MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Pesta Ulang Tahun



Jangan lupa selalu dukung karya Bebee dengan cara LIKE, KOMEN, dan VOTE kalian ya teman-teman 😘


Terimakasih.


Selamat membaca 😊


🍃


"Astaga, kamu masih belum siap juga?" Protes Rizal pada Rendra yang saat itu masih asik telungkup memainkan ponselnya di kasur kamar yang dindingnya penuh dengan gambar hasil tangannya. Rizal berdiri di daun pintu dan menyenderkan badannya di sana.


Rendra sedari dulu memang menyukai seni. Selain jago memotret, tangannya juga lihai dalam memainkan pensil-pensil untuknya menggambar. Namun bakat menggambarnya itu hanya dia nikmati sendiri. Tak banyak orang yang tahu bahwa dia memiliki bakat itu.


Rendra menatap dandanan Rizal yang malam itu terlihat rapih, tak seperti biasanya. Celana jeans hitam dengan kemeja senada yang lengannya dilipat sampai siku membuat Rizal terlihat semakin gagah. Berbeda sekali dengan Rendra yang saat itu masih mengenakan kaos oblong dengan celana kolor seatas lutut.


"Beeeuh, percuma ganteng kamu, Bang. Ganteng-ganteng kok jomblo?" Goda Rendra masih merebahkan tubuhnya pada kasur.


"Jaman sekarang yang ganteng memang jomblo, brother. Buktinya kamu. Sama jomblo juga kan?" Rizal ikut menggoda melipat kedua tangannya pada dadanya. "Cepat lah dandan sana! Jam 8 acaranya di mulai," Ucap Rizal kemudian sambil melirik jam pada pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 7 lewat.


"Serius Bang kamu minta saya dandan??" Rendra berlagak sok terkejut. "Pakai bedak? Pakai lipstik? Nanti kalau si Raras kalah cantik bagaimana?"


"Raras cantik? Oke, oke. Nanti saya sampaikan padanya kalau kamu naksir, ya?" Goda Rizal sambil berjalan mendekati Rendra dan langsung duduk pada ranjang di sana.


"Hahaha keceplosan, Bang. Tapi yaa, memang benar cantik sih," aku Rendra jujur. "Eh tapi, Bang. Aku belum beli bunganya loh. Bagaimana ini?"


Rendra memang belum membeli bunga sesuai permintaan temannya itu. Bukan karena lupa atau tidak sempat, tapi Rendra memang sengaja tidak membelinya setelah tahu bahwa bunga itu nantinya untuk Raras. Walau terkesan slengean, tapi Rendra tidak bisa memberikan bunga pada sembarang wanita. Rendra tidak ingin membuat Raras berharap padanya karena memberikannya bunga. Baginya, bunga hanya akan dia beri pada orang yang benar-benar ingin dia beri. Bunga adalah lambang cinta, begitu pikirnya.


"Lah, terus malam ini kamu akan memberi dia hadiah apa?" Protes Rizal sambil memukul kaki temannya.


"Memang harus bawa hadiah?" Rendra ikut protes. Rizal mendelik tajam, Rendra meringis. "Di mobil masih ada bunga milik Mayra. Mau bawa itu saja?" Tawar Rendra akhirnya teringat mawar putih yang dari siang masih dibawa-bawanya.


"Masa bunganya bekas Mayra sih?" Rizal protes lagi.


"Hahaha, bukan bekas juga kali, Bang. Mayra sama sekali belum menyentuh bunga itu. Lagipula bunga itu bukan dari saya. Jangan salah sangka kamu, Bang!" Tukas Rendra menjawab rasa penasaran temannya itu. Dia yakin Rizal pasti mengira mawar putih yang dibawanya itu adalah miliknya. "Tapi tidak usah tanya juga yaa perihal asal-usul bunga itu. Saya sedang tidak ingin menceritakannya."


Rizal langsung mendelik. Dia heran mengapa lelaki di depannya itu seolah bisa membaca pikirannya.


"Hahahaha. Sudah, sudah!! Sana kamu keluar dulu lah, Bang! Katanya tadi suruh dandan?" Lanjut Rendra mengusir temannya.


Rizal langsung manut dan berjalan kaluar kamar.


"Oh iya soal hadiah, kita kesana lenggang tangan saja ya? Atau nanti kita mampir sebentar deh di toko aksesoris, ya?" Ucap Rendra sambil menutup pintu kamarnya.


"Heh bocah! Kamu tidak punya celana dan kemeja warna lain? Kenapa harus kembaran begitu sih?" Protes Rizal segera yang dibalas dengan kacakan pinggang Rendra.


"Heeey!! Kita kan memang kembar, Bang. Rizal, Rendra. Jadi baju pun harus sama dong! Ayo lah berangkat. Telat nanti kita!" Ajak Rendra merangkul bahu Rizal tidak memberi ruang untuknya protes lagi. Rendra menyeret temannya itu menuju mobil.


***


Ulang tahun Raras malam ini dirayakan di cafe Kopikita. Sebenarnya hanya syukuran kecil-kecilan saja yang sengaja dibuat karena Raras mendadak menginginkannya. Tujuan utamanya hanya satu, dia ingin bertemu lagi dengan Rendra. Cafe itu sengaja sudah tutup dari jam 4 sore dan langsung disulap menjadi tempat pesta yang sederhana namun cantik. Kursi-kursi sengaja dibentuk berbaris melingkar menghadap pada satu meja utama yang nantinya digunakan untuk meletakkan kue milik Raras. Di samping kanan meja Raras juga sudah siap beberapa alat musik untuk nanti anak-anak band Kopikita mengisi lagu.


Gadis cantik bergaun biru muda sebawah lutut dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai itu terlihat sedang sibuk menyalami teman-temannya yang datang. Tamu yang diundang malam itu memang hanya teman-teman dekatnya saja, ditambah dengan teman-teman Budi.


Gadis cantik bergaun biru tersenyum simpul saat mengetahui mobil Rendra telah mendarat di parkiran cafe milik kakaknya. Segera ia rapikan dirinya yang sebenarnya sudah rapi dan menarik napasnya pelan. Hatinya sudah mulai berdesir walau hanya dengan melihat mobil Rendra saja.


"Sudah cantik," Bisik Budi pada Raras sambil berjalan melewatinya untuk menyambut tamu istimewa adiknya itu. Raras kembali tersenyum simpul. Dia masih berdiam di tempatnya berdiri menanti Rendra menghampirinya.


Dari kejauhan, Raras melihat Rendra sudah turun dari mobilnya dan bersiap berjalan memasuki cafe. Hati Raras semakin tak karuan. Semakin langkah Rendra mendekat, jantungnya semakin berpacu hingga gadis itu harus menenangkan dirinya dengan menarik dan membuang napasnya pelan.


"Hai," suara Rendra akhirnya terdengar. Rendra kini sudah berdiri di depan Raras. Sementara Rizal dan Budi meneruskan jalannya.


"H-hai," jawab Raras kikuk sambil tersenyum.


Raras malam itu terlihat cantik sekali, Rendra harus mengakui itu. Gadis itu seperti biasa hanya memoles wajahnya dengan makeup tipis namun sangat pas dipandang. Rendra tersenyum.


"Selamat ulang tahun, ya," Ucap Rendra sambil mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Raras.


"Terimakasih," jawab Raras malu-malu.


"Oh, iya, kadonya menyusul, ya. Tidak apa-apa kan?" Tanya Rendra jujur karena dia memang tidak membawa apa-apa malam itu untuk diberikan pada Raras.


Mendengar ucapan Rendra, Raras malah tersenyum bahagia. Dengan adanyanya kata 'menyusul', tandanya dia masih punya hari lain untuk bertemu dengan lelaki pujaan hatinya itu.


"Iya tidak apa-apa. Aku senang kamu bisa datang malam ini. Terimaksih ya," aku Raras masih malu-malu. Namun semuanya mampu ia tutupi dengan senyumnya yang manis.


Rendra kembali ikut tersenyum. "Iya sama-sama."


Dari kejauhan, Rizal dan Budi juga tersenyum-senyum melihat tingkah dua manusia di depannya yang seolah malu-malu mengungkap rasa, padahal black forest besar yang terpajang di meja sudah menunjukkan angka 23.


Cinta, cinta. Dia memang selalu bisa membuat pelakunya mati gaya. Manis sekali.