MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Dokter Ganteng



Jangan lupa selalu sempatkan LIKE, KOMEN, dan VOTE tulisan Bebee ya teman-teman 😊


Terimakasih. Selamat membaca 😘


🍃


Suara mesin mobil terdengar memecah kesunyian rumah yang tak terlalu besar milik keluarga Azka. Azka yang sedari tadi tengah duduk gelisah di ruang tamu segera berlari menuju halaman rumahnya. Pikirannya yang tadi kacau karena tidak melihat Mayra dan anaknya di rumah, sekarang sudah lebih tenang saat mengetahui yang datang adalah mobil Mayra. Azka segera berdiri di samping pintu mobil sebelah kiri, di sana ia melihat Anggun sudah tertidur pulas dengan tangan yang masih menggenggam biskuit. Tanpa diminta, Azka segera memapah putri kecilnya itu dan membawanya masuk ke kamarnya. Mayra ikut berjalan di belakang Azka sambil menenteng sekantong kresek belanjaan.


"Kamu dari mana Yank malam-malam begini?" Tanya Azka pada istrinya yang tengah duduk di kursi dapur. Belanjaan yang ia bawa masih tergeletak di atas meja makan, belum sempat ia tata pada tempatnya. Azka menarik satu kursi dan ditaruhnya dekat dengan Mayra, ia duduk di sana. Lutut mereka saling bersentuhan.


"Beli susu Anggun, Yank. Sore tadi aku lupa beli. Ingat-ingat tadi pas Anggun minta tidur jam sembilanan. Jadi aku langsung keluar," jawab Mayra seadanya. "Katanya malam ini kamu lembur? Kok sekarang pulang?" Tanya Mayra heran. Karena siang tadi Azka sudah menelepon dan memberitahunya bahwa malam ini dia tidak pulang karena ada pasien darurat.


Namun Azka tidak mengindahkan pertanyaan Mayra. Ia malah lebih tertarik pada belanjaan istrinya yang cukup banyak itu. Azka tadi panik karena saat dia pulang, anak dan istrinya tidak ada di rumah. Sedangkan ponsel dan dompet Mayra ada di kamar. Azka sempat menghubungi bi Marni untuk menanyakan keberadaan istri dan anaknya itu, namun asisten rumah tangganya menjawab tidak tahu. Azka makin kalut. Ingin sekali ia menghubungi Lina tadi. Tapi niatnya ia urungkan, ia ingat bahwa hubungan Lina dengan istrinya sekarang sedang tidak baik-baik saja. Azka sangat khawatir kalau-kalau kedua wanita kesayangannya itu ada yang menculik.


"Kamu belanja sebanyak ini pakai uang apa, Yank? Bukannya dompet dan ponsel kamu ada di dalam?" Azka bertanya serius karena istrinya tak biasanya bepergian tanpa membawa dompet dan ponsel.


"Iya Yank, dompetku tertinggal di kamar. Mungkin karena aku buru-buru tadi," jawab Mayra tidak sesuai dengan pertanyaan suaminya.


Azka mendelik. "Jadi belanjaan ini kamu bayar pakai apa?" Azka sengaja mengulangi pertanyaannya.


"Aku tadi mampir ke rumah temanku yang dekat dengan minimarket. Aku pinjam uang padanya untuk membayar semua ini. Nanti segera aku transfer balik uangnya," jawab Mayra berbohong. Dia tidak mau nama Rendra disebut lagi di tengah-tengah dia dan Azka. Lagipula tidak mungkin juga dia akan jujur bahwa uang belanjaannya itu dari Rendra. Azka mungkin tidak akan percaya begitu saja jika nanti Mayra mengatakan padanya tentang Rendra yang tidak sengaja lewat di depannya.


Azka mengangguk mencoba percaya walau ia sebenarnya ragu. Ia jelas tahu kalau istrinya sedang menutupi sesuatu. Namun Azka tidak terlalu memermasalahkan itu. Yang terpenting baginya adalah anak dan istrinya pulang dengan selamat.


"Aku sekarang sengaja pulang sebentar ingin mandi dulu, sekalian ingin lihat nyonya Azka yang manis ini, kangen!" Ucap Azka sambil menggenggam tangan istrinya lembut.


Mayra tersenyum sambil melepaskan tangannya dari Azka dan memindahkannya ke leher Azka. Kedua tangan Mayra kini bergelayut di sana.


"Jam berapa harus kembali ke rumah sakit?" Mayra menggoda suaminya dengan mengelus-elus tengkuk suaminya.


"Haha, ingin apa memangnya?" Azka balik menggoda. Kedua tangannya kini ia lingkarkan pada pinggang Mayra.


"Hahaha, entah. Ingin apa ya???" Mayra pura-pura berpikir dengan melirik-lirikkan bola matanya ke kanan dan kiri.


"Hahaha, nanti saja ya, Yank. Aku sebenarnya sekarang sudah molor lama ini. Gara-gara kamu yang tiba-tiba hilang," Tukas Azka sambil menyentuh lembut hidung istrinya.


"Hmmm..." Azka berpikir sejenak. "Aku tidak ingin kamu hilang. Aku selalu berdoa pada Allah, agar kamu tidak pernah hilang. Tempatmu di sini, di sisiku, selamanya. Ya?" Azka sengaja bertanya. Ia ingin tahu jawaban istrinya yang akhir-akhir ini banyak menyembunyikan sesuatu darinya.


Mayra mengangguk tulus. "Pegang terus tanganku ya, Yank. Adakalanya aku salah arah. Tapi tolong kamu jangan lelah terus bimbing aku, ya? Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat menyayangimu. Kamu tahu itu kan?" Mayra berkata hampir menangis. Dia teringat semua kesalahannya pada suami terbaiknya itu. Kenangan-kenangan bersama Rendra pun berkelebat ikut mengisi kepalanya. Namun segera ia tepis semuanya.


"Insya Allah, Yank. Kamu akan selalu jadi istriku yang baik," Ucap Azka mantap sambil menangkupkan kedua tangannya pada tangan Mayra. "Ya sudah aku kembali ke rumah sakit, ya. Kamu cepat tidur temani Anggun. Aku pulang besok pagi-pagi. Dandan yang cantik ya?"


Mayra tersenyum lalu mengangguk.


***


Sudah pukul 3 malam sekarang. Rumah sakit sudah sepi. Semua pasien dan penunggunya sudah tertidur. Azka seorang diri berjalan menuju kamar pasien yang malam itu menjadi tanggung jawabnya.


Sampai di kamar Anggrek nomor 3, Azka membuka pintu itu perlahan. Di sana tertidur seorang pasien perempuan berumur 9 tahunan yang pada hidungnya terpasang selang oksigen. Di sampingnya sudah ada satu suster muda yang tengah mengganti kantong infusan yang telah habis. Azka lihat kedua orang tua pasien tengah tertidur pulas pada sofa yang ada di pojokan kamar. Namun tak lama, sang ayah dari pasien terbangun. Ia terkejut sudah ada dua orang berseragam putih berdiri di samping ranjang putrinya.


"Kenapa, Dok? Napas anak saya sesak lagi?" Tanya sang ayah panik mendekati Azka karena anaknya yang memang menderita asma kronis.


"Tidak, Pak. Anak bapak sudah membaik, napasnya sudah mulai normal. Saya kemari hanya ingin tahu perkembangannya saja," jawab Azka ramah sambil tersenyum. "Sudah, Sus?" Azka beralih bertanya pada suster Erin yang sudah menyelesaikan tugasnya. Suster Erin mengangguk.


"Ya sudah, Pak. Silakan bapak lanjutkan istirahatnya. Nanti setiap jam suster Erin akan kemari mengecek kondisi anak bapak," Ucap Azka sambil undur diri meninggalkan ruangan.


Kini Azka berjalan menuju ruangannya diikuti oleh suster Erin. Suster Erin adalah perawat baru yang sudah dua mingguan ini bekerja di rumah sakit Bahagia dan menjadi asisten Azka. Dia baru berumur 25 tahunan. Wajahnya yang bulat serta matanya yang lebar membuat wanita yang tidak terlalu cantik itu terlihat menarik.


Sampai di ruangannya, Azka langsung merebahkan tubuhnya yang lelah pada kursi meja kerjanya.


"Sus, saya ingin tidur dulu sebentar. Nanti kalau ada apa-apa dengan pasien, kamu tinggal bangunkan saya, ya?" Ucap Azka memberi perintah pada suster Erin yang berdiri di depan mejanya.


"Baik, Dok. Oh iya, ini hasil pemeriksaan saya tadi, Dok." Erin meletakkan satu lembar kertas hasil pemeriksaannya pada meja Azka. Azka mengangguk dengan matanya yang sudah terpejam.


Erin menatap wajah dokter muda itu penuh takjub. Dokter di hadapannya sungguh menawan. Lelaki muda, gagah, tampan, dan juga cerdas. Di rumah sakit bahagia, Azka terkenal dengan sebutan 'Dokter Ganteng', sebutan yang dengan tanpa rencana langsung disetujui oleh semua pasien yang pernah ditanganinya. Dan Erin pun setuju. Dokter muda yang mungkin sudah akan tertidur di depannya itu benar-benar tampan.


Erin perlahan undur diri dan keluar ruangan dengan diam-diam. Ia khawatir langkahnya membangunkan dokter yang ternyata diam-diam sudah dikaguminya itu.