
Azka mencium kepala istrinya saat baru masuk kamar. Jam 9.30 malam dia baru sampai rumah dan mendapati istrinya sedang mengelus kepala Anggun. Mayra segera bangkit menyambut suaminya.
"Anggun kenapa, Yank?" Tanya Azka sambil mengajak istrinya duduk di atas kasur. Sementara dia mulai membuka kancing kemejanya yang bau keringat karena seharian bertempur dengan pasien.
"Tidak apa-apa, Yank. Tadi hanya mengigau. Kamu sudah makan?" Mayra kini mengambil alih membukakan kancing kemeja suaminya.
"Sudah." Azka membelai lembut rambut wanita di hadapannya. "Tadi ada tamu, Yank?"
Azka menanyakannya karena di meja tamu masih ada tiga gelas yang airnya habis berdiri di sana. Mayra tidak segera merapikan gelas bekas tamunya tadi. Dia bergegas masuk kamar karena igauan Anggun, dan akhirnya lupa.
"Iya, Yank. Tadi Lina mampir kesini," Jawab Mayra seadanya.
"Lina??" Azka memicing curiga. Sudah beberapa kali ini teman istrinya itu mengiriminya foto yang entah apa tujuannya. Sekarang dia mampir ke rumah? Ada apa?
"Iya."
"Lina dengan siapa? Gelas di depan ada tiga?" Azka menanyakan detailnya.
"Dengan anak-anak Griya, Yank," jawab Mayra sengaja tanpa menyebutkan nama. "Kamu mandi dulu sana. Bau nih." Mayra menutup hidungnya dengan tangannya.
"Masaaa??" Azka malah berbalik memeluk istrinya erat.
"Hahaha.. Ih, Yaaaaank. Bau tauuuu!!" Mayra berusaha melepaskan pelukan suaminya. Namun suaminya itu malah semakin menguatkan pelukannya.
Mereka tertawa lepas bersama.
(Bukankah aroma khas suami yang baru pulang kerja adalah favorit semua istri?? 😅)
Azka kini sudah berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Sementara Mayra tiduran malas di ranjangnya sambil memainkan ponsel.
KLING.
Ponsel Azka berbunyi. Pertanda ada pesan masuk di sana. Mayra lirik ponsel suaminya yang diletakkan di atas meja kecil di samping ranjang. Di sana tertulis nama LINA.
"Lina???" Mayra membatin.
Segera ia ambil ponsel suaminya dan langsung membuka pesan itu. Ponsel Azka memang terkunci, namun jelas Mayra mengetahui kata kuncinya. Karena bagi Azka, ponselnya adalah ponsel Mayra juga. Mayra bebas memainkan ponselnya kapan pun dia mau. Tidak ada rahasia di sana.
Mayra mengetuk layar ponsel Azka untuk membuka pesan dari temannya itu. Wanita dengan piyama bunga ungu itu penasaran ada perlu apa Lina dengan suaminya? Dan saat pesan itu telah dibukanya, betapa terkejutnya Mayra saat mengetahui yang dikirim Lina pada suaminya adalah foto Rendra yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Hanya foto saja. Tanpa kata-kata apa pun.
Mayra menghela napas. Ada maksud apa Lina mengirimi suaminya foto itu? Foto itu pasti diambilnya saat tadi Rendra menunggu pintu dibuka.
Tak pikir lama, Mayra segera menghapus pesan itu dari ponsel suaminya. Dan ia kembali pada posisi semula seolah tidak terjadi apa-apa.
***
Sepulang dari Griya, Mayra sengaja mampir ke sebuah supermarket seorang diri untuk membeli beberapa singlet untuk Anggun. Namun saat sampai di babyshop, wanita itu kalap melihat banyak sekali pakaian yang lucu-lucu untuk anaknya. Beberapa potong pakaian akhirnya masuk ke dalam plastik belanjaannya.
Setelah membayar semua barang milik Anggun, Mayra bergegas pulang. Namun langkahnya tertahan pada sebuah cafe yang dekat dengan parkiran saat dia melihat Lina sedang duduk berhadapan dengan seseorang yang di kenalnya di sana.
Mayra memandang mereka dari kejauhan. Dua orang yang duduk sambil menikmati segelas minuman itu terlihat akrab. Mereka terlihat berbincang santai sambil sesekali tertawa bersama. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Namun terlihat sekali bahwa mereka sangat menikmati obrolannya itu.
Hawatir orang yang diintipnya tahu, Mayra segera pergi dari sana dan menuju tempat mobilnya di parkirkan.
Mayra segera melajukan mobilnya keluar dari supermarket. Setelah di rasa lumayan jauh, ia mengambil sein kiri dan memberhentikan mobilnya. Ia ambil ponsel dari dalam tas rajutnya dan segera menelepon seseorang.
📞 "Halo Ren," ucap Mayra saat Rendra telah mengangkat teleponnya.
📞 "Kamu masih di jalan?" Rendra di seberang menebak karena suara mesin mobil Mayra terdengar.
📞 "Iya."
📞 "Ya sudah cepat pulang. Sudah sore ini."
📞 "Iya, ini dalam perjalanan pulang. Tapi ada yang harus aku sampaikan dulu." Mayra menjelaskan.
📞 "Soal apa?"
📞 "Lina."
📞 "Oh..." Rendra sudah bisa menebak inti dari pembicaraan Mayra.
📞 "Kok oh??" Mayra curiga mendengar jawaban Rendra.
📞 "Tidak apa-apa. Ada apa dengan Lina?" Rendra memersilakan wanitanya bicara.
📞 "Aku pikir, sepertinya Lina sedang merencanakan sesuatu," tebak Mayra serius.
📞 "Sesuatu apa?" Rendra pura-pura tidak mengerti. Padahal dia sendiri pun sudah menebak lebih dulu tentang hal yang sedang dipikirkan Mayra.
📞 "Kemarin malam Lina kirim foto kamu yang sedang berdiri di depan rumahku ke nomor Azka."
📞 "Hah????" Rendra terkejut mendengar informasi dari wanitanya itu. Karena ternyata Lina melakukan hal yang lebih dari apa yang dia pikirkan.
Rendra pikir kemarin Lina mengajaknya bertamu ke rumah Mayra hanya untuk memperlihatkan, 'Ini loh suami Mayra', saat ada Azka. Namun nyatanya wanita itu berbuat hal yang lebih. Lina berniat memfitnahnya.
Rendra yakin, dengan Lina mengirim foto dirinya kemarin pada Azka, dia ingin membuat Mayra dan suaminya bertengkar. Seolah Rendra sengaja datang malam-malam ke rumah Mayra saat suaminya sedang tidak di rumah.
Dari balik telepon, Rendra manggut-manggut mengerti. Dia harus berhati-hati dengan Lina. Bukan karena dia takut dengan Azka. Tapi dia hanya hawatir, suami Mayra itu marah padanya untuk sesuatu yang tidak dilakukannya.
Tapi bagaimana dengan mencintai Mayra? Bukankah itu juga sudah membuat seseorang marah padanya?
***
Malam itu Rendra sedang duduk berdua dengan Rizal di depan kampusnya dulu sambil menikmati secangkir kopi mantap buatan mang Tatang. Kopi mang Tatang memang sudah menjadi favorit mereka dari jaman kuliah dulu. Kedua lelaki itu asik menikmati teguk demi teguk kopi sambil membicarakan banyak hal.
Tentang kenangan saat kuliah dulu, yang karena saking seringnya berdua, salah satu dosen kampus sampai memberi mereka julukan 'RR_Rendra, Rizal'.
Keduanya terkekeh. Mengingat betapa akrabnya mereka dulu, kemana-mana selalu berdua. Hingga julukan lain pun mendarat untuk mereka, yaitu 'MaHo_Manusia Homo'.
"Edan!! Dulu saya dan kamu seheboh itu, ya?" Rizal menepuk pundak Rendra.
"Hahaha, iya." Rendra tertawa lepas. Masa kuliahnya dulu memang dihabiskannya bersama Rizal.
"Si Bella lebih edan. Gara-gara dia saya dan kamu jadi putus," Rizal tertawa lagi.
"Hahaha, edan!! Kenapa jadi saya dan kamu yang putus??" Protes Rendra dengan masih tertawa.
"Soalnya hubungan saya dan kamu lebih romantis daripada kamu dengan Bella."
"Hahahaha."
Mang Tatang hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan dua langganannya yang sudah lama tidak mampir ke warung kopinya itu.
"Eh, Ren. Jadi bagaimana dengan Mayra?" Rizal kali ini bertanya tanpa tertawa.
Rendra pun ikut menghentikan tawanya.
"Ini kenapa jadi membahas Mayra sih?" Protes Rendra.
"Hahaha, nyebrang sedikit tidak apa-apa," jawab Rizal sambil menyeruput kopinya.
"Ya, kalau abang merestui, adikmu ini akan terus berjuang sebelum janur kuning melengkung," ucap Rendra dengan kata 'abang' nya lagi.
Jika sebutan 'abang' sudah keluar dari mulut Rendra, tandanya dia memang benar-benar sedang memposisikan temannya itu menjadi kakaknya.
"Sinting!! Janur melengkung dari mananya?? Janur si Mayra sudah melengkung dari kamu masih orok!!"
"Hahahaha"
Rendra tertawa lagi mendengar perkataan temannya. Bukan karena dia lucu, tapi karena perkataan Rizal, ia jadi teringat Mayra yang menyebutnya 'bocah'.
"Apakah aku memang seorok itu?" Rendra membatin.
Mendadak, Rendra rindu dengan Mayranya. Dia membayangkan malam itu dia tertawa dengan wanitanya. Berdua menikmati malam sambil menikmati secangkir kopi.
Eh, tapi apakah Mayra suka kopi?
Ah, apa pun itu, malam itu Rendra ingin Mayra ada di sampingnya. Itu saja.