MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Kerjasama yang Baik



Halo teman-teman Bebee, MAHMUD hadir lagi nih 😍


Selamat membaca yaa.


🌸


Mayra tersenyum sambil membolak-balikkan gantungan boneka pemberian Rendra. Dia kini tengah tiduran santai di ranjangnya sambil menunggu suaminya pulang. Anggun sudah tidur pulas di ranjang kecil berhiaskan boneka-boneka lucunya.


Mayra tidak merasa jika Anggun yang sudah mulai bisa berjalan itu semakin jauh darinya. Anak cantik dengan rambut sebahu yang berwarna kecoklatan itu malah lebih dekat dengan bi Marni karena pagi hingga sore Anggun memang dipegang oleh si bibi. Hal itu menjadikan anak polos yang kurang sentuhan ibunya itu lebih nyaman bersama pengasuhnya.


"Assalamualaikum." Azka membuka pintu kamarnya.


"Waalaikum salam." Mayra menjawab setengah terkejut karena tak biasanya suaminya itu mengucapkan salam saat masuk kamar.


Mayra bangkit dan menyambut suaminya. Segera ia ambil alih tas yang dibawa Azka dan meletakkannya pada lemari tas yang juga berjejer tas miliknya.


"Tumben?" Mayra menggoda.


"Apanya?" Azka pura-pura tidak mengerti. Dia duduk pada sofa sambil melepas kaos kaki yang membungkus kakinya.


"Tumben ucap salam dulu?" Mayra menyenggol lengan suaminya, dan ikut duduk pada tepian sofa.


"Hehehe." Azka meringis tak menjawab. Ia sebenarnya sedang memperbaiki dirinya, dan rumah tangganya.


Azka sadar istrinya mulai tertarik dengan lelaki lain. Dan ia berkaca, mungkin semua disebabkan karena dirinya yang kurang dekat dengan pencipta-Nya. Azka kurang menerapkan ilmu-ilmu agama dalam keluarga kecil yang ia pimpin sehingga menjadikan perasaan istrinya mudah goyah.


"Kamu belum mengantuk?" Azka membelai pipi Mayra lembut.


"Belum." Mayra menjawab sambil menguap. Azka terkekeh.


"Sudah, kamu sana tidur. Aku ingin mandi dulu." Azka mengelus punggung tangan istrinya lalu mengecupnya.


Mendengar ucapan dan perlakuan suaminya yang selalu lembut, Mayra memindahkan duduknya pada pangkuan Azka. Ia lingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya, ditatapnya lelaki itu takzim.


"Mengapa kamu selalu sebaik ini?" Mayra memuji suaminya.


"Karena... lelaki ini terlalu mencintaimu," jawab Azka sambil mencubit hidung istrinya. Jawanan Azka sebenarnya mengisyaratkan bahwa, 'Aku sangat mencintaimu, lalu untuk apa kamu melirik lelaki lain?'


CUP.


Mayra menyentuhkan bibirnya pada bibir suaminya. Azka terkekeh.


"Terimakasih," ucapnya.


Keduanya akhirnya terbuai dalam suasana yang membuaikan.


***


Mayra sudah tertidur pulas. Azka menatap istri dan anaknya bergantian, betapa ia sangat mencintai kedua wanitanya itu. Lampu utama kamar sudah dimatikan, hanya lampu dari meja kerja Azka yang menyala dan sedikit menerangi pandangannya.


Laptop di depannya sudah menyala sedari tadi. Azka sudah siap menyaksikan film pendek yang mungkin di dapatnya hari ini, jika beruntung.


Fuuwhh. Azka menghela napasnya. Ia sudah siap jika film pendek yang di dapatnya hari ini akan membuatnya kecewa. Namun itu adalah konsekwensi yang harus diterimanya. Film pendek itu sebenarnya bisa ia tonton juga di ponselnya, namun Azka lebih memilih untuk menonton melalui laptop agar gambarnya semakin jelas terlihat.


Ia pandangi lagi istrinya lama. Dan kemudian Azka memutuskan untuk membawa laptopnya keluar kamar. Ia ingin menikmati film itu sendirian.


Azka memainkan kursor laptopnya perlahan saat ia sudah berada di meja makan. Ia cari file film yang ingin ia tonton. Tak lama, Azka menemukannya dan segera dia klik tombol PLAY.


Mata dan telinganya ia tajamkan. Satu menit, dua menit, adegan di depannya berjalan. Dada Azka mulai sesak. Semakin ia tonton, semakin ia kesulitan bernapas.


🎬


📞 "Aku sudah di rumah. Rizal masih dirumahmu?"


📞 "...."


📞 "Oh, memangnya Rizal akan lama tinggal di sana?"


📞 "...."


📞 "...."


📞 "Hehehe, iya. Nanti kapan-kapan kita makan ramen lagi. Nanti aku yang traktir deh."


📞 "...."


📞 "Gantungan dari kamu aku pakaikan di kunci mobilku, hehe."


📞 "...."


📞 "Iya, manis sekali."


📞 "...."


📞 "Ya sudah iya. Salam untuk Rizal, yaa Ren!"


🎬


Azka lihat Mayranya bertelepon sambil terus tersenyum dengan orang yang dia panggil "Ren" itu. Mayranya sudah mirip orang kasmaran saja. Dan itu membuat saluran pernapasan dokter paru itu seketika menyempit. Siang tadi, Azka meminta bi Marni untuk mendampingi orang suruhannya yang akan memasang kamera pengintai di kamarnya. Azka terpaksa melakukan itu karena ia ingin tahu apa yang dilakukan istrinya di rumah jika dia tidak ada.


Dan rekaman yang di dapatnya hari ini sungguh memukulnya. Ia mendapati Mayranya senyum-senyum sambil memainkan boneka yang tergantung pada kunci mobilnya.


***


Mayra terbangun dan heran karena kunci mobilnya sudah berubah.


"Yank, kamu mengganti gantungan kunci mobilku?" Mayra bertanya pada Azka yang sedang memakai kaos kaki. Azka sudah bersiap akan berangkat ke rumah sakit.


"Ini?" Azka menunjukkan kunci mobilnya yang sudah terpasang gantungan boneka cokelat milik Mayra.


Mayra mendelik bingung. Ia tidak mungkin kan mengatakan pada suaminya jika gantungan itu miliknya yang diberikan oleh Rendra?


"Semalam aku lihat gantungan kuncimu baru, Yank. Eeeeh saat aku lihat-lihat kok lucu? Jadi gantungan ini untukku saja, ya?" Azka bertutur sok polos. "Sebagai gantinya, aku sudah membelikanmu gantungan baru."



Mayra menatap gantungan baru yang dibelikan suaminya. Memang sangat bagus. Gantungan kunci berbentuk hati dengan warna merah muda. Cantik sekali. Dan Mayra sangat suka.


Azka tersenyum puas dalam hatinya. Semalam setelah dia melihat gantungan baru istrinya, dia langsung menelpon bi Marni untuk membelikannya gantungan kunci yang bagus, entah apa pun bentuknya itu, terserah bi Marni. Namun Azka tidak menyangka jika pagi ini bibinya itu membawakannya gantungan kunci yang luar biasa bagusnya.


Tetangga depan rumah bi Marni adalah toko aksesoris. Dan tadi pagi-pagi buta sebelum berangkat ke rumah majikannya, si bibi mengetok pintu rumah tetangganya itu untuk sekedar membeli satu gantungan kunci, sesuai permintaan mas Azkanya.


"Tidak apa kan Yank kalau gantungan ini untuk kunci mobilku?" Azka sok meminta izin lagi. Padahal tanpa diberi izin pun dia akan tetap memaksa gantungan itu agar diberikan padanya.


Mayra yang tidak ingin membuat Azka curiga, terpaksa mengiyakan saja keinginan suaminya.


"Maafkan aku, Ren." Mayra membatin.


***


"Selamat pagi." Rendra menyapa wanita yang dari semalam ingin dilihatnya di parkiran Griya.


"Oh, hai. Pa-gi." jawab Mayra kikuk. Ia yang baru akan menutup pintu mobilnya segera menyembunyikan kunci mobilnya.


Namun gelagatnya yang aneh langsung tertangkap Rendra. Bagaimana tidak? Gantungan kunci darinya yang berwarna cokelat kini kontras berubah menjadi merah muda?


"Katanya boneka itu untuk gantungan kunci mobil?" Rendra menyakan gantungan darinya.


"Hehe. Iya, awalnya begitu. Tapi akhirnya aku pikir mungkin lebih baik kalau gantungan darimu aku simpan saja, biar tidak cepat kotor." jawab Mayra berbohong.


Rendra mengangguk mengalah. Dia sebenarnya paham jika wanita di depannya itu sedang berbohong. Rendra hapal betul gantungan mobil milik Mayra sebelumnya. Dan gantungan hati berwarna merah muda itu adalah gantungan kuncinya yang juga baru. Seseorang pasti telah membelikannya. Dan Rendra bisa menebak siapa itu.