
TOK TOK TOK ....
Suara pintu kamar Mayra diketuk.
"Masuk, Bi!" ucap Mayra yang langsung mengetahui bahwa yang mengetuk pintunya adalah bi Marni karena rumah yang lumayan luas itu kini hanya berisi 3 penghuni _ Mayra, Azka, dan asisten rumah tangganya itu.
Dari balik pintu yang sudah dibuka, kepala bi Marni melongok, memastikan kondisi nyonya mudanya. Dan ternyata majikannya itu tengah memainkan ponsel sambil tengkurab santai di atas guling tanpa motif berwarna ungu manis. Bi Marni tersenyum, karena walau pun Mayra masih belum mau keluar rumah, namun setidaknya majikannya itu sudah lahap makan dan mulai terlihat bertenaga.
Sementara untuk urusan Griya Cantika, Lina sudah maju paling depan untuk menggantikan Mayra sebagai leader sementara walau tanpa diminta. Dan Mayra juga tentu akan mempercakayan semuanya pada Lina tanpa curiga. Memiliki rekan kerja yang solid memang impian semua orang, dan Mayra memiliki keberuntungan itu.
"Ada apa, Bi?" Tanya Mayra sambil bangun dari rebahannya dan meletakkan ponselnya. Wanita itu mengikat rambutnya yang dari tadi terurai.
"Ada anak-anak Griya datang, Mbak," balas bi Marni sambil jempol tangan kanannya mengarah ke ruang tamu.
"Oooh. Ada siapa saja yang datang, Bi?" tanya Mayra penasaran.
"Datang semua, Mbak. Ada mbak Lina, mbak Wuni, sama mas Rendra."
"Mereka itu yaa ... kalau tiga-tiganya datang kesini, lalu siapa yang stanby di Griya? Sudah ku bilang aku tidak apa-apa, masih saja mereka hawatir padaku." Protes Mayra sambil bangkit dari tempat tidurnya.
Terhitung dari hari pemakaman Anggun, anak-anak Griya memang sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Mayra untuk memberikannya dukungan dan pelukan. Terutama Lina dan Wuni yang tak pernah absen datang sambil membawa macam-macam makanan kesukaan Mayra agar ketua timnya itu mau makan dan melupakan lara hatinya walau hanya sebentar.
Bi Marni terkekeh, ada raut bahagia dalam wajahnya melihat majikannya sudah mulai kembali pada dirinya yang ceplas-ceplos. Apalagi majikannya itu ternyata sudah mulai peduli lagi pada Griya Cantika yang sudah semingguan ini seperti sama sekali tak dipikirkannya.
"Bi Marni tolong siapkan minum dan camilan yaa!"
"Siap, Mbak."
*
"Sepertinya bulan depan gaji kalian harus aku potong masing-masing 20% yaa! Masa setiap jam kerja kalian datang kesini?" Ancam Mayra saat telah sampai di ruang tamu. Jam dinding yang menggantung di ruang tamu menunjukkan pukul 13.20 WIB.
Dilihatnya rekan kerja yang sudah seperti keluarganya itu satu-satu. Lina yang hari itu memakai rok plisket hitam sebawah lutut dengan kaos putih lengan pendek yang jadi terlihat seperti karyawan magang. Wuni yang katanya sedang kecanduan dengan semua model pakaian berbahan rayon yang menurutnya membuat harinya selalu adem. Dan Rendra ... pandangan Mayra tertahan sedikit lama saat sampai pada bocah tengil itu. Mata Rendra menatap mata Mayra dalam, seolah bertanya, "Are you OK?". Karena siang itu untuk pertama kalinya Renda ikut datang ke rumah Mayra.
"Sini cepat, May! Aku bawakan somay kesukaan kamu." Ajak Lina sambil membuka bungkusan yang diletakannya di atas meja.
"Aku juga bawa jeruk santang madu nih mbak May, biar segar sehabis makan somay." ujar Wuni tak mau kalah.
"Hahahahahahaha." Mayra terbahak menyaksikan dua temannya berlomba menarik hatinya hanya dengan bermodal makanan, namun pojok matanya megeluarkan bulir hangat, "terimakasih, yaaaa." Ucap Mayra tulus sambil menyerobot duduk di tengah-tengah Lina dan Wuni.
Lina dan Wuni ikut tertawa, juga menitikkan air mata. Mereka berpelukan, serasa mentransfer tenaga pada Mayra agar selalu kuat melewati hari karena ada mereka yang akan selalu siap datang menemani kapan saja. Dari kursi sebelahnya, Rendra hanya bisa tersenyum, merasa bangga karena berada di tengah-tengah rekan kerja yang sangat keren.
"Permisi, Mbak, Mas, ini minuman dan camilannya yaa. Cepat dihabiskan! Biar nanti bibi ambilkan lagi, masih banyak stok di dapur." Ucap bi Marni sambil menata bawaanya _ dua jus jeruk, dua mineral botol dingin, dan dua toples kue kering.
"Yaaa sabar mas Ren! Kan nampannya tidak selebar daun kelor, jadi minumannya juga cuma muat segini dulu," jawab bi Marni gemas.
"Hahahahaahahaa, bi Marni tahu daun kelor tidak?" Tanya Wuni terbahak.
"Tahu dong, Mbak. Yang warnanya hijau kan?" Jawab bi Marni sekenanya.
"Hahahahahahaa, memang ada daun yang warnanya cokelat, Bi?" timpal Lina ikut menyerang bi Marni.
"Ya ada, Mbak. Dan pasti manis rasanya." Bi Marni tak mau kalah.
"Loh .. kok manis sih, Bi?" tanya Wuni benar-benar penasaran kali ini.
"Laaaah, makanya mbak Wuni punya pacar doong. Biar pas hari valentine ada pacar yang kasih mbak Wuni cokelat. Cokelat rasanya manis, kan?"
"Hahahahahahhahahahaa."
Semua orang yang ada di ruang tamu terbahak, tak terkecuali Mayra. Mereka tergelak karena jawaban nyeleneh bi Marni yang sebenarnya ngasal namun sangat tepat. Namun di tengah-tengah gelak tawa, tiba-tiba bi Marni sesenggukan. Orang-orang yang tadi tertawa kompak langsung diam kebingungan.
"Loh, kenapa, Bi?" tanya Rendra sok tidak tahu. Padahal dia paham betul bahwa Bibi gemasnya itu sedang menangis bahagia karena melihat nyonya mudanya akhirnya bisa tertawa lepas. Mata Rendra jelas menangkap sorot mata bi Marni yang sedari tadi tak lepas dari wanita kesayangannya. Mungkin lawakan bi Marni juga dari tadi sebenarnya ditujukan khusus untuk Mayra.
"Hehehehe, tidak apa-apa, Mas." Kilah bi Marni sambil menyeka air matanya. "Aduuh Bibi jadi malu nih. Mas Rendra ternyata tingkat kepekaannya luar angkasa juga, yaa. Kok bisa-bisanya loh tahu penyebab bi Marni sesenggukkan."
"Hahahahahahahhaha." Wuni terbahak lagi. "Padahal Rendra nanya loh, Bi. Kok dibilang tahu, sih?" Wuni memang sepolos itu.
"Hahahahahha." Kali ini Lina yang tertawa.
"Mas Rendra masih sendiri kan, ya?" Lanjut bi Marni meneruskan aksi ngebanyolnya. Momen itu adalah kesempatan baginya untuk mengeluarkan jurus-jurus andalan untuk membuat Mayra tertawa. Karena selama ini wanita paruh baya itu jelas bingung akan mulai dari mana jika ingin bercanda dengan majikannya itu. Sementara kedua majikannya sedang dalam kondisi yang tidak tepat untuk diajak bercanda sekecil apa pun itu bentuknya.
"Loh, kok bibi bisa tahu si? Mata bibi terbuat dari alat rontgen yaa yang bisa menembus lapisan kulit? Hatiku cuma ada setengah loh, Bi, belum utuh." sahut Rendra mengikuti permainan bi Marni.
Namun jawaban Rendra malah membuat Mayra mendelik. Apa maksud dari hati yang cuma setengah? Apakah lelaki itu masih berharap pada wanita itu ditengah suasana hatinya yang remuk lebur?
"Bi, minuman untuk saya masih di dapur kan, ya?" tanya Rendra lagi.
Bi Marni mengangguk.
"Ayo Bi kita ke dapur! Saya mau pilih sendiri minuman saya." Rendra bangkit dari duduknya dan langsung menggandeng bi Marni menuju dapur.
Dari tempatnya duduk, mata Mayra mengikuti langkah Rendra dengan banyak tanda tanya. "Mau apa sebenarnya bocah tengil itu?"