MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Andai dan Andai



Beberapa jam sebelumnya ....


"Ingin kemana, Mbak?" Tanya bi Marni yang seketika berhenti menggerakkan kemoceng dari tangannya. Bufet kayu yang sedang ia bersihkan baru tersentuh setengahnya.


Bi Marni langsung beranjak dari tempatnya berdiri menghampiri majikan mudanya yang baru keluar dari kamar dengan menggendong Anggun yang tangannya menggenggam permen susu. Bi Marni tahu bahwa sedang ada sesuatu yang tidak beres dengan majikannya itu. Majikannya tidak seperti biasanya tidak keluar kamar untuk sarapan. Dan bi Marni pun melihat Azka berangkat kerja seorang diri karena kebetulan saat Azka memasuki mobilnya, bi Marni sedang membersihkan taman depan.


Bi Marni pandang Mayra yang berhenti di depan pintu kamarnya. Wanita muda itu jelas sekali hanya memoles wajahnya seadanya. Rambut sebahunya juga hanya diikat sekenanya. Celana jeans dengan kaos garis-garis menempel di tubuhnya, sesimpel itu. Namun satu yang sangat menarik perhatian bi Marni, yaitu mata Mayra yang jelas sekali terlihat sembab.


"Perlu Bibi bantu, Mbak?" Tawar bi Marni seraya menyodorkan tangannya hendak mengambil tas jinjing bermotif bebek yang Mayra bawa, tempat membawa keperluan Anggun.


"Tidak usah, Bi. Terimakasih." Mayra melempar senyum yang diusahakannya sewajar mungkin. Walau sebenarnya dia sedang tidak semangat untuk tersenyum.


"Mbak Mayra ingin kemana? Bibi ikut, ya? Biar nanti Anggun dengan bibi." Bi Marni masih semangat menawarkan bantuan. Dia hanya tidak ingin membiarkan majikan mudanya yang terlihat kacau itu bepergian sendirian.


"Aku sendirian saja, Bi. Bibi jaga rumah saja, ya!"


"Mbak Mayra ingin ke Griya, ya? Perlu Bibi telfonkan mbak Gendis saja untuk menjemput? Atau mbak Mayra pesan mobil online saja? Bibi lihat mbak Mayra sedang kurang sehat, bibi hawatir kalau mbak Mayra bawa mobil sendiri," ucap bi Marni sambil tertunduk.


Mayra tersenyum lagi. Kali ini benar-benar dari dalam lubuk hatinya. Ibu paruh baya di depannya memang benar-benar baik dan tulus. Mayra memegang bahu bi Marni dengan satu tangannya.


"Aku baik-baik saja, Bi." Mayra melempar senyumnya lagi. "Bibi di rumah saja, aku hanya sebentar kok. Nanti tolong bibi masakkan aku cumi saos tiram ya. Selepas aku menyelesaikan urusanku, aku ingin makan, lapar, hehe."


"Mbak Mayra bisa tunda waktu sebentar saja? Biar bibi masak dulu. Mbak Mayra harus makan dulu!" Tanpa meminta persetujuan majikannya, bi Marni segera berlalu menuju dapur untuk memasakkan majikannya cumi saos tiram, makanan kesukaan Mayra.


Mayra menggeleng pelan dan tersenyum melihat punggung bi Marni yang berlalu, ia lalu ikut berjalan mengikuti bi Marni.


"Bi, tidak usah! Nanti saja masaknya. Aku harus berangkat sekarang. Aku tidak akan bisa makan kalau pikiranku masih semrawut begini," ucap Mayra berhasil menghentikan bi Marni yang sedang sibuk mengambil cumi dan bahan-bahan yang lain dalam kulkas.


Bi Marni menegakkan tubuhnya lagi. Pintu kulkas di depannya masih terbuka. Ibu paruh baya itu lalu menghela napas pelan, menutup pintu kulkas dan berjalan menuju majikan mudanya.


"Ya sudah, Anggun biar dengan bibi saja ya, Mbak." Bi Marni masih belum menyerah. "Anggun di sini saja main dengan bibi yaa sayang?" Mata dan tangan bi Marni kini beralih pada Anggun, berharap gadis cilik itu merentangkan tangannya dan menghambur dalam pelukannya. Namun Anggun hanya diam. Mayra terkekeh.


"Sudah ah, Bi! Bibi ini yaaa. Bibi ini terlalu khawatir denganku, makanya jadi over protective seperti ini." Mayra terkekeh lagi. "Aku akan baik-baik saja, Bi. Bibi cukup doakan saja, ya. Aku pamit. Assalamualaikum." Mayra akhirnya melenggang pergi. Menyisakan bi Marni yang mematung pada tempatnya berdiri.


"Waalaikum salam, Mbak. Hati-hati," jawab bi Marni lirih, matanya menatap setiap langkah majikannya, serasa berat tak seperti biasanya.


"Kita ke tempat papah ya, sayang," ucap Mayra menatap Anggun lembut. Gadis kecil itu tertawa kegirangan.


Mobil melaju pelan. Jalanan ramai lancar. Namun tidak dengan pikiran Mayra. Pikirannya serasa buntu. Dia tahu suaminya marah dan kecewa. Mayra sangat menyayangkan tindakannya malam itu di Kopikita yang telah dengan iseng ingin tahu keberadaan Rendra. Kalau saja dia tidak ke toilet, dan kalau saja Rendra tidak datang padanya?


Mayra menggelengkan kepalanya. Tidak ada gunanya berandai-andai. Semuanya sudah terjadi. Tidak ada gunanya pula menyesal. Tugasnya sekarang adalah memperbaiki semuanya. Untuk itu dia ingin menemui Azka di rumah sakit sekalian mengajaknya makan siang. Mayra mengangguk pelan, meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Baru setengah perjalanan, Mayra tengok Anggunnya. Mata gadis kecil itu sayup-sayup mengatup. Mayra terkekeh. Segera ia nyalakan sein kiri untuk berhenti sebentar. Anggun yang masih duduk menyender pada jok langsung Mayra tidurkan. Posisi kepalanya berhadapan dengan pintu. Sementara kakinya menyentuh paha Mayra. Mayra tatap wajah putrinya yang polos, ia tersenyum lalu menancap gasnya lagi. Di rasa Anggun sudah dalam posisi yang nyaman, Mayra menambah kecepatan mobilnya.


Mata wanita itu fokus ke arah depan. Jalanan di depan lumayan lengang. Mayra menambah lagi kecepatan mobilnya. Hingga sampailah ia pada perempatan jalan, pas lampu sedang berwarna kuning yang sebentar lagi berubah merah. Mayra langsung menginjak rem kakinya karena saat dia sudah mendekati garis zebra cross, lampu sudah berwarna merah. Mobil Mayra menjadi yang pertama mendarat di sana. Tak lama, kendaraan-kendaraan lain menyusul.


Tak jauh dari perempatan jalan itulah rumah sakit tempat Azka bekerja berada. Dari lampu merah, Mayra tinggal jalan lurus, dan cukup melajukan mobilnya 500 meteran lagi, maka dia akan sampai di rumah sakit Bahagia. Mayra sudah tidak sabar ingin bertemu dengan suaminya yang pagi itu mengabaikannya.


Pagi-pagi sekali Azka sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melingkar di perut hingga lututnya. Rutinitas harian, selama Azka berada di dalam kamar mandi, Mayra pasti sudah menyiapkan pakaian yang akan dikenakan suaminya hari itu dan ia letakkan di atas kasur. Pun dengan pagi itu. Walau dari semalam Azka mendiamkannya, namun Mayra tak melupakan rutinitasnya itu. Celana dongker gelap dengan kemeja biru muda lengkap dengan pakaian dalam Azka sudah tertata rapi di atas ranjang. Mayra dengan senyum sumringah bersiap menyambut suaminya yang berjalan ke arahnya. Namun diluar dugaan, Azka melengos. Pakaian yang sudah disiapkannya sama sekali tak disentuhnya.


Azka berjan melalui Mayra yang masih berdiri di tempatnya. Lelaki gagah itu lalu membuka lemari dan mengambil pakaiannya yang lain.


"Yank, aku sudah siapkan pakaianmu, loh," ucap Mayra mendekati suaminya. Namun Azka tak acuh. Dia tetap memilah pakaiannya yang lain yang terjejer rapi dalam lemari.


"Kamu masih marah padaku, Yank?" Mayra berdiri di belakang suaminya tanpa berani menyentuhnya. Azka masih diam.


Tanpa memperdulikan Mayra, Azka mulai memakai satu persatu pakaiannya. Hingga tak lama, tubuhnya sudah rapi dan wangi. Dengan berdiri di depan cermin, Azka menyisir rambutnya rapi. Ketampanan lelaki itu terpantul dan tertangkap mata Mayra yang sedari tadi tak lepas dari suaminya. Selesai berdandan, Azka menghampiri ranjang Anggun dan mengecup keningnya lembut. Mayra mengikuti.


"Aku tidak??" Sergah Mayra ingin dikecup juga. Namun Azka tak goyah. Walau sebenarnya hatinya ingin sekali memeluk tubuh dan mengecup kening istri yang semalaman sudah diabaikannya itu.


Azka melangkah mantap walau hatinya gontai. Baru kali itu dia berangkat kerja tanpa berpamitan dengan istrinya. Mayra mematung menyaksikan Azka pergi dan menutup pintu kamarnya. Mayra berjalan menuju ranjang tidurnya dan duduk sambil memeluk pakaian Azka yang sudah disiapkannya. Dia menangis. Meremas keras pakaian Azka dan mengecupnya kesal.


Di luar kamar, setelah menolak tawaran sarapan dari Gendis, Azka berjalan menuju mobilnya dengan matanya yang berkaca. Bagaimana pun juga, menyakiti Mayra walau tujuannya bukan untuk menyakiti, tetap saja membuat hatinya sakit.


Mayra tertegun menyaksikan lalu lalang kendaraan di depannya. Matanya setengah kosong. Hingga entah suara dari mana, telinga Mayra menangkap ada bunyi klakson yang riuh membuyarkan lamunannya. Dia pikir itu adalah suara klakson dari kendaraan di belakangnya yang memintanya untuk jalan. Dan tak pikir panjang, Mayra langsung menginjak gas dan melajukan mobilnya cepat. Namun kenyataannya lampu masih berwarna merah, sementara mobil Mayra sudah melaju. Dan dari arah kirinya melaju juga satu mobil silver dengan cepat yang pengendaranya sedang asik memainkan telepon genggamnya. Mayra yang arah tujuannya memang hanya lurus, tak mengindahkan arah kanan dan kirinya. Dia tak tahu jika dari arah kirinya melaju mobil yang cepat. Hingga ....


BRAAK!!!


Mobil silver itu menabrak tepat di area pintu sebelah kiri tempat Anggun tidur. Pintu itu penyok, membentur kepala Anggun dengan keras. Mobil Mayra terlempar lumayan jauh. Mayra langsung merasakan pusing di kepalanya akibat terlempar membentur jendela. Mayra yang memang kepalanya sudah berat karena lama menangis saat di rumah tadi, menatap Anggun yang tak bergerak. Gadis kecil itu masih tertidur. Dia sama sekali tidak menangis. Mayra menghela napasnya di tengah kepalanya yang pusing berat. Dia masih bisa mendengar sayup-sayup suara orang di luar yang langsung mengelilingi mobilnya. Pelan, Mayra mulai berat membuka matanya, semakin lama semakin berat, hingga semuanya menjadi gelap.