MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Janji yang Sakral



Gendis menatap Mayra bingung. Ponakannya itu menanyakan perihal pengunduran dirinya dari Griya, lalu siapa yang akan menghandel semua aktifitas di Griya nanti? Mulai dari penghitungan pemasukan dan pengeluaran dana sekaligus gaji karyawan, pun dengan hal-hal teknis lainnya. Gendis menggaruk pelipisnya yang gatal.


"Kamu yakin?" tanya Gendis meragukan usulan ponakannya itu.


"Belum sepenuhnya yakin si, Te. Tapi aku pikir dengan aku mundur dari Griya, aku jadi jarang bertemu dengan Rendra nantinya," jawab Mayra sambil masih duduk berhadapan dengan tantenya.


"Tante sebenarnya setuju-setuju saja selama itu baik untuk kamu. Tapi nanti siapa yang akan menghandel Griya?"


Keduanya saling bertatap seolah saling meminta pendapat. Mayra menyetujui omongan tantenya itu.


"Kalau Lina bagaimana, Te?" Mayra akhirnya terpikirkan Lina.


Lina adalah saudara jauh Gibran, mantan suami Gendis. Untuk itu sebenarnya Gendis dengan Lina masih ada hubungan saudara walau secara hukum sudah terputus. Mendengar nama Lina disebut, Gendis berdehem bingung. Gendis lumayan tahu watak Lina. Gadis itu memang bagus dalam pekerjaannya, namun mengingat dia adalah satu garis keturunan dengan Gibran, Gendis sebenarnya ragu. Dia hanya khawatir setitik watak tercela Gibran ada yang menurun padanya.


"Lina ya?? Hm, bagaimana ya?" Gendis menempelkan jari telunjuk pada bibirnya dan mengetuk-ketukannya di sana. "Sebentar, tante ingin tahu dulu. Alasan Lina akhir-akhir ini vakum dari Griya sebenarnya apa?"


Mayra menelan ludahnya perlahan. Akhirnya Gendis melontarkan pertanyaan itu juga. Awalnya Mayra berharap tantenya itu hanya sebatas memaklumi vakumnya Lina dari Griya hanya karena gadis itu butuh istirahat saja. Namun rahasia tidak selamanya bisa menjadi rahasia. Ada saatnya semuanya terungkap, pun tentang hubungan segitiga Mayra yang rumit.


Mayra mengembuskan napas melalui mulutnya perlahan. "Rumit, Te."


"Tidak apa-apa, ceritakan saja. Tante ingin tahu."


Mayra menatap mata Gendis lagi, dalam. Dia sebenarnya ragu akan menceritakan kisah konyolnya itu. Namun memang tak ada pilihan lain, Mayra harus menceritakannya.


"Lina suka Rendra."


"Hah????" Gendis membuka mulutnya kaget. Dia langsung bisa menangkap kelanjutkan kalimat ponakannya itu. Mayra mengangguk.


"Lina suka Rendra, Rendra suka aku, dan ya ... begitulah," ucap Mayra kemudian.


"Lina marah padamu? Dan dia mogok kerja?" tebak Gendis tepat sasaran. Mayra mengangguk lagi.


Gendis menghela napas dan menyenderkan tubuhnya pada sofa. Matanya kini menatap lampu yang menggantung pada plafon putih di atasnya, kemudian matanya menutup. Kepala tante muda itu seketika pening memikirkan semuanya. Dia sama sekali tidak mengira bahwa semuanya akan serumit ini.


"Kalau menurut tante, sebaiknya kamu tetap menghandel Griya saja. Tapi kamu tidak perlu setiap hari datang ke sana. Cukuplah kamu datang seminggu sekali saja. Bagaimana?" usul Gendis akhirnya kembali menatap ponakannya. Dia kurang setuju jika Griyanya dipegang penuh oleh orang yang bukan dari keluarganya.


"Hm, boleh juga."


"Ya sudah besok kita ke Griya, sekaligus menyampaikan rencana kita ini ya?"


Keduanya mengangguk lalu tersenyum. Gendis menangkupkan kedua tangannya pada tangan Mayra dan menggenggamnya erat.


"Kamu jangan sampai seperti tante ya, May! Jaga keluarga kamu dengan baik! Apalagi rumah tangga kamu sangat baik-baik saja. Letak keutuhan rumah tangga sebenarnya ada di tangan kita, wanita. Maka berdirilah di tengah-tengahnya dengan teguh. Azka sudah melaksanakan tugasnya sebagai suami dengan sangat baik. Balas dia dengan yang lebih baik. Oke??"


Mayra tersenyum mendengar perkataan bijak tantenya, namun bulir bening keluar dari pojok matanya. Dia mengangguk dan memeluk tantenya itu erat. Keduanya tenggelam dalam perasaan, sampai-sampai mereka tak menyadari bahwa sudah ada Azka yang berdiri tak jauh dari mereka memerhatikan sambil tersenyum juga.


"Ekhem." Azka sengaja berdehem sambil berjalan mendekati dua wanita yang masih berpelukan di depannya.


Mayra dan Gendis sontak melirik ke arah asal deheman dan melepaskan pelukan mereka. Azka tersenyum lagi dan mendekat menyalami tantenya lalu duduk pada sofa di depan Mayra.


"Loh? Iya kah?? Membicarakan apa memangnya?" tanya Azka penasaran. Kedua wanita di depannya saling berpandangan lalu terkekeh.


"Membicarakan tentang kapan yaa Azka pulang? Perut tante sudah kriuk-kriuk nih!!" jawab Gendis nyeleneh.


"Hahahaa, kriuk-kriuk sudah macam kerupuk saja, Te. Oh iya ngomong-ngomong tante sampai di Bandung jam berapa?" Azka membuka kancing lengan kemejanya dan menggulungnya hingga siku.


"Jam empatan tadi."


Azka mengangguk.


"Sudah wawancaranya nanti saja. Sekarang kamu mandi dulu, Yank! Terus kita makan. Ayo!!" Mayra berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Azka mengajaknya ke kamar. Azka manut.


Keduanya berjalan meninggalkan Gendis seorang diri yang tersenyum bahagia melihat pasangan harmonis di depannya.


Azka dan Mayra sudah sampai di kamar sekarang. Setelah menutup pintu, Mayra berdiri di hadapan Azka dan membukakan satu persatu kancing kemeja yang melekat pada badan lelah suaminya. Azka menatap wajah wanita di hadapannya yang menunduk menghadap deretan kancing pada kemejanya.


CUP.


Azka mencium rambut tepat pada ubun-ubun Mayra. Setiap kali Azka mencium bagian ubun-ubun Mayra, tak lupa dia selalu menyelipkan doa untuk istrinya itu. Doa apa saja, sesukanya, demi kebaikan istrinya itu. Mayra mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya saat semua kancing sudah dilepaskannya. Azka balik menatap.


"Kenapa?" tanya Azka keheranan saat istrinya menatapnya sambil tersenyum.


Mayra menggeleng pelan sambil masih tersenyum. "Tidak apa-apa."


Ibu cantik satu anak itu kemudian memeluk tubuh Azka erat dan menenggelamkan kepalanya di dadanya. Azka balik memeluk sambil mengelus-elus kepala istrinya yang hanya setinggi dagunya.


Azka menghirup aroma favorit dari tubuh istrinya itu, damai sekali. Cukup lama keduanya saling terpejam dalam pelukan.


"Yank?" Mayra memanggil dengan kepalanya yang masih berada dalam dekapan Azka.


"Hm?"


"Seberapa banyak maafmu untukku?"


Mendengar pertanyaan aneh istrinya, Azka merenggangkan pelukannya dan menatap wajah istrinya tajam. Matanya memicing, alisnya berkerut.


"Maksudnya?" tanya Azka tak mengerti.


"Jika suatu saat aku melakukan kesalahan lagi...."


CUP.


Ucapan Mayra terputus karena Azka sengaja membungkam mulut istrinya dengan mulutnya. Keduanya saling berpagutan lembut, masih dalam pelukan hingga keduanya tenggelam dalam kehangatan.


Azka sengaja tak membiarkan Mayra meneruskan kalimatnya karena dia bisa menebak kelanjutan kalimat istrinya itu. Dan menurut Azka itu tak perlu. Selama nafasnya masih berembus, Azka pastikan dia akan selalu memaafkan lagi dan lagi sampai istrinya itu takkan melakukan kesalahan lagi. Karena Azka teramat mencintainya, hingga nanti.


Selama ini Azka sengaja bersikap biasa saja padahal dia tahu bahwa istrinya setiap hari bertemu dengan lelaki yang tak disukainya, Rendra. Azka juga sebenarnya menyimpan cemburu setiap harinya, namun dia selalu berusaha mengabaikan itu. Dia percaya Mayranya tidak akan macam-macam. Selama istrinya mengingat janji nikahnya yang sakral, dia pasti akan selalu bisa menjaga dirinya. Pun Azka. Dia paham benar bahwa saat ijab kabul terucap, sesungguhnya dia sedang berjanji pada Tuhannya. Dan dia takkan pernah berani mengingkari itu, selamanya.