MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Semuanya Pas!!



"Hujan sudah reda, kita lanjut kemana?" tanya Mayra datar. Dia masih merasa cemburu dengan asisten muda suaminya. Pasalnya dengan tiba-tiba gadis itu datang dan langsung mengenalinya. Tandanya Azka sudah pernah bercerita tentangnya pada gadis itu, kan? Mayra palingkan wajahnya pada langit yang memang sudah berhenti menitikkan airnya. Hanya jalanan aspal basah yang tersisa di sana.


Azka terkekeh geli. Sudah lama dia tidak melihat ekspresi cemburu istrinya selain malam itu. Namun di dalam hati lelaki itu merasa senang, karena dengan Mayra cemburu, pertanda istrinya itu memang sangat mencintainya.


"Hm, bagaimana kalau ke Kopikita? Suasananya pas nih!" ujar Azka memberi saran.


Mayra mengangguk setuju masih dengan wajah malasnya dan langsung berjalan menuju motor yang basah. Mayra berdiri diam di sampingnya, melipat kedua tangan di dadanya.


Azka tersenyum lagi. Segera dia bangkit dari kursinya dan menyusul Mayra. Sampai di samping istrinya, Azka ambil kanebo yang ada di jok motor dan mengelap jok dan badan motor hingga lumayan kering.


"Yuk!!" ajak Azka yang masih sengaja membiarkan istrinya cemberut. Dia hanya ingin menikmati ekspresi lucu istrinya lebih lama. Azka hapal betul bahwa istrinya itu hanya merajuk, manja.


Mayra duduk di jok belakang tanpa menyentuh Azka sedikit pun. Duduknya sengaja dibuat menjauh dengan tangan yang masih ia simpan di depan dadanya.


"Tidak ingin peluk? Tidak dingin?" goda Azka melirik istrinya dari kaca spion.


Namun pemilik wajah ayu yang kini merengut itu hanya diam tak menjawab. Azka tertawa lagi. Dia sungguh gemas dengan istri kesayangannya itu.


"Ya sudah aku tancap gas, ya?" ucap Azka lagi yang masih terabaikan.


Walau tanpa jawaban istrinya, Azka tetap melajukan motornya menuju Kopikita. Walau dia sudah merasakan nikmatnya kopi dari Kopikita, namun malam itu akan menjadi kali pertamanya menikmati kopi itu langsung di tempatnya.


Tak lama, mereka sudah sampai di Kopikita. Di parkiran terlihat lumayan banyak kendaraan yang terparkir pertanda bahwa pengunjung di dalam juga banyak. Suasana selepas hujan dingin seperti malam itu memang paling enak dinikmati dengan secangkit kopi, pas!


"Hayuk!!" Azka menggandeng lengan Mayra yang masih bungkam. Keduanya berjalan berdampingan menuju Kopikita.


"Halo, Kakak, selamat datang lagi," ucap wanita penjaga kasir ramah yang tak lain adalah Raras.


Raras jelas hapal betul dengan wajah wanita di depannya. Wanita yang malam-malam kemarin bersitegang dengan pengunjung wanita lainnya sampai terjadi pertumpahan kopi.


"Hai, Mbak," jawab Mayra ikut tersenyum ramah mengenali wajah si penjaga kasir.


Azka yang berdiri di samping Mayra mendelik heran. Istrinya itu seketika membuang wajah cemberutnya saat menjawab sapaan pelayan Kopikita.


"Ingin pesan apa, Kak?" Raras menyodorkan menu pada Mayra dan lelaki di sampingnya yang terlihat sangat serasi.


"Original hot satu, ice satu. Dan roti bakar pisang keju cokelatnya satu, yang large ya, Mbak." Mayra sudah dengan lancar memilih menu yang terenak menurutnya di Kopikita tanpa menanyakan suaminya.


Azka hanya mampu terkekeh sambil menatap istrinya yang sedang berbicara dengan Si kasir. Raras sekilas menyaksikan tatapan dalam lelaki yang berdiri di samping pelanggan wanitanya itu. Lelaki itu kentara sekali sangat mencintai wanita di sampingnya. Sekilas Raras terpikirkan Rendra. Andai Rendra juga bersikap demikian padanya? Ah sudahlah! Untuk menghubunginya terlebih dahulu pun Rendra sungkan.


"Baik, Kakak. Akan segera kami buat," tutur Raras ramah.


Mayra dan Azka berlalu mencari tempat untuk mereka duduk. Mayra memilih meja nomor 7 yang kebetulan kosong. Wanita itu sengaja memilih meja itu untuk mengingat moment ponselnya yang kemarin diduganya hilang di sana.


"Enak ya di sini?" ucap Azka sengaja bertanya sambil mengelilingkan pandangannya pada seluruh area Kopikita. Walau cuaca sedang tidak mendukung, namun rupanya live musik di sana tetap berjalan demi menyuguhkan suasana yang semakin syahdu untuk para pengunjung cafe.


Mendengar ucapan suaminya, Mayra hanya mengangguk setuju tanpa berucap satu kata pun. Dia sengaja masih ingin bungkam sebelum suaminya menjelaskan padanya perihal asisten mudanya dengan lengkap dan jelas.


"Kamu masih kesal, Yank?" tanya Azka akhirnya penasaran.


"Kamu itu menggemaskan sekali ya! Rasanya ingin ku gigit saja pipimu itu!" ucap Azka dengan wajah gemasnya.


Mayra mulai berekspresi. Dia sebenarnya ingin tertawa, namun sebisa mungkin ia tahan demi mendapat penjelasan dari suaminya.


"Suster mudamu itu tadi langsung mengenaliku. Kamu pernah menceritakan tentangku padanya ya?" tanya Mayra menyelidik.


"Maksudnya??"


Mayra menarik napas pelan. "Dia tahu namaku 'Mayra', dan dia tahu bahwa wanita yang tadi duduk seorang diri di teras minimarket itu adalah istri dari dokter mudanya. Aneh kan? Dengan percaya dirinya dia datang padaku dan bertanya, 'Maaf, Mbak Mayra, ya?'" Ucap Mayra menirukan suara Erin.


"Hah? Masa sih?? Aku sama sekali tidak pernah memberitahu apa pun padanya perihal kamu loh, Yank," aku Azka jujur. Dia juga jadi bingung dari mana Erin tahu nama istrinya itu.


Namun perkataannya itu malah membuat mata istrinya semakin menajam. "Bohong!!"


"Serius, Yank. Aku tidak pernah sembarangan menceritakan tentang aku dan kamu pada siapa pun. Apalagi pada suster muda yang baru aku kenal itu," tukas Azka sejujurnya.


Mayra sebenarnya sudah paham bahwa suaminya itu tengah berkata jujur. Namun dia sengaja tetap merajuk karena hatinya masih merasa ada yang janggal dengan suster muda yang bernama Erin itu.


"Erin suka padamu?" tanya Mayra akhirnya mengeluarkan pertanyaan pamungkasnya.


"Kalau itu aku tidak tahu. Perlu aku tanyakan padanya?" goda Azka sambil memicingkan matanya.


"Ish!!" Mayra memelotokan matanya ikut gemas mendengar candaan suaminya.


"Hahahaha. Kamu tidak perlu khawatir, Yank. Aku dan semua yang ada dalam diriku, semuanya milik kamu," ucap Azka menangkupkan kedua tangannya pada tangan Mayra.


Dari kejauhan, Raras yang berjalan membawa nampan berisikan pesanan Mayra menatap ikut bahagia. Pasangan di depannya terlihat sangat menyenangkan. Dalam pikiran gadis cantik pembawa nampan itu, dua sejoli di depannya adalah sepasang kekasih, bukan suami istri, karena keduanya masih terlihat sangat muda.


"Permisi, Kak. Ini pesanannya," ucap Raras ramah sambil meletakkan dua kopi dan satu roti bakar besar pesanan pelanggannya di atas meja.


"Terimakasih, Mbak." Mayra tersenyum ramah, Raras mengangguk seraya pergi.


"Dingin-dingin begini kamu kok malah pesan es sih Yank?" Azka mendelik pada gelas Mayra yang berembun.


"Iya. Soalnya di dalam sini sedang panas!!" jawab Mayra dengan wajah yang dibuatnya seolah garang.


"Oh iya, iya. Hahahaha." Azka tertawa menimpali candaan istrinya.


"Eh, Yank, pelayan tadi cantik ya??" bisik Mayra pada suaminya dengan mencondongkan badannya meminta pendapat perihal Raras.


"Lumayaaan," jawab Azka sekedarnya sambil mencomot roti bakar yang keju dan cokelatnya meleleh menggoda.


"Kok lumayan sih?? Lebih cantik dari Erin loh itu!" tukas Mayra masih saja menyebut nama asisten suaminya.


"Hahahahaha." Azka sengaja hanya menjawab candaan istrinya dengan tawa. Dia tahu wanitanya itu sedang memancingnya. Dan dia takkan terpancing.


Dari tempatnya duduk, Raras masih memerhatikan pasangan yang tengah tertawa itu. Semenjak kejadian kopi tumpah waktu kemarin, Raras sudah yakin bahwa wanita di seberangnya itu adalah orang baik. Dan malam itu dia semakin yakin dan sangat maklum jika wanita sebaik dia mendapatkan lelaki yang terlihat sangat mencintainya pula. Pas!!