
Pagi itu gerimis tipis. Jalanan aspal yang hitam sudah basah tersiram titik air yang turun dari langit membuat insan bumi enggan untuk beraktifitas. Gerimis di pagi hari memang paling enak dinikmati dengan secangkir teh hangat bersama orang tersayang. Namun berbeda dengan Mayra, pukul 08.02 dia sudah mendaratkan mobilnya di parkiran Griya. Dengan berpayungkan tas jinjing yang dibawanya, Mayra perjalan cepat memasuki rumah kerjanya itu. Sampai di depan pintu yang terbuka, Mayra mengibas-ibaskan bajunya yang terkena titikan hujan.
"Pagi, Mbak," Sapa Wuni yang telah berada di daun pintu sengaja menyambut Mayra datang.
"Hai, Wun. Tumben pagi?" Tanya Mayra yang tak biasanya melihat Wuni datang pagi-pagi apalagi dalam cuaca yang kurang bersahabat seperti pagi itu.
Wuni tidak bisa mengendarai motor apalagi mobil. Waktu itu Mayra pernah menawarinya untuk berlatih menyetir, namun Wuni menolaknya. Untuk itu selama bekerja di Griya, gadis itu selalu datang dan pergi menggunakan ojek.
⬅️
Saat Wuni berusia 6 tahun, ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil yang langsung disaksikan oleh mata kepalanya sendiri. Saat itu Wuni dan ayahnya tengah berduaan di dalam mobil untuk pergi ke taman hiburan malam. Namun naas, saat sedang asik berbincang perihal wahana apa yang nantinya akan Wuni naiki, sebuah truk dari arah berlawanan oleng melaju cepat menubruk mobil ayah Wuni. Mobil itu terpental jauh hingga ringsek. Ayah Wuni yang saat itu tidak memakai sabuk pengaman, tubuhnya terlempar keluar dan bagian belakang kepalanya membentur trotoar. Tubuh kecil Wuni yang saat itu telungkup di atas aspal hanya mampu menatap mata sang ayah yang juga tengah menatapnya. Dari kepala sang ayah mengucur darah segar yang membasahi matanya seolah menangis. Wuni ingin sekali berlari mendekati sang ayah namun tak mampu, kakinya sakit. Dan sejurus kemudian ayahnya mengembuskan napas terakhirnya setelah melempar senyum manis ke arah sang putri, seolah mengatakan, "Maafkan ayah, Nak. Ayah belum sempat membawa dan menemanimu menaiki komidi putar yang kamu inginkan."
Mata Wuni kecil langsung banjir air mata saat tahu bahwa mata ayahnya telah tertutup. "AYAAAAAAAAH!!!!"
➡️
"Hehe, iya, Mbak. Tadi pagi aku ikut tetanggaku yang kebetulan lewat sini. Lumayan kan gratisan," Ucap Wuni sambil meringis. "Mbak May juga tumben pagi-pagi sekali?" Tanya Wuni ikut penasaran karena biasanya leadernya itu paling cepat sampai di Griya sekitar pukul 08.30 bahkan lebih.
"Iya, Wun. Aku ada janji dengan teman. Ayo masuk! Dingin juga di sini," Ajak Mayra sambil menggandeng lengan Wuni. Namun langkahnya terhenti saat suara mesin motor terdengar memasuki parkiran.
"Itu dia!" Ucap Mayra pada Wuni menunjukkan bahwa teman yang dimaksudnya tadi sudah datang.
Seorang lelaki berusia 30 tahunan datang dengan menggunakan jaket parasut tebal dan tas gendong yang terlapisi parasut juga. Setelah meletakkan helm pada jok motornya, lelaki itu setengah berlari memasuki Griya untuk menghindari gerimis.
"Masuk, masuk!!" Tukas Mayra pada lelaki itu.
Mereka bertiga masuk dan duduk di kursi tamu. Wuni yang tidak mengenal siapa lelaki itu hanya diam memerhatikan saat si lelaki mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Wuni mendelik heran, tiga box ponsel yang masih tersegel sudah berada di atas meja.
"Ini, May. Kamu tinggal pilih saja ingin yang mana?" Ucap lelaki itu yang duduk bersebelahan dengan Mayra. Sementara Wuni duduk di hadapannya.
"Duh, aku kurang mengerti ponsel. Yang menurutmu bagus yang mana, Ted? Aku ambil," jawab Mayra menyerahkan pilihannya pada temannya yang bernama Teddy.
Teddy sebenarnya adalah teman Azka yang bekerja di sebuah toko seluler. Semalam Azka memintanya datang ke Griya dan membawakan beberapa ponsel keluaran terbaru untuk istrinya.
"Mbak Mayra ingin beli ponsel lagi?" Tanya Wuni setengah kaget karena yang dia tahu leadernya itu baru ganti ponsel beberapa bulan lalu.
"Iya, Wun. Menurutmu bagus yang mana nih?" Tanya Mayra meminta pendapat temannya.
"Hehehe, aku juga kurang mengerti ponsel, Mbak," aku Wuni meringis.
"Oke deh aku ambil yang itu saja. SIM card-nya juga bawa kan?" Tanya Mayra memastikan. Semalam Mayra sudah meminta Azka untuk memberitahu Teddy agar sekalian membawa SIM card untuk ponsel barunya.
"Bawa dong. Sebentar!" Teddy merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan banyak sekali SIM card dari sana.
"Hahaha, yaa ampun Teddy .. ini banyak sekali? Aku kan hanya butuh satu." Mayra terbahak melihat teman di sampingnya itu banyak sekali membawa SIM card dari berbagai macam provider.
"Hehehe, agar lebih enak kamu pilihnya, May," jawab Teddy setengah tersipu. Azka selama ini sudah banyak membantunya. Untuk itu kali ini dia akan melayani kebutuhan istri temannya itu dengan sebaik mungkin.
"Ya sudah aku mau ini saja. Lagi pula ini kan hanya untuk sementara. Besok aku urus nomorku agar kembali. Sayang kan, nomorku itu sudah lama aku pakai," Ucap Mayra sambil menyodorkan SIM card pilihannya pada Teddy agar di pasangkan pada ponsel barunya.
"Ponsel dan nomor mbak Mayra kenapa, Mbak? Rusak?" Tanya Wuni sambil melongo tak percaya karena semalam dia mendapat telepon dari ponsel Mayra tengah malam buta yang tak sempat dijawabnya karena terlalu nyenyak tidur.
"Tidak rusak Wun, tapi hilang."
"Hah? Hilang? Kapan, Mbak?"
"Kurang tahu, ya. Tapi aku sadar kalau ponselku hilang itu pas selesai sholat isya," jawab Mayra menjelaskan.
"Wah, apa jangan-jangan jatuh di Kopikita, Mbak? Mbak Mayra tidak kemana-mana kan setelah dari sana?" Tebak Wuni berasumsi. Mayra mengangguk.
"Minta tolong Rendra saja, Mbak. Dia kan punya kenalan di sana. Barangkali ponsel mbak Mayra diamankan pegawai di sana kan?" Lanjut Wuni semangat memberi masukan.
"Sepertinya sudah ada yang ambil, Wun. Soalnya nomorku itu kirim pesan ke Azka jam sepuluhan malam. Tapi ya sudah lah biarkan saja," Tukas Mayra tenang sambil menerima ponsel barunya yang sudah selesai di urus Teddy dan siap digunakan.
"Terimakasih ya, Ted. Berapa semuanya? Nanti aku transfer uangnya," Ucap Mayra mengalihkan matanya ke arah Teddy.
"Tidak usah, May. Urusan uang nanti biar saya dengan Azka saja. Saya langsung permisi, ya. Harus buka toko soalnya," Ucap Teddy sambil memasukkan barang bawaannya kembali dalam tasnya.
"Oh, oke. Sekali lagi terimakasih, Ted."
Teddy mengangguk lalu berjalan keluar Griya, sementara Mayra dan Wuni masih duduk di tempatnya melihat-lihat ponsel baru yang memang terlihat apik itu.
"May, bisa kita bicara?"
Suara seseorang yang tiba-tiba datang dan sudah berdiri di depan pintu berhasil membuat Mayra dan Wuni mendongakkan kepalanya terkejut.