MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Dua Sejoli



"Sebelumnya, aku ucapkan terimakasih pada teman-teman yang sudah mau meluangkan waktunya untuk datang ke pesta sederhanaku ini," Ucap Raras sambil memegang pisau kue yang siap dia pakai untuk memotong black forest bertabur cokelat putih di depannya. Sesekali Raras mencuri pandang pada Rendra yang berdiri beberapa meter di hadapannya.


"Dan super terimakasih untuk kakakku yang malam ini terlihat lumayan ganteng...." Ucap Raras terputus karena riuhan suara teman-teman yang menyorakinya.


"Huuuuuuuu."


Raras tertawa kecil sambil menatap Budi. Kakak semata wayangnya itu ikut terkekeh.


"Dia bilang ganteng karena ada maunya ituuuuu," ucap Budi balik meledek adiknya.


Raras tertawa lagi, kali ini sambil malu-malu. Karena saat dia mengedarkan pandangan pada arah para tamunya, ia lihat Rendra sedang tertawa juga. Lelaki itu manis sekali.


Malam itu Raras bahagia bukan kepalang. Dia tidak pernah menyangka bahwa dipertambahan umurnya tahun ini, dia kedatangan tamu istimewa. Rendra, lelaki tampan yang sudah lama dia idam-idamkan. Melihat Rendra yang tertawa langsung di depannya, membuat Raras memainkan imajinasinya dengan membuat lelaki pujannya itu tertawa dengan mode slow motion. Andai waktu bisa dihentikan sejenak, Raras ingin berjalan mendekati Rendra dan berdiri di depannya. Dia ingin sekali melihat tawa lelaki itu lebih dekat.


***


Acara inti ulang tahun Raras sudah selesai. Beberapa teman Raras sudah ada yang pulang, dan beberapa lainnya masih bertahan di Kopikita menikmati musik akustik yang dimainkan oleh band teman-teman Budi. Rizal tampak santai duduk di meja bersama empat kawan lainnya termasuk Budi. Sementara Rendra kini sedang berdiam diri di dalam toilet karena bingung. Rizal memintanya untuk datang ke belakang cafe untuk menemui Raras. Sebenarnya Rendra tidak ingin datang, namun Rizal sedari tadi mendorong-dorong Rendra agar mau pergi ke belakang.


Bagian belakang cafe Kopikita adalah lahan tanah yang tidak terlalu luas yang di setiap pinggirannya ditanamni pohon beringin yang hanya setinggi 1,5 meter. Di sana juga terdapat empat meja lengkap dengan kursinya untuk menampung pengunjung yang ingin menikmati kopi beratapkan langit. Lampu tumbler warna-warni menyala di sepanjang tembok pembatas bangunan turut menghiasi malam. Indah sekali di sana.


Setelah berpikir cukup lama, Rendra akhirnya memutuskan untuk datang. Ia berjalan seorang diri ke area belakang cafe. Di sana sudah ada Raras yang duduk membelakangi Rendra yang menghentikan langkahnya sejenak. Rendra kembali bingung memikirkan harus berbicara apa nantinya. Karena menemui Raras di sana bukanlah keinginannya. Semua dia lakukan demi kakak gadungan kesayangannya itu.


Rendra mendengus bingung. Namun demikian dia tetap melanjutkan langkah kakinya mendekati Raras. Dari belakang ia pandangi rambut Raras yang hitam lurus menyentuh pinggang. Wanita itu memang anggun sekali. Berbeda sekali dengan Mayra yang berambut pendek dan sering petakilan. Walau pada momen tertentu Mayra juga bisa menjadi wanita yang anggun bukan main.


"Hah! Mayra lagi, Mayra lagi!" Rendra bergumam dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menepis pikirannya sendiri. Lama-lama dia bisa gila juga jika semua hal selalu dia bandingkan dengan Mayra.


Rendra terus berjalan menghampiri Raras hingga kini dia sudah berada di hadapannya. Tanpa permisi, lelaki gagah itu langsung duduk pada kursi di depan Raras. Wanita berparas ayu itu tersenyum menyambut ramah.


"Hai," ucap Raras lebih santai daripada awal bertemu tadi.


"Hai juga," jawab Rendra kikuk. Dia bingung kenapa wanita di depannya mengucapkan 'Hai' lagi. Padahal saat baru datang tadi, Raras juga sudah menyapanya dengan 'Hai'.


"Ngomong-ngomong, ada apa kamu mengundangku kemari?" Tanya Raras tho the point. Dia sudah penasaran kenapa lelaki di depannya itu memintanya datang ke belakang cafe.


Mendengar pertanyaan Raras, Rendra menggaruk alis matanya yang tidak gatal. Dia yakin dia telah dijebak oleh kakak gadungannya itu.


"Mm, tidak apa-apa sih. Ingin duduk berdua saja, hehe," Jawab Rendra bingung sambil nyeringis tak karuan.


Raras tersenyum malu. Pikirnya, lelaki di depannya itu tertarik padanya. Rendra meringis lagi. Dia menggigit bibirnya bingung.


Hening. Keduanya sama-sama bingung ingin membicarakan apa.


"Oh iya, kamu setiap malam bantu-bantu di sini?" Tanya Rendra akhirnya memecah sunyi.


"Hm, tidak juga sih. Ya, kalau di rumah lagi bosan saja aku baru kesini. Kenapa memangnya?" Raras menatap mata Rendra manja. Senyum manisnya tak pernah lepas dari bibirnya yang berlipstik tipis pink kemerahan.


"Hehehe." Rendra meringis lagi. Ia merasa sudah salah bertanya. Pertanyaannya yang ia lontarkan tadi mungkin akan membuat gadis di depannya berharap.


"Oh iya sudah mampir saja, Ren. Di sini asik kok kalau malam," tukas Raras sudah mulai menikmati suasana. Rasa gugupnya sudah memudar.


Begitu pula Rendra. Lelaki itu diam-diam juga sudah menikmati suasana. Raras ternyata asik juga untuk diajaknya berbincang. Rendra tersenyum lalu menundukkan kepalanya sungkan. Raras terkekeh.


Sementara di luar, satu mobil putih dengan dua orang di dalamnya mendarat di parkiran. Kaca jendela mobil terbuka setengahnya. Parkiran cafe Kopikita memang terbilang sangat luas. Lahan dari parkiran menuju cafe lumayan lebar.


"Mas, Mas, maaf numpang tanya," ucap si penumpang wanita melongokkan kepalanya dari dalam menghentikan satu pemuda yang kebetulan lewat.


"Iya, Mbak, ada apa?" Jawab si pemuda mendekatkan diri pada mobil putih yang akan dilewatinya.


"Cafe ini sudah tutup?" Tanya si penumpang sambil menunjuk papan bertuliskan 'CLOSE' yang tak jauh dari mobilnya berhenti.


"Iya, Mbak, betul," jawab si pemuda singkat.


"Loh, tapi bukannya di dalam masih banyak orang, ya?" Kini tangan si penumpang menunjuk ke arah kerumunan orang di dalam cafe.


"Iya, Mbak. Cafe ini sedang dipakai untuk acara ulang tahun," jawab si pemuda lagi.


"Oooh begitu. Iya, iya. Ya sudah terimakasih ya, Mas," ucap si penumpang ramah. Si pemuda mengangguk sambil berlalu.


"Yah, besok lagi ya, Yank?" Ucap si penumpang menyesal pada lelaki di sampingnya. "Padahal aku sendiri juga penasaran, loh. Katanya sih kopi di sini enak."


"Ya sudah tidak apa-apa, Yank. Kapan-kapan kita kesini lagi. Kita langsung pulang saja ya? Kasihan Anggun," jawab si lelaki itu lembut sambil melajukan mobilnya.


***


Rendra dan Rizal kini sudah berada di rumah. Mereka merebahkan tubuhnya pada sofa berhadapan. Rendra meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya sambil terpejam. Sementara Rizal menatap temannya itu tajam.


"Oy, bagaimana tadi? Lancar?" Rizal penasaran tentang hasil dari rencananya mencomblangkan Rendra dengan adik temannya itu.


"Ya anggap saja lancar. Biar kau senang, Bang," Jawab Rendra sambil tetap terpejam.


"Hahaha, asem kali kau! Rasanya aku ini sudah macam datuk Maringgih yang menjodohkan Siti Nurbaya saja," ucap Rizal asal.


"Hahahaha, edan kau, Bang!! Mana ada datuk Maringgih menjodohkan Siti Nurbaya? Hahahaha." Rendra terbahak sambil masih terpejam.


"Eh kenapa memangnya? Ada yang salah?" Rizal bertanya keheranan.


"Hahaha, tau ah, Bang. Kesal aku denganmu." Tawa Rendra pecah lagi. "Awas saja kau Bang! Akan ku balas perbuatanmu dengan balasan yang amat pedih!!" Ancam Rendra sambil mendelik tajam.


"Hahahaha, sudah macam pelaku riba saja aku lah," tawa Rizal ikut pecah. "Sudah, sudah! Abangmu ini mau mandi dulu biar cepat-cepat ganti baju. Muak sekali Abang lihat baju ini," ucap Rizal sambil mencubit bajunya.


"Hahahahahahaa." Rendra terbahak memecah malam.


Rizal diam-diam tersenyum. Dia senang melihat 'adik'nya tertawa lepas. 'Semoga kamu selalu bahagia, Ren.'