MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Mulut Comel



Pagi itu meja makan rumah Azka terasa ramai walau hanya ditambah satu personel saja, Gendis. Mayra duduk di sebelah Azka, sementara Gendis bersebelahan dengan Anggun yang pagi itu sudah cantik duduk di kursi bayi. Ketiganya menyantap nasi goreng dengan banyak irisan sosis lezat buatan bi Marni, sementara Anggun duduk anteng sambil mengunyah suapan nasi dengan sayur sop dari tangan Mayra.


Mereka sibuk sendiri dengan suapan demi suapan sarapan lezat ke dalam mulut masing-masing. Terlebih Gendis yang sudah rindu dengan masakan asisten rumah tangga ponakannya itu. Jika bisa, ingin rasanya Gendis membawa pulang bi Marni ke kotanya dan menjadikannya tukang masak favoritnya. Gendis tersenyum sendiri menyadari betapa beruntungnya Mayra. Hidupnya sangat menyengkan dengan suami baik dan anak yang lucu, ditambah dengan bi Marni yang juga super dalam segala hal.


Tak lama, nasi dalam piring Azka sudah habis. Dia menyeka mulutnya dengan tisu yang tersedia di atas meja makan dan memundurkan kursinya.


"Aku siap-siap dulu, Te. Tante tambah lagi makannya mumpung ada bi Marni yang jago masak," goda Azka pada Gendis yang katanya memang rindu dengan racikan tangan bi Marni yang selalu bisa membuat masakan super enak itu.


"Dasar! Kamu ingin membuat tantemu ini gendut?" timpal Gendis sambil terkekeh.


"Hahahaha. Tenang saja, Te. Masakan bi Marni itu ajaib. Buktinya Mayra," ucap Azka melirikkan pojok matanya ke arah istrinya. "Dia setiap hari makan masakan bi Marni tapi badan tetap saja kurus itu."


Gendis terkekeh, Mayra mendelik.


"Biar!!" Mayra memeletkan lidahnya dan ikut bangkit mengikuti Azka yang juga bangkit hendak menuju kamar.


Keduanya berjalan menuju kamar. Sampai di sana, Mayra segera menyiapkan tas dan jas yang akan suaminya pakai.


"Hati-hati kerjanya!" Mayra menyerahkan tas dan jas putih yang diselipkan pada sela-sela pegangan tas jinjing Azka.


"Iya, sayang." Azka mengelus rambut Mayra dan mengecup keningnya.


Mayra memeluk tubuh harum suaminya erat. Sekejap dia sandarkan kepalanya pada dada bidang Azka.


"Kalau ada pasien cantik, jangan naksir, ya!" goda Mayra mengetuk-ketuk dada suaminya.


"Hahaha, iya kalau ingat, ya."


"Ish!!" Mayra melepas pelukannya. "Sudah, cepat berangkat sana! Aku hari ini ke Griya bawa Anggun ya. Mumpung ada tantenya."


"Kok mumpung ada tantenya sih?" tanya Azka keheranan.


"Iya, mumpung ada baby sitternya," goda Mayra sambil tertawa.


"Ih kamu ya!!" Azka mencubit hidung Mayra dan menggoyang-goyangkannya pelan.


"Hahaha. Oh iya sepulang dari Griya nanti, aku dan tante ingin jalan-jalan dulu, ya. Boleh?"


Azka mengangguk pelan sambil mengerucutkan mulutnya. "Iya, boleh, sayang."


***


Sekitar pukul 8.25 mobil Gendis yang di dalamnya ada Mayra dan juga Anggun mendarat di parkiran Griya. Wuni, Rendra, dan Anto sudah berdiri di depan pintu menyambut datangnya si pemilik Griya. Semalam Mayra sudah memberitahu mereka bahwa pagi ini Gendis akan datang ke Griya melalui WhatsApp grup. Dan semuanya menyambut antusias.


Dari dalam mobil, Gendis menatap ketiga karyawannya sambil melempar senyum. Namun matanya hanya tertarik pada satu orang, Rendra. Dari jarak yang lumayan dekat, Gendis mengakui kalau lelaki yang katanya ada hubungan dengan ponakannya itu memang gagah dan manis.


Gendis turun dari mobil diikuti Mayra yang menggendong Anggun. Melihat ada Anggun datang, Wuni buru-buru berlari dan mengambil alih Anggun, dia suka sekali anak kecil. Apalagi rambut Anggun yang hitam lurus seleher hari itu di kuncir dua oleh ibunya. Selama Wuni bekerja di Griya, hari itu adalah kali pertamanya dia melihat Mayra membawa Anggun.


"Si cantik, si cantik," ucap Wuni gemas menciumi Anggun yang kini ada dalam dekapannya. Anggun yang belum mengenal Wuni hanya menatap wajah itu keheranan lalu tersenyum memperlihatkan sederet gigi putihnya. Wuni semakin gemas dan menghujani gadis cilik itu dengan ciuman lagi dan lagi.


"Ayo masuk dulu!" ajak Gendis pada karyawannya setelah dia menyalami semuanya.


Gendis mendahului masuk ke dalam Griya dan langsung berkeliling melihat satu persatu ruang Griya yang ternyata banyak berubah dari kali terkahir dia berkunjung ke sana. Gendis tersenyum bangga karena Griyanya terlihat lebih lengkap dan rapi.


Setelah puas berkeliling, Gendis kembali ke ruang depan tempat semua karyawannya berkumpul. Saat baru sampai di ruang depan, Gendis menangkap mata Rendra sedang menatap Anggun lekat entah karena alasan apa. Gendis memicingkan matanya.


"Halo tante Gendis, aku Wuni." Wuni melambaikan tangannya bersemangat. Anggun duduk di sampingnya.


Semua karyawan sengaja Mayra instruksikan untuk memanggil Gendis dengan sebutan 'tante' agar sama dengan dirinya. Dan Gendis pun suka itu. Dia lebih suka dipanggil 'tante' daripada 'ibu'. Menurutnya, panggilan 'ibu' dirasanya terlalu formal.


"Halo juga Wuni yang cantik. Betah di sini?" tanya Gendis tersenyum ramah.


"Betah, Tant. Semua teman di sini baik," aku Wuni sejujurnya. Gendis mengangguk mensyukuri. "Ngomong-ngomong, tante lebih cantik aslinya loh daripada di foto." celetuk Wuni mengungkapkan isi hatinya.


Semuanya tertawa. Tak terkecuali Rendra dan Anto. Keduanya masih belum ambil bicara. Gendis melihat jam yang melingkar di pergelangan kirinya.


"Ngomong-ngomong Lina kemana ya?" tanya Gendis mencari satu karyawannya yang belum datang.


Gendis memang tahu bahwa Lina beberapa waktu ini sudah tidak pernah lagi datang ke Griya. Namun semalam dia sudah menelepon Lina untuk datang dan gadis itu mengiyakannya.


"Mbak Lina kan keluar grup, Tant. Mungkin dia tidak tahu kalu tante hari ini datang," ucap Wuni memberitahu bahwa temannya itu sudah lama keluar dari grup chat WhatsApp dan jelas Lina tidak tahu tentang pemberitahuan yang Mayra tulis pada grup itu.


Gendis terkekeh lagi. Dia akhirnya bisa mengetahui secara langsung tentang mulut blak-blakan Wuni yang sering diceritakan Mayra. Namun baginya gadis di depannya itu menggemaskan. Jarang-jarang ada gadis dewasa yang masih terkesan polos seperti Wuni.


"Semalam tante sudah telepon Lina, kok Wun. Dan katanya dia akan datang," tutur Gendis menjelaskan.


"Oooh." Wuni mengangguk-angguk membulatkan mulutnya.


"Rendra!" panggil Gendis mengagetkan lelaki di sampingnya itu.


"Iya, Tant," jawab Rendra refleks.


"Kamu betah di Griya ini?" tanya Gendis dengan pertanyaan yang sama dengan Wuni.


"Betah, Tant," jawab Rendra sambil tersenyum.


"Apa yang membuatmu betah di sini?" Tanya Gendis sengaja memberikan pertanyaan yang menjurus.


"Karena ada wanita yang disukainya, Tant," jawab Wuni refleks berhasil membuat semua orang yang berada di sana melirikkan mata padanya.


Melihat reaksi aneh semua teman-temannya, Wuni baru menyadari ucapannya. "Heh???" Wuni terkejut sendiri dengan kalimat yang meluncur begitu saja dari mulutnya.


Wuni meringis merasa bersalah, mimik wajahnya terlihat sekali bahwa dia bingung.


"Oooh, Rendra suka Wuni, ya???" tanya Gendis sengaja mengalihkan tujuan ucapan Wuni. Matanya sengaja ia buat genit sambil menatap Rendra.


"Hehehehe." Rendra meringis lega karena pikirnya Gendis tidak mengetahui hubungannya dengan Mayra.


"Ih bukan, Tant," Wuni menolak tebakan Gendis.


Mayra menelan ludah. Dia hawatir Wuni akan keceplosan memberitahu semuanya di depan seluruh rekan kerjanya.


"Rendra suka mbak, Lina tahu!!" ucap Wuni sekenanya. Dia hanya tidak ingin Gendis tahu bahwa Rendra mencintai ponakannya, pun sebaliknya.


Namun celaka, saat Wuni mengucapkan kalimat terakhirnya, Lina mendadak masuk dan sudah sampai di depan pintu.


Hening.