
"Mayra," ucap Mayra menyambut uluran tangan Erin. Keduanya sama-sama melempar senyum.
Malam itu keduanya saling berkenalan satu sama lainnya. Untuk Mayra, saat itu jelas adalah kali pertamanya bertemu dan tahu bahwa Azka memiliki asisten muda bernama Erin. Namun untuk Erin, malam itu adalah hari pertamanya melihat Mayra secara langsung. Gadis itu mengakui bahwa istri dokternya memang cantik, lebih cantik dari pada yang dia lihat pada foto yang terpajang di meja kerja Azka.
Tanpa Azka tahu, Erin sering memerhatikan foto Mayra dan Anggun yang ada di atas meja kerjanya jika dia sedang menyerahkan laporan harian. Erin yang diam-diam mengagumi Azka jelas sudah banyak mencaritahu tentang seluk beluk dokter muda itu. Tak terkecuali tentang Mayra. Walau Azka sama sekali tidak pernah membahas perihal keluarganya pada wanita mana pun, termasuk Erin, namun gadis muda itu punya banyak cara untuk mencari tahu hal yang ingin diketahuinya, dengan berbagai cara. Dan malam itu sangat kebetulan Erin bisa langsung bertemu dengan wajah wanita yang selama ini berhasil membuatnya penasaran.
"Mbak Mayra sedang apa di sini?" Tanya Erin penasaran sambil tetap berdiri di hadapan Mayra.
"Aku menunggu Azka. Dia ada di dalam," jawab Mayra ramah.
"Oooh dokter Azka ada di sini juga? Kebetulan. Aku juga ingin membeli sesuatu. Aku ke dalam dulu ya, Mbak," tukas Erin berlalu meninggalkan Mayra yang menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.
Di dalam minimarket, Erin sengaja berkeliling mencari lelaki yang dikenalnya, Azka. Tak lama, mata Erin langsung menangkap tubuh tegap Azka yang tengah berdiri di depan pemanas air sedang mengucuri dua cup mie instantnya.
"Malam, Dok," sapa Erin ramah langsung berdiri di samping Azka.
"Hai, Sus. Sedang apa di sini?" Azka bertanya kaget mengetahui tiba-tiba ada asistennya berdiri di sampingnya.
"Panggil Erin saja, Dok, hehe. Lagipula sekarang kan kita di luar rumah sakit," protes Erin yang tetap dipanggil 'Suster' oleh Azka padahal keduanya saat itu tengah berada di luar jam kerjanya. Erin ingin dokternya itu memanggil dengan sebutan nama saja agar terlihat lebih akrab.
"O-oh, iya." Azka meringis.
"Dokter ingin makan mie?" Erin menunjuk dua cup mie instant yang sudah selesai diberi air panas oleh Azka.
"Iya. Lumayan untuk mengganjal perut sebentar, dari pada masuk angin kan?"
Erin mengangguk mengerti. Dia melihat di depan Azka sudah ada dua cup mie instant yang sudah diseduh air panas dengan dua botol air mineral.
"Perlu saya bawakan, Dok?" tawar Erin yang menyadari bahwa dokter mudanya pasti akan kesulitan membawa semua makanannya itu.
"Tidak usah, Sus. Nanti biar saya bolak-balik saja," tolak Azka halus pada suster mudanya yang masih juga dia panggil 'Suster' sambil menenteng dua cup mie instant panasnya.
"Tidak apa-apa, Dok. Saya tidak keberatan, kok," tukas Erin langsung membawakan dua botol air mineral milik dokternya tanpa persetujuan.
Gadis itu menggenggam dua botol mineral dalam tangannya sambil membuntuti Azka berjalan keluar menuju meja Mayra. Di belakang Azka, Erin tersenyum girang seolah pekerjaannya itu adalah hal yang sangat membahagiakan hatinya.
Azka mendorong pintu minimarket dengan siku dan menahannya untuk membiarkan Erin lewat terlebih dahulu. Tindakan Azka itu jelas tertangkap mata Mayra yang langsung mendelik keheranan.
"Terimakasih, Dok," ucap Erin merasa seolah telah diperlakukan istimewa.
Azka hanya bisa menanggapinya dengan senyum tipis. Sementara mata Mayra masih menatap lekat pemandangan di depannya. Tak lama, Erin sampai di meja Mayra dan meletakkan kedua botol air mineral yang dibawanya.
"Silakan, Mbak," tutur Erin sambil meletakkan dua barang bawaannya pada meja Mayra.
"Terimasih banyak, yaa," jawab Mayra ramah.
"Sama-sama, Mbak. Saya langsung ke dalam lagi ya. Saya belum membeli barang keperluan saya soalnya, hehe," ucap Erin membalikkan badannya dan berpapasan dengan Azka. "Mari, Dok."
Azka mengangguk ramah lalu duduk dan menyerahkan satu cup mie instant pada istrinya.
"Di makan dulu, Yank! Sudah matang itu. Nanti kalau hujannya sudah reda, baru kita jalan lagi," ucap Azka sambil membukakan penutup cup mie instant milik Mayra.
"Itu benar asisten kamu?" tanya Mayra dengan nada cemburu.
"Iya," jawab Azka singkat.
Jawaban Azka yang singkat itu malah menimbulkan banyak tanya di otak Mayra. Dia curiga wanita bernama Erin itu tidak hanya asisten suaminya. Apalagi tadi Erin membawakannya mineral botol sudah macam asisten pribadi saja, dan Mayra tidak suka.
"Hanya asisten? Tidak lebih?" tanya Mayra lagi tanpa basa-basi.
"Hahaha, kamu kenapa, Yank?" Azka tertawa menyadari bahwa istri kesayangnnya itu sedang cemburu.
"Menyebalkan!" dengus Mayra sambil mengaduk mie instant di depannya.
"Dia asisten baruku, Yank. Baru beberapa minggu ini dia bergabung di rumah sakit. Dan kebetulannya dia jadi asistenku, tidak ada yang spesial," ujar Azka menjelaskan keadaan sebenarnya pada Mayra yang memasang wajah cemberut. Wanita kesayangannya itu memang cemburuan.
"Iya, iya. Dokter muda yang asistennnya juga muda, begitu kan? Memangnya tidak ada asisten yang usianya 50 tahunan begitu?"
"Hahahaha, iya nanti aku ajak bi Marni ke rumah sakit, ya," jawab Azka nyeleneh berhasil membuat istrinya berdecak gemas.
***
Di rumahnya, Rendra duduk seorang diri di kursi teras favoritnya memandang rintik hujan yang membasahi pohon beringin yang hanya setinggi setengah meter miliknya. Dengan memeluk gitar kesayangannya, lelaki yang malam itu hanya mengenakan kaos singlet yang menampakkan lengan kekarnya termenung memikirkan tiga nama wanita yang sedari kemarin bermain di pikirannya, Mayra, Lina, dan Raras. Pikirnya, kenapa dunia untuknya sesempit ini? Sampai ketiga wanita yang disukai dan menyukainya berkumpul jadi satu.
"Oiy!! Kalah ngalamun maneh mah! Cing atuh bisi kasurupan ayam mati, watir!" Ucap Rizal sambil melempar satu sukro dalam bungkusan yang dibawanya membuat Rendra menengok kaget. --(Oiy!! Malah melamun kamu sih! Awas takut kesurupan ayam mati, menghawatirkan!)
Lelaki itu kini ikut duduk di kursi sebelah Rendra menikmati hujan yang rintiknya mulai menipis.
"Aya tukang cuanki lewat mah ngeunah pisan ieu nya!" Lanjut Rizal sambil memasukkan satu genggam sukro dalam mulutnya. "Hayang?" Rizal menyodorkan bungkus sukronya pada Rendra.
--(Ada tukang cuanki lewat mah enak sekali ini ya!)
--(Mau?)
Rendra menggelengkan kepalanya namun tangannya tetap meraih bungkusan yang disodorkan Rizal dan menukarnya dengan gitar yang sedari tadi dipeluknya.
"Ini bocah, ya!!" dengus Rizal sambil menerima gitar Rendra.
"Hahaha, pindah posisi, Bang," kilah Rendra sambil mengunyah sukro yang terdengar renyah berbenturan dengan giginya.
"Eh, Bang, soal Mayra yang menghubungiku kemarin, ternyata itu bukan dia, euy." Rendra memberi informasi pada temanny yang kurang menyukai Mayra itu. Rendra berniat menjelaskan semuanya pada Rizal hanya agar temannya itu tidak selalu berburuk sangka pada Mayra.
"Bukan Mayra? Maksudnya?" tanya Rizal bingung. Dia memang belum mengetahui perihal ponsel Mayra yang hilang.
"Ponsel Mayra ada yang ambil. Dan kemungkinan yang mengambil ponsel itu adalah orang yang tidak suka pada Mayra."
"Hm, begitu.... Ngomong-ngomong si Mayra banyak yang tidak suka ya?"
Rendra mendelik menyatukan kedua alisnya mendengar pertanyaan Rizal. Dia sama sekali tidak setuju dengan pendapat temannya itu. Jika Rizal sudah mengenal Mayra lebih jauh, pastilah dia akan cepat menyukai wanita itu, dan Rendra sangat percaya itu.