MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Pengap



Azka menarik napasnya dalam. Entah sudah berapa ratus kali hari ini dia melakukan itu. Dadanya memang teramat sesak. Sepertinya ia perlu rongga dada yang lebih besar, pengap.


Di ruangan yang tak terlalu besar bercat putih itu, ia duduk seorang diri di samping ranjang istrinya yang masih tak sadarkan diri. Beberapa waktu lalu Mayra memang sudah sadarkan diri, karena kondisinya memang bisa disebut baik-baik saja. Namun beberapa saat kemudian, Mayra seolah kesurupan. Ia menjerit sejadinya, menangis, marah, lalu pinsan. Setelah sadar, Mayra menangis lagi, menjerit lagi, lalu pinsan lagi. Sudah beberapa kali hal itu berulang. Untuk itu Azka memilih untuk memberikan istrinya obat penenang. Dia tak kuasa melihat Mayra pinsan lagi dan lagi karena istrinya selama ini tidak pernah pinsan. Azka hawatir.


Di dalam ruangan yang berkeramik putih bersih dan berlampu terang itu, Azka merasa gelap. Seolah semuanya hitam. Pandangan di depannya semua buram karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Azka menggenggam erat tangan Mayra. Air matanya menetes di sana.


Tak lama, erangan tipis yang hampir tak terdengar keluar dari mulut Mayra. Namun di ruangan yang sepi itu, Azka jelas sekali mendengarnya, ia tahu istrinya akan tersadar lagi. Ia bangun dari kursinya dan mendekatkan diri pada Mayra.


"Yank??" Azka berujar lembut.


Mayra mendesah lagi. Kentara sekali suara tipis itu keluar dari dadanya yang juga sesak. Bulir bening seketika mengalir dari pojok mata yang belum terbuka. Mayra mengerang, lalu menangis. Ia sesenggukan dengan mata yang tetap tertutup.


"Istighfar, Yank!" Azka berusaha menguatkan suaranya walau ia sendiri sedang berada di titik lemahnya. Segera ia seka air hangat dari matanya sebelum Mayra membuka mata. Salah satu diantara mereka harus terlihat kuat, walau hanya pura-pura. Dan Azka akan mengambil peran itu.


"Astaghfirullahadziiim." Dengan suara yang bergetar, Azka bisikkan kalimat itu pada telinga Mayra lembut, berusaha membimbingnya untuk mengucapkan kalimat yang sama juga. "Astaghfirullahaladziim." Dada Azka sesak lagi. Namun Mayra masih tak membuka mulut maupun matanya. Hanya air matanya saja yang kian deras.


"Yaa Allah!!" Azka mengatur napasnya. Ia tengadahkan wajahnya menatap langit-langit, tangannya masih menggenggam tangan Mayra.


Di tempatnya berbaring, Mayra masih belum membuka mata. Namun tangisannya masih berlangsung. Dadanya naik turun, sesenggukan.


"Yank, bangun Yank! Anggun ingin bertemu kamu."


Mayra mendengar suara suaminya, namun ia berat untuk membuka matanya. Tubuhnya terasa sakit. Namun hatinya lebih sakit. Ia hanya berharap saat dia membuka mata, semuanya akan baik-baik saja, dan semua hanya bunga tidurnya.


*


Rendra berjalan berdampingan dengan Raras menuju kantin rumah sakit. Wajah ayu gadis muda itu kentara sekali sedang menahan bahagia. Kemana pun tujuannya, walau hanya ke kantin rumah sakit sekali pun, dan walau di sana nanti hanya meminum teh hangat satu gelas, jika bersama Rendra, semuanya terasa sempurna.


Raras tersenyum tipis, Rendra menangkap senyuman manis itu dan ikut tersenyum.


"Ayo, Pak cepat!!" Seorang ibu paruh baya bergamis batik cokelat dengan kerudung senada menarik lengan suaminya dengan mata yang basah.


Sang suami yang juga berwajah muram tak bisa mengelak ajakan istrinya. Dari kejauhan, kentara sekali bahwa mereka sedang terburu-buru entah hendak kemana. Rendra yang kebetulan berjalan satu lorong berlawanan dengan kedua orang paruh baya itu menghentikan langkahnya. Ia ingat wajah dua orang yang berjarak tak jauh darinya itu. Raras ikut menghentikan langkahnya. Ia mundur beberapa langkah. Menyetarakan posisinya dengan Rendra.


"Ada apa, Ren?" Raras menatap Rendra yang sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Lelaki di depannya itu terlihat terkejut.


"Ren??" Raras memanggil lagi.


"Tunggu di sini ya, Ras!"


Tanpa memperdulikan wanita yang tadi berjalan bersamanya, Rendra melangkah maju. Dia penasaran dengan tangkapan matanya. Dua orang paruh baya di depannya adalah orang tua Mayra. Walau sudah lama sekali tidak bertemu, namun Rendra masih ingat betul wajah ayah Mayra yang fotonya terpampang di album milik ayahnya. Mata Rendra memicing. Ia penasaran alasan apa yang membuat kedua orang tua Mayra sampai jauh-jauh datang ke Bandung padahal katanya kondisi Mayra baik-baik saja?


Dada Rendra mulai berdegup kencang. Dia khawatir pada Mayra. Dia pikir mungkin Gendis sudah membohonginya hanya agar dia mau pulang meninggalkan rumah sakit.


Tak lama, Rendra dan orang tua Mayra akhirnya berhadapan. Keduanya sama-sama menghentikan langkahnya sejenak.


"Permisi ya, Mas, kita sedang buru-buru," Ucap ibu paruh baya yang masih terlihat cantik kembali menarik lengan lelaki di sampingnya.


"Pak Sanusi??" Rendra menyapa kikuk. Walau dia masih ingat betul wajah ayah Mayra, namun dia tak yakin ayah Mayra akan mengingatnya. Terakhir mereka bertemu, Rendra masih kecil.


"Ya??" Bapak paruh baya yang disebut pak Sanusi itu mengiyakan panggilan Rendra dengan nada tanya.


"Alhamdulillah baik." Pak Sanusi menjabat tangan Rendra. "Adek ini siapa, ya?" tanya si bapak ramah. Istri di sampingnya yang tadi terburu-buru sekarang sedikit lebih tenang. Menghargai suaminya yang sedang berbicara dengan 'tamu'nya.


"Saya Rendra, Pak. Anak pak Bani Anggoro."


"Owalaaah Rendra yang dulu sering dibawa pak Bani ke rumah ya??" Mata pak Sanusi berbinar senang. Dengan bertemu dengan Rendra, ia berharap bisa bertemu juga dengan Bani Anggoro, sahabat lamanya. Si Ibu ikut tersenyum walau berat. Suasana hatinya sedang tidak mendukung. Tapi ia juga ikut senang karena bisa bertemu lagi dengan anak lelaki yang dulu sering digendongnya. Ia tatap tubuh Rendra dari atas sampai bawah, anak itu tumbuh dengan baik dan gagah. Si Ibu menepuk lengan Rendra lembut.


Rendra mengangguk. Dia bersyukur pak Sanusi masih mengingatnya, pun istrinya.


"Bapak dan ibu ingin menjenguk Mayra ya?" Tebak Rendra langsung.


"Kamu tahu juga kalau Mayra di rumah sakit ini?" Si Ibu akhirnya buka suara, sedikit tekejut.


"Tahu, Bu. Kebetulan saya satu kerjaan dengan Mayra," jawab Rendra seadanya.


"Owalaaah. Dunia memang sempit, yaa? Tapi Nak, kami tinggal dulu yaa. Kami buru-buru. Ngobrolnya bisa dilanjut nanti," ucap si Ibu akhirnya berani undur diri setelah baginya lumayan lama berbasa-basi di tengah waktu yang terasa sempit.


"Oh iya, Pak, Bu. Monggo." Rendra menggeser badannya dan memersilahkan keduanya melewatinya.


Pak Sanusi menepuk pundak Rendra lembut. "Jangan kemana-mana ya, Ren. Nanti kita ngobrol lagi."


"Baik, Pak." Rendra tersenyum senang.


Selepas perginya kedua orang tua Mayra, Rendra segera mengambil ponselnya dan menghubungi Gendis. Raras yang sedari tadi mematung di tempatnya berdiri, berlari mendekati Rendra. Namun dia tak berani bertanya. Wajah lelaki di hadapannya terlihat sekali sudah berubah. Raras tahu betul bahwa lelaki di hadapannya sedang gelisah. Mata Rendra menatap Raras sekilas dengan ponsel yang menempel di telinganya tanpa ekspresi. Ia tak sabar menunggu Gendis menjawab panggilannya.


πŸ“ž "Iya, Ren?" Suara Gendis di seberang akhirnya terdengar.


πŸ“ž "Mayra benar baik-baik saja?" Tanya Rendra meyakinkan.


πŸ“ž "Iya. Kenapa sih?"


πŸ“ž "Serius??" Rendra tak percaya.


πŸ“ž "Iyaaaaa!" Gendis menjawab panjang.


πŸ“ž "Kalau Mayra baik-baik saja, lalu kenapa orang tua Mayra terlihat buru-buru datang kesini?"


πŸ“ž "Hah??? Mereka ada di rumah sakit ini??"


🌼🌼🌼


Β 


Alhamdulillah yaaa akhirnya mau juga ini badan untuk Up walau semalem udah nggak jelas kayak apa πŸ˜†


Terimakasih yang masih setia baca.


Doakan selalu aku rajin Up yaa πŸ˜…


Hatur nuhun pisan sadayana 😘😘