
"Yank kamu sudah siap-siap ingin berangkat?"
Mayra yang masih bersembunyi dalam selimut mendapati suaminya sudah rapi dengan kemejanya dan sedang fokus memasang dasi. Mayra lihat jam pada dinding kamarnya, pukul 5 pagi.
"Yank, sekarang masih sangat gelap," ucap Mayra mengusap mata dan bangun dari tidurnya. Azka diam tak menjawab. "Yaaank?? Ada pasien darurat ya di rumah sakit?"
Mayra memeluk tubuh suaminya dari belakang. Ia bergelayut manja. Kalau suaminya berangkat pagi buta begini, apalagi dadakan, biasanya memang ada pasien yang butuh pertolongan segera.
Mayra menidurkan kepalanya pada punggung Azka yang bidang. Ia masih mengantuk, matanya ia pejamkan. Aroma parfum Azka membuatnya semakin nyaman berada di sana. Sementara suaminya itu masih fokus memasang dasi yang belum juga rapi.
"Yank, belum selesai juga pasang dasinya?" Mayra bertanya masih dengan mata terpejam karena tubuh Azka yang masih saja bergerak.
"Sini biar aku yang pasangkan." Mayra bersiap merapikan dasi suaminya. Namum tangan Azka menampiknya.
"Tidak usah!!"
Mayra terkejut. Ini kali pertama suaminya itu kasar padanya.
"Yank? Aku ada salah?" Mayra bingung.
"Bukannya kemarin kamu minta maaf kan?!! Tandanya apa??" Azka sinis.
"Iya, Yank. Tapi...."
"Tapi apa?!! Gila kamu ya!!"
"Yank. Anggun masih tidur. Jangan keras-keras!" Mayra menempelkan satu jari telunjuk pada bibirnya. Dilihatnya Anggun masih nyaman tertidur.
"Nah itu pintar. Pikirkan Anggun dulu kalau ingin melakukan hal bodoh!!"
Mayra hanya bisa diam. Ia baru tahu suaminya bisa semarah ini. Ia yakin suaminya marah karena soal Rendra. Namun Mayra tidak menyangka semuanya akan menjadi runyam secepat ini. Suaminya yang selalu lemah lembut padanya akhirnya mampu membentaknya?
BUG.
Azka membuang cincin dari jari manisnya ke atas kasur. Mayra menelan ludah. Dia langsung menangis dan segera mengambil cincin itu dan hendak memasangkannya lagi pada Azka.
"Yank, please!" Mayra meraih jari suaminya hendak memasangkan kembali cincin pernikahan mereka. Namun Azka menampiknya lagi.
"Ambil!! Silakan kamu berikan pada lelaki mana saja yang kamu ingin!!"
Azka meninggalkan Mayra. Dia berjalan cepat keluar kamar. Mayra berlari mengejar suaminya.
"Yank!! Aku tidak ada maksud untuk menyakitimu. Aku hanya...."
BRAG.
Azka mendorong tubuh Mayra yang saat itu menahan lengannya hingga tersunggur ke lantai.
FUWH!!!
Mayra terbangun. Napasnya memburu. Dilihatnya Azka masih tertidur pulas. Mayra mengusap dahinya yang penuh peluh. Dilihatnya jam, masih pukul 3 malam. Mayra mengambil napas dalam dan membuangnya perlahan lewat mulut. Ia bersyukur semua hanya mimpi. Ia rangkul tubuh suami yang tidur membelakanginya itu.
***
"May nanti kamu gantikan aku bertemu client, ya. Aku siang ini merias anak-anak yang akan wisuda." Lina yang sedang merapikan alat makeUpnya menginstruksikan saat mengetahui Mayra datang.
"Dimana? Kapan?" Mayra bertanya. Ia meletakkan tasnya pada meja.
"Di cafe Orenji, sekarang."
"Sekarang?? Gila saja pagi-pagi begini?"
"Orang itu minta bertemu jam 9 kurang. Otomatis kamu harus berangkat sekarang agar tidak terjebak macet."
"Ya ampun, masa jam 9 ke cafe? Yang ada itu cafe belum buka, Linaaaa."
"Buka atau pun belum, itu tidak penting, sayaaaang. Orang yang punya cafe client kita."
"Oooooooh." Mayra manggut-manggut. Mulutnya sempurna membentuk huruf O.
"Aduh tapi Azka sudah pergi ituuuu." Mayra protes. Mobil Azka sudah pergi. Kalau masih ada suaminya kan enak, dia bisa minta suaminya itu untuk mengantarnya lagi.
"Ya biarkan saja. Azka berangkat kerja, Nyonya. Kamu bisa pergi dengan Rendra!"
Lina memang menyukai Rendra. Tapi soal kerjaan, dia sangat profesional. Mendengar nama Rendra disebut, Mayra diam sejenak.
"Rendra memang tidak motret?" Maksud Mayra, tolong yang mengantar dia jangan Rendra, yang lain saja.
"Ya itu si, katanya ada anak-anak wisuda?" Mayra beralasan.
"Mereka hanya ingin makeUp saja, sayangku. Tidak sambil foto-foto."
"Biar aku saja sini yang makeUp. Kamu yang bertemu client! Hitung-hitung sambil kencan dengan Renda." Mayra menggoda menoel pinggang Lina.
"Hahaha ampun ini anak yaa. Kamu yang makeup? Ingin buat Griya kita bangkrut?"
"Hahahaaa."
***
Mayra kini berada di dalam mobil Rendra. Mereka sedang dalam perjalanan menuju cafe Orenji sesuai instruksi Lina. Keduanya sama-sama bungkam selama di perjalanan. Rendra sengaja memutar lagu seadanya dari mobilnya agar suasana tidak terlalu angker.
"May," suara Rendra akhirnya terdengar.
"Ya?"
"Maafkan saya yaa."
"Untuk?"
"Soal kemarin. Barangkali ada omongan saya yang menyakitimu."
Mayra belum tahu bahwa lelaki di sampingnya itu tahu kalau dia menangis kemarin.
Mayra mengangguk.
Sebenarnya Mayra bingung harus marah atau bagaimana. Dia sudah salah mengira. Rendra bukanlah orang yang dia maksud. Mayra sudah terlalu percaya diri. Kalau ada kata yang harus diungkapkan untuk menggambarkan suasana hatinya saat itu, mungkin 'malu' adalah kata yang pas. Mayra malu sudah mengira lelaki di sampingnya adalah dalang dari pengiriman pesan dan bunga. Mayra juga sebenarnya malu untuk bersama Rendra hari ini.
Tak lama, mereka sampai di cafe yang di maksud Lina. Katanya, clientnya itu bernama Risa. Risa adalah wanita yang menelepon Griya dan diangkat oleh Lina waktu itu. Wanita itu akhirnya meminta pihak Griya untuk menemuinya karena dia sibuk mengurus cafe yang akhir-akhir ini sedang ramai pengunjung.
"May, saya di mobil saja ya," pinta Rendra.
"Oke." Mayra menjawab singkat. Karena memang hanya dialah yang berkepentingan dengan client pemilik cafe itu. Rendra hanya bertugas mengantar.
Mayra berjalan seorang diri dari parkiran yang masih sepi menuju pintu cafe yang terbuat dari kaca itu. Di parkiran hanya ada mobil Rendra dan satu mobil lainnya. Mungkin itu adalah mobil Risa, pikirnya.
"Halo, Mbak." Mayra menyapa salah satu karyawan yang sedang mengelap meja. Karyawan dengan seragam orange itu mengangguk ramah.
"Mbak Risanya ada?" kata Mayra lagi.
"Mbak Risa ada, Kak. Sebentar saya panggilkan."
Karyawan itu masuk ke dalam cafe untuk memanggil bosnya. Tak lama, seorang wanita dengan dress biru berambut ikal datang.
***
"Ayo Ren!" Mayra meminta Rendra segera menyalakan mesin mobilnya.
Rendra yang sedang asik main ponsel menatap wajah wanita yang baru masuk ke mobilnya itu. Wajah Mayra kusut, matanya sembab.
"May??"
Rendra bingung karena Mayra cepat sekali kembali. Tak ada 10 menit dari waktunya keluar mobil tadi. Padahal katanya si client ingin melihat-lihat hasil foto prawedding Griyanya, masa iya 10 menit selesai? Mayra duduk di jok mobil dengan memalingkan wajahnya dari Rendra. Ia peluk erat album foto yang ia bawa.
"May, all is OK?" Rendra memastikan.
Mayra mengangguk tanpa melirik. Namun wanita itu kentara sekali jika dirinya tidak dalam keadaan OK. Jika dugaan Rendra benar, itu tandanya ini adalah hari kedua berturut-turut Mayra menangis.
Jika kemarin dia menangis karena Rendra, lalu hari ini karena siapa?
"Tunggu di sini!" Rendra hendak keluar mobil. Tapi Mayra segera menahannya.
"Sudah tidak usah!" Mayra menatap Rendra.
Dan benar, Mayra memang menangis. Wajahnya masih basah.
"Ada sesuatu yang tidak beres kan di sana?" Rendra menunjuk cafe.
"Sudah Ren. Ayo kita pulang!"
Rendra bingung harus berbuat apa. Namum dalam hatinya, ingin sekali dia menyentuh wanita di depannya menenangkan.