


"Mari kita cari tahu." Mayra lebih merapatkan lagi mobilnya.


Lina banyak diam sejak di Griya tadi. Dia sebenarnya sedikit malas untuk satu mobil dengan Mayra, teman yang dalam pikirannya ada 'apa-apa' dengan lelaki yang ditaksirnya itu. Kalau bukan untuk melayat, Lina pasti sudah berasalan untuk tidak ikut. Tapi orang yang akan dikunjunginya malah mengajak keluar, entah hendak kemana.


Tak lama, ban mobil mereka menginjak pasir lembut. Mayra dan kawan-kawan akhirnya tahu mereka dibawa kemana. Mayra longokkan kepalanya ke atas, dahan kelapa melambai-lambai. Ia tersenyum. Wanita itu memang selalu suka apa pun tentang alam. Ia hirup angin yang semeliwir berbau khas pantai.


Suara ombak yang tersapu angin sore bernyanyi riuh pada telinga mereka. Wuni yang tak menyangka akan di bawa menikmati angin sore di pantai, segera turun dari mobil dan berlari mendekati ombak yang berkejaran pelan.


"Ayo turun!!" Rendra berdiri di balik pintu mobil Mayra. Lina menatap tak suka.


Tanpa memerhatikan wajah Lina yang mulai masam, Mayra turun dari mobil dan berjalan bersama Rendra mengikuti Wuni.


"Tidak turun?" suara lelaki yang satu mobil dengan Rendra menyapa Lina yang hanya duduk di jok mobil.


Pantai yang mereka datangi masih sepi. Karena memang pantai itu masih lepas, belum dijadikan tempat wisata. Hanya warga sekitar sajalah yang berkunjung ke sana sekedar membawa anak-anak mereka bermain pasir. Tak jauh dari tempat mereka memarkir mobil, ada dua warung kecil berjejer agak berjauhan.


"Ayo!" katanya lagi karena wanita yang disapanya masih diam.


Lina lalu tersenyum walau terpaksa. Suasana hatinya benar-benar sedang tidak baik. Dia yakin dugaannya benar tentang kedua teman yang dicurigainya itu.


"Rizal," Ucap lelaki itu menyodorkan tangannya mengajak berkenalan.


"Lina," Sambut Lina ikut menjabat tangan Rizal.


"Mau kesana? Yuk!" Rizal kedua kalinya mengajak.


"Aku di sini dulu saja." Lina berjalan menuju kursi kayu panjang di bawah pohon kelapa yang tak jauh dari mobil mereka parkir. Rizal mengikuti.


Keduanya duduk sambil memandang ketiga temannya, Wuni, Mayra, dan Rendra bermain ombak.


Namun berbeda dengan tangkapan mata Lina. Dia menyaksikan seolah di depannya hanya ada Mayra dan Rendra, berduaan bercanda tertawa bersama. Sesekali Lina saksikan Mayra menepuk lengan Rendra sambil kemudian tertawa. Lina tidak tahu apa yang mereka bicarakan sampai terlihat seperti pasangan yang tengah berbahagia.


'Lihat mereka! Lihat Rendra! Ayahnya baru kemarin meninggal, mana rasa sedihnya? Malah ketawa-ketiwi.' batin Lina sinis.


"Cocok ya mereka?" Rizal menyadarkan lamunan singkat Lina.


"Siapa?" Lina pura-pura bertanya.


"Itu." Mata Rizal menunjuk Rendra dan Mayra.


"Ooooh." Lina hanya ber-oh malas.


Dia semakin yakin dengan dugaannya.


"Kamu teman dekat Rendra?" Lina bertanya akan menyelidik.


"Ya, begitulah," jawab Rizal mengangguk.


"Rendra pacaran yaa dengan Mayra?"


Lina pura-pura tidak tahu. Dia hanya ingin tahu sejauh apa Rendra berbagi cerita dengan teman dekatnya itu. Karena secueknya lelaki, mereka pasti punya minimalnya satu teman untuk berbagi cerita dan bahkan 'rahasia'.


"Loh, bukannya kamu teman mereka?" Rizal bertanya heran. Maksudnya, Lina adalah teman kerja Mayra dan Rendra, harusnya dia yang lebih tahu apa yang terjadi diantara temannya itu.


"Iya. Hanya saja Mayra belum cerita apa-apa tentang hubungannya dengan Rendra."


"Oh, begitu." Rizal paham. "Hmmm, sepertinya mereka memang pacaran ya, akan." Rizal menekankan kata terakhirnya.


Lina menatap Rizal sambil menahan rasa kesalnya. Dia yakin lelaki di sampingnya belum tahu kalau wanita yang sedang mereka bahas sudah bersuami. Ingin sekali Lina segera memberitahu Rizal mengenai status Mayra sebenarnya. Namun bagaimana pun juga dia butuh informasi yang lebih banyak dari lelaki di sampingnya. Untuk itu sebisa mungkin Lina menahannya rasa kesalnya.


"Setuju sekali. Dari ekspresi Rendra, sepertinya dia sangat menyukai Mayra."


Lina menghela napas. Dilihatnya lagi 'dua sejoli' di depannya. Ya, andai saja Mayra masih sendiri, mereka memang cocok. Lina setuju itu.


"Terus, kalau Mayra bagaimana? Dia juga suka pada Rendra?" Lina terus berusaha.


"Sepertinya iya. Semalam dia juga ada di rumah."


"Rumah Rendra?"


"Iya."


Dugaan Lina akhirnya benar. Kemarin Mayra pergi buru-buru sampai meninggalkan pekerjaan untuk menemui Rendra. Sampai malam???


Lina tidak paham apa yang sebenarnya ada di pikiran temannya itu. Mayra jelas tahu bahwa Lina menyukai lelaki itu, ditambah dia sudah bersuami. Lantas apa tujuannya sepanik itu kemarin?


Dari kejauhan, Mayra melambaikan tangan pada Lina mengajaknya untuk turun ke pantai. Lina menjawabnya dengan gelengan. Mayra tak menyerah, dia melambai lagi.


"Kesana saja yuk!" Rizal mengajak Lina lagi.


Akhirnya Lina manut. Dia berjalan malas menuju teman-temannya yang mulai basah karena cipratan ombak. Wuni yang sedari tadi sangat semangat sedang asik mengumpulkan kerang yang berceceran di pasir.


KRUIIIIING.


Ponsel Mayra berdering, Azka menelepon. Dia pamit meninggalkan Rendra dan Wuni menjauhi pantai.


Mayra berlari menuju mobil dan berpapasan dengan Lina.


"Nanti, ya." Mayra menempelkan jempol dan jari kelingkingnya ke telinga dan mulutnya, memberi tahu pada Lina bahwa dia ingin mengangkat telepon dulu. Lina mengangguk.


Sampai di kursi tempat Lina duduk tadi, Mayra menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


📞 "Halo, Yank."


📞 "Halo, sayangku. Anggun lagi apa?" Azka di seberang langsung bertanya, mengira istrinya sudah ada di rumah. Karena memang matahari sudah beringsut akan tenggelam.


📞 "Hm, aku masih di luar, Yank."


Di seberang, Azka mendengar angin yang menggelubug dari ponselnya.


📞 "Lagi dimana memangnya? Anginnya kencang sekali."


📞 "Hm, aku lagi di pantai, Yank."


📞 "Pantai? Dengan siapa?"


📞 "Dengan anak-anak Griya. Maaf ya, aku tidak memberitahu dulu. Ini mendadak, tanpa rencana."


Azka di seberang mengangguk pelan. Anak-anak Griya, pasti ada Rendra di sana, pikirnya.


📞 "Ya sudah cepat pulang, Yank. Kasihan Anggun. Aku mungkin sampai rumah jam 8."


📞 "Iya, sayangku. Sebentar lagi pulang kok. Love you."


Mayra menutup telepon setelah Azka menjawab ucapan cintanya. Ponselnya ia masukkan kembali pada saku rok span hitam yang hari itu ia kenakan. Ia lalu duduk di kursi sambil memerhatikan teman-teman di depannya. Lebih tepatnya Rendra. Mayra senang karena lelaki itu sudah bisa tersenyum lagi.


KLING


Ponsel Mayra berbunyi. Ada satu pesan masuk untuknya.


📩 Terimakasih ya 😊


Mayra membaca sederet pesan itu sambil tersenyum.


'Dasar Rendra,' batinnya.


🌸


Halo teman-teman Bebee, terimakasih sudah baca sampai sini ya. Jangan lupa vote, komen, dan like, dan krisannya ya 😍


Sehat-sehat kalian 💕