MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Sehangat Wedang Jahe



Azka dan Sandu sama-sama melajukan mobilnya menerobos hujan yang melebat lagi menuju tempat yang sudah disepakati, sebuah kedai kopi kecil di dekat lampu merah yang katanya buka 24 jam. Saat itu waktu sudah hampir menunjukkan pukul 11. Awalnya Azka mengusulkan untuk bertemu di Kopikita, namun dia teringat bahwa mungkin kedai kopi yang terkenal enak itu sudah tutup. Mengingat hari sudah malam apalagi ditambah dengan hujan. Akhirnya Sandu mengusulkan kedai kopi yang pasti buka 24 jam yang diketahuinya itu.


Dalam perjalanan, Azka sudah memikirkan hal-hal apa saja yang harus dia katakan nanti. Sementara Sandu sibuk menebak-nebak perihal tujuan suami mantan pacarnya itu mengajaknya bertemu persis setelah dia mengirimi Mayra pesan. Tak ingin lari dari tanggung jawab, apa pun yang akan dilakukan Azka nanti, Sandu akan menerimanya. Namun dia yakin suami Mayra itu mungkin akan berbicara baik-baik padanya. Jika Azka menginginkan untuk bertarung, mungkin dia sudah memilih lapangan terbuka dan bukannya malah mengajaknya 'ngopi bareng'.


Sruuuuut.


Mobil Sandu lebih dulu mendarat di depan kedai kopi 24 jam yang dimaksudnya karena kebetulan posisi Sandu saat itu memang lebih dekat dengan lokasi. Sandu mengelilingkan matanya mencari kendaraan lain yang mungkin milik Azka. Di depan kedai itu hanya ada dua sepeda motor yang kuyup kehujanan. Tak banyak pikir lagi, Sandu berlari masuk ke kedai dan langsung memesan dua cangkir kopi dan dua gelas wedang jahe. Lelaki itu duduk di salah satu meja yang di atasnya sudah tersedia beberapa bungkus kacang kulit dan emping.


"Pak, kacang rebus aya?" tanya Sandu pada bapak pemilik kedai yang lumayan sepuh yang sedang meracik kopi pesanannya.


--Pak, kacang rebus ada?


"Aya, Jang. Bade sabaraha mangkok?" jawab si Bapak menawarkan.


--Ada, Nak. Ingin berapa mangkok?


"Dua wae nya, Pak."


--Dua saja ya, Pak.


"Muhun."


--Baik.


Sandu mengangguk sambil tersenyum. Walau dia belum lama tinggal di Bandung, namun bahasa Sundanya lumayan fasih. Sandu juga jarang-jarang berbicara menggunakan bahasa Sunda kecuali dengan orang-orang yang dianggapnya sepuh seperti pemilik kedai kopi yang dia datangi malam itu contohnya.


Di dalam kedai itu hanya ada Sandu dan dua orang lainnya, Azka belum datang. Sandu merogoh saku celananya ingin mengambil ponsel untuk menghubungi Azka. Namun belum juga Sandu mencari nomor Azka, suara mobil berhenti terdengar dari luar. Sandu meletakkan ponselnya di atas meja karena dia yakin orang yang ditunggunya telah datang.


Dan benar saja, tak lama seorang lelaki muda yang malam itu mengenakan celana trening dan sweater hoodie abu muda masuk sambil mengibas-ibaskan rambutnya yang sedikit basah terkena air hujan. Sandu langsung melambaikan tangannya memberi kode. Azka menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju meja Sandu.


"Sudah lama?" tanya Azka ramah sambil duduk di depan Sandu.


"Baru saja, kok," jawab Sandu santai seolah sedang ditanya seorang teman.


"Mangga, Jang!" Bapak pemilik kedai datang membawa semua pesanan Sandu dan meletakkannya di atas meja.


--Silakan, Nak!


Sandu mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Sementara Azka dibuat terkekeh tipis melihat dua cangkir kopi, dua gelas wedang jahe, dan dua mangkuk kacang rebus mengepul tiba-tiba ada di depannya.


"Ini semua jamuan?" Azka menggoda menunjuk meja di depannya yang mendadak penuh.


"Yaa anggap saja begitu." Sandu memasukkan satu kacang rebus ke dalam mulutnya.


Azka terkekeh lagi sambil mengangguk. "Oke, sekarang saya mengerti kenapa kamu bisa menjadi pacar Mayra dulu."


Bagi Azka, cara Sandu memperlakukannya lumayan oke juga. Kendati didatangi oleh suami mantan pacarnya, namun lelaki itu malah memperlakukannya seperti teman. Azka akhirnya mengerti mengapa Sandu bisa menjadi salah satu lelaki pilihan istrinya, dulu. Sandu ikut terkekeh. Tanpa basa-basi, Azka menyeruput wedang jahenya perlahan.


"Risa tunanganmu?" tanya Azka kemudian tak ingin membuang banyak waktu. Dia khawatir Mayra terbangun dan menyadari dirinya tidak ada di tempat tidur.


Sandu mengangguk mengiyakan. "Ya, satu jam lalu. Sekarang sudah bukan lagi."


"Risa sudah saya putuskan," ucap Sandu tanpa beban.


"Ooh." Azka mengerucutkan bibirnya. "Kamu benar masih mencintai istri saya?" Azka menyelidik.


Bibir Sandu terangkat sepersekian sentinya dan menatap Azka lekat. "Obrolan kita akan tetap santai atau berubah jadi panas kalau saya berkata jujur?"


Azka menghela napasnya dan menyenderkan tubuhnya pada badan kursi di belakangnya. Azka melipat kedua tangan di depan dadanya. "Ya, tergantung. Tapi untuk sementara, saya pastikan obrolan kita akan santai-santai saja. Saya datang kemari bukan untuk rusuh, kok."


Sandu mengangguk setuju. Lelaki di depannya memang sudah terlihat santai semenjak dia datang tadi. Sandu yakin semua akan aman-aman saja.


"Jika kamu ada di posisi saya sekarang, dalam keadaan yang sudah mengenal dalam bagaimana Mayra, kira-kira kamu akan dengan mudah melupakannya atau tidak?" Sandu sengaja membuat Azka mengerti hanya dengan membalikkan keadaan.


Azka mengangguk langsung mengerti. Wanita bernama Mayra memang istimewa dari awal mula dia mengenalnya pun. Mayra sangat baik, cerdas, dan menyenangkan. Wanita itu sangat mudah dicintai namun sulit dilupakan. Dan Azka tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Sandu. Apalagi sepengetahuannya, mantan dari istrinya itu tidak pernah berulah pada keluarganya. Dan bagi Azka, perasaan Sandu pada Mayra bukanlah masalah. Yang menjadi sorotannya malam itu adalah Risa, yang jelas-jelas sudah menyakiti istrinya baik fisik maupun lisan.


"Oke. Sekarang aman buatmu. Selama kamu tetap diam dengan perasaanmu itu, saya tidak perduli. Yang ingin saya bahas malam ini adalah tentang Risa, tunanganmu," ucap Azka kembali memajukan duduknya.


"Ya, saya mengerti. Risa memang sudah melewati batas. Dan saya harap kamu lebih bisa menjaga Mayra. Karena sepertinya Risa akan terus mengganggu Mayra sampai dia hancur."


"Hancur???" Mata Azka melotot terkejut, tak percaya. Dia tidak mengerti mengapa Risa bisa membenci istrinya sebegitu dalamnya.


Sandu mengangguk. "Saya minta maaf, semua ini karena saya. Dan saya berjanji, saya akan membereskan semuanya."


"Dengan cara apa? Bukannya katamu kamu sudah putus dengan Risa?"


"Mudah saja. Saya bisa kembali lagi padanya. Saya menikah dengannya, lalu saya ajak dia tinggal di Solo. Dengan begitu, Mayra bisa aman."


Azka terkekeh mendengar penjelasan Sandu yang seolah semuanya semudah itu. Dia geleng-gelengkan kepalanya pelan. "Sial! Ternyata kamu lebih keren dari yang saya pikirkan."


"Maksudmu?" tanya Sandu heran.


Azka menggelang pelan. "Lupakan!"


Azka duduk dengan kedua tangan di atas meja. Dia menatap Sandu lekat sambil tersenyum setengah sinis. Azka merasa cemburu. Lelaki di depannya itu ternyata bisa berkorban sedemikian rupa demi ketentraman dan keselamatan istrinya, Mayra.


"Apakah kamu benci karena saya telah menjadi suami Mayra?" tanya Azka nyeleneh tiba-tiba membuat Sandu tersedak.


"Tidak! Saya pikir Mayra bahagia hidup denganmu. Dan saya malah bersyukur. Dulu saya sudah jahat padanya," tukas Sandu sambil memakan kacang rebusnya.


Azka diam bersedia mendengarkan.


"Dari dulu Mayra memang pacar yang baik, saya yang tidak. Saya selingkuh dengan gadis dari SMA lain. Padahal kalau dipikir sekarang, dulu Mayra kurang apa?" Sandu terkekeh. Azka masih setia mendengarkan. "Jadi sekarang harusnya kamu berterimakasih pada saya. Jika dulu saya tidak selingkuh, mungkin yang menjadi suami Mayra sekarang adalah saya."


"Hahahahahahahaaha." Azka tertawa terbahak. Dia mengakui bahwa omongan Sandu ada benarnya. "Oke. Terimaksih."


"Hahahahahha, sama-sama." Sandu ikut terbahak. "Lebih enak seperti ini ternyata. Dari pada kita rusuh tidak jelas, lebih baik kita fokus saja pada kebaikan Mayra. Kita urus Risa bersama-sama."


Azka mengangguk setuju kemudian terkekeh lagi. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa pertemuannya malam itu dengan mantan dari istrinya ternyata malah seolah menambah daftar teman dalam hidupnya. "Oh iya ngomong-ngomong, ponsel Mayra benar ada pada Risa??"


"Ponsel Mayra??"