MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Hujan Sore Itu



Hujan. Mayra dan teman-temannya tertahan di Griya. Azka juga tidak bisa menjemput. Dia ada lembur di rumah sakit malam ini. Sudah jam lima, hujan belum juga reda. Mayra dan teman-teman memanfaatkan waktu untuk mendata ulang jadwal untuk beberapa minggu kedepan. Ada satu jadwal yang sangat Mayra nantikan. Yaitu pemotretan di gunung yang sama dengan pemotretan kemarin. Suasana di sana benar-benar membuat wanita itu ketagihan untuk mengunjunginya lagi.


Karena akan pulang terlambat, Mayra segera menghubungi rumah. Diangkatlah telepon itu oleh si bibi.


📞 "Halo, Bi. Anggun sedang apa, Bi?"


📞 "Halo, Mbak. Anggun sedang makan biskuit sambil main lego, Mbak?" Jawab bi Marni di seberang.


📞 "Bi, aku dan Azka pulang terlambat hari ini. Bibi bisa yaa jangan pulang dulu sampai aku pulang?"


📞 "Iya, Mbak bisa. Hati-hati ya mbak, hujannya deras sekali."


Mayra tersenyum. Bi Marni memang baru tiga tahunan ini ikut menjadi bagian dari rumah tangganya. Namun bi Marni sudah seperti keluarganya sendiri, dia sangat baik. Bi Marni juga menyayangi Anggun dengan tulus. Mayra percaya bi Marni akan menjaga Anggun dengan baik. Ia tak perlu khawatir tentang kisah pengasuh anak di luaran sana. Yang katanya, ada pengasuh yang memukuli anak majikannya, berlaku dan berkata kasar, serta hal mengerikan lainnya. Bersama bi Marni, Anggun akan aman.


📞 "Bi, boleh bawa Anggun sebentar? Aku ingin bicara."


📞 "Oh iya, Mbak, sebentar yaa."


Tak lama,


📞 "Mamah, mammaah," Suara lucu Anggun di seberang terdengar agak parau karena mulutnya penuh dengan biskuit.


Wanita yang disebut mamah itu tersenyum gemas di seberang.


📞 "Sayang, mamah pulang terlambat yaa hari ini. Anggun bersama bibi dulu yaa."


📞 "Mamaaah. Mamam, mamam."


Mayra terkekeh.


📞 "Ya sudah ya, Bi. Aku titip Anggun."


Telepon di tutup setelah orang di seberang menjawab 'iya'. Mayra hendak ke dapur untuk membuat teh. Tubuhnya mulai dingin.


Sampai di dapur, ternyata ada Rendra di sana.


"Mau?" Rendra yang ternyata sudah dulu mengaduk teh, menawari Mayra yang baru muncul.


"Boleh. Jangan terlalu manis yaa."


Mayra duduk di kursi meja makan. Karena markas yang dijadikan kantor ini awalnya adalah rumah biasa, jadi bangunannya pun memang seperti rumah pada umumnya. Hanya kamar-kamarnya saja yang di sulap menjadi ruangan serbaguna.


"Ini." Rendra menyodorkan satu cangkir teh hangat pada Mayra. Ia duduk di hadapannya dan menyeruput teh itu perlahan.


"Terimakasih." Mayra ikut menyeruput teh buatan Rendra. Tubuhnya mulai hangat.


"Tadi siapa?" Mayra membuka pembicaraan.


"Tadi yang mana?"


"Tamu tadi. Wanita tadi...."


"Kok oh? Pacar?"


"Mengapa penasaran? Cemburu?"


"Uhuk uhuk." Mayra tersedak. Ia lalu tertawa. "Lucu yaa kamu."


Rendra tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Ia sudah sangat malas untuk membahas Bella dalam bentuk apapun.


"Kalian bertengkar?"


Rendra menggeleng tak menjawab. Ia fokus pada teh di tangannya yang sebentar lagi akan habis.


"Aku lihat kamu meninggalkannya," ucap Mayra seolah menyelidik.


"Oooh jadi ceritanya kamu mengintip?"


"Hm, tidak juga. Tidak sengaja saja kalian tertangkap mataku."


Rendra terkekeh.


"Tidak sengaja, tapi kamu menikmati. Begitu maksudmu?"


"Ehem." Mayra pura-pura batuk.


Dia menyadari dirinya yang aneh. Untuk apa juga dia mengaku bahwa dirinya melihat Rendra dengan wanitanya tadi? Bodoh.


"Dia mantan saya."


"Oooh." Mayra mengangguk mengerti. Tak menyangka dia akan mendapat jawaban secepat itu.


"Kalau begitu aman deh." Gadis berambut pendek tergerai itu menanggapi santai.


"Aman? Maksudmu?"


Mayra diam.


"Kamu mau jadi pacar saya?" Rendra nyeletuk.


Mayra kikuk. Mengapa menjadi seperti ini? Ada tatapan yang bukan sekedar bercandaan dari mata lelaki di depannya.


"Kamu naksir saya?" Mayra balik bertanya.


"Menurutmu?"


Mayra tak menjawab. Dia mengabaikan Rendra dan mengalihkan dirinya dengan menikmati teh di tangannya. Ia pandangi langit yang masih menurunkan airnya.


Keduanya diam. Dibalik celetukan Rendra yang terkesan asal bicara, ada keseriusan di sana. Dia memang sudah menyukai Mayra. Benar-benar menyukai. Bukan hanya sekedar sebagai ajang pelarian dari mantan kekasihnya, Bella. Karena perasaannya untuk mantannya itu sudah ia hilangkan sepenuhnya.


Hujan di luar masih asik meneteskan airnya basahi kursi di bawah pohon palm. Sementara Mayra, berusaha menyelami mata Rendra. Ia bertanya-tanya, mungkinkah firasatnya selama ini memang benar? Lelaki 23 tahun di hadapannya itu, memang menyukainya, tanpa tahu ia sebenarnya.